
Perkiraan Raja Duncan benar, Goenhrad tidak mungkin mundur. Bala tentara Orsgadt sudah siap menghadapi lawan. Empat orang panglima perang berbadan kekar dan berwajah sangar menyeringai memamerkan wajah mereka yang haus darah. Saat ini hanya tembok setinggi hampir tujuh meter yang menjadi penghalang kedua kubu.
Raja Duncan menunggu saja. Ia tidak berniat menyuruh pasukannya maju. Seperti yang ia sampaikan melalui utusan kerajaan, ia masih memberi Goenhrad kesempatan untuk mundur.
Alfred dan Mirena duduk dengan tegak di atas kuda masing-masing. Alfred tersenyum melihat anak didiknya yang tampak tenang dan waspada. Ia yakin kejayaan Eimersun akan bertambah dalam kepemimpinannya kelak.
Mirena menatap tajam pada tembok besar di depannya. Prajurit-prajurit Eimersun terlatih menghadapi segala jenis pertarungan tapi keberadaan tembok itu hanya akan menghambat mereka. Itu juga berarti tenaga pasukannya akan lebih dulu terkuras hanya untuk melewati tembok tinggi itu.
Alfred menyuruh pasukan pemanah dan pasukan ketapel untuk bersiap. Hanya pasukan ini yang bisa mereka andalkan untuk menjaga pasukan Eimersun dari serangan mendadak. Angin di bukit Thorsca bergerak ke arah timur. Peperangan belum terjadi tapi Alfred sudah bisa mencium bau anyir darah.
Tiba-tiba asap muncul dari atas tembok perbatasan Orsgadt. Angin yang membawanya ke arah timur menutup pandangan pasukan Eimersun. Raja Duncan menggeram marah saat beberapa barisan pasukannnya terkulai jatuh.
“Racun! Itu asap beracun!” teriaknya.
“Penyihir licik!” Avena melotot. Ia merasa marah dan jijik karena cara licik pasukan Orsgadt. Dengan satu ayunan ia menghentikan gerakan asap beracun dan membalikkannya ke pasukan Orsgadt. Kini giliran pasukan Orsgadt yang berjatuhan mati.
Serangan barusan adalah pernyataan melawan dari Orsgadat. Sudah tidak ada lagi yang menahan Raja Duncan untuk balas menyerang Orsgadt. Ia memerintahkan pasukannya untuk bergerak.
Pasukan ketapel mulai melemparkan batu-batu besar ke arah tembok dan pasukan Orsgadt. Panah-panah api berterbangan dari kedua kubu. Avena membiarkan pertarungan antar manusia itu berjalan tanpa campur tangannya sampai ia melihat hanya setengah dari pasukan Orsgadt yang tersisa.
Kesal karena pasukan Orsgadt lagi-lagi meniupkan asap beracun, Avena menggebrak tembok perbatasan Orsgadt. Batu-batu besar yang menjadi bahan utama tembok itu berterbangan ke arah pasukan Orsgadt. Panik karena satu-satunya penghalang dengan pasukan Eimersun sudah luluh lantah, pasukan Orsgadt dikejutkan lagi saat asap beracun yang mereka buat berbalik menyerang mereka.
Melihat tembok perbatasan hancur, pasukan Eimersun maju dan menyerang tanpa ampun. Ketangkasan para prajurit yang terlatih tidak diragukan lagi. Dalam sekejap, bagian timur Orsgadt sudah mereka kuasai.
Di bagian selatan perbatasan Orsgadt, Kesatria Hemworth dan Arrand sedang menyerbu gerbang utama Orsgadt. Arrand yang lebih dikenal sebagai seorang saudagar ternyata tidak kalah tangguh dengan Hemworth. Hampir tidak ada perlawanan dari pasukan Orsgadt yang menjaga perbatasan.
Langit mulai berwarna merah tanda matahari segera terbenam. Mayat-mayat bergelimpangan, bau darah memenuhi udara dan sorakan kemenangan bergema ke seluruh penjuru. Pasukan Orsgadt kalah telak.
Masing-masing panglima Eimersun mengerahkan prajurit baru untuk bersiap dengan serangan berikutnya. Semua prajurit yang terluka sudah diamankan dan diobati. Sebentar lagi malam dan masih ada satu tembok lagi yang harus mereka hadapi sebelum sampai di istana Orsgadt.
“Ini terlalu mudah. Alfred, apa kata pengawas menara?” tanya Raja Duncan.
“Ada pasukan besar bersiaga di sekitar istana.”
“Ada apa di balik tembok ini?” tanya Raja Duncan lagi.
“Yang Mulia, tidak ada siapa pun yang menjaga di balik tembok dan gerbang utama,” jawab Mirena. Ia selalu memanggil ayahnya dengan sebutan “Yang Mulia” saat berada di luar istana.
“Firasatku mengatakan ada hal buruk yang sedang menanti kita. Perintahkan semua pasukan untuk bersiaga.” Raja Duncan tidak akan pernah menurunkan kewaspadaannya sedikitpun.
