Orsgadt

Orsgadt
Serangan


__ADS_3

Kegelapan malam yang menyelimuti Eimersun ditemani oleh butir-butir embun yang membasahi tanah dan rerumputan. Keheningan meraja, membawa kengerian yang tidak terbayangkan. Ada yang bergerak dalam gelap. Belasan bayangan hitam merunduk dan berlari hampir tanpa suara. Tidak ada yang mengetahui bahwa sekelompok pasukan hitam sedang mendekati istana Eimersun.


Kelompok itu berderet merapat di tembok istana. Dalam sekejap mereka sudah memanjat tembok dan masuk ke dalam istana. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Siapa saja yang menyadari keberadaan mereka langsung tersungkur mati. Tujuan mereka adalah sayap timur istana Eimersun, tempat Putri Elizai beristirahat.


Di dalam kamar besar yang mewah, Horeen sedang memeluk dan mencium Avena. Mereka sedang berbaring di atas ranjang. Bibir Horeen memagut bibir Avena tanpa ampun. Gadis itu mendesah nikmat. Keduanya tiba-tiba berhenti bercumbu. Hasrat mereka dialihkan oleh ketajaman indra yang memberi sinyal bahaya.


Bau darah. Sesuatu telah terjadi. Horeen dan Avena melompat dari tempat tidur dan keluar kamar. Horeen menuju bagian barat istana sementara Avena memeriksa teman-temannya di sebelah timur.


Avena mendobrak kamar Proner. Proner terlonjak kaget dari tidurnya.


“Ada ....” Avena hendak memberitahukan kekacauan di luar.


“Aku sudah tahu,” ucap Leonz. Ia sedang duduk di lantai. Membuat lingkaran kecil di lantai dengan serbuk ajaibnya. Matanya berkilat-kilat. Dengan sebuah sapuan, serbuk itu melesat keluar dari kamar.


“Emune!” teriak Proner.


Ia berlari panik ke kamar sebelah. Pedang cahaya sudah terhunus dan dengan keras ia menendang pintu kamar Emune. Ia terkejut melihat tubuh Emune melayang di udara.


“Leonz!” teriak Proner.


Leonz berlari masuk ke kamar Emune. Ia menyeringai geram. Ia hampir menebar serbuk ajaibnya ketika melihat tangan kanan Emune yang terkepal. Jika Emune ada dalam pengaruh sihir, ia tidak akan bisa mengepalkan tangannya seperti itu.


“Lakukan sesuatu!” seru Proner.


Leonz menepuk lantai kamar, membuat kabut biru terang yang mengelilingi Emune.


“Avena, bangunkan Elric dan para kesatria,” ucap Leonz.


Avena melesat pergi. Ia harus segera membangunkan semua orang dan membantu Horeen. Ia menggeram marah. Yhourin benar-benar membuatnya muak.


Kegemparan melanda sayap timur istana Eimersun. Elric berlari kencang ke arah kamar Emune. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Emunenya. Sebuah bayangan hitam berdiri di depan kamar Emune. Belum sempat Elric mengayunkan pedangnya, Proner sudah muncul dan menebasnya. Sosok itu ambruk dengan darah menggenang di lantai.


“Emune?” tanya Elric gusar pada Proner.


“Tidak apa. Dia sedang dikuasai sihir tapi Leonz menjaganya,” jawab Proner.

__ADS_1


Di sayap timur, Avena dan Horeen tidak ragu menjatuhkan semua penyusup. Dalam sekejap belasan mayat tergeletak di lantai istana. Avena dan Horeen berpencar untuk memeriksa bagian barat istana untuk memastikan tidak ada penyusup yang berhasil lolos.


Kelompok pasukan hitam yang kedua mendekat ke tembok istana. Mereka sudah bersiap untuk memanjat tembok istana tapi sesuatu yang berkilau masuk ke dalam mata mereka. Tubuh mereka mengejang kesakitan lalu jatuh terkapar di tanah. Semuanya mati.


“Ayo kita hancurkan istana Orsgadt,” ucap Avena pada Horeen. Ia marah sekali.


Horeen menangkap pinggang Avena. “Belum saatnya,” ucap Horeen. Ia memeluk Avena. Horeen berusaha meredam ketakutannya. Ia takut Avena terluka. Ini pertama kalinya ia merasa takut kehilangan.


***


Hitam, gelap. Emune tidak bisa melihat apa-apa. Matanya seperti ditutup dengan sesuatu yang lembut namun sangat erat hingga tidak ada satu cahaya pun yang tampak. Inikah kegelapan abadi?


“Elizai, keturunan terakhir Raja Agung Orsgadt,” ucap sebuah suara.


Sekeliling Emune berubah sedikit terang. Ia bisa melihat seorang wanita cantik berdiri angkuh dengan keanggunan seorang peri. Ia mengenalnya, Yhourin.


“Yhourin. Senang bertemu denganmu,” ucap Emune sinis. Wanita ini adalah sumber bencana yang menghabisi keluarganya dan membawa derita bagi rakyat Orsgadt.


“Senang? Kurasa kau terlalu sopan dan ramah, Tuan Putri,” sahut Yhourin.


Yhourin melotot marah. Tangannya bergerak mengancam tapi terhenti di udara. Ia tersenyum kecut.


“Aku akan menikmati membunuhmu pelan-pelan nanti,” ucapnya sambil menyeringai jahat.


