
Leon, singa hitam yang ditunggangi oleh Leonz, Emune dan Proner berhenti di dekat sebuah padang rumput. Proner yang paling dulu turun. Ia membantu Leonz dan Emune turun dari punggung singa itu. Proner tidak menyukai acara melintasi hutan dengan menunggang singa raksasa. Ia heran bagaimana Emune bisa menikmatinya.
“Ayo cepat, Ibu sudah menunggu.” Leonz melompat-lompat gembira.
“Padang Kupu-Kupu, mana kupu-kupunya?” tanya Avena. Ia berkata demikian karena hanya ada padang yang berwarna-warni di depan mereka.
“Kupu-kupu lebih baik daripada kucing,” ucap Horeen. Ia meluncur mendahului yang lain namun dari jarak yang aman. Setiap langkahnya membuat tanah yang berwarna-warni di bawahnya bergetar. Horeen melayang lebih tinggi ketika tanah itu mulai naik. Sekejap kemudian terdengar kepakan sayap dan ribuan kupu-kupu naik ke angkasa. Horeen melesat jauh menghindari tubrukan dengan makhluk raksasa itu.
“Indah, bukan?” tanya Leonz.
Emune tersenyum. Ini surga, pikirnya. Kupu-kupu yang besarnya hampir sama dengan manusia menggerakkan sayap-sayap lebar mereka yang berwarna-warni dengan anggun.
Proner berjalan cepat-cepat melintasi padang luas yang kosong. Ia tidak suka berada di antara hewan-hewan yang besarnya tidak normal. Menurutnya itu adalah potensi bencana.
“Mereka akan kembali?” tanya Avena.
“Ya. Ini rumah mereka. Ah, itu pondokku!” seru Leonz. Ia mempercepat larinya.
“Pondok? Anak ini tidak normal. Itu bukan pondok tapi istana!” seru Avena.
Benar yang Avena katakan. Sebuah istana berdiri megah dengan keindahan hutan hijau sebagai latarnya. Siapa yang akan menyangka ada bangunan semegah ini di dalam Hutan Dumina?
Horeen yang tadi lebih dulu pergi tiba-tiba kembali. “Perasaanku tidak enak,” katanya.
“Kau peri yang terlalu berperasaan. Aneh,” olok Avena.
Peri-peri kecil setinggi satu jengkal manusia berkerumun menyambut Leonz di depan istana. Leonz memberi tiga tangkai bunga liar yang disambut gembira lalu diangkut beramai-ramai masuk ke lubang kecil di tanah. Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, Leonz masuk dengan ceria.
“Aku tunggu di luar,” ucap Horeen. Kalau memaksa ikut masuk, bisa-bisa istana itu hancur karena kesialannya, pikirnya.
“Masuklah, Horeen, putra dari Veresus. Ini rumahmu juga,” ucap sebuah suara berwibawa. Horeen mendeham lalu ikut masuk.
Emune tak henti terkagum-kagum melihat keindahan istana itu. Patung setinggi hampir dua meter berwarna putih dan sedikit transparan itu membuatnya takjub. Bagaimana mereka membuatnya, ia bertanya dalam hati. Ia belum juga melihat ibu Leonz, pasti secantik patung itu, pikirnya.
Leonz memeluk sesuatu yang Emune pikir adalah patung. Ternyata itu adalah ibu Leonz.
“Selamat datang di pondok kami. Aku Erreandrey, ibu Leonz,” ucap ibu leonz. “Kau membawa teman-teman yang hebat, Leonz.”
“Ya, mereka hebat-hebat,” ucap Leonz. Ia menguap lagi.
“Oh, kau pasti lelah sekali.” Erreandrey mengangkat tubuh Leonz seperti mengangkat bulu angsa. Ia menggendongnya dan sekejap saja Leonz tertidur. “Dia masih terlalu kecil untuk melindungi dua manusia dewasa. Aku rasa kalian juga butuh istirahat.”
“Terima kasih atas kebaikan Anda tapi kami harus melanjutkan perjalanan. Kami harus segera keluar dari Hutan Dumina,” ucap Proner.
__ADS_1
“Proner, putra Malfice, tidak perlu khawatir. Kalian akan sampai di tepi hutan besok pagi. Putriku harus beristirahat sebelum mengantar kalian besok,” ucap ibu Leonz.
“Terima kasih,” ucap Proner.
Mereka diantar ke sebuah aula besar dengan beberapa buah kamar di sekelilingnya.