“Baik, Yang mulia,” jawab Alfred dan Mirena bersamaan.
Sementara itu Kesatria Hemworth dan Arrand sedang menyusun strategi untuk menghancurkan gerbang dalam Orsgadt yang tebal dan kokoh. Gerbang dalam ini konon harus ditarik oleh dua ekor gajah setiap hari baru bisa terbuka.
“Kirim prajurit intai,” ucap Kesatria Hemworth pada bawahannya.
__ADS_1
Lima orang prajurit bersiap untuk menaiki tembok pembatas. Jangankan bisa memanjat, baru menempelkan tangan saja, kelimanya terpental jauh dan jatuh dengan cedera dalam yang serius. Lima orang lagi mencoba untuk memanjat dari lima titik yang berbeda. Seperti tadi, mereka juga terpental jatuh.
“Sihir,” ucap Arrand.
“Sudah pasti. Penyihir Goenhrad tentu takkan tinggal diam,” sahut Hemworth.
Kesatria Hemworth geram luar biasa. Sihir itu tidak bisa ditembus oleh senjata apa pun. Kabar dari perbatasan timur juga sama bahkan Avena juga tidak bisa menembusnya. Mereka hanya bisa berjaga-jaga saja sekarang.
***
Leonz menatap tajam ke arah barat. Langit sudah merah tua, sebagian berubah jadi gelap. Sudah saatnya, pikir Leonz.
“Pangeran Elric, Sean dan Aiden, apa pun yang terjadi, jangan lepaskan genggaman tangan kalian,” pesan Leonz. Proner sudah pernah melakukan pemintasan seperti ini jadi tidak perlu diingatkan lagi.
Emune berlutut dan menggenggam tangan Leonz yang berwujud gadis cilik. Proner, Elric, Sean dan Aiden mengelilingi keduanya sambil berlutut dan bergenggaman tangan. Lingkaran Arthenes mulai mengeluarkan cahaya yang bergerak naik seperti air mancur yang berjajar. Cahaya itu muncul dari lingkaran terluar lalu terus masuk ke lingkaran terdalam. Ketika seluruh garis di lingkaran terdalam berubah menjadi biru terang, mereka berenam menghilang.
Keenam pejuang itu muncul di ruangan besar berbentuk lingkaran. Elric dan Proner sudah menghunus pedang masing-masing, begitu juga Aiden dan Sean. Mendengar suara langkah kaki dan pintu yang dibuka, keenamnya langsung mencari tempat persembunyian.
Dua orang prajurit masuk dengan pongahnya. Mereka tidak tahu bahwa ada enam orang penyusup di ruangan itu. Sean dan Aiden dengan cepat melumpuhkan keduanya dan menarik tubuh mereka menjauh dari pintu. Mereka menajamkan telinga. Tidak ada tanda-tanda kedatangan orang lain.
“Kita ada di mana?” tanya Sean.
“Menara Orsgadt sebelah tenggara,” ucap Emune.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Aiden.
“Baiklah, kurasa Elric harus belajar padamu. Ia suka tersesat di istananya sendiri,” gurau Aiden sambil berbisik.
Emune tertawa geli melihat Elric yang menyeringai kesal pada Aiden. Ah, bisa-bisanya aku tertawa di saat genting seperti ini, pikir Emune.
“Kita harus ke kamar raja. Zirahku ada di sana,” ucap Emune. “Leonz, kenapa pasukan Eimersun belum melewati gerbang kedua?” tanya Emune. Dari menara tenggara mereka masih bisa melihat pasukan Eimersun yang tertahan di luar tembok kedua Orsgadt.
“Sihir Yhourin. Emune, pergilah. Aku akan mengurusnya dari sini,” jawab Leonz.
“Aku akan menjaga Leonz,” ucap Aiden. Tidak mungkin mereka semua meninggalkan Leonz sendiri.
“Aku tidak perlu dijaga,” ucap Leonz. Ia sudah sibuk menyiapkan serbuk ajaibnya.
“Ayo,” ajak Emune pada yang lain. Ia bisa melihat Proner yang menggenggam tangan kecil Leonz sebelum bergabung dengan yang lain meninggalkan ruangan besar itu.
Emune berada di tengah barisan Proner, Sean, Elric dan Aiden yang menjaganya. Zirah Raja Agung Orsgadt adalah warisan turun temurun yang sangat penting. Ia harus mengambilnya segera.
Rute yang mereka lalui berbelok-belok dan memusingkan. Istana megah ini memang didesain dengan banyak pertimbangan mengenai keamanan keluarga kerajaan dan penghuni lainnya jadi tidak heran jika ada banyak lorong dan ruang rahasia.
“Kujamin kau akan tersesat di sini saat mencari Emune,” ucap Sean pada Elric.
__ADS_1
“Jangan khawatir, aku punya sensor cinta yang kuat,” ucap Elric sambil menyikut Sean.
Wajah Emune memerah mendengar ucapan Elric.
