Orsgadt

Orsgadt
Peta Kekuatan


__ADS_3

Pagi yang damai di Eimersun telah tiba. Emune menghadap barat dan menatap langit biru. Jauh di sebelah barat, tanah kelahirannya sedang menantinya. Ia memegang dadanya yang terasa sakit. Setelah tujuh belas tahun hidup tanpa tahu apa-apa, merasa menjadi satu-satunya manusia yang terabaikan, kini Emune memahami betapa takdir sungguh mengherankan.


Sentuhan lembut pada lengannya menghentikan lamunan Emune. Leonz tersenyum padanya. Arrand, Fiona dan Greg sudah sampai di istana. Mereka akan segera membahas penyerangan ke Orsgadt.


“Jangan khawatir, Goenhrad hanya boneka. Yhourin yang harus kita waspadai,” ucap Leonz.


“Ya. Penyihir itu pasti akan membuat kesalahan.” Emune kian hari kian menyadari kekuatan kelompoknya. Satu-satunya yang mengkhawatirkan justru dirinya sendiri.


“Dia tidak setangguh yang orang-orang ceritakan.” Leonz tersenyum.


“Begitukah?” Emune menghentikan langkahnya.


Leonz mengangguk manis. “Makhluk yang memiliki kekuatan terikat pada kode kesatria untuk menggunakannya hanya demi kebaikan. Jika kode itu dilanggar, ia tidak lagi berguna.”


“Leonz, tentang Proner,” ucap Emune. “Lindungi dia. Terlalu banyak yang sudah ia lakukan untukku.”


Leonz tertawa kecil. “Proner akan mengamuk jika mendengarmu bicara seperti ini. Ia seorang keturunan kesatria dan ia harus membelamu.”


Emune jadi ikut tertawa. “Ya, aku konyol sekali. Lagipula, kau takkan mungkin mau kehilangan calon suamimu, bukan?”


“Tepat sekali,” jawab Leonz.


Emune tersenyum. Masih bergandengan, mereka melanjutkan berjalan ke aula kerajaan.


Di aula kerajaan Eimersun yang megah, tangis Fiona tak lagi bisa dibendung. Ia menghambur dan memeluk Emune. Greg dan Arrand tersenyum melihat keduanya.


“Kau sehat. Emune, kau hidup,” ucap Fiona.


“Iya. Aku senang kau juga sehat. Aku merindukanmua,” ucap Emune.


“Aku juga. Oh, ya, kau belum menjadi ratu tapi kau sudah seperti ratu. Sangat anggun,” puji Fiona.


“Aku sebenarnya ingin kabur dari gaun ini,” bisik Emune.


Fiona tertawa geli. Ia ingat Emune yang dulu dipaksanya memakai baju ringkas. Begitu sudah terbiasa, sekarang malah harus memakai gaun mewah karena tuntutan Ratu Adelaine.


Emune beralih dari Fiona ke Greg. Greg memeluknya haru. Emune yang dulu harus ia selamatkan dari penculik sekarang sudah jadi perempuan yang berbeda meski kebaikan dan kelembutan tak hilang dari matanya.


“Masih jauh untuk bisa merasa tenang tapi aku sungguh senang kau sudah pulang,” ucap Greg. Ia menepuk lembut bahu Emune.


“Aku rindu menjahili kau dan Fiona jadi kuputuskan untuk segera kembali,” gurau Emune.


Greg tertawa lalu mencubit pipi Emune. “Masih troll kecil yang konyol,” ucap Greg.


Sean berbisik pada Elric. “Kenapa Greg boleh memeluk Emune?”

__ADS_1


“Dia ayah Emune yang keenam,” ucap Elric sambil tersenyum. Sean menggeleng tidak mengerti.


Pria terakhir yang dihampiri Emune adalah Arrand. Ia memeluk Arrand sambil menangis terisak. Jika seorang calon ratu tidak boleh menangis di pelukan orang-orang yang disayanginya, maka Emune akan memilih untuk tidak menjadi ratu.


Arrand membelai rambut anak angkatnya dengan penuh kasih. Perjuangan Emune sangat berat. Jika bisa ia ingin menggantikannya. “Kau adalah kebanggaan kami semua, Emune. Kau tidak pernah sendiri.”


“Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana jadinya tanpa kebaikan semua orang,” ucap Emune.


Arrand mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. “Sebuah surat dari kedua orang tuamu. Saat ibumu mengandung, ia dan ayahmu membuat surat ini. Mereka menitipkannya padaku agar aku mau berkunjung lagi ke istana di lain waktu. Tak disangka bencana itu datang dan merenggut nyawa mereka.”


Emune menggenggam surat yang diberikan oleh Arrand. Ia akan membacanya saat sendirian nanti. “Terima kasih, Ayah,” ucap Emune.


***


Ruang bawah tanah kerajaan Orsgadt tampak seperti baru kena hanntaman raksasa yang mengamuk. Yhourin sudah sampai pada batas kesabarannya. Gadis keturunan terakhir Raja Agung Orsgadt sudah kembali dari Dunia Ajaib. Hanya menunggu waktu, mereka pasti akan menyerang Orsgadt. Keturunan Hertena yang ada di pihak Eimersun sudah membobol pertahanan sihirnya. Itu tidak boleh lagi terjadi.


Yhourin menggerakkan tangannya dan dalam sekejap semua kekacauan telah hilang. Ruang bawah tanah sudah kembali seperti semula. Meski begitu, ia merasa sesak. Ia memutuskan untuk mendatangi Goenhrad.


Goenhrad menutup matanya. Ia tidak bernafsu melihat perempuan-perempuan cantik yang sedang menggerayangi tubuhnya yang kekar. Seandainya tidak membutuhkan cahaya kehidupan mereka, ia pasti sudah melempar ketiganya dari jendela menara. Ia berharap Yhourin yang ada di sini. Ia menginginkan Yhourinnya.


Yhourin membawa mendung di kepalanya sepanjang jalan ke kamar Goenhrad. Kesal, murka dan muak dengan keberuntungan Elizai. Ia akan membuat perhitungan dan gadis itu harus mati.


Begitu sampai di depan kamar Goenhrad, pintu terbuka sendiri karena kekuatan Yhourin. Melihat Goenhrad tampak tak tertarik pada wanita-wanita cantik yang sedang membelainya. Yhourin berdecak kesal. Dengan satu gerakan tangan, ketiga wanita itu berdiri, keluar dari kamar dan terduduk lemas di luar, seluruh indra mereka sedang dilumpuhkan oleh Yhourin. Pintu lalu tertutup.


“Terima kasih untuk menyelamatkanku dari kebosanan,” ucap Goenhrad.


Yhourin menunduk dan berbisik di telinga Goenhrad yang sedang menahan pinggangnya. “Aku akan memberi kejutan pada Elizai.”


Goenhrad menyeringai. Yhourin tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya. Ia tidak menyahutinya karena tidak ada gunanya. Ia lebih suka membuat Yhourin terkapar malam ini setelah bercinta dengannya agar ia lupa pada niatnya barusan.


Menyerang Eimersun adalah langkah yang buruk. Yhourin bisa memulai perang jika melakukannya. Kekuatan Eimersun sama dengan gabungan kekuatan Arsyna dan Imperia.


Meskipun Goenhrad memiliki Yhourin dan Anthura, ia tidak mau gegabah. Yhourin sendiri yang mengatakan ada peri dan keturunan peri yang menjaga Elizai. Itu yang mereka tahu, bagaimana dengan yang tidak mereka ketahui?


“Kau sedang tidak berminat menyentuhku?” tanya Yhourin.


“Tentu tidak. Aku masih sanggup membuatmu terkapar hingga besok pagi,” ucap Goenhrad. Seringai mesum memenuhi wajahnya yang tampan meski mata kirinya yang merah tampak mengerikan.


***


Meja besar di tengah-tengah ruangan berisi peta timbul Artamea. Raja Duncan bersedekap, begitu juga Arrand dan Alfred. Sebagai para ahli strategi, jelas sekali posisi mereka sulit. Melawan pasukan terlatih Orsgadt saja akan butuh tiga sampai lima kali lipat kekuatan pasukan mereka.


Bantuan dari Arsyna sudah bergerak tapi mereka baru bisa tiba di perbatasan Orsgadt lima sampai tujuh hari ke depan. Imperia masih saja mengambil sikap diam, Raja Duncan terpaksa menghapus Imperia dari daftar bantuan yang mereka butuhkan.


