Orsgadt

Orsgadt
Kemenangan Kecil


__ADS_3

Fajar datang membawa angin dingin. Tembok es yang dibuat Avena semalam masih berdiri kokoh meski meleleh sedikit karena sapaan mentari. Hanya menunggu waktu hingga tembok itu habis menguap nanti.


Raja Duncan berdiri menatap tembok es yang menutupi pandangan ke arah istana Orsgadt nun jauh di sana. Setelah serangan maut pasukan hitam kemarin, ia putuskan untuk membiarkan pasukannya beristirahat. Belum ada kabar dari pasukan Arsyna. Kalaupun mereka tiba di perbatasan Orsgadt, mereka tidak akan bisa bertarung maksimal karena kelelahan di perjalanan.


Pasukan Eimersun dan Imperia ia rasa cukup untuk mengimbangi pasukan hitam tapi lain ceritanya jika pasukan Korta dibangkitkan oleh penyihir Goenhrad. Olevander sudah memberitahunya untuk tidak perlu khawatir mengenai ancaman gaib tapi bagaimana tidak, dalam semalam, sudah sepertiga pasukannya habis terbantai.


Kabar dari Arthen yang berada di Imperia cukup menggembirakan. Pasukan Imperia sudah siap.


Seorang pembawa berita datang tergopoh-gopoh. Ia menyampaikan hasil pengamatan dari petugas pengawas di menara. Rahang Raja Duncan mengeras. Peperangan kemarin hanya pemanasan. Orsgadt sudah siap dengan ratusan pasukan hitam di balik tembok es. Ia menyuruh pembawa berita itu untuk mengabari Panglima Darreth yang memimpin sepertiga pasukan Eimersun agar bersiap-siap bergerak ke perbatasan.


***


Goenhrad menyeringai seram. Ia tidak menginginkan perang ini tapi sudah terlanjur terjadi. Ia yakin Yhourin sudah bersiap untuk membangkitkan Korta dan Anthura. Penyihir gila, gumamnya dalam hati. Mata kirinya tiba-tiba terasa perih. Ia kesal tidak bisa keluar dari aula karena Yhourin menahannya di sana dengan sihirnya.


“Bawakan wanita-wanita itu!” serunya marah. Di saat genting, mata merahnya masih saja menuntut cahaya kehidupan. Ia ingin perang ini cepat berakhir. Jika kalah, ia masih berharap bisa membawa Yhourin pergi dari sini.


Kalah? Goenhrad tertawa terbahak-bahak. Ia akan membumihanguskan Artamea sebelum itu terjadi, tekadnya dalam hati. Ia duduk dengan wajah yang mengeras. Putri Orsgadt itu bukan lawan sembarangan. Ia bisa selamat dari pembantaian belasan tahun lalu dan sekarang tiba-tiba muncul untuk menantangnya.


“Tuan Putri, dengan senang hati akan kuambil cahaya kehidupanmu,” ucap Goenhrad dengan seringai jahat dan mata berkilat-kilat.


Sementara itu di ruangan teratas menara utama Istana Orsgadt, Yhourin tertawa keras. Ia senang dan merasa puas melihat pasukan Eimersun yang mundur teratur semalam. Pasukan hitam sekarang sudah bersiap di balik tembok es. Ia akan menghancurkan tembok itu dan membiarkan pasukan hitam yang haus darah menghabisi pasukan Eimersun.


Ia menunggu hari lebih terang agar kekuatannya penuh untuk menghancurkan tembok es itu. Peri es kurang ajar, umpatnya dalam hati. Avena memang bukan lawan sebanding Yhourin tapi tetap saja menghabiskan energinya jika gadis es itu membuat tembok es sebesar itu.


Semalam ia bisa merasakan kehadiran Leonz, penyihir kecil Hertena. Gadis cilik itu pasti kewalahan dengan semua sihir pelindung yang ia buat. Yhourin terusik akan kehadiran energi lain yang muncul bersama Leonz tapi ia tidak tahu energi apa itu. Bisa jadi Leonz membawa benda pusaka Hertena untuk melawannya.


Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengusiknya. Artamea akan diubahnya jadi lautan api. Ia akan memastikan semua orang ketakutan mendengar namanya.


“Aku akan memusnahkan Artamea,” ucap Yhourin sambil tersenyum senang.


