Orsgadt

Orsgadt
Lingkaran Killgins


__ADS_3

Elric melepas pelukannya. Emune harus pergi dan ia tidak ingin gadis itu merasa berat untuk meninggalkannya lagi. Mereka berdua memiliki janji setia yagn sangat kuat dan Elric yakin kelak Emune akan kembali. Jika tidak, ia yang akan menyusulnya.


Emune tersenyum pada Elric lalu berjalan cepat ke tempat Leonz, Proner, Avena dan Horeen berada. Ia berbalik sebentar melihat orang-orang yang ia kasihi sedang menatap ke arahnya. Greg merangkul Fiona yang terlihat sedih tapi berjuang keras agar air matanya tidak tumpah.


“Aku siap,” ucap Emune pada Leonz.


Emune masuk ke lingkaran terdalam dari dua buah lingkaran yang dibuat Proner dengan pedang cahaya. Leonz membimbingnya berdiri di atas garis tengah dan memintanya mengeluarkan Zamrud Edyssia miliknya. Emune melilit kalung itu di lengan kanannya dan menggenggam bandulnya dengan erat. Leonz melihat ke arah Proner, Horeen dan Avena yang kemudian mengangguk padanya.


Leonz meniup serbuk ajaib dan membuat pelindung cahaya. Jika cara ini gagal, setidaknya ia bisa melindungi teman-temannya dari kemungkinan tubuh mereka tercerai-berai. Gadis kecil itu membuat lapisan tipis serbuk ajaib di telapak tangan kirinya lalu menempelkan tangannya pada tangan kanan Emune.


Ia bisa merasakan gelombang energi menarik serbuk ajaibnya, berputar-putar, lalu gelombang itu menyelubungi mereka. Sebuah hentakan keras menekan pelindung yang dibuat oleh Leonz. Gelombang itu menerpa apa pun yang didekatnya, termasuk semua yang sedang melepas kepergian mereka.


Horeen dan Avena yang memiliki darah peri tidak terlalu merasakan efek hentakan itu tapi Emune dan Proner, tubuh mereka seperti dibanting dan dipatahkan. Ketika rasa sakit sudah mencapai puncaknya, sebuah cahaya terang menyilaukan terlihat oleh mereka berlima. Hanya sekejap, cahaya itu menghilang.


Leonz tersenyum, ia berhasil tiba dengan selamat. Mereka sudah berpindah ke tempat lain. Melihat pasir dan air yang begitu luas di depan sana, ia yakin ini adalah Laut Kigurst.


“Kita sudah sampai,” ucap Leonz gembira.


Ia menoleh karena tidak ada yang menyahuti ucapannya. Wajahnya terkejut sebentar lalu berganti dengan tawa geli. Di depannya, keempat temannya sedang terbaring tumpang tidih. Keempatnya mengerang kesakitan, terutama Horeen yang ada di bagian terbawah.


“Bangun! Kalian berat sekali!” protes Horeen.


Emune yang ada di tumpukan teratas segera merosot turun. Tulang-tulangnya sakit seperti habis dipukuli dengan sebatang kayu.


“Sakit sekali. Apa kita harus berjalan setelah ini?” tanya Emune. Ia tidak yakin bisa menopang tubuhnya sendiri dengan tungkai-tungkainya yang nyeri.


“Benar-benar cara muncul yang tidak keren,” gerutu Avena. Ia merasa sedikit nyeri karena tertumbuk gagang pedang Proner.


“Aku tidak apa-apa. Cuma sakit punggung,” ucap proner dengan nafas tersengal-sengal. Bagaimana tidak, ia ditimpa oleh dua orang gadis sekaligus. Ia berjuang untuk duduk. Matanya dengan tajam melihat ke arah Avena yang tadi ada di atasnya. “Kau harus mengatur makanmu. Kenapa kau berat sekali?”


“Apa? Ada Emune tadi di atasku,” protes Avena.


“Begitukah?” tanya Proner dengan nada sangsi. “Emune tidak gemuk.”

__ADS_1


“Huh, dasar pengelana konyol.” Avena mengirim kabut dingin untuk meninju Proner. Pria itu langsung berteriak kesakitan.


Emune menghampiri Leonz setelah merasa lebih baik. “Kau tidak apa-apa, Leonz?”


“Tidak apa-apa. Aku mendarat sempurna dengan kedua kaki mungilku,” ucap Leonz bangga.


Avena menggeram kesal. Bocah kecil itu satu-satunya yang tidak celaka saat mereka berpindah tempat.


“Sebaiknya kita istirahat sebentar, Leonz. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan badan remuk seperti ini.” Proner mengurut lehernya yang terasa kaku.


“Kita tidak punya waktu. Kita harus sampai di Tanjung Penantian sore ini. Para duyung akan muncul tepat saat matahari tenggelam.” Leonz menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya.


“Bukankah kita bisa memakai Lingkaran Killgins lagi?” tanya Avena.


“Aku tidak mau bertaruh untuk menggunakannya lagi karena mungkin itu satu-satunya cara kita kembali nanti,” jawab Leonz.


