
Derap kaki kuda memecah keheningan pagi di tepi wilayah Orsgadt. Rombongan Elric telah sampai di Stedia dengan selamat. Semalam mereka memutuskan untuk menyeberangi padang pasir Harapan.
Untuk pertama kalinya Elric melewati wilayah itu di saat hari gelap. Dengan melihat gugusan bintang, mereka terhindar dari kemungkinan tersesat. Hal terberat adalah menjaga tubuh mereka tetap hangat dari sapuan angin dingin yang baru hilang mendekati fajar.
Kuda-kuda baru telah siap. Seperti yang dijanjikan oleh Greg, mereka mendapat enam ekor kuda terbaik yang siap membawa mereka ke Stable. Alfred memutuskan untuk menyusuri tepi hutan agar mereka lebih cepat sampai. Menurut perhitungannya, sore hari nanti mereka bisa sampai di gerbang kerajaan Orsgadt.
Kuda-kuda yang kelelahan sudah mereka serahkan kepada orang kepercayaan Greg. Mereka akan merawat kuda-kuda itu lalu mengirimnya ke Eimersun. Draxe menendang-nendang seakan tidak setuju Elric meninggalkannya di Stedia. Elric mengelus surai kuda itu.
“Maaf, Draxe, cuma ini caranya agar aku bisa menemukan Emune. Kita bertemu di Eimersun nanti,” gumamnya pada kuda itu. Elric bergegas menaiki kuda barunya dan memacunya mengikuti teman-temannya yang sudah jauh dibawa berlari oleh kuda masing-masing.
“Kau takkan bisa mengejar Emune kalau kau lamban seperti itu,” goda Sean.
“Hahaha, coba susul aku kalau kau bisa,” tantang Elric. Semangatnya sudah naik berlipat ganda dari sebelumnya.
“Oh, ya? Kurasa kudamu terlalu montok untuk berlari cepat,” ejek Aiden yang menyusul Elric.
Alfred hanya geleng-geleng kepala. Ia mengenal ketiganya sejak mereka masih bayi. Sean dan Aiden mungkin akan jadi “bangsawan rumahan” kalau tidak bergaul dengan Elric yang senang dengan bermacam-macam kegiatan di luar ruangan. Mereka sudah tumbuh sebesar ini sekarang. Ia sangat bangga bisa mendampingi mereka.
Fiona, satu-satunya wanita di rombongan itu tidak bisa dianggap enteng. Ia tumbuh dalam derita dan bertahan hidup dengan segala cara jadi berkuda seperti ini bukan hal langka baginya. Ia sudah berhari-hari menangis dan menyesal dalam hati karena terpisah dari Emune. Kali ini, ia akan pastikan gadis itu akan dijaganya baik-baik.
Greg melihat air mata yang mengalir di pipi Fiona, ia mengerti apa yang Fiona rasakan. Ia juga kesal karena Emune terlepas dari penjagaannya. Merpati pos dari Arrand hanya berisi dua kata: Temukan Emune.
Tanpa perintah Arrand sekalipun, ia pasti akan mencari gadis itu ke seluruh Artamea. Mengetahui kenyataan bahwa Emune adalah pewaris tahta Orsgadt tentu saja merubah segalanya. Kalau dulu ia dan Fiona khawatir Emune dijahati di perjalanan, kini bayangan kekejaman Goenhradlah yang harus mereka waspadai.
Melaju cepat meninggalkan jejak kaki kuda dan debu di belakang mereka, rombongan itu tak berniat berhenti sedikitpun. Setibanya di gerbang Orsgadt mereka tentu tidak bisa masuk sembarangan. Greg sudah mengatur cara agar mereka bisa melewatinya tanpa mengundang kecurigaan penjaga gerbang. Lagi-lagi mereka harus mengandalkan bantuan para pedagang.
***
“Bagaimana kita melewati gerbang itu?” tanya Emune. Ia ingat Greg pernah memberitahunya untuk memberi keping emas kepada penjaga gerbang tapi apakah itu memang bisa dilakukan?
