
Tembok besar terbentang di seluruh perbatasan Orsgadt. Tembok itu terbuat dari batu gunung yang direkatkan dengan plester. Tingginya hampir tujuh meter dengan ketebalan lebih dari lima meter di beberapa titik. Enam buah Menara pengawas berdiri tegak di enam titik dan hanya ada satu gerbang untuk keluar-masuk.
Dulunya ada tiga pintu masuk namun setelah pemberontakan Orsgadt, dua gerbang yang berbatasan dengan Imperia dan Eimersun telah ditutup permanen. Setelah tembok perbatasan, masih ada satu tembok lagi yang tidak boleh dilalui siapa pun selain prajurit dan penduduk Orsgadt. Tembok baru ini bahkan lebih kokoh dari tembok satunya.
Kehidupan di Orsgadt sangat tidak normal, setidaknya begitu menurut para pedagang dan pelancong yang melewatinya. Penduduk tidak diizinkan bertemu dengan orang luar. Semua perniagaan diurus oleh seorang Juru Niaga, begitu mereka menyebutnya, yang akan membeli seluruh kebutuhan dari para pedagang. Walaupun terasa aneh namun Juru Niaga berani membayar mahal jadi tidak terlalu dipermasalahkan oleh para pedagang.
Rumor yang beredar di antara pedagang adalah penduduk Orsgadt mungkin sudah habis karena dijadikan santapan hewan buas peliharaan rajanya. Baru-baru ini muncul lagi rumor yang mengatakan ada pembangunan besar-besaran di lingkungan istana yang menyebabkan Orsgadt mengumpulkan budak-budak dari seluruh penjuru Artamea. Sepertinya budak-budak itu juga sudah mati karena tidak ada satu pun yang pernah terlihat lagi keluar hidup-hidup dari Orsgadt.
Belasan tahun lalu saat Raja Agung Orsgadt masih berkuasa, istana Orsgadt adalah yang terindah di Artamea. Istana itu berdiri di atas sebuah pulau di tengah danau dengan jembatan penghubung dan menara-menara tingginya yang megah. Kini ada aura aneh yang membuat bangunannya tampak angker dan danau itu sudah menjadi tiga kali lebih luas. Sepertinya sang raja ingin menjauhkan siapa pun dari istana itu.
Seekor kuda hitam dengan penunggangnya yang juga berpakaian hitam menderap melintas di atas jembatan batu. Si penunggang menghentikan kudanya dan menunggu jembatan diturunkan. Jembatan yang terbuat dari besi dan kayu turun perlahan dan memperlihatkan bagian dalam yang lapang tanpa pepohonan sedikitpun. Si penunggang kuda melesat masuk dan terus berkuda ke bagian utama istana. Setelah sampai, ia turun dan membiarkan kudanya diurus oleh seorang pelayan.
Ruangan yang dimasuki adalah ruangan utama di mana sang raja menghabiskan hari-harinya dengan duduk di atas singgasana dan berpesta ditemani wanita-wanita cantik. Seperti biasa, hari ini pun ada tiga wanita cantik yang menemani sang raja. Melihat kedatangannya, sang penasehat menyuruh wanita-wanita itu pergi ke kamar tidur raja.
“Berita apa yang kau bawa?” tanya si penasehat yang memakai jubah panjang bertudung warna abu tua bersulam benang hitam. Hampir setengah wajahnya tertutup oleh kumis dan janggut lebat berwarna putih. Ia menatap mata-mata yang baru datang dengan pandangan merendahkan.
“Pergerakan di Arsyna. Ada makhluk gaib yang menghalangi rencana kita,” ucap orang berpakaian hitam.
“Hmmm, makhluk gaib sudah mulai muncul. Bagaimana dengan peramal itu. Sudah kau temukan?” tanya sang penasehat.
“Belum.” Pria berpakaian itu menjawab dengan gugup. “Dia sangat lihai ….” Mata-mata itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Sebuah pisau buah sudah tertancap di jantungnya. Matanya membelalak lalu ia tersungkur mati di atas karpet mewah kerajaan.
