Orsgadt

Orsgadt
Kehangatan Eimersun


__ADS_3

Aula kerajaan Eimersun penuh dengan rakyat yang datang mengadu pada raja mereka. Sekali dalam seminggu, aula dibuka agar rakyat bisa menyampaikan keluh kesah mereka. Seperti sebelumnya, ada beberapa kekacauan yang ditimbulkan oleh tuan tanah yang lalim. Yang Mulia Raja Duncan tentu saja berang. Eimersun adalah negeri damai yang tidak akan membiarkan perbuatan melanggar hukum, apalagi sampai membuat orang lemah teraniaya.


Setelah setengah hari yang padat, sang raja akhirnya bisa beristirahat. Ratu Adelaine menggenggam tangan suaminya. Sang raja adalah orang yang sangat bijaksana. Satu-satunya yang menjadi ganjalan di hatinya adalah bencana yang melanda Orsgadt belasan tahun yang lalu. Berita yang dibawa oleh putra mereka tentu saja membuatnya syok sekaligus gembira.


“Elric sangat mencintainya,” ucap sang ratu sambil tersenyum.


“Ya,” jawab Raja Duncan. “Tak kusangka Elric akan menemukan Elizai. Setelah belasan tahun, aku hampir gila jika mengingatnya.”


“Sayangku, aku rasa lebih baik kita bersiap untuk menyambut dan membantunya. Lepaskan semua kesedihanmu.” Ratu Adelaine menuangkan minuman untuk suaminya. Ia menyodorkan gelas piala yang indah diiringi senyuman.


Sang raja menerima gelas piala itu dengan mantap. Satu tegukan sudah cukup untuk menghilangkan dahaganya. “Adelaine, kau yang paling tahu. Cedric dan Erika, mereka begitu bahagia menantikan kelahiran buah hati mereka.”


“Ya. Mereka berkorban untuk hal yang paling penting dalam hidup mereka, Elizai.” Ratu Adelaine refleks menatap lantai. Kesedihan itu tak juga hilang dari hati mereka.


“Aku tahu ... aku tahu.” Sang raja menyandarkan kepalanya dalam dekapan sang ratu. Bahkan seorang raja memerlukan tempat untuk berkeluh kesah. Ratu Adelaine tersenyum, suaminya adalah lelaki hebat dan ia akan selalu mendukungnya dengan cinta dan kesetiaan.


Kelompok kecil Emune tiba di Eimersun sore hari. Mereka melewati perbatasan dengan mudah karena Proner menunjukkan emblem yang diberikan oleh Elric diam-diam kepadanya sebelum mereka berangkat ke Kigurst. Aiden dan Sean menjemput mereka dan membawa mereka ke aula. Elric tidak bisa menjemput karena ditahan oleh ayahnya.


Sean melirik Emune. Gadis itu terlihat berbeda. Perjalanan ke Dunia Ajaib sepertinya sudah merubahnya. Dalam artian yang baik, ia lebih cantik, tegar dan berwibawa. Sean tersenyum membayangkan Elric yang pasti sudah tidak sabar bertemu dengan Emune.


Aula kerajaan menjadi tegang dan hening saat Emune dan kawan-kawannya masuk. Demi keamanan, Leonz membuat cahaya pelindung untuk membatasi ruang Horeen. Proner dan Avena berjalan di belakang Emune. Setelah mereka masuk, aula langsung di tutup.


Emune menunduk hormat pada raja dan ratu. Sebagai keturunan langsung Orsgadt, ia tidak punya kewajiban untuk menunjukkan gestur seperti itu tapi ia melakukannya karena sang raja dan ratu adalah orang tua dari kekasihnya. Elricnya yang tampan berdiri tegak di samping keduanya. Emune tahu, seperti dirinya, Elric pasti tak sabar untuk memeluknya tapi saat ini mereka harus menunggu.


“Elizai Murisie Nezca Orsgadt, salam hormat untuk Yang Mulia Raja dan Ratu Eimersun,” ucap Emune.


Yang Mulia Raja Duncan dan Ratu Adelaine menghampiri dan memeluk Emune bergantian. Emune adalah putri dari sahabat-sahabat mereka yang telah berpulang dengan cara yang mengerikan. Mereka sangat bersyukur bisa bertemu dan melihatnya sehat seperti ini.