***

__ADS_1


Emune, Leonz dan Avena masih tertidur lelap saat fajar hadir. Elric hendak membangunkan Emune tapi dihentikan oleh Proner yang memintanya untuk membiarkan Emune beristirahat lebih lama. Pembawa berita tadi mengabarkan bahwa Raja Duncan masih menunggu tembok es meleleh dan menggunakan waktu yang ada untuk menyiapkan pasukannya. Pasukan Imperia akan menyerang Orsgadt dari barat dan jika pasukan Arsyna tiba, mereka akan membantu pasukan Eimersun yang berada di bagian selatan Orsgadt.


Emune mencoba membuka matanya tapi tidak bisa. Seluruh tubuhnya terasa berat seperti ditindih batu. Ia berusaha menggerakkan jari-jari tangannya yang mati rasa. Ini sangat menyiksa. Dalam kekalutan karena tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, Emune membuka mulutnya, memanggil nama Elric, Proner dan yang lainnya tapi tidak ada suara yang keluar.


Dadanya bergemuruh. Sesuatu sedang menahannya tapi ada energi lain yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Sesuatu yang besar dan tak akan bisa ia kendalikan. Elzenthum. Peringatan Raja Peri Dougraff berputar di kepalanya.  Merebut Orsgadt dari Goenhrad bisa membuka segel lain. Apa maksudnya?


“Emune!” teriak Elric saat melihat tubuh Emune melayang naik dari tempat tidur. Ia bangun dan menghampiri Emune. Mata gadis itu masih terpejam, kedua tangannya tersilang di dada. Rambutnya tergerai dan bergerak dimainkan oleh udara bergerak yang tak terlihat.


Proner melompat mendekati Emune. Sean dan Aiden masuk ke kamar dengan pedang terhunus dan wajah gusar. Mereka pikir ada penyusup hendak menyerang. Keduanya ternganga melihat Emune yang melayang di udara.


Belum habis keheranan empat kesatria itu, tubuh Emune terhempas dengan keras ke atas tempat tidur. Begitu kerasnya hingga Avena terlompat bangun dan Leonz terduduk sambil mengusap matanya.


“Jangan mendekat!” cegah Leonz. Semua mundur mendengar ucapan Leonz. Avena sampai bergeser ke ujung tempat tidur.


Leonz meminta air minum pada Proner. Proner memberi segelas air pada Leonz. Leonz meminum setengah gelas air. Berhenti sebentar lalu minum lagi dan menyisakan sedikit saja di gelasnya. Ia menuangkan sisa air dari gelas ke telapak tangan kanannya lalu menumpahnya di wajah Emune.


“Hujan! Hujan!” teriak Emune sambil melompat turun dari tempat tidur dan berlari sambil mengusap matanya sampai bertabrakan dengan Elric. Elric menahan tubuh Emune dengan dada dan kedua lengannya. Wajah Emune langsung memerah melihat wajah Elric yang hampir menempel dengan wajahnya.


“Aku selalu ingin melakukan itu. Hahaha, wajah Tuan Putri sangat lucu,” ucap Leonz yang tertawa sambil berguling-guling di tempat tidur. Ia senang sekali bisa mengerjai Emune pagi-pagi.


Emune melotot marah. Ia langsung berlari menerkam Leonz dan menggelitiki gadis cilik itu hingga Leonz minta ampun. Avena tidak tinggal diam. Ia ikut membantu Emune untuk menjahili Leonz.


“Gadis nakal! Awas kau!” ucap Emune galak.


Proner mendeham, barulah Elric, Sean dan Aiden paham kalau Leonz tadi cuma iseng pada Emune. Benar-benar pagi yang ramai. Elric tersenyum geli melihat tingkah tiga perempuan yang sekarang sibuk saling ganggu di tempat tidur. Proner menepuk keningnya, ia jadi berpikir apa pendapat Horeen kalau melihat Avena sedang ramai bercanda dengan Emune dan Leonz seperti ini.


***


Horeen melesat ke arah barat. Pasukan Imperia sudah bersiap di perbatasan dengan Orsgadt. Tembok barat Orsgadt harus dihancurkan agar pasukan Imperia bisa menyerang dengan leluasa. Horeen menyeringai. Ia tidak boleh gegabah menggunakan semua energinya karena masih ada Korta dan Anthura yagn harus mereka khawatirkan. Horeen menepuk pelan tembok perbatasan dengan Orsgadt. Kejadian berikutnya sangat menakjubkan. Tembok itu amblas ke tanah berurutan mulai dari selatan ke utara.


Raja Thenosyes dan Arthen terkejut melihat tembok es yang mengurung wilayah Orsgadt. Pasti perbuatan peri yang satunya, Arthen membatin. Ia tersenyum bangga karena Emune memiliki teman-teman yang bisa diandalkan.

