Orsgadt

Orsgadt
Sang Penyihir


__ADS_3

Yhourin tertawa mendengar ucapan Emune. Penyihir keji itu menatap tajam pada gadis kecil pengganggu yang ada di hadapannya. Ia menunjuk Emune dengan tongkat Eltran yang ada di tangan kirinya. “Kau bisa lolos belasan tahun lalu tapi kali ini aku pastikan kau dan semua manusia di Artamea akan jadi debu!”


“Jangan terlalu yakin. Ramalan itu belum tentu benar. Aku bukti nyata bahwa takdir tidak selalu berpihak pada orang jahat,” ucap Emune. Sebuah senyum merendahkan muncul di bibirnya. Kali ini ia tidak merasa perlu beramah tamah pada sumber kehancuran Orsgadt.


“Terlalu percaya diri. Darah Orsgadt-mu tidak ada artinya. Kau hanya gadis lemah bahkan zirahmu tidak berguna.” Yhourin tertawa keras.


“Penyihir pongah. Sebentar lagi kau akan mati,” ucap Horeen dingin.


“Ah, ini dia si peri sial. Enyah dari hadapanku!”


Selagi Yourin ribut saling hina dan menjajal kekuatan dengan Horeen, Proner berbisik pada Emune. “Bisakah kita lenyapkan dia segera? Di luar masih ada Korta dan Anthura.”


“Mana jantung Elqoz?” tanya Emune.


Proner memberikan jantung Elqoz yang sudah mengeras dan berwarna perak. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Emune dengan benda itu. Emune mengambil ancang-ancang lalu melempar jantung Elqoz ke arah Yhourin. Benda sekeras batu itu tepat mengenai pelipis Yhourin yang tidak awas.


Yhourin memandang murka pada Emune. Berani-beraninya gadis kurang ajar ini melempariku, geram Yhourin. Ia menggerakkan tongkat Eltran dan membuat benda yang mengenainya tadi melesat ke arah kepala Emune yang tanpa helm pelindung.


Proner tentu tidak tinggal diam. Ia menangkis jantung Elqoz dengan pedang cahaya. Benturan pedang dan jantung Elqoz membuat tangan Proner keram. Jantung Elqoz pecah berkeping-keping.


Horeen mendekati Emune. “Apa yang kau lakukan?” bisiknya.


“Olevander menyuruhku melempar jantung Elqoz pada musuhku,” jawab Emune, ikut berbisik.


Horeen dan Proner melotot tidak percaya mendengar ucapan Emune. Sepertinya Olevander memang menyembunyikan sesuatu dari mereka. Tidak hanya satu, sangat banyak. Keduanya meringis karena sekarang Yhourin sudah menatap mereka dengan pandangan membunuh.


“Cukup bermain-mainnya, gadis bodoh!” Yhourin menyerang membabi buta dengan tongkat Eltran dan gerakan tangannya yang cepat.


Horeen memasang badan menjaga Proner dan Emune. Penyihir itu memang mengesalkan dan ia ingin sekali menjajal kekuatannya. Sapuan angin dan api yang dibuat oleh Yhourin bergerak acak bahkan membelok ke belakang Horeen. Horeen tidak sedikitpun terluka tapi Proner yang hanya menggunakan zirah buatan manusia menjadi sasaran empuk. Darah mengalir dari luka-luka di tubuh Proner lalu ia tumbang ke lantai.


Horeen menyambar tubuh Proner, meletakkannya di belakang meja besar, menyalurkan energi ke dada Proner lalu kembali melindungi Emune. Tangannya terayun menyerang Yhourin dengan gelombang yang tak terlihat. Yhourin tidak gentar meski diserang berkali-kali oleh Horeen. Tongkat Eltran di tangannya adalah senjata ampuh yang dapat ia gunakan untuk menangkis apa pun.

__ADS_1


Emune masih membeliak marah melihat Proner yang terluka. Ia bahkan tidak sadar kalau Avena sudah datang dan membantu Horeen. Darah Proner yang menggenang di lantai mengingatkannya pada pembantaian Orsgadt.


Avena menyerang Yhourin dengan ganas. Ia terlanjur muak pada keturunan  api itu. Peperangan mengerikan di luar sana masih membekas di ingatannya. Korta berhasil ia tahan tapi tidak lama lagi pasti akan terbebas dari mantra yang dibuat Leonz.


“Horeen, Avena, keluarlah. Bantu pasukan di luar!” seru sebuah suara.


Horeen dan Avena terkejut. Itu suara Emune tapi ada sesuatu yang berbeda. Mereka melompat menjauh dari Yhourin dan terkejut saat melihat Emune. Gadis itu sekarang mengenakan sebuah helm pelindung yang melengkapi zirahnya. Cahaya biru bergerak naik dari kaki lalu menutupi tubuhnya. Gerakan cahaya biru itu seperti api yang berkobar.


“Pergilah,” ucap suara itu tegas.


Avena dan Horeen melesat keluar dari menara. Mereka yakin suara tadi adalah suara batin yang digunakan oleh Emune. Avena tidak tahu apa yang terjadi pada Emune tapi energi yang dipancarkan Emune sangat kuat. Ia dan Horeen memang lebih dibutuhkan di medan perang saat ini.


Horeen menggelengkan kepalanya. Ia sedang sibuk menata pikirannya. “Semoga ini tidak seperti yang kukira,” gumamnya pelan.


