Orsgadt

Orsgadt
Toure


__ADS_3

Pagi-pagi sekali kereta kuda yang dikemudikan oleh Greg keluar dari gerbang Farclere. Elric tidak lagi menaiki kudanya dan memilih ikut di kereta Emune. Di belakang kereta, Alfred, Aiden dan Sean berkendara sambil menjaga kuda Elric. Draxe, kuda tunggangan Elric, sebenarnya tidak perlu dijaga, ke mana pun Elric pergi akan diikutinya.


Greg menoleh kesal ke belakang, Emune dan Elric sedang berduaan. Fiona yang duduk di sampingnya mendesah.


“Kau tidak lelah terus-terusan menoleh ke belakang?” tanya Fiona.


“Aku hanya memastikan kuda yang tanpa penunggang itu tidak panik dan melompat masuk ke gerbong kereta,” jawab Greg ketus. Seperti mendengar dan mengerti ucapan Greg, Draxe meringkik keras.


Fion tertawa geli. “Seekor kuda kau gunakan sebagai alasan kecemburuanmu. Konyol.”


“Aku tidak cemburu.” Greg membela diri. Ia memajukan badannya ke arah Fiona dan berkata pelan, “Apa mereka tidak bosan berpelukan seperti itu sejak pagi?”


“Apa kau bosan kalau berpelukan denganku seperti itu sejak pagi?” Fiona balik bertanya.


“Tentu saja tidak,” jawab Greg. Kalau tidak ada Emune, ia akan tinggal dan menghabiskan beberapa malam di Farclere bersama Fiona.


“Tentu saja tidak. Itu jawaban untuk pertanyaanmu. Mereka masih muda. Emune beruntung punya kekasih yang mau menjaganya seperti itu.” Fiona menepuk bahu Greg.


Greg mendengus kesal. Ia lalu ingat kisah hidup Fiona yang jauh dari perlindungan dan kasih sayang keluarga dan betapa ia menghindari laki-laki. Greg tersenyum, ia mengerti maksud Fiona. Greg meraih lalu menggenggam tangan Fiona. Fiona terkejut akan perubahan sikap Greg tapi saat melihat mata Greg yang tenang, ia tahu pria itu mencintainya dengan sungguh-sungguh.


Emune dan Elric sedang bercerita tentang perjalanan masing-masing. Elric terus saja heran karena begitu banyak kejadian seru, menegangkan dan berbahaya telah dilalui Emune dalam perjalanannya yang terbilang singkat. Pantas saja Fiona begitu galak dan Greg sangat protektif terhadap gadisnya ini. Sedikit lucu menurut Elric karena keduanya jadi seperti ayah dan ibu Emune.


“Kenapa kalian membelok ke Farclere? Bukankah lebih cepat sampai ke Imperia kalau lewat jalur biasa?” tanya Elric.


“Seorang temanku ada di Farclere. Ia akan mengunjungi rumah minum di sana. Sayangnya aku tidak menemukannya,” jawab Emune.


“Rumah minum? Aku dan teman-teman ke sana semalam. Aku tidak melihatmu.” Elric mengingat-ingat kejadian semalam.


“Oh, kami hanya makan sebentar lalu Fiona dan Greg bertengkar dan berbaikan di luar rumah minum. Aku menemukan mereka sedang C-I-U-M-A-N.” Emune membesarkan suaranya di kalimat terakhir.


“Troll Kecil!” seru Greg dan Fiona geram. Rupanya mereka mendengar ucapan Emune.


Emune meringis dan Elric tertawa geli. Pantas saja Emune dikejar-kejar seperti itu oleh Greg dan Fiona.


Emune mendesah pelan karena ingat Balach, tempat minum yang tidak menarik itu. “Balach tidak seperti yang kukira. Katanya itu rumah minum terbaik di Farclere.”


“Balach? Kau ke Balach?” tanya Elric.


“Iya,“ jawab Emune.