__ADS_1


“Ada pasukan hitam di dalam sana,” ucap Horeen. “Bersiaplah.”


“Manusia laknat itu tidak akan bisa bersembunyi di belakang pasukannya!” seru Raja Thenosyes dengan kemarahan yang berkobar seperti api.


“Satu banding empat. Kita masih membutuhkan Arsyna. Horeen, bagaimana dengan Emune?” tanya Arthen.


“Emune baik-baik saja. Mereka sedang menyusun strategi untuk menyerang Yhourin. Serahkan itu pada mereka,” jawab Horeen.


Arthen mengangguk. Ia sangat ingin bertemu dengan Emune.


Suara genderang perang tiba-tiba memecah keheningan. Belum tengah hari tapi angin yang tiba-tiba seperti berhenti menjadi tanda bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi.


Horeen melayang tinggi ke langit. Ia bisa melihat Yhourin berdiri di jembatan menuju istana Orsgadt sambil mengacungkan sebuah tongkat ke atas. Tidak bisa mengabaikan keingintahuannya, Horeen mendekat sampai jarak aman dan mengumpat keras.


“Sial! Tongkat Eltran! Bagaimana dia bisa memilikinya?” Horeen mengumpat kesal.


Horeen turun cepat-cepat dan meminta Raja Thenosyes dan Kesatria Arthen untuk bersiap. Yhourin pasti akan menghancurkan tembok es dengan tongkat itu. Ia lalu melesat menyampaikan kabar itu ke panglima-panglima Eimersun.


Genderang perang dan terompet penggugah semangat berlomba menguasai udara. Keriuhan itu dilengkapi dengan tembok es yang retak lalu pecah berkeping-keping. Bongkahan es beterbangan ke segala arah menusuk dan menimpa semua kubu.


Alfred memerintahkan pasukan panah dan ketapel untuk menghujani pasukan hitam. Ribuan anak panah melesat dan menancap di sana-sini. Seperti kebal, pasukan hitam seolah tidak terganggu oleh satu dua anak panah yang menancap di lengan dan bahu mereka. Bola-bola api dan batu-batu besar melayang dan jatuh dengan suara berdebam keras. Pasukan hitam sempat terpencar namun segera pulih dan siap menerjang pasukan musuh di depan mereka.


Pasukan hitam bergerak cepat dan buas menghabisi musuh yang ada di dekat mereka. Keberingasan pasukan hitam sudah terkenal di seantero Artamea tapi tidak semudah itu menggentarkan para prajurit Eimersun dan Imperia. Pedang beradu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Kapak dan palu besar yang digunakan sebagai senjata oleh pasukan hitam terayun mengenai prajurit-prajurit yang lengah. Tak terhitung jumlah prajurit Eimersun dan Imperia yang menjadi korban. Pertempuran kali ini adalah antara keahlian pasukan pembunuh melawan jumlah pasukan besar.


Pasukan Eimersun sudah sampai pada batasnya. Terlalu banyak korban tapi mereka tidak bisa mundur karena pasukan hitam terus mendesak maju. Melihat itu Horeen segera menggebrak tanah hingga gelombang keras mengangkat tanah dan membuat jatuh pasukan hitam yang ada di lintasannya.


Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh pasukan Imperia dan Eimersun. Mereka langsung mengeksekusi para pembunuh kejam yang dijadikan prajurit khusus oleh Goenhrad. Tidak ada teriakan kematian seperti yang dikeluarkan oleh prajurit-prajurit Eimersun dan Imperia saat pasukan hitam dieksekusi, tentu saja karena mereka semua tidak lagi memiliki lidah.


Horeen bisa mendengar tawa Yhourin yang melenggang masuk ke istana setelah membuat lapisan pelindung di sekitar istana. Keturunan peri api itu sepertinya menganggap peperangan ini sebagai tontonan yang menyenangkan. Horeen berdecak. Ia sejak tadi ingin menghadapinya tapi ia ingat pesan Leonz bahwa sekalipun kekuat Horeen, Leonz dan Avena disatukan, mereka tidak akan bisa mengalahkannya.


Kemenangan melawan pasukan hitam disambut dengan kegembiraan oleh semua orang. Trompet kemenangan membahana ke seluruh penjuru. Seperti sebelumnya, semua mayat prajurit yang gugur dideretkan di pinggir perbatasan sedangkan mereka yang terluka segera dirawat.

__ADS_1


Raja Duncan menatap tajam ke arah istana Orsgadt. Setelah ini, ia tahu apa yang akan muncul. Pasukan Kegelapan Korta.


__ADS_2