“Kau!” teriak Yhourin. Ada ketakutan terbersit di matanya.


“Kau takut, Yhourin?” ucap Emune. Ia bahkan tidak perlu membuka mulutnya untuk berbicara.


Yhourin menyerang Emune. Bilah-bilah dari api melesat ke arah Emune tanpa henti. Yhourin tersenyum senang dan yakin Emune akan tumbang karena serangannya. Saat melihat Emune masih tegak dan tidak terluka sedikit pun, Yhourin semakin murka.


Ia membuat pentagram dan komat-kamit merapal mantra sihir. Asap tebal beracun keluar dari pentagram dan menyelubungi Emune. Kali ini ia juga harus menelan pahit kekecewaannya, asap itu lenyap saat menyentuh cahaya biru yang melindungi Emune.


Emune berjalan lurus mendekati Yhourin. Satu tangannya bergerak ke atas. Tubuh Yhourin terangkat cukup tinggi. Ia membiarkan Yhourin melayang di atas sana beberapa waktu.


Yhourin mengumpat marah. Ia bahkan tidak bisa membebaskan diri dari kekuatan yang mengangkatnya. Ia membelalak ngeri dan meringis nyeri saat tubuhnya dihempaskan ke lantai. Tongkat Eltran di tangannya tidak bisa menandingi kekuatan Emune. Ia baru sadar bahwa energi lain yang dirasakannya waktu itu bukan dari Leonz tapi pasti dari Emune.


Leonz muncul di kamar teratas menara utama Orsgadt lalu berlari ke arah Proner yang terkapar tidak berdaya di lantai. Ia yakin Emune bisa menangani Yhourin jadi ia berkonsentrasi pada Proner. Ia berterima kasih pada Horeen yang sempat memberikan sedikit energi kepada Proner agar bisa bertahan sampai Leonz datang.


Gadis kecil itu menaburkan serbuk ajaibnya di wajah dan dada Proner. Ia memejamkan mata lalu meletakkan tangan-tangan kecilnya di kening dan dada Proner. Cahaya putih terang muncul dan turun menyelimuti Proner. Leonz membuka matanya. Butuh waktu bagi Proner untuk sadar jadi Leonz berjaga dan mengamati Emune dan Yhourin yang saling menatap tanpa kata-kata.


Emune mendekati Yhourin. Penyihir keturunan peri api itu menyerang Emune dengan telapak tangannya yang tertutup api. Tongkat Eltran sekarang hanya berfungsi sebagai penjaga jarak antara dirinya dengan Emune.

__ADS_1


Dengan satu sambaran Emune sudah berhasil merebut tongkat Eltran dan mengangkat tubuh Yhourin lagi. Meski tangan Emune tidak menyentuh langsung tubuh Yhourin tapi ekspresi kesakitan di wajah penyihir itu cukup untuk memberitahukan betapa tersiksa dirinya saat ini.


Yhourin yang kehabisan akal mengubah dirinya menjadi penampakan ibu kandung Emune, Putri Erika. Saat nyawanya di ujung tanduk, ia berharap Emune masih berbelas kasihan jika ia berubah menjadi ibu gadis ini.


“Putriku, ini Ibu. Ampuni dia,” ucap Yhourin dengan suara Putri Erika.


Emune melepaskan Yhourin. Penyihir itu memegang lehernya yang perih. Ia sudah senang saja saat Emune melepaskannya namun kejadian berikutnya di luar perkiraannya.


Emune menariknya hingga berdiri dan bersandar di tembok. Emune berbisik padanya. “Ayahmu sangat mencintaimu.”


Yhourin melotot. Ia lalu menunduk lesu. Air mata mengalir dari kedua matanya yang tadi melihat penuh kebencian pada Emune.


“Bebaskan aku dari derita ini, Elizai. Biarkan aku pergi,” ucap Yhourin lirih.


Emune mengangguk pelan. Ia meletakkan telapak tangan kanannya  di dada Yhourin. Ia masih mendengar penyihir itu menyebut nama kekasihnya, Goenhrad.


“Selamat tinggal, Yhourin,” ucap Emune. Dengan sebuah tekanan pelan di dada Yhourin, tubuh penyihir itu hancur jadi abu lalu sirna tertiup angin.


Leonz terkejut saat tangan besar Proner memeluknya. Rupanya pria itu sudah sadar dan karena terlalu serius mengamati Emune, ia tidak tahu kalau Proner juga menyaksikan kejadian berikutnya.


“Apa selanjutnya,” tanya Proner.


“Kematian Yhourin bukan berarti Korta dan Anthura ikut lenyap. Bantu Mirena dan Alfred.” Leonz berdiri dengan wajah tegang yang berusaha ia sembunyikan.


“Bagaimana denganmu dan Emune?” tanya Proner.


“Serahkan Emune padaku. Hanya aku yang bisa didengarnya saat ini.” Leonz menghela napas pelan. “Proner, pergilah.”


“Kutunggu kau di sana,” ucap Proner.


Leonz tersenyum lalu menepuk bahu Proner. Pria itu lenyap dari kamar yang hampir tak berbentuk karena pertarungan melawan Yhourin tadi. Leonz meringis sesaat. Yhourin sudah dikalahkan tapi masalah utama Artamea sekarang sedang ada di depannya. Ia harus bisa menundukkan Emune, apa pun caranya.

__ADS_1


__ADS_2