Elric tersenyum. Ia menarik dagu Emune. “Rumah minum terbaik di Farclere bernama Palach. Tidak heran, banyak orang yang salah kira atau salah sebut. Namanya mirip,” ucap Elric. Ia menunduk hendak mencium bibir Emune yang sedikit terbuka mendengar ucapannya.


Alih-alih dapat mencium Emune, gadis itu itu tiba-tiba bangun. Ia sepertinya lupa sedang ada di dalam gerbong kereta. Kepala Emune terbentur atap, ia mengaduh lalu limbung. Elric tidak berhasil menangkap lengan Emune, gadis itu menubruk punggung Greg.


Greg terkejut, ia langsung menarik kekang kuda untuk menghentikan kereta.  Tiga orang yang berkuda di belakang ikut menghentikan kuda-kuda mereka. “Apa-apaan itu tadi? Emune, kau tidak apa-apa?” Greg melotot pada Elric.


Fiona dan Elric membantu Emune duduk. Wajah cemas Elric yang pertama dilihat oleh Emune.


“Emune, kau mengejutkanku. Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Elric.

__ADS_1


“Aku tidak apa-apa,” ucap Emune. “Maaf, aku tiba-tiba ingat sesuatu tadi.” Emune menangis dalam hati. Bodoh sekali! Palach, bukan Balach!


Emune melihat Greg yang duduk menghadap mereka sambil bersedekap. Wajahnya angker seperti hendak menelan Elric. Emune menepuk-nepuk lutut Greg. Ia tersenyum dan berkata manis.


“Aku janji akan lebih berhati-hati. Untung ada kau yang menjagaku,” ucapnya pada Greg.


Mendengar ucapan Emune, aura membunuh di tubuh Greg langsung hilang. “Syukurlah kau tidak apa-apa.” Greg menunjuk Elric. “Kau, jaga dia baik-baik,” ucapnya sangar. Greg kembali ke posisi sais dan mulai menjalankan kereta.


Fiona terkikik. “Kau benar-benar termakan omongan troll kecil itu,” ucapnya. Greg menyeringai.


Di belakang, Elric sudah memeluk Emune lagi. Emune meringis karena sakit bekas benturan tadi semakin terasa. Ia meletakkan tangan beberapa senti di atas bagian yang nyeri, tak berani menyentuhnya.


Elric tahu emune kesakitan tapi tidak mau Greg sampai mengetahuinya dan menyemprot Elric lagi. Gadis konyol, pikir Elric. Ia menarik dagu Emune dan menciumnya lama sambil tangannya memeriksa kepala Emune yang terbentur. Hanya benjol kecil, tidak berdarah. Ia tersenyum masih sambil mencium Emune yang tidak merasa sakit walau kepalanya yang benjol disentuh Elric.


Belum tengah hari mereka sudah sampai di Toure. Kota kecil ini tidak menawarkan banyak pada pengunjungnya. Karena dekat dengan Hutan Dumina, tidak banyak yang datang ke sana. Tidak ada seorang pun di Artamea yang tidak tahu tentang Hutan Dumina.


Hutan Dumina adalah bagian dari dunia gaib yang tidak bisa dimasuki oleh manusia. Para penyihir tinggal di dalam hutan itu. Meskipun banyak penyihir adalah manusia, bukan campuran peri-manusia atau manusia-makhluk gaib lainnya, mereka tidak bisa keluar atau menggunakan sihir di luar wilayah hutan kecuali berusia di bawah sepuluh tahun. Meski begitu, tidak banyak yang tahu bahwa manusia bisa masuk ke hutan itu jika diundang oleh seorang penyihir.


Toure mirip Ulrych, pikir Emune, hanya saja Ulrych jauh lebih ceria. Duduk berdua bersama Elric di satu-satunya rumah minum di kota ini membuat Emune ingat pada Farclere. Ia kesal karena salah mengira bahwa pemahat kayu menyebut “Balach”, bukan “Palach”. Harusnya ia bertanya pada orang-orang di Farclere kemarin.


