
Proner terhuyung-huyung saat tiba di Bukit Thorsca setelah dipindahkan oleh Leonz tadi. Ia tidak mengerti apa selanjutnya yang akan terjadi pada Emune dan Leonz tapi ia memang harus membantu pasukan Eimersun yang ada di timur perbatasan Orsgadt.
“Yang Mulia, Yhourin sudah mati,” ucap Proner pada Yang Mulia Raja Duncan. “Putri Elizai berhasil mengalahkannya,” lanjutnya.
“Benarkah?” Kegembiraan terlihat di wajah sang raja. Dengan lenyapnya Yhourin, mereka hanya perlu fokus pada Korta dan Anthura.
“Benar, Yang Mulia,” jawab Proner.
“Kabarkan ini pada semua panglima! Kita harus bertahan sampai bantuan Olevander datang!” seru Raja Duncan pada para pembawa kabar yang langsung menaiki kuda mereka dan melesat ke arah selatan.
Kabar kematian penyihir Goenhrad dalam sekejap sampai di telinga semua pasukan dari tiga kerajaan. Walau mereka tahu bahwa Anthura dan Korta masih mengancam, setidaknya satu kekhawatiran telah lenyap. Semangat dan harapan baru tumbuh menguatkan tekad mereka untuk menaklukkan Orsgadt.
“Elizai di mana?” tanya Mirena pada Proner.
“Masih di menara utama Orsgadt bersama Leonz,” jawab Proner.
“Baiklah.” Sang Raja terlihat bersemangat karena manusia punya harapan untuk terus berjuang meski kemenangan terasa begitu jauh.
“Avena, berapa lama lagi mantra Leonz bisa bertahan?” tanya Alfred.
“Tak lama lagi. Sial, apa yang harus kulakukan?” Avena kesal karena tidak tahu harus melakukan apa.
Mereka terdiam sesaat. Tiba-tiba mata Proner membelalak. Seringai marah muncul di wajahnya saat melihat pasukan Orsgadt bergerak ke tiga penjuru. Tepat di depannya, seorang panglima Orsgadt sedang memamerkan wajah seramnya. Borrin, musuh bebuyutannya berada di atas kuda, siap menyapu pasukan Eimersun di timur Orsgadt dengan pasukan yang jumlahnya ribuan di belakangnya.
“Mereka tidak bersantai, rupanya,” gumam Alfred.
“Siagakan pasukan. Jangan lengah,” perintah Raja Duncan.
Perbandingan kekuatan tiga kerajaan melawan Orsgadt saat ini masih cukup bagus jika hanya melawan prajurit-prajurit Orsgadt. Satu hal yang paling ditakutkan adalah perang terakhir melawan Korta dan Anthura. Raja Zyruone berharap Olevander bisa membujuk Raja Peri Dougraff untuk menyegel Korta dan Anthura. Melihat kekacauan di medan perang ini, sang raja yakin Olevander mengalami kesulitan untuk melakukannya.
Genderang perang dari kubu Orsgadt memecah keheningan. Berikutnya yang terdengar adalah teriakan keras dari para panglima pasukan kedua kubu. Pasukan Eimersun, Arsyna dan Imperia tidak kalah garang dengan pasukan Orsgadt. Kedua kubu saling tebas, saling tusuk dan menuntut kematian dari lawannya. Darah kembali membanjiri medan perang.
Borrin melihat dua panglima perang di depannya dengan senyum yang menjijikkan. Ia mengincar Alfred dan Mirena. Setelah keduanya mati, ia dengan senang hati akan memenggal kepala raja Eimersun, pikirnya.
__ADS_1
“Mirena, menjauh dari monster itu,” pesan Alfred.
Mirena mengangguk. Ia melanjutkan pertarungannya melawan panglima lain yang sama jeleknya dengan Borrin. Melaju kencang di atas kuda, Mirena memutar pedang di tangannya dan menyerang sang panglima yang di matanya tampak seperti serigala besar yang jahat. Pertarungan sengit berlangsung sampai akhirnya Mirena berhasil menusukkan pedangnya menembus perut panglima itu. Lawannya jatuh tersungkur dan terinjak-injak oleh kuda dan prajurit yang bertempur.
Borrin meraung marah. Ia tidak lagi peduli pada Alfred. Mirena adalah satu-satunya target Borrin saat ini. Kudanya terpacu ke arah Mirena, pedang besarnya terhunus hendak menusuk Mirena.
Alfred yang melihat lawannya berganti target langsung mengejarnya. Ia berteriak kencang memperingatkan Mirena tapi suaranya tidak bisa mengalahkan riuhnya medan perang. Mirena tidak mungkin bisa menghindar dari pedang besar itu. Alfred menangkis pedang besar itu dengan pedangnya. Mirena terhindar dari ancaman kematian tapi Alfred tak bisa mengelak dari tusukan pedang lain yang dihunus oleh Borrin. Borrin menyeringai angkuh dan tertawa terbahak-bahak saat tubuh Alfred terjatuh di punggung kudanya.
“Alfred!” teriak Mirena.
