
Perjalanan menuju Farclere tidak semulus dugaan Emune. Dewi Keberuntungan sepertinya tidak berpihak kepada mereka kali ini. Kesialan demi kesialan menimpa mereka hingga perjalanan yang harusnya setengah hari jadi lebih lama dan melelahkan.
Semuanya dimulai dari pagi hari. Emune dan Fiona sudah sembuh dari pengaruh serbuk tidur yang ada di dalam anggur pemberian Rhea namun giliran Greg yang terkapar setelah tersiram air kemarin. Semula mereka akan menunda perjalanan sampai semua lebih sehat namun otoritas kota Eufrack akan menutup kota selama tiga hari jadi Greg memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Emune tentu saja setuju. Ia tidak mau kehilangan tiga hari yang berharga dan terkurung di Eufrack. Emune yang paling sehat di antara mereka bertiga mengajukan diri sebagai sais.
"Tidak ada pilihan lain bukan? Kalian sedang tidak sehat. Kalian harus istirahat," ucap Emune tegas.
Emune terbukti bisa mengendalikan kereta dengan baik di jalanan berbelok-belok sekalipun. Sepertinya aman, pikir Greg. Ia sendiri tidak menyangka kesialannya di Eufrack masih berlanjut.
Fiona menyelimuti Greg yang masih demam. Ia meminum air dari kantong kulitnya lalu duduk di samping Emune.
"Kurang ajar! Rhea harus diberi pelajaran. Tega sekali dia mencampur anggur dengan serbuk tidur." Fiona mendelik kesal kemudian mengumpat.
"Jangan bicarakan dia. Aku kesal setiap mengingatnya. Kasihan Greg kerepotan mengurus kita yang terbius serbuk tidur." Emune meniupkan kekesalannya ke udara.
"Kau benar. Untung ada Greg," ucap Fiona.
"Oh, Greg pasti manis sekali saat tidur di pangkuanmu kemarin," goda Emune.
"Ya, eh tidak. Aku cuma kasihan padanya." Fiona meringis.
"Benarkah? Pipimu memerah, seperti sekarang ini," ucap Emune.
Fiona meraba-raba pipinya. "Tidak, pipiku tidak memerah," ucapnya menyangkal omongan Emune.
"Fiona dan Greg jatuh cinta." Emune menoleh sebentar ke arah Fiona sambil menyeringai jahil,
"Hentikan, Emune. Greg bisa terbangun!" Fiona mencubit pipi Emune.
"Baik ... baik," ucap Emune sambil menghindar dari cubitan kedua Fiona.
"Suara apa itu? Kau dengar?" tanya Fiona.
Emune menajamkan pendengarannya. Suara itu dari arah belakang. Tadi seperti suara angin yang datang pergi lalu semakin jelas dan semakin dekat.
Rupanya rombongan penghibur terdiri dari tiga kereta kuda bergerbong besar. Mereka melewati kereta Emune. Suara musik mengiringi nyanyian ceria berlomba dengan ringkik dan derap kuda yang berlari kencang. Emune mengurangi kecepatan laju kereta untuk menjaga jarak agar tidak terkena kepulan debu.
Kereta ketiga adalah pembawa bencana. Kecepatannya terlalu tinggi saat berusaha melewati kereta Emune yang melaju pelan. Gerbong besar menabrak roda belakang kereta Emune hingga miring dan meluncur keluar jalan lalu menerobos semak-semak.
Emune dan Fiona terlempar jatuh ke atas rumput. Kereta sempat miring namun kuda-kuda berhasil menyeimbangkan sehingga kereta bisa berhenti dengan baik setelah belasan meter. Emune dan Fiona berlarian menuju kereta untuk memeriksa keadaan Greg. Greg tertelungkup di dalam gerbong. Syukurlah ia masih hidup, pikir mereka.
Fiona membantu Greg untuk bangun selagi Emune membereskan barang-barang yang berantakan.
"Apa-apaan tadi itu? Greg, kau tidak apa-apa?" Fiona menepuk-nepuk bahu Greg.
"Aku tidak apa-apa. Kalian bagaimana?" tanya Greg gusar.
"Hanya memar. Aku dan Emune terlempar dari kereta." Fiona bersyukur rumput di tempat jatuhnya tadi sangat rimbun dan tebal.
"Sakit tapi kurasa tidak ada tulang yang patah," tambah Emune.
Ketiganya keluar dari kereta dan duduk-duduk di rumput. Kereta itu masih bisa melaju sampai Farclere tapi nanti harus diperiksa lagi oleh ahlinya. Greg melepaskan kuda-kuda agar mereka bisa makan rumput segar dan sedikit beristirahat. Hari masih terang dan mereka tidak terburu-buru.