Gara-gara kekeliruannya, Emune tidak bisa bertemu Urndie. Emune tambah pusing karena rombongan yang tadinya hanya tiga orang sekarang jadi tujuh orang. Ia ingin menambahkan Horeen di daftarnya tapi peri satu itu sebaiknya tidak dibebani macam-macam mengingat ia cukup sial karena dijauhi semua orang.


Melepaskan diri dari Greg dan Fiona saja sulit sekali apalagi harus meninggalkan Elric. Ketiga teman Elric juga menempel seperti tidak mau berpisah dengan Elric. Ia tidak punya banyak waktu. Terlalu jauh jika mereka harus ke Imperia dulu baru ke Orsgadt.


“Memikirkan sesuatu?” tanya Elric.


Tidak ada cara lain. Ia harus berbicara dengan Elric dan menceritakan semuanya. “Sedikit. Elric, bisakah kita bicara berdua saja?”


“Apakah ada tempat yang aman?”


“Alfred dan yang lain sedang duduk-duduk di bukit di sudut kota. Seingatku ada pondok kosong di dekatnya. Ayo kita ke sana.”


“Aku beritahu Greg dan Fiona dulu, ya,” ucap Emune.


Elric tersenyum melihat Emune yang menghampiri Greg dan Fiona. Dari tempatnya sekarang ia bisa melihat Emune berjuang meyakinkan Greg untuk membiarkannya pergi dengan Elric. Berkali-kali bibir Greg membentuk kata “tidak”.


Fiona akhirnya turun tangan. Emune memeluk keduanya bergantian lalu kembali kepada Elric. Elric menyeringai. Dari jauh Greg menunjuk lurus ke arah Elric seolah berkata: Awas kau! Jaga dia baik-baik!


Elric dan Emune berkuda ke ujung kota. Ini pertama kalinya Emune menunggang kuda. Meskipun bersama Elric yang terus menjaganya agar tidak terjatuh, ini sebuah pengalaman baru bagi Emune. Ia sadar harus belajar cara bertarung dan menunggang kuda jika ingin selamat.


Perhatian Emune teralih pada wajah lalu rambut Elric yang tertiup angin. Kekasihnya yang tampan, bisakah ia mengerti ceritanya nanti?


Pondok kecil itu masih kokoh walau sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Para pelancong yang menumpang berteduh menjaganya dengan baik. Beberapa tambalan terlihat di dinding dan atapnya.


Elric membantu Emune turun dari kuda. Tadi mereka mendatangi Alfred, Sean dan Aiden yang duduk-duduk mengobrol selagi kuda-kuda mereka merumput. Ketiganya menggoda Elric karena datang dengan Emune.


Mereka jadi berbincang seru dan seolah lupa akan misinya, Emune justru santai saat Elric, Aiden dan Sean berlomba lari dan memanah. Wajah Elric terlihat bercahaya. Inilah dunia lelaki yang tidak ia ketahui.


Alfred tersenyum melihat Emune yang antusias menatap keseruan Elric dan kawan-kawannya. Sean dan Aiden juga menyukai Emune. Mereka awalnya heran pada keputusan Elric untuk mencari Emune tapi setelah bertemu dengan Emune, mereka tahu kenapa Elric tergila-gila padanya. Gadis ini bukan gadis biasa.

__ADS_1


“Mereka hebat sekali. Apa kalian sering bertarung? Maksudku benar-benar bertarung dengan orang jahat?” tanya Emune.


“Ya. Kami disergap di bukit di luar Ulrych,” jawab Alfred.


“Oh, aku tidak pernah mendengar ada kejahatan di sekitar Ulrych. Bagaimana kejadiannya?” tanya Emune keheranan.


“Sekelompok orang berpakaian hitam sepertinya sudah mengintai. Tidak masalah, mereka bertiga saja cukup untuk menjatuhkan orang-orang itu.” Alfred bangga pada ketiga pemuda yang sedang sibuk sendiri jauh di sana.


“Apakah orang-orang itu lidahnya terpotong?” tanya Emune.