“Horeen, kenapa kau tidak menebar sial di sini?” bisik Avena.
“Kau tidak lihat ada cahaya pelindung yang menyelubungiku?” Horeen sangat memandang rendah keturunan campuran yang tidak tahu apa-apa. Apa yang bisa diharapkan dari mereka?
“Tidak. Aku cuma setengah peri. Bisakah kita meminjamnya agar kesialanmu terkontrol sampai urusan kita selesai dengan Olevander?” Avena berharap itu bisa terjadi demi kemudahan mereka di perjalanan.
“Kau pikir di sini adalah tempat persewaan cahaya pelindung?” Horeen balik bertanya dengan nada kesal.
Seorang peri pohon yang tampak seperti ranting yang dipotong sembarangan datang dan meminta Emune untuk mengikutinya. Ibu Leonz ingin bertemu.
Emune sampai di sebuah gazebo dengan tirai sutera yang bergerak pelan tertiup angin. di depannya sebuah air terjun dengan deretan pohon berwarna-warni membentuk pemandangan yang sangat indah. Di bawah air terjun, sebuah kolam berair jernih menjadi tempat bermain para peri. Kupu-kupu beriringan terbang rendah lalu naik lagi ke angkasa.
“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan keturunan langsung Raja Agung Orsgadt,” ucap sebuah suara.
Emune menoleh dan melihat Erreandrey berdiri di belakangnya.
“Anda salah orang,” ucap Emune.
“He-Hertena? Anda peri Hertena?” tanya Emune. Ia cukup banyak membaca di pondok Urndie untuk tahu apa itu Peri Hertena. Peri Hertena adalah peri pemilik pengetahuan, peri kebijakan. Mereka bisa mengetahui sesuatu hanya dengan berada di dekat benda atau orang. Peri Hertena adalah cikal bakal seorang Olevander.
“Ja-jadi Leonz ….”
“Ya. Jika ia bisa melewati usia enam belas tahun, ia akan jadi Olevander. Kau membahayakan siapa pun yang ada di dekatmu, Tuan Puteri.”
“Aku tidak bisa mengungkap identitasku yang sebenarnya. Sungguh, aku hanya ingin membantu Horeen dan setelah itu akan mencari cara untuk mendapatkan kembali hakku. Aku tidak ingin melibatkan siapa pun.” Emune meremas jari-jari tangannya sendiri karena gusar.
“Aku tahu. Leonz masih kecil dan kekuatannya tidak seperti peri maupun penyihir dewasa namun kau bisa mengandalkannya. Dia bukan anak sembarangan.”
“Maksud Anda … Leonz boleh ikut kami?”
“Ya. Dia harus bertemu Olevander dan melanjutkan perjalanan ke Llyohawee, desa kecil perkumpulan penyihir di barat Orsgadt. Sebaiknya kau beritahu teman-temanmu agar mereka bersiap untuk segala kemungkinan.”
Erreandrey memegang tangan Emune. “Ibumu adalah perempuan yang hebat. Dia berkorban banyak agar kau bisa hidup. Jangan sia-siakan. Kulihat kau sudah memiliki kalung dan Buku Kebijaksanaan. Awal yang bagus untuk perjalanannmu yang berat.”
“Tentang buku itu, aku pernah melihatnya berubah dan kemudian aku meletakkan tangan dan melihat seorang temanku di sebuah tempat. Tiba-tiba aku mendengar suaranya berteriak menyuruhku berhenti. Lalu semuanya hilang. Apa itu?” tanya Emune.
“Salah satu kekuatan buku itu adalah memperlihattkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Tidak semua bisa terlihat seperti yang kau mau. Kau bisa tertarik ke tempat itu jika tidak kau hentikan dan perjalanan melintasi ruang waktu sangat berbahaya. Kau harus berhati-hati.”
__ADS_1
“Begitu ternyata. Sebenarnya aku juga sering tidak yakin akan bisa melakukan ini tapi aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan keluargaku dan seluruh rakyat Orsgadt.”
“Aku hanya bisa memberimu ini,” ucap Arreandrey. Ia meletakkan tangannya di lengan kanan Emune. Sebuah cahaya biru menghilang di balik pakaian Emune. “Itu akan melindungimu dari mantra penyihir, kau akan membutuhkannya.”
“Terima kasih,” ucap Emune. “Apakah keberadaanku memang tidak dirasakan oleh makhluk dunia ajaib?”