“Kau sudah jadi gadis yang hebat,” ucap Raja Duncan penuh haru.


“Sangat cantik, seperti ibumu,” puji Ratu Adelaine. Ia menghapus air matanya yang terus mengalir sejak Emune tiba di aula.


“Terima kasih,” ucap Emune.


“Tidak perlu sungkan. Kita masih bisa berbincang nanti. Ada satu orang lagi yang sedari tadi tak sabar ingin memelukmu,” goda sang ratu.


Pipi Emune memerah karena digoda oleh sang Ratu. Ia sampai tidak sadar kalau Elric sudah berdiri di dekatnya.


“Kau pulang,” ucap Elric sambil memeluk Emune erat.


“Aku sudah pulang,” balas Emune. Kehangatan Elric yang selalu ia rindukan akhirnya bisa dirasakannya kembali. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Dunia seakan berhenti.


Mirena mendeham kecil. “Sudah cukup, Adik Kecil, kakakmu juga ingin memeluk Elizai,” ucapnya dengan nada jahil.


“Pengganggu,” ucap Elric kesal.


Emune tertawa geli. Ia tersenyum pada kakak kandung Elric. Mirena adalah putri yang sebenarnya, pikir Emune.


“Aku kakak dari bocah nakal ini, Mirena. Senang kau sudah pulang, Elizai,” ucap Mirena. Ia memeluk Elizai dengan lembut. Dada Mirena sesak memikirkan betapa beratnya kehidupan Emune. Selagi ia hidup di istana dalam kedamaian, kemewahan dan cinta kasih orang tuanya, Emune justru harus bertahan hidup selama belasan tahun dalam kekurangan.


“Terima kasih,” ucap Emune. Kakak perempuan Elric membuatnya merasa nyaman, seperti saat memeluk Fiona, pikir Emune.


Eric mengambil alih memperkenalkan teman-teman Emune kepada kedua orang tuanya dan kakak perempuannya. Raja Duncan menatap Leonz lekat-lekat.


“Apakah aku mengenalmu?” tanya Raja Duncan.

__ADS_1


“Tentu saja, Yang Mulia. Aku adalah gadis cilik tercantik di Dumina dan ini calon suamiku,” ucap Leonz sambil menarik lengan Proner. Proner garuk-garuk kepala.


“Wah wah, kau sangat beruntung, Proner,” ucap Raja Duncan yang kemudian tertawa keras.


Emune dan yang lain tertawa melihat kekonyolan Leonz. Raja Duncan menjabat erat tangan Avena dan Horeen. Mereka semua dipersilahkan untuk beristirahat. Emune ingin sekali sesegera mungkin berbicara mengenai penyerangan ke Orsgadt tapi kasihan juga pada teman-temannya yang kelelahan. Mandi dan sedikit tidur akan sangat membantu, batinnya.


Ratu Adelaine turun tangan menyiapkan semua kebutuhan Emune. Seperti menemukan putri yang telah hilang belasan tahun, ia bahkan menggantikan pakaian Emune dan menyisir rambutnya. Air matanya mengalir, teringat pada Erika dan Cedric, kedua orang tua Emune yang sudah meninggal.


“Yang Mulia ....” Emune merasa gugup karena ditatap terus oleh ibu Elric.


“Ibu, panggil aku ‘ibu’, Elizai. Izinkan aku menyayangimu seperti ibumu.” Ratu Adelaine membelai pipi Emune.


“Ibu,” ucap Emune. Senyumnya terkembang.


“Oh, wow, kau benar-benar akan membuat Elric pingsan,” komentar Mirena yang masuk ke kamar Emune. Calon adik iparnya itu sangat mempesona dengan gaun berwarna marun dan sulaman berwarna emas. Rambutnya terjalin rapi dan diberi hiasan rambut dari emas dan mutiara. Mirena ingat itu salah satu hiasan rambut kesayangan ibunya.


Emune tersenyum malu.


“Ibu, bukankah Ibu harus membantuku dengan beberapa daftar untuk penobatanku nanti?” tanya Mirena. Ia berkedip pada Emune. Ia ingin Emune menghabiskan waktu lebih banyak dengan Elric.