Alfred terkejut. Bagaimana Emune bisa tahu detail itu? “Ya. Bagaimana kau tahu?”


“Sebenarnya waktu kami di Galvei ada rombongan pengacau berkuda melintas di jalan utama kota. Mereka sepertinya terburu-buru. Mengerikan sekali! Mereka mengayunkan tombak dan pedang untuk menghalau orang-orang yang ramai di jalan.Greg, Fiona dan kesatria Fergus masing-masing berhasil menjatuhkan satu orang. Mereka ditahan di penjara kota tapi semuanya mati.”


“Pasukan pembunuh dari Orsgadt. Mereka adalah anak buah Goenhrad. Kelompok yang dibayar Goenhrad untuk merebut Orsgadt belasan tahun lalu.” Alfred tidak mungkin tidak tahu.


“Anda mengetahuinya?” Emune menatap serius kedua mata Alfred.


“Semua orang tahu tapi tidak semua orang mau membicarakannya.”


“Apakah kemunculan mereka berarti Artamea sudah tidak aman?”


“Sudah pasti,” jawab Alfred. “Semua kerajaan memperketat pengawasan perbatasan. Raja Arsyina sudah menurunkah titah hukuman mati di tempat bagi pengacau bersenjata.”


“Alfred, maukah kau mengajariku cara bertarung? Aku selalu merepotkan orang lain. Setidaknya aku harus bisa melindungi diri sendiri.” Emune memohon dengan nada memelas.


“Apa kau meragukan Elric? Dia terlihat seperti pemuda-pemuda lain tapi dia menguasa seni bertarung dengan baik.”


“Tentu saja tidak. Akan lebih baik jika bisa sedikit saja mengurangi kekhawatirannya padaku, bukan?” Emune meremas tuniknya pelan.


Alfred tersenyum. Gadis ini memang bukan orang biasa.


Karena Alfred hanya diam dan tersenyum, Emune mengeluarkan sebotol sari apel. “Bisa kubayar dengan ini?” ucapnya lalu tertawa karena geli pada kekonyolannya sendiri.


Alfred tertawa. Baru kali ini ia diminta melatih bertarung dengan bayaran sari apel. “Baik, kuterima,” ucapnya.


Emune senang sekali. Ia akan bersungguh-sungguh. Tidak banyak waktu tapi setidaknya ia akan memulainya.


Alfred berdiri dan mengajak Emune mendekati ketiga pemuda yang bertanding memanah.


“Turunkan busur kalian. Aku rasa kita perlu memberi Emune kesempatan mencobanya daripada hanya menonton,” ucap Alfred.


Elric, Aiden dan Sean menurunkan busur mereka. Elric terlihat panik karena Emune akan memegang senjata berbahaya. Apa dia sudah gila?


“Elric, minggir. Emune, kemari,” perintah Alfred.


Alfred mengambil busur dan anak panah dari tangan Aiden. Ia menggosok ujung panah dengan arang sisa api unggun yang ada di dekat tempat duduknya tadi lalu memberikannya pada Emune. Emune menerimanya. Ia tidak menyangka sebuah busur cukup berat baginya. Tentu saja, karena tadi Alfred yang seorang kesatria yang memegangnya.


“Kuda-kudamu harus kokoh agar posturmu sempurna sehingga kedua lenganmu bisa maksimal mengatur kekencangan busur. Semakin jauh, semakin kencang talinya harus kau tarik. Perhatikan sasaran baik-baik. Ingat, di saat genting, kau belum tentu punya kesempatan kedua. Lumpuhkan lawanmu tanpa ragu. Nah, cobalah.” Alfred memberi ruang bagi Emune untuk bersiap.

__ADS_1


Emune menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Ia mengikuti instruksi Alfred tadi sebaik-baiknya. Ini pertama kali ia memegang busur dan anak panah tapi ia tidak menganggap dirinya sedang berlatih. Sasaran di depan sana adalah Goenhrad, musuh utamanya, dan ia akan membasminya dengan satu anak panah.


Goenhrad, kau harus mati!


__ADS_2