
Kaki-kaki kecil Leonz menyerah dan memaksanya berhenti setelah berjalan hampir satu mil. Rombongan Emune tidak punya pilihan lain selain berjalan kaki setelah keluar dari Tanjung Penantian. Setelah Tanjung Penantian tertutup oleh air laut, tidak ada sihir yang bisa digunakan jadi mereka benar-benar kehabisan pilihan.
Avena yang ingin sekali menghilangkan kekuatannya sekarang malah mengomel karena terpaksa harus berjalan kaki. Horeen juga tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan kutukannya tidak berlaku di tempat ini.
Kekhawatiran terbesar Proner adalah jika ada serangan mendadak. Ia menyuruh Horeen menggendong Leonz selagi dirinya berjaga-jaga. Emune menggenggam bandul kalungnya yang ada di balik pakaian. Ia berharap Zamrud Edyssia bisa menjaga mereka sampai keluar dari tempat ini.
“Sudah dekat. Lihat cahaya itu? Itu batu Ezuron, penanda batas wilayah tanpa sihir,” ucap Leonz lemah.
“Kita harus bergegas. Perasaanku tidak enak,” ucap Proner.
Firasat Proner menjadi kenyataan. Bayangan-bayangan hitam muncul dari dalam tanah. Bergerak seperti kabut, mengalir seperti angin, berusaha memerangkap mereka berlima. Proner cepat menarik pedang cahayanya dan menebas udara di depannya agar jalan mereka terbuka.
“Lari! Cepat!” teriak Proner.
Emune berada di barisan terdepan dengan belati terhunus. Avena yang tidak bisa menggunakan kekuatan esnya menyambar ranting pohon dan berlari sambil waspada. Horeen dengan Leonz dalam gendongannya cukup kesulitan. Ia akhirnya memilih untuk membopong Leonz. Proner mengamuk di belakang. Jika tidak sigap, mereka semua bisa mati.
“Makhluk apa ini, Leonz?” teriak Avena.
“Bayangan Abadi. Mereka adalah bayangan kesuraman semua makhluk yang pernah sampai dan mati di tanjung itu. Mereka terperangkap di sini.” Leonz berteriak dengan suara mungilnya.
“Apa mereka bisa menyakiti kita?” tanya Emune.
“Tidak secara langsung tapi jika mereka masuk barsama udara yang kau hirup, dia akan mengambil cahaya hidupmu,” jawab Leonz.
“Tidak ada pilihan lain selain berlari lebih cepat, bukan?” tanya Horeen.
“Kurasa begitu,” jawab Leonz. Ia tidak berlari seperti teman-temannya tapi nafasnya ikut tersengal-sengal.
Batu Ezuron sudah dekat. Tinggal beberapa langkah. Horeen yang melihat sebuah bayangan menahan gerak Avena segera menyambar gadis itu dan mendorongnya memasuki wilayah aman. Satu per satu berhasil keluar dari wilayah tanpa sihir dengan nafas tersengal-sengal dan peluh yang menetes seperti air hujan.
“Aku tidak akan mau ke sana lagi,” ucap Avena di sela-sela nafasnya yang berat.
“Aku juga.” Horeen membanting badannya ke tanah.
Proner tertawa. Wajar jika keduanya protes. Mereka yang biasanya melayang dan meluncur dengan kekuatan peri yang dimiliki tiba-tiba saja harus berlari seperti manusia biasa. Pastilah akan kelelahan. Ia dan Emune masih cukup segar walau berlari seperti tadi.
“Kau tidak apa-apa Leonz?” tanya Proner.
“Tidak apa-apa tapi aku tidak suka digendong Horeen,” ucap Leonz. Ia langsung memeluk Proner. Proner tersenyum geli dan kasihan pada Leonz.
Horeen mendengus kesal. “Kau harus bersyukur karena kugendong. Mana ada yang tidak suka pada wangi tubuhku? Duyung itu saja sampai minta ditidu—“ Ucapan Horeen terhenti karena semua melihat padanya. Avena yang sedang mencoba kekuatannya langsung mengayunkan kabut es dan menampar Horeen.
“Peri mesum,” ucap Avena ketus.
Emune dan Proner tertawa terbahak-bahak. Leonz yang telinganya ditutupi oleh Proner mencoba membebaskan diri karena ingin tahu. Horeen memegang pipinya yang ditampar. Ia kesal tapi kalah oleh cintanya pada Avena.
“Kita istirahat dulu di sini sambil memikirkan cara untuk sampai ke gunung Moughty,” ucap Emune. Ia mendudukkan diri di dekat sebuah batu dan bersandar. Leonz duduk di pangkuan Emune.
Mereka makan bekal yang hanya sedikit sekedarnya saja. Setelah fajar besok, mereka akan melanjutkan perjalanan. Emune melihat lidah api yang menyala tanpa berkedip. Cukup lama hingga Proner menepuk lengannya.