"Kesialan apa lagi yang akan kita alami?" tanya Fiona heran.
"Entahlah. Seingatku semua mulai sejak kita keluar dari Galvei,” ucap Greg.
Kedua gadis saling menatap. "Rhea!" geram keduanya. Galvei dan Rhea sama-sama bencana.
"Greg, kau merasa lebih baik?" tanya Fiona.
"Kurasa begitu. Farclere sedikit lagi." Greg menggaruk kepalanya sambil melihat ke arah jalanan.
Emune berdiri. "Ayo kita lanjutkan perjalanan."
__ADS_1
"Ayo. Semoga kesialan tidak mengikuti kita." Fiona ikut berdiri. Godaan anggur lezat di Farclere menaikkan semangatnya.
"Apa ada yang mengganggu tempat suci atau tumpukan batu doa?" tanya Greg.
"Tidak," jawab Fiona dan Emune serempak.
"Aneh saja rasanya." Greg yakin itu bukan suatu kebetulan. Mereka seperti sedang dikutuk.
Emune membelalakkan matanya. Ia ingat sesuatu tentang kesialan. Bunga? Hmm ... bukit? Bukan keduanya!
"Peri! Ini pasti ulah peri pembawa sial!" seru Emune.
"Peri?" Greg dan Fione saling lihat.
"Iya. Aku pernah membacanya." Emune tersenyum.
"Jadi apa yang dilakukan oleh peri itu?" tanya Greg.
"Dia tidak melakukan apa-apa. Semua yang ada di dekatnya akan mengalami kesialan." Emune heran juga da yang seperti itu.
"Bagaimana cara mengusirnya?" tanya Fiona.
"Dia tidak bisa diusir." Emune mendesah pelan lalu memainkan sepotong rumput kering.
"Apa? Maksudmu kita akan terus-menerus sial karena peri itu menempel pada kita?" tanya Fiona syok. Menurutnya peri harusnya terkait dengan segala hal yang indah-indah, bukan kesialan.
"Sayangnya begitu." Emune meringis.
Fiona menggeram pelan. Ini tidak masuk di akal. "Tidak, tidak, tidak! Lihat, kita babak-belur. Arrand bisa mengamuk kalau kau sampai lecet-lecet."
"Itu harusnya jadi kalimatku," sela Greg.
"Tapi memang begitu. Aku tahu tapi aku juga kasihan. Siapa sih yang mau sial seumur hidup? Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya," ucap Emune sedih.
"Emune, sudahlah. Ayo tolong Greg." Fiona pergi membantu Greg memasang tali kekang kuda-kuda.
"Kau di sini," gumam Emune.
"Apa kau benar-benar mau menolongku?" tanya sebuah suara.
"Tentu saja. Kalau aku bisa," jawab Emune terpana. Suara tanpa rupa! Ini menakjubkan!
Rumput yang mengering membentuk tiga lingkaran. Sesuatu muncul di tengah-tengah. Peri pria dewasa berambut hijau berdiri di antara sulur tipis seperti benang sutera yang menari-nari tertiup angin. Telinganya sedikit mencuat ke atas. Sebuah cahaya kecil terpancar dari keningnya. Ikat kepala berwarna emas dari sulur pohon kehidupan menghiasi kepalanya.
Mulut Emune terbuka. Ia heran karena tidak sedikit pun berniat untuk kabur dari makhluk penghuni dunia ajaib itu. "Kau nyata. Aku Emune, siapa namamu?""
"Aku nyata dan pembawa sial. Aku Horeen," jawab peri itu.
"Bagaimana cara menolongmu?" tanya Emune.
"Aku harus melakukan kebaikan." Horeen memainkan jari-jarinya. Benang-benang emas menari mengikuti gerakan jari-jarinya.
"Apa saja?" tanya Emune. Semudah itu?
"Apa saja." Horeen menilik gadis di hadapannya. Gadis itu bisa mendengarnya jadi suah pasti ia bukan manusia biasa.
"Dengar, aku perlu bantuanmu. Kami harus segera ke Farclere. Maukah kau menjaga jarak agar kami tidak terhambat di perjalanan?” Emune meringis. Semoga ia tidak salah paham dan mengamuk, pikirnya.
"Kau tidak sedang mengusirku, kan?" Horeen menatap curiga.
"Tidak. Aku suka punya teman baru. Apa hanya aku yang bisa melihatmu?" Emune khawatir akan reaksi Greg dan Fiona.