“Hahaha, kau takut padaku, Yhourin? Hanya sebegitu kekuatanmu? Sayang sekali, padahal kau masih keturunan peri api. Kau malah takut pada manusia sepertiku.” Emune menggertak sekaligus membaca reaksi lawannya.


Yhourin tertawa keras. Manusia bodoh, pikirnya. “Kau hanya selongsong yang tidak berguna, Elizai. Bahkan intimu tidak akan bisa mengalahkanku!”


Emune mengepalkan tangannya. Ia cukup tahu tentang kekuatannya sendiri. Manusia biasa melawan seorang keturunan peri? Mustahil. “Kita lihat saja nanti. Katakan pada Goenhrad untuk menyerah. Kuberi kalian kesempatan untuk menjauh dari Orsgadt.”


Yhourin tertawa keras. “Kau manusia paling bodoh yang pernah kutemui. Kau akan mati lebih mengenaskan dari kakek dan orang tuamu.”


“Kau memang keturunan peri terburuk. Yhourin, sebaiknya kau pergi dan nikmati waktumu dengan pria bonekamu. Malam ini yang terakhir,” ucap Emune.


“Gadis sombong!” Yhourin menggerakkan tangannya untuk mencabik-cabik Emune dari tempatnya berdiri tapi tidak ada yang terjadi. Emune masih tegak berdiri. “Si Hertena kecil itu melindungimu,” ucapnya geram.

__ADS_1


“Kau lihat, kau hanya berjuang sendiri, Yhourin. Kau tidak akan menang.” Senyum kemenangan muncul di wajah Emune.


“Akan kuhancurkan kau dan teman-temanmu, Elizai! Tunggu saja!” seru Yhourin geram. Ia lalu lenyap di antara kegelapan yang datang lagi.


Emune merasa tubuhnya sangat ringan dan melayang turun pelan-pelan. Dua buah tangan kekar menangkap dan memeluknya. Ia terlalu lemah untuk melihat siapa tapi wangi dan hangatnya adalah Elricnya.


***


Raja Duncan mengepalkan tangannya dan menggebrak meja. Penyerangan tadi sangat tidak diduga. Selama ini Goenhrad sangat pandai menjaga jarak dan kelakuannya agar tidak mengusik langsung kerajaan-kerajaan lain tapi jika ia tiba-tiba mengirim pasukan hitam untuk mengacau di Eimersun maka ia mengambil langkah yang salah. Utusan kerajaan Eimersun telah dikirim untuk mengantarkan kabar peperangan. Orsgadt diberi waktu untuk menyerah kalah sebelum matahari terbenam esok lusa.


“Yang Mulia, bala bantuan dari Arsyna baru bisa sampai lusa. Kita tidak bisa mengharapkan mereka tiba di perbatasan Orsgadt segera,” ucap Alfred.


“Biarkan Arsyna berjaga-jaga untuk mengatasi Imperia. Aku, Mirena dan Alfred akan bersiap di sebelah timur Orsgadt. Hemworth dan Arrand, aku minta kalian untuk memimpin pasukan bergerak ke selatan Orsgadt segera. Proner, Sean, Aiden dan Elric akan menjaga Emune dan Leonz. Horeen akan ke perbatasan Imperia. Avena, akan berjaga di perbatasan Orsgadt dan Eimersun.”


“Semoga pasukan pemberontak dari Gnaern beserta Verunum bisa membantu kita. Aku khawatir Korta akan bangkit,” ucap Leonz.


“Korta? Kenapa kau baru menyebut Korta sekarang?” tanya Proner pada Leonz. Pasukan kegelapan Korta adalah pasukan abadi yang hanya bisa dibangkitkan dan dihancurkan oleh peri dengan kekuatan setara Raja Dougraff. Siapa yang punya kekuatan itu selain Raja Dougraff?


“Aku baru merasakannya semalam. Aku berharap itu tidak benar tapi angin sudah berubah.” Leonz menghirup udara perlahan dan matanya terpejam. Matanya terbuka lagi.


Semua melihat ke arah Leonz. Gadis cilik itu memegang tepi meja yang di atasnya ada peta timbul. Matanya tertutup saat cahaya merah dan hijau muncul menyelimutinya. Emune tiba-tiba mendekati dan memeluk Leonz. Kini keduanya diselubungi cahaya berwarna-warni yang terus membesar hingga semua orang mundur teratur kecuali Elric dan Proner yang panik mengkhawatirkan keduanya.


Greg menarik Fiona menjauh, begitu juga Horeen yang cepat menyambar Avena. Sang raja dan para kesatria terkesiap. Meja dan peta timbul di atas meja retak memanjang dari ujung ke ujung.


Emune dan Leonz terangkat ke udara lalu jatuh pelan seperti bulu-bulu yang tertiup angin halus. Elric dan Proner segera menangkap mereka.


“Emune ... Emune!” seru Elric. Emune tidak bergerak sama sekali.


Horeen mendekat, meletakkan punggung tangannya sejengkal di atas dada Emune. Cahaya biru berpendar di telapak tangannya. Ia tersenyum.


“Emune tidak apa-apa. Dia perlu istirahat,” ucap Horeen.


“Elzenthum, Elizai,” gumam Leonz sebelum ia lemas tertidur di pelukan Proner.


Horeen menoleh pada Leonz saat mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia meringis. Aku pasti salah dengar, gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2