“Tuan Putri, wajahmu memerah,” goda Aiden.
Proner mendeham sambil menyikut Aiden.
Aiden meringis sambil bergumam, “Pengawal galak!”
Mereka sampai di bangunan utama. Emune hanya perlu melewati selasar dan menaiki tangga ke kamar raja. Ia tiba-tiba berhenti. Matanya melihatan kilasan kejadian saat Emilia dan putri kecilnya, Nania, dieksekusi. Tubuhnya limbung dan hampir jatuh. Untung saja Elric menahannya.
Emune menyeka sudut matanya yang basah lalu cepat menaiki tangga. Proner mengingatkan agar mereka berhati-hati. Tidak ada satu pun penjaga di depan kamar raja. Kemungkinan ini adalah jebakan, pikirnya.
Benar saja, begitu Proner dan Aiden membuka pintu kamar, dua orang berpakaian hitam dan berbadan tinggi besar menyambut mereka dengan sabetan pedang dan kapak. Tidak hanya dua orang, di dalam kamar itu ada tujuh orang lagi yang sudah siap dengan senjata pembunuh masing-masing. Karena tidak ada pilihan lain, Elric dan Sean menyerbu sambil menjaga Emune.
Emune tidak berdiam diri. Ia mungkin tidak setangguh empat lelaki hebat yang sedang melindunginya tapi ia juga bukan perempuan lemah. Belati memang bukan pilihan bertempur yang tepat saat menghadapi lawan bertubuh tinggi besar.
Emune bergerak lincah menghindari serangan bertubi-tubi dari lawannya. Dengan lompatan dan ayunan belatinya, ia berhasil melukai lengan kekar lawannya hingga darah terus mengucur dari luka sabetan itu. Lawan Emune terjatuh. Emune langsung menusuk jantung lawannya.
Tangan Emune gemetar. Ini pertama kalinya ia membunuh seseorang. Musuh sekalipun, ia tidak ingin ada yang mati di tangannya. Emune mencabut belatinya lalu berlari ke arah lemari tempat zirah Orsgadt disimpan.
Melihat Emune berlari ke arah lemari zirah, salah seorang musuh berlari mengejarnya. Ia kurang cepat karena Proner sudah berdiri menghalangi jalannya. Pertarungan sengit terjadi. Sebuah sabetan menggores lengan Proner namun tidak mematikan.
Proner yang merasa tidak punya waktu dengan para pembunuh ini segera menuntaskan bagiannya. Dalam sekejap saja lawannya sudah tumbang dengan luka tusukan di leher. Ia bergabung dengan Elric, Sean dan Aiden yang masih harus melawan enam orang lagi.
“Cuma seperti ini kekuatan kesatria Eimersun?” goda Proner sambil mengambil alih salah satu lawan Aiden.
“Ha-ha-ha, kesatria Orsgadt pandai melucu,” sahut Aiden. Ia kesal diolok Proner jadi secepatnya ia menuntaskan pertarungannya. Satu lagi musuh yang terkapar tak bernyawa di lantai.
“Aiden lebih cocok sebagai penakluk para gadis,” gurau Sean. Tangannya memainkan pedang dengan lihai. Sebuah tusukan yang dibuat oleh Sean langsung menghabisi lawannya.
“Aku rasa ia sudah merindukan mereka saat ini,” tambah Elric, membuat panas Aiden. Lawannya sendiri sudah tak bergerak dan mati terduduk di dinding kamar. Elric menghampiri Emune yang tertegun di depan lemari kaca.
“Hei, Elric, jangan bilang kau mau pacaran di sana!” seru Aiden.
“Aiden, jika kau berisik terus, aku akan beritahu gadis-gadismu kalau kau mengintip Bu Genia mandi di sungai,” seru Elric sambil menyeringai.
Tiga orang lawan yang tersisa akhirnya berhasil dijatuhkan oleh Proner, Sean dan Aiden. Ketiganya bergabung dengan Emune dan Elric.
“Perlu kupecahkan?” tanya Sean. Ia heran melihat Emune yang sedari tadi tidak bergerak di depan lemari kaca. Di dalam lemari kaca ada zirah lengkap dan pedang besar. Sepertinya terlalu besar untuk Emune, batinnya.
“Tidak perlu. Mereka akan keluar sebentar lagi,” jawab Emune.
Aiden memeriksa keluar kamar. Tidak ada siapa-siapa. Sepertinya hanya gerombolan pembunuh ini saja yang disiapkan untuk mereka.
__ADS_1
Cahaya terang menyilaukan keluar dari lemari kaca. Semua menutup mata mereka, kecuali Emune. Keheningan tiba-tiba muncul. Proner, Elric, Sean dan Aiden seperti membeku.
Begitu cahaya itu hilang, keempatnya baru bisa membuka mata. Sean dan Aiden terpana melihat Emune. Elric tentu saja menatapnya dengan penuh cinta. Proner tersenyum lega, calon ratunya sudah siap dengan zirah keemasan dan pedang dengan gagang berhiaskan ukiran phoenix.