"Kalau kau mau, hanya kau yang bisa melihatku," jawab Horeen.
"Itu bagus, untuk sementara saja. Maaf tentang kau harus menjaga jarak."
__ADS_1
"Tidak apa. Panggil saja kalau kau perlu. Sampai nanti." Horeen mengangkat dagunya. Ia tidak suka manusia tapi gadis itu sepertinya bisa membantunya.
"Terima kasih. Sampai nanti." Emune melambai sambil satu tangannya menggaruk kepalanya karena Horeen sang peri sudah menghilang. Emune segera berlari ke tempat Greg dan Fiona.
"Kereta sudah siap. Ayo berangkat!" Greg berseru lalu melompat ke bangku sais.
"Banyak-banyak berdoa agar kita tidak sial lagi," sahut Fiona.
"Aku mau di belakang saja," ucap Emune.
Kereta menaiki tanjakan menuju jalanan datar. Greg mengendalikan kereta lebih kencang dari tadi.
Emune yang ada di belakang mencari-cari tanda kehadiran Horeen. Ia menemukannya. Di kejauhan, pohon-pohon mengering lalu tumbang satu demi satu. Peri itu benar-benar merusak apa saja yang dilewatinya.
Emune mengeluarkan buku kecil ajaib. Buku itu tidak berubah sampul dan isinya seperti beberapa waktu lalu. Emune membalik halamannya berkali-kali. Ia berhenti di beberapa lembar terakhir.
Gambar seorang peri seperti Horeen ada di halaman itu. Emune menelusuri tulisannya.
Dunia peri mengutuk pengkhianat dan keturunannya. Kejahatan masa lampau mengalir hingga sepuluh masa. Jika bukan kebaikan maka hanya ada satu cara. Memohonlah pada kebijakan Olevander untuk mengangkatnya.
"Olevander itu ...." Emune mengerutkan dahinya.
"Olevander yang mana?" Greg mengejutkan Emune.
Emune iseng menggoyang-goyangkan buku kecil di depan wajah Greg.
"Ada apa di wajahku?" tanya Greg.
"Debu," jawab Emune singkat. "Ada berapa banyak Olevander? Olevander itu apa?"
Greg duduk di dekat Emune. "Olevander adalah para tetua bijak. Mereka dibilang campuran antara manusia biasa, peri dan penyihir,” jawab Greg. “Kecuali yang kau maksud Olevander pemilik rumah minum di Eimersun. Putrinya sangat cantik," bisik Greg.
"Kau takut Fiona mendengar ya?" tanya Emune jahil.
"Tidak." Greg terkekeh pelan namun sempat melirik ke arah Fiona.
"Di mana Olevander yang bijak berada?" tanya Emune.
"Onykz, di Orsgadt."
"Orsgadt? Bukannya kerajaan itu tidak bisa dimasuki oleh pelancong?" Emune seketika terseret ke semua cerita Urndie.
"Begitulah." Greg tersenyum tipis. Ia tidak akan bertanya untuk apa Emune menanyakan Olevander.
"Katakan." Emune menatap tajam Greg.
"Apa?" tanya Greg.
"Bagaimana caranya supaya bisa masuk Orsgadt dan bertemu Olevander?" Emune harus tahu sebelum ia tiba di Orsgadt.
"Tidak ada cara selain ikut masuk dengan penduduk Orsgadt."
"Pasti ada cara lain. Kalau kau tak mau bilang, aku akan memberitahu Fiona bahwa kau berciuman dengan Rhea," ancam Emune.
"Aku tidak berciuman dengan Rhea malam itu." Greg melotot.
"Bukan malam tapi pagi sebelum kita berangkat," ucap Emune pasti. Ia membersihkan sebuah apel dengan kain lap.
"Hei, troll kecil. Kau cari masalah ya?" Greg menunjuk wajah Emune.
"Aku benar, kan?" Emune tertawa geli.
Greg menghela nafas. "Keping emas. Beri penjaganya, kau bisa masuk Orsgadt."
"Terima kasih, rahasiamu aman di tanganku. Setelah kupikir, sebaiknya aku beritahu Fiona. Katanya sedikit cemburu bisa mempererat jalinan asmara." Senyum Emune terkembang.
__ADS_1
Greg menepuk pelan bahu Emune. "Sok tau. Troll kecil," ucapnya lalu menyambar apel di tangan Emune dan kembali ke depan.
Emune tertawa puas. Ia harus membantu Horeen. Kebetulan sekali tujuan mereka sama. Orsgadt, tunggu aku!