“Ibu tidak tahu apa yang Elizai alami tapi rasanya sudah cukup, jangan melakukan hal-hal yang aneh lagi,” ucap Ratu Adelaine. “Ah, bisakah kita tunda? Ibu senang sekali mendandani Elizai.” Ratu Adelaine berat meninggalkan Emune.


“Tidak bisa. Harus sekarang,” ucap Mirena sambil menggandeng pergi ibunya.


“Istirahatlah Elizai,” ucap sang ratu. Ia mendesah berat karena Mirena memang sedikit pemaksa.


Mirena tersenyum senang karena berhasil menjauhkan ibunya dari Emune. Ia bersenandung kecil. Elric, kau berhutang satu padaku, ucapnya geli dalam hati.


Emune merasa sedikit aneh karena memakai gaun mewah yang tebal dan berat. Sejak Fiona menyuruhnya memakai pakaian ringkas untuk perjalanan jauh ia tidak pernah lagi memakai gaun. Aku pasti terlihat seperti kurungan ayam, pikirnya geli.


Emune keluar dari kamarnya dan menyusuri selasar istana. Seorang pelayan memberitahunya ada gazebo dengan pemandangan cantik di sebelah barat. Emune bermaksud ke sana. Gazebo itu tinggal lima langkah lagi tapi tenaganya benar-benar habis karena harus mengangkat dan menyeret gaunnya. Aku merindukan celana panjang, tunik dan rompi sederhanaku, batinnya.


“Elric!” seru Emune.


“Emune, Sayangku,” ucap Elric. Ia duduk memangku Emune di gazebo. “Kau cantik sekali.”


“A-aku tidak tahu apa yang telah dilakukan Ibu padaku. Benarkah cantik?” tanya Emune.


“Sangat cantik. Ibu menyayangimu, kau tahu, bukan?” Tangan Elric menyentuh rambut Emune yang tersisir rapi.


“Ya. Aku beruntung,” jawab Emune.


“Ya. Aku juga beruntung. Tak kusangka gadis pemalu yang kutemukan di Ulrych adalah seorang calon ratu. Kau semakin cantik setiap hari,” puji Elric.


“Jangan menggodaku terus. Kau membuatku malu.” Emune memegang pipinya yang terasa memanas.


“Aku merindukanmu, setiap saat.” Elric menggenggam tangan Emune. Ia terkejut karena baru menyadari telapak tangan kiri Emune yang dibebat. “Tanganmu ....”


“Aku juga merindukanmu. Ah, ini. Kau tidak akan percaya. Setiap makhluk dunia ajaib meminta pembuktian darah untuk memastikan aku ini benar-benar keturunan Raja Agung Orsgadt. Beginilah jadinya.” Emune tertawa kecil.


Elric mencium telapak tangan Emune yang dibebat kain. Ia seperti tidak rela kekasihnya sampai terluka seperti itu. Seandainya aku bisa menemaninya waktu itu, batinnya. “Aku sangat senang kau sudah kembali. Lebih cepat dari perkiraanku.”


Emune menatap wajah tampan Elric. Sang pangeran Eimersun semakin tampan dalam pakaian kebesaran istana. “Banyak yang terjadi di perjalanan. Aku juga senang sekali. Teman-teman seperjalananku sangat hebat. Apa jadinya jika tidak ada mereka.”


“Itulah yang membuatku sedih. Aku benar-benar tidak bisa membantumu.” Elric tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena tidak bisa menemani dan menjaga Emune.

__ADS_1


Emune menyentuh wajah Elric. Matanya berkaca-kaca. “Tidak, Elric. Kau adalah kekuatanku. Aku mungkin tidak akan bisa bertahan tanpamu.”


“Emune, kekasihku!” Elric mencium lembut kening Emune.


Pangeran dan putri yang bersatu dengan cara yang luar biasa itu lalu berciuman mesra. Setelah berpisah cukup lama, rasanya wajar jika mereka larut dalam perasaan haru dan rindu. Mereka berdua tidak sadar bahwa cukup jauh di seberang sana, Raja Duncan tersenyum melihat mereka.