“Tidak berguna! Pastikan peramal itu ditemukan dan cari makhluk gaib itu!” perintah sang raja geram. “Tidak ada yang boleh masuk ke Orsgadt!” raungnya.
Si penasehat yang sudah tahu tabiat sang raja tidak membantah. Ia akan melakukan apa pun agar tetap hidup, termasuk menuruti semua perintah raja lalim itu. Ia membungkuk hormat dan keluar dari aula. Di belakangnya, dua orang prajurit menyeret mayat mata-mata tadi keluar aula.
Goenhrad, sang raja lalim duduk di tahta Orsgadt dengan wajah tegang. Ia mengenakan jubah hitam bersulam emas dengan hiasan tudung dari bulu serigala. Baju zirah tebal terpasang di balik jubahnya dan mahkota emas berkilau di atas kepalanya. Rambutnya berwarna abu-abu, alisnya mencuat. Kumis dan jambangnya membentuk wajahnya dan menutupi rahangnya yang mengeras sejak tadi. Ada yang berbeda pada wajahnya, mata kirinya berwarna merah.
Belasan tahun telah berlalu sejak ia mengambil alih Orsgadt. Sebuah pemberontakan yang tidak pernah dibayangkan oleh Raja Agung Orsgadt bahkan oleh seluruh Artamea. Hanya semalam dan semua menjadi miliknya. Dia tidak peduli pada semua mayat yang bertumpuk di alun-alun atau darah yang membasahi jalanan Orsgadt. Itu adalah harga yang pantas untuk sebuah tahta.
Serangan tiba-tiba yang dilakukannya benar-benar efektif. Pasukan kerajaan tidak bisa berbuat apa-apa dan keluarga kerajaan musnah dalam sekejap. Sebenarnya ia ingin membakar istana Orsgadt agar rata dengan tanah namun Yhourin, penyihirnya, melarangnya. Ada kekuatan khusus yang melindungi istana, begitu katanya. Baginya itu hanya omong kosong namun ia masih membutuhkan Yhourin untuk mewujudkan ambisinya sebagai raja.
Setelah penaklukannya dan hingga kini, kerajaan-kerajaan lain tidak menyambutnya dengan baik. Goenhrad tahu mereka tidak mau berurusan dengannya. Tiga kerajaan itu membentuk kelompok sendiri namun Goenhrad bukan orang bodoh, ia mengutus mata-mata ke semua kerajaan. Secara berkala mereka memberinya informasi berharga.
Muncul rasa marahnya karena sebagai raja Orsgadt ia tidak dielu-elukan oleh Artamea. Rakyatnya sendiri membencinya hingga memilih untuk meninggalkan Orsgadt. Ia cukup berbaik hati membiarkan mereka pergi tanpa disakiti dengan syarat seluruh harta mereka menjadi milik kerajaan. Sebagian besar rakyat Orsgadt sudah meninggalkan kerajaan ini. Hanya keluarga-keluarga tua yang tersisa.
Goenhrad bersumpah akan memberi pelajaran pada tiga kerajaan yang tidak menganggap keberadaannya sebagai seorang raja. Ia ingin Artamea kacau balau. Ia mulai mengutus para pembunuh untuk melakukan kekacauan di mana-mana. Para pembunuhnya menyamar sebagai perampok dan ia tidak peduli jika mereka menjadi beringas dan membunuh banyak orang.
Tidak ada yang boleh bergembira selain dirinya, begitu yang ia tetapkan. Arsyna sudah kacau, berikutnya Imperia. Eimersun akan jadi lawan yang tangguh namun tidak ada yang bisa melawan kekuatan sihir Yhourin, jadi ia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka semua. Sebelum itu ia akan bersenang-senang melihat mereka menderita.
__ADS_1
Goenhrad bangkit dari singgasananya. Berita tadi tidak menarik. Hari ini juga tidak menarik. Ia melepas mahkota emasnya lalu melemparnya jauh hingga membentur dinding aula. Mahkota itu jatuh ke lantai. Goenhrad tidak peduli, ia berjalan ke arah kamar tidurnya di mana wanita-wanita cantik sedang menunggu.