Proner tersenyum. “Jangan khawatir. Aku penduduk Orsgadt. Semoga aku masih terdaftar di sana,” ucapnya sambil meringis.
“Bagaimana dengan yang lain?”
__ADS_1
“Jangan khawatirkan aku. Aku ingin berkeliling. Sendiri. Kau, jangan ikuti aku,” ucap Horeen sambil menunjuk Avena.
“Siapa yang mau ikut denganmu? Aku bisa pergi sendiri. Ayo, ikuti aku,” ucap Avena pada Emune, Proner dan Leonz.
Dalam sekejap kabut menutupi gerbang besar itu dan sekelilingnya. Avena dan yang lain bergerak dalam kabut. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka karena mereka terlindungi dengan baik.
Demi keamanan, Proner merasa perlu menggendong Leonz. Proner yang usil rupanya menyimpan pasir dari padang pasir Harapan. Ia meniupnya di antara kabut sehingga orang-orang berlarian panik mengira badai pasir sampai ke sana.
Ketika kabut menghilang, kelompok Emune sudah jauh dari gerbang besar. Proner membeli tiga ekor kuda untuknya, Avena dan Emune. Leonz dengan mantra sihirnya sudah menghilang ke arah barat Orsgadt. Emune tidak tahu apakah ia akan kembali atau tidak jadi Emune memeluknya erat dan berterima kasih sebelum gadis kecil itu pergi.
Perjalanan ke Onykz bisa jadi seperti kunjungan wisata menurut Proner. Pelan dan santai karena mereka tidak boleh menarik perhatian penduduk maupun para penjaga. Ia menemani Emune masuk ke rumah minum yang menjadi tempat singgah rombongan pedagang.
Emune bisa menitipkan berita untuk Arrand di sana. Emune hanya memberi satu kata yaitu “Onykz”, lalu pengurus pesan mengikat potongan kain berlapis kulit di kaki seekor merpati. Merpati itu terbang dan melesat pergi ke arah timur.
Ketiganya melanjutkan perjalanan ke Onykz. Karena Olevander hanya datang malam hari, Proner mengajak mereka ke rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan. Ia hanya ingin mengunjungi makam ayah dan ibunya sebentar dan mereka bisa beristirahat sebenta di sana. Emune setuju. Akan lebih aman juga jika berada di sana karena lebih dekat dengan wilayah Eimersun.
“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Proner. Ia baru kembali dari pohon tua yang menaungi makam kedua orang tuanya di halaman belakang rumah.
“Aku sedang memikirkan teman-temanku yang sedang mencariku. Apa mereka sudah sampai di gerbang Orsgadt? Mereka pasti kelelahan.” Emune juga lelah tapi semangatnya membuatnya bertahan.
“Ah, aku seperti orang yang kurang bersyukur. Mereka begitu baik. Aku tidak ingin memberatkan siapa pun.”
“Kau tetap punya aku. Seharusnya aku membungkuk saat bicara denganmu dan menyebutmu ‘Tuan Putri’, ya?”
Emune menunduk lemah. “Tidak perlu, Proner. Aku ini putri yang tidak punya apa-apa. Seandainya aku benar-benar memiliki kerajaan, aku akan mengangkatmu sebagai kesatria Orsgadt.”
“Jangan khawatir, aku akan melindungimu.” Proner sekarang punya semangat hidup yang lebih tinggi karena ada tujuan yang lebih besar dari sekedar membalas dendamnya. Bantu Emune merebut Orsgadt dari Goenhrad!
“Terima kasih. Aku lega Leonz sudah ke Llyohawee. Aku sudah menepati janjiku pada ibunya. Tinggal menyelesaikan urusan Horeen dan Avena lalu aku bisa berkonsentrasi pada tugasku sendiri.”
“Sesungguhnya Horeen dan Avena akan menjadi sekutu yang hebat jika kita berhadapan dengan Goenhard dan penyihirnya.” Logika tentu saja bermain dalam hal ini. Dua manusia biasa tidak akan bisa menghadapi penyihir dan naga peliharaannya.