***


Emune duduk dengan anggun di kursi di dalam kamarnya ketika Proner, Leonz, Horeen dan Avena masuk. Teman-temannya tampak terkejut melihat Emune yang penampilannya telah berubah. Cantik, anggun dan memang pantas menjadi seorang ratu.


“Yang Mulia,” ucap Proner sambil membungkuk hormat. Ia tidak bisa lagi bersikap seperti pria biasa kepada Emune yang kelak menjadi Ratu Orsgadt.


Emune ingin meninju bahu Proner. “Proner, kau terlalu berlebihan. Bangkitlah.”


“Hamba ....” Proner tetap membungkuk.


“Tidak. Kau tidak kuizinkan membungkuk seperti itu. Berdiri tegak,” perintah Emune.


Proner berdiri. Ia tidak mungkin melawan calon ratunya.


“Kau cantik sekali,” puji Leonz.


“Terima kasih, Leonz,” ucap Emune. “Ratu Adelaine berkeras agar aku mengenakan gaun di istana.”


“Jangan bilang kau rindu pada tunik dan rompimu,” goda Avena.


“Sangat. Apa yang bisa kulakukan dengan gaun ini?” Emune melihat sulaman indah yang rasanya disentuh saja akan membuatnya berdosa.


“Kau bisa menggoda Elric,” ucap Horeen geli.


“Hei, kau punya selera humor sekarang. Ya, aku tahu, cinta bisa mengubah peri sekalipun,” goda Emune.


Horeen yang digoda, malah Avena yang memerah karena malu. Horeen merangkul Avena. Avena jadi tambah malu.


“Silahkan duduk. Maaf aku meminta kalian datang. Tinggal di istana rasanya beda sekali. Aku jadi ingin tidur di halaman belakang istana saja malam ini.” Emune meringis.


Teman-teman Emune tertawa geli. Sejak berkumpul di Toure hingga akhirnya tiba di Eimersun, mereka selalu tidur di udara terbuka. Membuat api unggun, makan dan bercanda ramai di saat tenang. Petualangan mendebarkan itu kini berakhir. Tinggal perang yang harus mereka hadapi.


“Aku juga merasa aneh dengan semua pelayan yang terus bolak-balik bertanya apa yang kuinginkan,” ucap Avena sambil meringis.


“Harusnya kau jawab: aku hanya perlu Horeenku tersayang,” goda Proner. Ia terkikik geli. Avena langsung menjitaknya dengan kabut es.


“Bukankah besok akan ada rapat militer?” tanya Avena.


“Ya. Arrand, Fiona dan Greg akan datang besok,” jawab Emune. “Leonz, apa menurutmu Yhourin sudah mengetahui keberadaanku di Eimersun?” tanya Emune.


“Ya. Aku rasa ia dan Goenhrad bertindak bijak dengan tidak menyerang Eimersun,” jawab Leonz.


Leonz berjalan keluar dari kamar. Ia kembali dengan seekor kupu-kupu hitam di tangannya. Kupu-kupu itu diletakkannya di atas meja. Ia menebar serbuk ajaibnya di atas tubuh si kupu-kupu. Binatang kecil itu mengejang lalu menciut dan lenyap meninggalkan pusaran kabut putih.


Kelimanya kini bisa melihat seorang wanita cantik sedang berbaring dalam pelukan seorang pria bertubuh kekar. Wanita itu sedang tersenyum karena dibisiki sesuatu oleh sang pria. Wajah pria itu hampir tak terlihat karena tertutup oleh rambutnya tapi mata kirinya merah.


“Aku tahu wajahmu, Yhourin,” ucap Leonz dingin. Seringai puas muncul di bibirnya yang mungil.


Wanita cantik di dalam kabut putih itu tiba-tiba membelalak. Ia menggerakkan tangannya dengan cepat. Yhourin dan lelakinya lenyap dan kabut putih perlahan sirna.

__ADS_1


“Penyihir koyol. Kau pikir bisa mengalahkan keturunan Hertena? Kau bermimpi!” seru Leonz. Ia lalu tertawa terbahak-bahak.


Emune, Proner, Horeen dan Avena meringis. Leonz memang gadis cilik yang aneh.


__ADS_2