Ia menyambar kekang kuda Alfred dan menepuknya keras agar membawa Afred ke tepi medan perang. Mata Mirena memerah. Ia baru saja akan melawan Borrin, ketika Proner muncul dengan kuda yang terpacu kesetanan.
“Dia milikku, Mirena!” teriak Proner.
Melihat tatapan membunuh di mata Proner, Mirena langsung menyingkir dan meneruskan pertarungan bersama pasukannya. Proner mengacungkan pedang cahaya pada Borrin.
“Aku lawanmu!” teriak Proner.
“Apa aku mengenalmu?” tanya Borrin.
“Kau membunuh ayahku, Steven Malfice!” seru Proner dengan dada yang berkecamuk penuh kemarahan. Dendamku akan terbalaskan hari ini, pikir Proner.
Borrin terkekeh. “Terlalu banyak yang mati di tanganku. Aku tidak ingat,” ucapnya santai.
Proner semakin marah. Ia menguatkan pegangan pada gagang pedangnya.
“Kau akan mengingatnya menjelang ajalmu nanti!”
Proner mengayunkan pedangnya dan menebas bilah pedang besar di tangan kiri Borrin. Pedang besar itu pecah berkeping-keping hingga hanya gagangnya yang tersisa di tangan Borrin. Terkejut karena kekuatan pedang Proner, Borrin memindah pedang yang tadi digunakannya untuk menusuk Alfred ke tangan kirinya.
Proner melihat dua gagang pedang lain yang mencuat dari balik punggung Borrin. Ia tidak akan pernah lupa, salah satunya adalah pedang milik ayahnya. Ia semakin bersemangat untuk menghabisi Borrin.
“Malfice. Kau bocah kecil itu?” tanya Borrin saat satu lagi pedangnya hancur oleh pedang cahaya Proner.
__ADS_1
“Kau ingat sekarang. Bagus. Bersiaplah untuk mati!” Proner sudah menunggu saat ini tiba. Mati sekalipun tak akan kusesali, batinnya mantap.
Tawa Borrin menggelegar. Bocah kecil itu akhirnya muncul juga untuk menantangnya. Ini sangat menarik, pikirnya.
Proner yang sudah bosan menyia-nyiakan waktu dengan panglima jelek ini segera melompat ke atas kuda Borrin. Ia menyambar pedang ayahnya lalu dengan satu gerakan cepat memenggal leher musuh besarnya. Tanpa memedulikan tubuh Borrin yang terjatuh dari kuda, Proner kembali ke kudanya dan memacunya ke tempat Alfred.
Raja Duncan sedang menyangga punggung Alfred. Ia mengangguk saat Proner mendekat.
“Kau membunuhnya,” ucap Alfred lemah. Sepertinya ia melihat semuanya dari tempatnya bersandar saat ini.
Proner melihat luka besar di perut Alfred. Ia harus segera ditolong.
“Leonz, Horeen!” teriaknya.
Alfred meletakkan tangannya di atas lutut Proner. Ia mengagumi pria muda ini. Ia telah melatih begitu banyak kesatria hingga saat ini namun Proner berbeda dengan kesatria-kesatria yang ia tahu. Emune memiliki kesatria hebat di sisinya, ia tidak perlu lagi khawatir akan keselamatannya.
“Kesatria Orsgadt, sampaikan salamku pada Ratu Elizai. Jaga dia baik-baik,” pesan Alfred.
“Akan kusampaikan. Aku berjanji,” ucap Proner.
Alfred tersenyum tipis. “Sudah waktunya untuk berpisah. Yang Mulia, semoga kejayaan selalu menyertai Eimersun,” ucap Alfred. Tubuhnya menegang sebentar lalu terkulai. Alfred telah tiada.
Raja Duncan mencengkeram bahu Alfred. Ia menitikkan air mata. Begitu banyak jasa Alfred pada Eimersun. Hari ini ia kehilangan seorang sahabat dan kesatria hebat.
Avena merasakan sesak di dadanya saat melihat Alfred yang meninggalkan mereka. Sudah terlalu banyak kesedihan dan kematian karena perang ini. Ia ingin mengakhirinya jika bisa. Dengan air mata menetes di pipinya, Avena membuat kabut dingin yang menutupi medan perang. Ia mengepalkan kedua tangannya. Seluruh pasukan Orsgadt jatuh bersimbah darah dan mati. Avena terjatuh di tanah. Ia kehabisan tenaga. Air matanya masih mengalir.
“Matilah kalian ... manusia-manusia terkutuk,” desis Avena.
Begitu melihat kabut dingin menutupi medan perang, Horeen melesat ke timur. Avena pasti menghabiskan energinya lagi, pikirnya kesal. Benar saja, gadis itu sedang tergeletak lemah di tanah. Ia seperti tidak peduli pada wajah dan tubuhnya yang kotor.
Horeen mengangkat tubuh Avena. Gadis itu masih menangis. Horeen menoleh ke tempat Proner. Ia mengerti saat melihat Alfred yang terkulai dan Proner yang mengangguk lemah.
“Gadis bodoh, lagi-lagi kau habiskan energimu,” ucap Horeen kesal.
__ADS_1