
Farclare menyambut semua pelancong dengan baik. Setiap rombongan diberi satu botol kecil anggur Farclare yang terkenal. Emune menolak dekat-dekat dengan anggur. Ia merasa cukup sekali saja diperdaya oleh anggur. Fiona malah tidak ada kapoknya dan bersemangat sekali mencari rumah minum yang bagus.
"Balach. Pedagang anggur di Galvei bilang tempat itu bagus,” celetuk Emune
"Oh ya? Ayo kita ke sana, Greg,” ajakFiona bersemangat.
"Emune harus ikut." Greg kapok meninggalkan Emune.
"Tentu saja. Jangan sampai aku diculik orang. Ya, aku tahu." Emune meringis.
Greg tertawa lepas. Ucapan Emune sangat benar. "Hahaha. Ayo kita ke pondok Willians dulu. Kita menginap di sana malam ini."
Balach sama seperti yang Emune lihat. Ada pahatan-pahatan kayu berbentuk binatang lalu deretan meja dan bangkunya sama persis. Emune melihat ke sana kemari dan berkeliling mencari Urndie. Ia sedih, tidak ada Urndie di Balach.
Hanya khayalan saja, pikirnya. Emune lalu bergabung dengan Fiona dan Greg. Ia sedikit heran melihat keduanya belum menenggak minuman keras.
"Tidak ada minuman enak?" tanya Emune.
"Tidak selera." Fiona menggebrak meja pelan. Tempat minum tapi minumannya tidak ada yang enak, pikirnya.
"Makan saja, Emune. Kita segera kembali ke Willians." Greg memakan kacang yang bulirnya besar-besar.
Emune makan dengan lahap. Fiona dan Greg sedang membicarakan rute berikutnya.
"Sebentar lagi kita sampai di Imperia. Lebih baik di sana. Arsyna berbahaya." Greg sibuk menghitung waktu dan kemampuan mereka.
"Aku ingin cepat sampai di Eimersun. Apa kau mau tinggal di Eimersun? Hahaha, hanya bertanya. Kau pasti ingin cepat kembali ke Galvei." Fiona tidak sekedar bertanya. Ia penasaran.
"Tidak juga. Pertama kali setelah lima tahun aku melakukan perjalanan ke timur. Menarik." Greg memang lebih sering ke Imperia dibandingkan Eimersun.
"Benarkah? Kukira kau akan merindukan Rhea." Fiona memancing Greg dengan membicarakan Rhea.
"Perempuan di Eimersun manis-manis kata Greg." Emune menyela. Ia menggerakkan alisnya tanda sedang jahil.
Fiona melotot pada Emune lalu Greg lalu pada Emune lagi. Fiona berdiri dan keluar dari Balach cepat-cepat. Ia tidak percaya bisa semarah ini karena mendengar omongan Emune.
"Troll kecil," desis Greg sambil mencubit pipi Emune. Ia segera mengejar Fiona.
__ADS_1
Fiona tidak jauh di depan. Greg berlari lebih cepat. Ia menarik Fiona ke pinggir jalan. Fiona yang kesal tidak memedulikan Greg yang berusaha membujuknya.
Laki-laki sama saja, pikir Fiona. Untuk apa aku memikirkan Greg? Sudah pasti ia punya banyak perempuan, ia sudah berkelana ke mana-mana. Aku ini siapa sampai marah-marah padanya?
Greg kehabisan akal. Ia mendahului Fiona lalu membopongnya ke pinggir jalan, masuk ke gang kecil yang tidak begitu gelap. Fiona menjerit dan meronta kesal karena diangkat seperti setumpuk jerami kering oleh Greg.
"Hei, jangan marah! Jangan dengarkan troll kecil itu," ucap Greg.
"Aku tidak marah. Untuk apa marah?" Fiona memukul dada Greg karena kesal.
Greg menahan tubuh Fiona ke tembok dengan tubuhnya sendiri. Fiona masih mencoba melepaskan diri dari Greg. Greg menarik pinggang Fiona lalu berkata dengan nada sungguh-sungguh. "Aku belum pernah menyukai perempuan seperti aku menyukaimu."
Fiona terdiam. Greg lalu menyentuhkan bibirnya ke bibir Fiona. Greg bisa merasakan tubuh Fiona mendekat dan Fiona membalas ciumannya. Mereka terus berciuman beberapa saat.
Fiona seperti akan meledak karena bahagia. Greg memilihnya, bukan Rhea. "Aku cemburu pada Rhea. Menurutmu itu aneh?"
"Tidak aneh. Aku cemburu pada semua pria yang melihatmu di rumah minum dan di jalanan. Menurutmu itu aneh?" Greg membelai wajah Fiona.
Fiona tersenyum. "Tidak aneh tapi konyol," ucapnya. Fiona menunduk malu.