Erreandrey menggerakkan tangannya dengan anggun. Dalam sekejap pemandangan air terjun menjadi samar dan muncul berbagai gambar wilayah dunia gaib. Begitu cepat hingga Emune tidak bisa melihat apa pun selain sesuatu yang berubah-ubah.
“Dunia gaib tidak merasakanmu. Yang dirasakan hanya keberadaan benda-benda ajaib yang diberikan oleh Raja Peri kepada Raja Agung Orsgadt. Dunia gaib tersegel dan kami tidak mencampuri urusan manusia. Hanya keturunan campuran yang bisa keluar masuk dunia gaib, itu pun sebelum usia-usia tertentu.”
“Bagaimana dengan Horeen? Dia peri asli.”
“Horeen terkena kutukan Elveris, kutukan sial tertinggi yang membuatnya bisa keluar dari dunia gaib. Kasihan, dia menjadi korban kemarahan mantan suamiku.”
Emune memekik. “A-Anda ratu peri yang … yang ….“
Erreandrey tersenyum. “Ya. Malam musim panas bertahun-tahun lalu. Aku tidak lagi mencintai raja peri bunga. Ia mempunyai banyak istri dan selir. Kami sudah resmi melepas ikatan tapi dia masih saja cemburu jika ada yang mendekatiku. Waktu itu aku dan ayah Leonz sudah punya ikatan dan setiap purnama kami berjanji bertemu di Hutan Dumina. Leon, singa hitam itu selalu menjaganya saat ia ada di hutan. Tiba-tiba pasukan raja peri menyergap kami. Leon membawa kami keluar dari Hutan Dumina. Setelah ia berhasil kembali ke tanah manusia, aku terlalu lelah dan jatuh sementara Leon kembali ke pondok mencari pertolongan. Saat itulah Horeen lewat. Raja peri bunga yang terlanjur cemburu mengira Horeen adalah kekasihku dan langsung mengutuknya. Ah, kasihan Horeen,” ucap Erreandrey.
Emune meringis. Jadi begitu ceritanya, gumamnya dalam hati. Sungguh naas nasib Horeen. Mungkin ia benar-benar ingin melupakannya sampai tidak ingat pada Leon dan Erreandrey.
“Adakah peri lain yang terkena kutukan itu?” tanya Emune.
“Sudah lama sekali. Seorang peri api. Dia membuat kekacauan besar waktu itu.”
“Hmmm, begitu. Aku akan memberitahu teman-temanku tentang misiku tapi semua terserah mereka jika ingin tetap ikut atau tidak. Terima kasih atas kebaikan Anda.”
“Perjalananmu masih panjang. Semoga mereka tetap mau mendampingimu.”
“Aku harap begitu.”
“Elizai, nasib Artamea ada di tanganmu. Kau harus kuat dan yakin.”
“Ya. Aku akan berjuang untuk itu.”
***
Emune sudah menimbang baik-baik saran Erreandrey untuk memberitahu teman-temannya mengenai identitasnya. Semua terkesima, terutama Proner. Ia langsung memberi hormat dan menyatakan kesetiaannya.
Avena dan Horeen tidak terlalu terpengaruh karena kehidupan mereka sebagai keturunan peri memberi mereka keuntungan akan kekuatan gaib. Mereka tidak khawatir akan hambatan perjalanan yang muungkin akan mereka hadapi. Leonz selalu ceria, ia senang karena ibunya mengizinkannya pergi. Emune menyerahkan kepada mereka apa pun keputusan mereka nanti setelah urusan dengan Olevander selesai.
Di dalam kamar yang disiapkan para peri untuknya, pikiran Emune melayang pada semua yang terpisah dengannya di Toure. Elric, ia merindukannya. Sudah sampai mana mereka sekarang?
Emune mengeluarkan benda-benda dari tas kainnya. Kalung zamrud dan kalung pemberian Elric, haruskah aku kenakan keduanya? Emune beralih ke Buku Kebijaksanaan dan sibuk mencari bagian makhluk gaib. Mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang akan mempercepat perjalanannya ke Onykz.
__ADS_1
Proner duduk diam di kamarnya sendiri. Ramalan itu tidak dibuat-buat. Putri Mahkota Orsgadt? Bayi kecil yang disangka sudah mati ternyata masih hidup. Emune, dia adalah keturunan terakhir Raja Agung Orsgadt. Proner bersumpah akan melindunginya.