Tiba-tiba pintu ruangan besar terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk sambil melepas tudungnya. Raja Duncan, Alfred dan Arrand segera menghampirinya. Mereka berpelukan sambil tertawa gembira karena bisa berjumpa lagi.

__ADS_1


Tubuh Emune menegang. Ia berdiri dari kursinya. Elric ikut berdiri. Emune berlari menghampiri pria itu dan langsung memeluknya. Ia menangis terisak di dada orang yang baru saja datang.


“Kesatria Hemworth,” ucap Emune pelan.


Pria yang ternyata adalah Kesatria Hemworth terkejut karena dipeluk oleh calon ratu Orsgadt. Begitu Emune melepaskan pelukannya, ia langsung berlutut memberi hormat.


“Yang Mulia,” ucapnya khidmat.


“Tidak, kau tidak boleh berlutut di hadapanku.” Emune memegang bahu sang kesatria yang telah menyelamatkannya belasan tahun lalu.


Kesatria Hemworth tidak punya pilihan lain selain mematuhi perintah Emune. Ia berdiri dan tersenyum melihat bayi mungil itu sudah menjadi gadis cantik, benar-benar mirip Pangeran Cedric dan Putri Erika. Ah, Arthen pasti akan bahagia jika bertemu dengannya, batinnya.


Emune memeluk kesatria Hemworth sekali lagi. “Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucapnya. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,” ucapnya lirih.


“Jadilah ratu yang baik. Itu balasan yang pantas untuk semua kesulitan yang kau alami selama ini,” ucap sang kesatria dengan tatapan lembut.


“Aku berjanji,” ucap Emune.


“Kenapa dia boleh memeluk Emune?” tanya Sean pada Elric.


“Dia ayah Emune yang lain,” jawab Elric. Lagi-lagi Sean hanya meringis tidak mengerti.


Rapat berlangsung alot dan lama. Kekhawatiran tentang Imperia menjadi topik utama. Seumpama Imperia tidak melakukan apa-apa, Eimersun dan Arsyna masih punya peluang untuk menang tapi jika Imperia berbalik menentang demi cari selamat dari amukan Anthura, mereka bisa kalah telak.


Horeen berdiri dan menunjuk batas wilayah Imperia. “Aku akan berjaga di sana,” ucapnya. “Jika mereka menunjukkan gelagat yang tidak menyenangkan, aku akan memisahkan wilayah Imperia dari Arsyna dan Orsgadt.”


Hemworth melihat ke arah Horeen. Ia tidak menyadari ada peri di antara mereka karena terlalu fokus mengatur strategi bersama Raja Duncan, Arrand dan Alfred. Bagaimana bisa ada peri di sini, pikirnya.


“Aku Horeen, kesatria Hemworth. Jangan khawatir, aku akan melakukan apa pun untuk membantu Emune,” ucap Horeen.


“Terima kasih, Horeen,” ucap Kesatria Hemworth.


“Akan kuceritakan nanti,” bisik Alfred pada kesatria Hemworth.


Leonz berdiri. Ia menebar serbuk ajaibnya di atas peta timbul.


“Perkuat bagian barat. Ada gerakan kekuatan gaib di sana. Penyihir Goenhrad sepertinya sudah tidak sabar,” ucap gadis cilik itu sambil tersenyum.


“Tanganku sudah gatal ingin membekukan gadis api itu,” ucap Avena. Ia ingat keisengannya dengan Horeen beberapa waktu lalu.


“Berarti yang tersisa tinggal penyihir itu dan Anthura,” ucap Arrand.


“Aku bisa menghambatnya tapi tentu saja tidak bisa mengalahkannya,” ucap Leonz.


Emune menekur, ia sampai sekarang belum menemukan cahaya biru yang dimaksud dalam Buku Kebijaksanaan. Olevander tidak menyebutkan apa pun. Ia harus menemukannya segera.

__ADS_1


Elric menggenggam tangan Emune. Kekasihnya itu membalasnya. Tekad bulat sudah terlihat di mata gadisnya, ia hanya bisa memberinya semangat.


“Aku tidak akan kalah,” ucap Emune.


__ADS_2