"Apa aku mengganggu?" Emune muncul tiba-tiba. Greg dan Fiona membeku, terkejut karena Emune melihat mereka berdua sedang berciuman. "Sudah kubilang, sedikit cemburu itu bagus. Wow, Greg dan Fiona berciuman!" seru Emune lalu tertawa geli.
Greg dan Fiona geram akan kejahilan Emune. "Troll kecil!" seru keduanya serempak. Terlambat, Emune sudah kabur ke arah Willians.
***
Elric dan teman-temannya tiba di Farclere dan sedang beristirahat di sebuah rumah minum. Rumah minum itu dipenuhi para pria dengan berbagai kelas sosial. Pedagang, pelancong biasa, prajurit, kesatria dan para bangsawan. Tempat duduk mereka sudah dipisahkan agar tidak terjadi keributan.
Aiden mengangkat gelas birnya. Dia terlalu banyak minum dan mulai meracau. "Farclere ... Farclere .... Anggur terbaik hanya ada di Farclere!" serunya sambil menepuk-nepuk meja.
"Sebaiknya bawa sebelum dia buat kerusuhan di sini," ucap Alfred pada Sean.
Sean menangkap lengan Aiden. "Waktunya tidur, Kawan," ucapnya lalu menyeret Aiden keluar dari rumah minum terbesar di Farclere.
"Masih saja kalah dengan bir. Jadi kita akan terus di sini? Mau berjalan-jalan di luar?" tanya Alfred pada Elric yang meneguk anggurnya.
"Ayo. Tempat ini sudah tidak menarik." Elric melangkah ke pintu. Seseorang berjubah panjang dengan tudung kepala terpasang menyeruak masuk dan mendorong Elric. "Hei!" Elric berseru kesal tapi tidak dipedulikan oleh orang itu.
__ADS_1
"Hanya pelancong, jangan pedulikan," ucap Alfred.
Elric keluar dari rumah minum. Belum tengah malam dan angin sejuk menyegarkannya. Ia berjalan ke mana saja kakinya mau.
Di bagian kota yang agak gelap dan sepi, ia melihat seorang perempuan berlari. Di belakangnya ada laki-laki yang mengejar sambil berseru kesal. Semakin keras seruan si lelaki, semakin kencang lari perempuan itu.
"Emune?" Elric seperti sedang bermimpi. Apa itu hanya angan-anganku karena sangat merindukan Emune? Tidak, itu memang Emune dan ia sedang dalam bahaya!
Elric mulai berlari. Ia tidak mengindahkan teriakan Alfred. Matanya tertuju pada Emune yang datang dari arah berlawanan.
"Emune!" teriak Elric. Sepertinya Emune terlalu sibuk berlari sampai tidak mendengarkan teriakannya. Begitu cukup dekat, Elrik menangkap Emune. Emune terkejut karena belum mengenali orang yang tiba-tiba menangkapnya. "Emune, ini aku."
Emune tidak mungkin lupa pada suara itu. "Elric? Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Emune di sela-sela nafasnya yang memburu.
"Nanti kujelaskan. Siapa lelaki yang mengejarmu?" Elric menghunus pedangnya, bersiap menghadapi penjahat yang akan menyakiti Emune. Orang itu semakin dekat.
"Bukan! Dia ...." Emune memegang kepalanya karena tiba-tiba pusing.
Greg menghentikan larinya. Ia melihat Emune sedang dikasari oleh seorang pemuda. Pemuda itu berpakaian seperti kesatria namun ia tidak peduli. Berani-beraninya pemuda itu mengacungkan pedang padanya. "Lepaskan gadis itu!" teriak Greg.
"Siapa kau? Kenapa kau mengejarnya?" Elric bersiaga.
Greg mengeluarkan pedangnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Emune.
"Hentikan. Ini salah paham." Emune menarik lengan Elric.
Emune mencoba menengahi tapi dua pria itu sudah siap bertarung. Benar saja, Elric mendorong Emune ke belakang. Alfred menangkap Emune yang hampir terjatuh. Elric dan Greg bertarung karena masing-masing percaya kalau lawannya ingin menyakiti Emune.
Fiona datang terengah-engah. Emune mungkin terlihat lemah tapi larinya cepat sekali. Ia hampir tidak bisa mengejar Emune dan Greg.
"Wow!" seru Fiona terpana melihat Greg sedang bertarung dengan seorang pemuda dan Emune sedang disandera oleh seorang laki-laki. "Hei, lepaskan gadis itu!"
Fiona tahu-tahu sudah menggenggam belati di kedua tangannya. Ia melemparkan keduanya ke arah dada dan leher laki-laki itu. Laki-laki itu cepat sekali menarik pedangnya dan menangkis kedua belati. Fiona maju sambil menggenggam belati lain.
Emune panik. Dia harus menghentikan semua ini sebelum jatuh korban. Mereka terlalu sibuk bertarung dan tidak mendengarkan teriakannya. Tidak ada cara lain, pikirnya. Emune mengatur napas.
"Horeen, datanglah," ucap Emune pelan namun tegas.
__ADS_1