“Kurasa Leonz benar,” ucap Emune.


“Kau tidak masuk dalam daftar orang yang harus kugendong,” jawab Horeen ketus. Pengelana tidak tahu berterima kasih, gerutunya dalam hati.


Proner menggaruk-garuk kepalanya. Ia membayangkan harus berjalan sampai sore hari ke tanjung yang entah ada di mana.


“Jangan khawatir. Kalian bisa beristirahat di sepanjang perjalanan karena kita akan menaiki kepiting batu. Horeen dan Avena juga bisa menghemat tenaga mereka untuk nanti.” Leonz tersenyum manis.


“Kepiting batu?” Proner sudah mual duluan karena mengingat perjalanan dengan singa hitam dulu.


Leonz terenyum. “Ya. Kepitingnya sangat baik,” ucap Leonz. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya ke arah barat lalu menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya.


Hening. Emune penasaran menanti apa yang akan muncul berikut ini begitu juga yang lain. Masih saja hening, tidak ada apa pun. Apa Leonz salah menggunakan kekuatannya?


Leonz mengulangi aksinya tadi sampai tiga kali tapi masih juga tidak berhasil. Ia berdecak kesal. Sekali lagi ia berdiri mengulurkan tangan ke arah barat tapi alih-alih menjentikkan jari, ia hanya membuat gerakan memutar kecil.


Tanah bergetar sebentar. Awalnya hanya getaran kecil lalu membesar dan membuat tanah beterbangan. Bukit batu di sebelah barat bergerak naik dengan suara yang mengerikan. Mirip seperti saat tanah rengkah karena perbuatan Horeen dulu. Bukit batu itu bergerak dan mendekat. Proner langsung menyambar Leonz selagi Horeen berjaga-jaga.

__ADS_1


Benda besar yang mereka kira bukit batu ternyata adalah seekor kepiting batu raksasa yang tingginya hampir tiga meter. Cangkang batunya tidak rata seperti kepiting batu biasa, benar-benar mirip gundukan batu.


Leonz menarik tangannya dan menoleh pada Proner. “Dia lucu, bukan?”


“I-iya,” jawab Proner gugup.


“Seharusnya dia bilang kalau kepitingnya sebesar ini. Jantungku seperti mau copot,” omel Avena.


“Aku juga. Leonz memang anak yang luar biasa.” Emune meringis.


Mereka naik ke punggung kepiting batu. Di luar bayangan mereka, ada hamparan rumput di atasnya jadi mereka bisa duduk dengan nyaman. Punggung yang tidak rata juga membantu menahan mereka agar tidak terguling jatuh saat makhluk raksasa itu bergerak.


Kepiting raksasa menuruni bukit kecil ke arah pantai. Saat bergerak di atas pasir, suara keras yang dibuat oleh kaki-kaki makhluk itu cukup teredam. Leonz menepuk-nepuk punggung makhluk itu dengan sayang.


Tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan saat ini. Mereka akan menyerahkan urusan perjalanan pada tumpangan mereka. Selagi bisa, mereka akan beristirahat sambil menikmati  keindahan Laut Kigurst.


Emune membuka Buku Kebijaksanaan. Ia mencari-cari halaman yang berisi kisah Laut Kigurst. Mereka nantinya harus berhadapan dengan para duyung jadi ia ingin tahu apa kelemahan mereka.


Emune menangkap gerakan pelan Horeen dengan ekor matanya. Peri itu sedang menatap Avena. Bukan tatapan kesal atau jijik yang biasanya dilemparkan oleh Horeen pada Avena tapi tatapan lembut. Ya, seakan-akan Horeen sedang jatuh cinta.


Emune melihat ke arah Avena. Gadis campuran peri itu sedang asyik menatap laut biru di depan sana. Ia sepertinya tidak tahu kalau sedang diperhatikan oleh Horeen. Tunggu dulu, apa telah terjadi sesuatu di antara mereka?


Sambil tersenyum jahil, Emune menyambar sebuah biji pohon kering yang ia tidak tahu namanya, lalu melemparnya ke arah Horeen yang sedang terpaku. Biji kering itu mengenai pelipis Horeen. Peri itu gelagapan dan langsung berseru karena kaget. “A-aku mencintaimu, Avena!”


Avena menoleh pada Horeen yang mematung karena malu setelah mengucapkan kalimat tadi. Ia tidak berkata apa-apa tapi langsung membalikkan badannya untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Horeen langsung menunduk.


“Apa mereka pacaran?” tanya Leonz pada Proner.


“Mu-mungkin,” jawab Proner ragu-ragu. Kalau Avena dan Proner berpacaran, bisa-bisa mereka bertengkar terus, batinnya.


Emune tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu.  Konyol sekali, pikirnya. Horeen jatuh cinta pada Avena? Mereka seperti air dan api, atau kucing dan tikus jadi aneh kalau mendengar pengakuan Horeen barusan.


“Gadis iseng,” gerutu Horeen kesal dan malu. Ia menimbun Emune dengan daun-daun kering. Meski begitu, Emune masih saja tertawa geli.

__ADS_1


__ADS_2