Seperti kucing-kucing liar yang melihat daging, ketiga wanita cantik itu menerkam Goenhrad dan mendesaknya ke ranjang besar di tengah-tengah ruangan. Mereka di bawah pengaruh asap dupa halusinasi yang digunakan suruhan Goenhrad untuk membuat mereka lupa diri. Goenhrad menyeringai. Wanita-wanita ini tidak tahu apa yang akan mereka hadapi setelah bersenang-senang nanti. Mereka tidak akan hidup untuk menceritakan betapa perkasanya Goenhrad, sang penguasa Orsgadt.
Setelah memuaskan nafsunya, Goenhrad tertidur sendiri di ranjangnya. Wanita-wanita tadi sudah diseret pergi oleh para pengawalnya. Mereka akan jadi santapan hewan buas peliharaannya yang ada di gua di sebelah utara bangunan istana.
Pintu kamar terbuka sedikit. Goenhrad tahu siapa yang datang. Satu-satunya orang yang bebas masuk ke kamarnya adalah Yhourin. Yhourin adalah keturunan peri api. Ia bisa mengendalikan api dan tentu saja makhluk yang memiliki kekuatan api, seperti Naga Anthura.
Sejak belasan tahun lalu, tidak ada yang berubah dari wajah dan perawakan Yhourin. Tidak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah seorang penyihir. Rambutnya yang panjang berwarna merah oranye seperti api tersampir ke depan menutupi dadanya yang padat.
Jubah Yhourin yang berwarna cokelat tua menyentuh lantai. Ia hanya mengenakan gaun tipis dari sutra yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Kulitnya sangat mulus namun sedikit gelap dibandingkan warna kulit wanita Orsgadt dan kakinya yang panjang terlihat di antara belahan gaunnya saat ia berjalan. Rajah berwarna emas berkilau ada di kaki dan lengannya.
Yhourin menatap Goenhrad yang berbaring di atas tempat tidur hanya dengan selembar kain terikat menutupi pinggangnya ke bawah. Dengan gerakan jarinya, pintu di belakangnya tertutup rapat.
“Cukup bersenang-senang? Seharusnya kau mencari seorang permaisuri. Seorang perempuan yang kau tiduri dan tidak kau lempar ke gua hewan buas,” ucap Yhourin.
“Hanya pemanasan. Apa untungnya?” Goenhrad balik bertanya.
“Perempuan itu akan menyembuhkan kegilaanmu,” ucap Yhourin.
“Ada kau. Sudah cukup,” balas Goenhrad.
Dengan satu gerakan, Goenhrad telah membaringkan Yhourin di atas ranjang. Mereka hanyut dalam luapan hasrat. Hanya Yhourin yang bisa memuaskan Goenhrad. Mereka selalu menyimpannya rapat-rapat dari telinga semua penghuni istana. Tidak ada yang tahu bahwa Goenhrad dan Yhourin adalah sepasang kekasih.
“Wanita-wanita tadi, yang mana yang paling kau sukai?” tanya Yhourin pada Goenhrad yang memeluknya.
“Entahlah, rasanya sama saja. Kenapa aku harus meniduri mereka sebelum dijadikan santapan hewan buas?” Goenhrad bertanya pelan.
“Kau sudah tahu. Karena matamu membutuhkan cahaya hidup mereka.” Yhourin membelai pipi kiri Goenhrad.
“Ya, aku membutuhkan mereka,” desisnya.
Goenhrad ingat tiga malam setelah pemberontakan Orsgadt, ia mendatangi ruang bawah tanah tempat Yhourin tinggal. Ia saat itu hendak menyuruh Yhourin membuka jalan ke Lembah Kematian untuk membuang mayat para pemberontak. Ia tidak menemukan Yhourin, penyihir tua bertubuh bungkuk dan berwajah menyeramkan tapi seorang wanita dewasa yang memiliki kecantikan seorang peri. Yhourin telah menipunya dengan menyamar menjadi seorang penyihir tua.