“Kau memikirkan apa?”
“Cahaya biru. Aku tidak menemukan petunjuk apa pun tentang itu Penyihir Goenhrad hanya bisa dikalahkan oleh cahaya biru.”
“Tidakkah kau merasa aneh karena Olevander tidak begitu detail dengan apa yang harus kita lakukan?” tanya Horeen. Kutukannya sudah bekerja dan rumput-rumput di bawah kakinya mulai mengering.
__ADS_1
“Aku tidak bisa meminta lebih, bukan? Ini saja sudah sangat tidak menyenangkan bagiku untuk melibatkan kalian semua,” ucap Emune.
“Jangan terlalu diberatkan. Lagipula, aku mulai suka berkeliling seperti ini,” ucap Avena. “Tapi aku tidak berminat berlari-lari seperti tadi. Ah, aku rasa kakiku sedikit terkilir,” keluh Avena.
Horeen mendekat, manggendong Avena menjauh tanpa memedulikan protes gadis itu. Emune dan Proner melongo. Keduanya tersenyum geli.
Leonz mendengus dan mencibir. “Tidak sopan. Pergi pacaran di tengah rapat penting,” ucap Leonz ketus.
“Ahahaha ... Leonz, Horeen cuma mau mengobati Avena. Mereka pasti kembali,” ucap Emune.
Proner garuk-garuk kepala. Kelompok kecil ini memang aneh, gumamnya dalam hati.
“Jadi, ada ide soal cara ke gunung Moughty besok?” tanya Emune.
“Kita bisa naik Pegasus dari sini, tujuh hari perjalanan,” jawab Leonz. Ia bisa memanggil makhluk bersayap sekarang.
“Tujuh hari?” desis Emune.
“Bagaimana dengan Lingkaran Killgins?” tanya Proner.
“Kita tidak boleh memakainya. Itu pilihan terakhir,” jawab Emune.
Emune menekur. Lagi-lagi ia melihat ke arah api unggun. Pasti ada cara agar bisa sampai ke Moughty dengan cepat, pikirnya. Kepalanya berdenyut. Ia memikirkan Moughty dan Elric bergantian.
“Masih ada waktu. Istirahatlah dulu,” ucap Proner sambil menyodorkan air minum kepada Emune.
“Terima kasih,” ucap Emune.
Leonz memperhatikan Emune dan Proner bergantian. “Emune, kau lebih suka Elric atau Proner?” tanya Leonz tiba-tiba.
“Aku harus tahu,” ucap Leonz tegas.
Emune tersenyum geli. Ia menarik nafas pelan. “Aku suka Elric. Jika semuanya selesai, kami akan menikah. Proner akan menjadi Bangsawan Orsgadt dan menikah dengan putri bangsawan yang cantik.”
“Benarkah? Kau sudah punya calon istri?” tanya Leonz pada Proner.
Proner meringis. Jangankan memikirkan calon istri, bisa hidup sampai besok saja sudah syukur, pikirnya. “Tidak, belum,” jawabnya singkat.
“Ah, baguslah kalau begitu. Sembilan tahun lagi aku sudah bisa menikah. Kau harus bersabar” tanya Leonz. Matanya berbinar-binar menatap Proner.
Emune menutup mulutnya karena terkejut. Proner melihat ke arah Emune seakan meminta bantuan tapi Emune cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Proner mendesah berat.
“Baiklah. Kita lihat sembilan tahun lagi, ya.” Proner berucap sambil tersenyum pada Leonz.
Leonz memeluk Proner. Ia terlihat sangat gembira. “Terima kasih. Kau tidak perlu khawatir. Kita pasti akan menikah,” ucap Leonz penuh percaya diri. Ia berdiri, berjalan ke arah batu Ezuron yang melayang di udara dan bercahaya.
Emune tersenyum geli melihat Proner yang ternganga. Ia tidak begitu mengerti tapi jika seorang keturunan Hertena yang berkata seperti itu, mungkin saja jadi kenyataan. Emune menyodorkan air kepada Proner.
“Kau beruntung,” goda Emune.
“Aku tidak bisa memikirkan apa-apa selain kemungkinan bahwa entah esok atau lusa kita akan jadi santapan Elqoz,” gumam Proner.
“Ayolah, kau lihat sendiri betapa cantiknya Leonz versi dewasa. Kau pantas mendapatkannya, meski harus menunggu agak lama.”
“Bisakah kita membicarakan tentang cara ke Elqoz? Melakukan perjalanan dengan gadis cilik yang akan jadi istriku membuatku semakin gugup.” Proner melempar batu di dekatnya karena kesal.
__ADS_1
Emune tertawa. “Kau konyol. Baiklah, aku rasa sebaiknya kita bergiliran berjaga sebentar dan beristirahat. Semoga sebelum fajar sudah ada ide bagus untuk pergi ke Moughty.”