“Aku tidak mau melibatkan mereka. Sudah cukup mereka mengalami kesulitan selama ini. Aku akan mencari cara agar bisa mengalahkan Goenhrad tanpa menimbulkan kekacauan besar dan memakan banyak korban.”
__ADS_1
“Penyihir itu kuncinya. Aku tidak bisa membayangkan jika Anthura muncul lagi. Kau harus meminta bantuan Olevander.”
“Meminta kekuatan api atau mengendalikan udara?” Emune tertawa geli. “aku manusia tulen, sama sepertimu.”
“Itu bagus. Terkadang kita yang dianggap lemah ini yang sebenarnya memiliki kekuatan, bukan?”
“Jika maksudmu adalah keyakinan dan semangat, ya. Ah, aku bahkan belum benar-benar menguasi ilmu bela diri, bagaimana akan bertarung dengan segala keangkeran yang dimiliki Goenhrad?”
“Ya, itu benar. Semangat adalah yang paling kita butuhkan saat ini,” ucap Proner. Ia ikut berdiri saat melihat Emune berdiri. Seperti ada aura api biru sedang menyelubungi gadis itu.
Emune mengusap wajahnya. Ia memejamkan mata sebentar dan tersenyum. Ia membuka matanya dan berdiri. “Aku pasti mengalahkannya,” ucap Emune dengan semangat.
***
Yhourin mendesah bersamaan dengan erangan Goenhrad saat tubuh mereka menegang dan mereka sampai di puncak kenikmatan. Kuku-kuku Yhourin yang menggores punggung Goenhrad setiap kali mereka bercinta meninggalkan bekas merah.
Goenhrad jatuh lemas di sampingnya namun masih sempat menarik Yhourin mendekat dan ******* bibirnya lama-lama. “Kau tak perlu terus menatap jendela itu. Orsgadt aman. Apa kau tidak puas denganku?”
“Tidak. Aku hanya sedang melihat langit biru,” kilah Yhourin. Ia selalu puas bercinta dengan Goenhrad. Ranjang besar ini adalah saksi gejolak nafsu mereka yang tidak pernah mati. Ia hanya sedang tidak tenang.
Yhourin mencium kening Goenhrad yang tertidur lalu turun dari ranjang dengan tubuh hanya ditutupi selembar kain sutra. Ia harus kembali ke tempatnya. Ada sesuatu yang terus mengusiknya. Panggilan itu.
Yhourin menyusuri jalan rahasia menuju ruang bawah tanah. Ia harus melihat sesuatu. Belum sampai di anak tangga terakhir, sebuah gelombang tak terlihat menerpanya, menghempaskannya ke tembok lembab dan membuatnya jatuh ke lantai. Yhourin memegang dadanya yang berdegup kencang lalu berlari ke meja besar dari tunggul kayu sebuah pohon.
“Tidak mungkin … tidak mungkin,” desisnya lirih.
Ia meletakkan kedua tangannya di permukaan meja. “Tunjukkan padaku!” serunya lebih seperti raungan.
Tirai cahaya muncul di atas meja besar itu. Warna hijau, biru dan merah bergerak naik tidak beraturan lalu perlahan hilang. Yhourin bisa melihat sedikit bentuk gerbang Orsgadt namun tidak tampak yang lain selain kabut tebal. Itu perbuatan peri, yakinnya dalam hati.
“Tidak ada kekuatan peri yang bisa menghantarkan gelombang seperti ini kecuali kekuatan Raja Peri Dougraff. Ia tidak mungkin ada di tanah manusia.” Yhourin menggebrak meja. Tidak ada yang terlihat mencurigakan selain kabut tadi. Ia mengambil sedikit serbuk hitam dari dalam mangkuk kecil dan menggoreskannya di atas kelopak matanya yang menutup.
Hanya sebentar lalu ia jatuh terduduk sambil menutup wajahnya. Ia menggumam sampai tiga kali.
__ADS_1
“Benda pusaka Orsgadt telah kembali ….”