Malam itu Goenhrad tidak bisa tidur. Kecantikan Yhourin memenuhi kepalanya. Ia belum pernah melihat wanita secantik itu seumur hidupnya. Yhourin tiba-tiba datang dan menyerahkan dirinya kepada Goenhrad. Ia mengingatkan bahwa Goenhrad akan kehilangan satu matanya karena meniduri keturunan peri api.
Goenhrad yang sudah terlanjur terpesona pada Yhourin tidak peduli jika satu matanya hilang. Mereka bercinta dan pagi harinya ia mendapati mata kirinya telah berubah merah. Yhourin tidak lagi tampil seperti penyihir tua tapi hanya di hadapan Goenhrad.
Sebuah jalan rahasia dari ruang bawah tanah memudahkan keduanya untuk bertemu kapan saja mereka mau. Sayangnya mata kirinya menuntutnya untuk mengumpulkan cahaya kehidupan dari para wanita dewasa. Jika kepalanya sudah terasa mau pecah, orang kepercayaannya akan membawakannya wanita-wanita cantik, entah dengan diundang maupun diculik.
__ADS_1
“Tidak ada cara untuk mengembalikan mataku?” Ini pertama kalinya ia bertanya soal itu.
“Ada. Kau bisa membunuhku. Mata kirimu akan kembali.” Yhourin tersenyum sedih.
Goenhrad terkejut mendengar kata-kata Yhourin. Yhourin adalah miliknya yang paling berharga. Hanya Yhourin yang mengerti dirinya.
“Aku tidak akan bisa melakukannya. Kau milikku yang paling berharga,” Goenhrad memegang tangan Yhourin. Rajah di tangan Yhourin berpendar saat Goenhrad meletakkannya di dadanya. “Kau memiliki hatiku,” ucap Goenhrad.
Yhourin tersenyum. Goenhrad selalu membuatnya merasa hangat. Mereka berciuman dan tidak beranjak dari ranjang besar itu sampai malam datang.
“Bagaimana kalau kita hancurkan saja negeri manusia lalu pergi jauh ke utara?” tanya Goenhrad.
“Kau hanya akan mengundang kemarahan raja peri. Masih belum cukup bersenang-senang dengan mengacaukan Arsyna?” Yhourin meletakkan tangannya di dada Goenhrad. Seluruh peredaran darah pria itu normal.
“Belum. Imperia dan Eimersun harus menderita.” Goenhrad menarik tangan Yhourin dan menciumnya.
“Putri raja Eimersun sangat cantik. Jadikan ia permaisurimu.”
“Aku tidak perlu permaisuri.”
Yhourin mendesah. Ide itu sudah puluhan kali terlontah dan selalu ditolak. “Terserah Yang Mulia.”
“Kau tidak cemburu pada wanita-wanita itu?”
“Tidak, aku justru harus berterima kasih kepada mereka karena membantumu bertahan hidup.”
Goenhrad duduk sambil memeluk Yhourin. Keturunan peri api itu membiarkan Goenhrad menciumi rambut dan telinganya yang berujung sedikit lancip.
“Mahkota itu, kau harus melakukan sesuatu.”
“Yang kau buang tadi?” tanya Yhourin.
“Bukan, mahkota Orsgadt,” jawab Goenhrad.
Yhourin menoleh ke arah lemari kaca besar di sudut kamar. Sebuah mahkota tersimpan di bagian atas sementara di bawahnya ada satu set baju zirah. Keduanya adalah milik Raja Agung Orsgadt. Ia tidak bisa memakainya. Keduanya hanya bisa dipakai oleh keturunan raja Orsgadt.
“Kekasihku, biarkan saja. Tidak ada yang bisa kau lakukan dengannya,” ucap Yhourin.
Goenhrad menyeringai. Aku akan membakarnya atau melemparnya ke kawah Gunung Hitam kalau perlu, gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Sang penguasa Orsgadt melampiaskan kekesalannya pada Yhourin. Desah dan erangan mereka memenuhi ruangan. Walaupun mereka berteriak, tidak akan ada yang mendengarkan karena Yhourin sudah menghampakan ruangan itu hanya untuk mereka berdua.