Leonz kembali. Ia mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya di belakang punggungnya dari tadi. Sebuah cahaya merah terang seperti batu api melayang di atas telapak tangannya yang terbuka. Proner dan Emune ternganga.
“Kita bisa menggunakan Lingkaran Killgins dengan sebagian inti dari batu Ezuron,” ucap gadis cilik itu sambil tersenyum senang.
Emune memeluk Leonz. Moughty sudah tidak jauh. Perjalanan mereka akan lebih singkat berkat Leonz.
Di balik rimbunnya semak, Horeen sedang memeriksa kaki Avena yang terkilir. Ketika akan mencium bagian yang terkilir, Avena justru menendangnya. Horeen mengaduh. Kesakitan seperti itu pun ia masih mendekati Avena.
“Tidak bisakah kau bersikap manis seperti gadis-gadis lain?” tanya Horeen dingin.
“Untuk apa? Kau mesum.” Avena melengos.
“Aku mau mengobatimu.”
“Gunakan tanganmu, jangan bibirmu!”
“Kau pikir aku menggunakan bibirku tanpa alasan? Aku ini kena kutukan. Kau bisa terluka oleh kekuatan tanganku.”
“Alasan!” Avena menggerakkan tangannya dan Horeen seketika mundur karena angin dingin yang menyambar.
Horeen yang sebal sejak kejadian di laut Kigurst akhirnya meledak. Tanpa berkata maupun bergerak, pepohonan di sekeliling mereka tumbang. Ia menyambar tubuh Avena yang terkejut.
Horeen mencium bibir gadis itu dengan lembut lalu semakin dalam dan ganas. Avena berusaha melepaskan diri namun akhirnya terhanyut oleh ciuman Horeen. Setelah beberapa lama mereka akhirnya berhenti berciuman dengan menyisakan nafas yang tersengal-sengal.
Horeen mendudukkan Avena di rerumputan yang bersih. “Kau lihat, kakimu sudah sembuh sekarang,” ucap Horeen lalu menghilang.
Avena menyentuh kakinya yang terkilir. Sakitnya sudah lenyap. Ia menunduk kesal, bangkit dan kembali ke tempat Emune, Proner dan Leonz.
Leonz menangis di pelukan Emune. Biasanya ia tidur sambil dipangku Proner tapi malam ini Proner menyuruhnya tidur dengan Emune. Gadis cilik itu menatap Emune dengan pandangan sedih dan tidak mengerti.
“Emune, kenapa Proner tidak mau memangkuku tidur?” tanya Leonz.
Emune menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Tentu saja Proner tidak mau, ia seorang pria yang mengerti aturan. Tidak mungkin akan memangku gadis cilik yang mungkin akan jadi istrinya di masa depan. Leonz saja yang masih terlalu kecil untuk mengerti. Ia menoleh sebentar ke arah Proner yang duduk agak jauh seakan-akan berusaha menjaga jarak dari Leonz.
“Karena kelak kalian mungkin akan menikah jadi Proner tidak boleh menyentuhmu,” jawab Emune. Ia mengusap pipi Leonz yang basah oleh air mata.
“Begitu? Harusnya aku tidak bilang tadi, ya?” Leonz menyesal sudah kelepasan bicara.
“Tidak apa, Proner tetap akan menjagamu.” Emune yakin akan ucapannya.
“Baiklah, aku harus melakukan sesuatu padanya. Kalau tidak tidur, aku khawatir besok tidak cukup kuat untuk mengontrol Lingkaran Killgins,” ucap Leonz.
Gadis kecil itu bangun dan menarik Emune untuk mendekati Proner. Proner terkejut karena Leonz dan Emune mendekat. Ia tadi sedang menghayal Elqoz menyemburkan nafas apinya hingga ia lebur jadi abu.
Leonz tidak menunggu Proner buka suara. Ia langsung menebar serbuk ajaibnya ke arah Proner. Proner mendadak diam tak bergerak. Begitu serbuk ajaib menghilang di udara, Proner seperti tersadar. Ia tersenyum manis pada Leonz dan Emune.
“Leonz, sudah malam. Kemari, kau harus tidur,” ucap Proner.
Leonz tersenyum pada Emune. Ia lalu duduk di pangkuan Proner dan segera terlelap setelah diselimuti oleh Proner.
Emune tersenyum, ia segera kembali ke tempatnya tadi. Ya, sudah pasti tadi Leonz memberi Proner sihir untuk melupakan kata-kata Leonz soal pernikahan di masa yang akan datang. Emune tersenyum geli membayangkan jika Proner dan Leonz benar-benar menikah nanti.
“Mereka mungkin menikah. Aku? Entahlah,” gumam Emune sedih.
__ADS_1