Orsgadt

Orsgadt
Proner


__ADS_3

Seorang pria muda menatap langit malam dengan raut wajah sedih. Belasan tahun sudah berlalu. Luka itu masih terasa sakit. Bukan luka fisik tapi ingatan dan perasaan. Kehilangan seorang Ayah yang sangat penyayang dan dibanggakannya membuatnya hampir kehilangan semangat hidup. Jika bukan karena kasih sayang ibunya, ia tidak akan bertahan.


Belasan tahun lalu Proner tinggal di desa Dragh, salah satu desa di ujung timur Orsgadt. Desa itu bersebelahan dengan Eimersun bahkan gerbang barat Eimersun hanya berjarak satu hari perjalanan dari sana.  Ayahnya adalah seorang kesatria yang melindungi Kastil Bromenh dan ibunya adalah perajin sulaman. Kehidupan mereka tenang dan damai saat itu.


Kedamaian tidak bertahan lama, pemberontakan Orsgadt merubah kehidupan tidak hanya di Orsgadt tapi juga seluruh Artamea. Hari itu ayahnya baru kembali dari kastil. Seperti biasanya ia akan menyempatkan bermain dengannya sebelum kembali lagi ke kastil di sore hari.


Seingatnya mereka baru selesai makan siang saat rombongan berkuda datang dan memporakporandakan kebun dan taman mereka. Orang-orang berwajah angker duduk di atas kuda-kuda mereka dengan pedang terhunus.


“Steven Malfice! Keluar!” teriak satu dari tiga orang yang berada di barisan terdepan.


Di dalam rumah, ayahnya langsung menyambar pedang dan menyuruh ia dan ibunya untuk tetap diam. Ayahnya melihat dari jendela, mencari tahu siapa orang-orang yang datang mengacau.


“Pasukan Goenhrad. Proner, tetap di dalam. Apa pun yang terjadi, jangan keluar.  Helena, jaga diri kalian.”


Ayahnya keluar dengan gagah. “Aku Steven Malfice,” ucapnya tenang.


“Kastilmu sudah hancur. Kau tidak lagi punya seorang tuan. Bergabung dengan pasukan Goenhrad atau mati.”


Steven menoleh ke arah kastil Bromenh jauh di sebelah utara. Asap tebal berwarna hitam membumbung di angkasa. Orang ini tidak berbohong, pikir Steven.


“Biarkan anak dan istriku hidup. Aku siap mati bertarung dengan salah satu dari kalian.” Steven berusaha membuat jaan agar anak dan istrinya bisa diselamatkan.


“Kau tidak punya kuasa untuk tawar-menawar. Kalian semua akan mati.”


Orang yang ada di tengah-tengah barisan terdepan yang sepertinya adalah pimpinan pasukan itu mengangkat tangannya menyuruh bawahannya untuk diam. Ia turun dari kudanya. Tubuhnya yang besar dan tinggi terlihat seperti gunung batu saat menyentuh tanah. Ia menghunus pedangnya.


“Aku jamin anak dan istrimu tidak akan dibunuh. Lawan aku dengan semua kemampuanmu.”


“Pegang kata-katamu. Aku takkan kalah.” Steven bersiap dengan pedang di tangannya.


Pertarungan berlangsung sengit. Sambaran pedang dari lawannya membuat Steven kewalahan meskipun ia sangat lihai berkelit dan menyerang balik. Dari segi kekuatan, ia sebenarnya bukan tandingan laki-laki raksasa ini.


Stevan sekarang hanya bisa bertarung demi keselamatan keluarganya. Ia ragu orang ini akan menepati janjinya tapi saat ini tidak ada pilihan lain. Sebuah tusukan di dada kanannya menghentikan perlawanan Steven. Darah menyembur dan merembes ke pakaiannya saat pedang besar itu ditarik keluar. Proner berlari keluar sambil berteriak memanggil ayahnya. Helena mengejarnya dan saat tertangkap, ia memeluknya erat-erat.


Steven menoleh ke arah istri dan anaknya, beberapa langkah dari tempatnya berada. Keduanya menangis dan tangan-tangan kecil putranya menggapai ke arahnya. Ia ingin mendekati dan memeluk mereka tapi itu bisa membahayakan keduanya.


“Cuma itu kemampuanmu, kesatria Bromenh? Tidak heran tuanmu dan seluruh penghuni kastil mati terpanggang di sana,” cemooh si raksasa.  “Kau akan mati disaksikan oleh keluargamu.”


Teriakan Proner terdengar sangat menyakitkan bagi Steven. Ia sudah dekat dengan kematian. Ia hanya bisa berteriak parau pada istri dan anaknya. “Hiduplah terus, berjuanglah untuk hidup!” Sebuah tusukan ke jantung mengakhiri hidup Steven Malfice, sang kesatria Bromenh.


Helena dan Proner berlari menghampiri tubuh Steven yang tak bergerak. Mereka sudah tidak peduli pada ancaman pedang besar sang pemimpin pasukan. Keduanya menangis tersedu-sedu. Helena bisa merasakan tangan suaminya yang hangat berangsur dingin dan kaku. Ia memeluk Proner.

__ADS_1


Si raksasa mengangkat dagu Proner dengan ujung pedangnya. Air mata anak itu jatuh membasahi bilah pedangnya.


Helena panik dan ketakutan. “Jangan, jangan sakiti dia,” pintanya dalam tangis.


“Anak kecil, aku tepati janjiku pada ayahmu untuk tidak membunuh kalian. Kau boleh mendendam padaku tapi salahkan ayahmu yang mati karena dia lemah.” Lagi-lagi si raksasa berbicara dengan pongahnya.


Pria itu menyarungkan pedangnya. Pedang Steven yang tergeletak di tanah diambilnya dengan tangan kiri. Ia kemudian naik ke kudanya dan memimpin pasukannya pergi sambil tertawa puas.


Jasad Steven dikuburkan di halaman belakang, di bawah pohon oak tua. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah itu, Proner dan ibunya lebih sering menghabiskan sore di sana, seakan-akan Steven masih bersama mereka.


Sudah belasan tahun dan sekarang ia berkelana sendiri tanpa ibunya. Sejak kematian ayahnya, ia hanya menangis sekali yaitu saat ibunya meninggal karena sakit. Setelah menguburkan ibunya di samping kuburan ayahnya, Proner menitipkan rumahnya pada tetangga. Ia mengijinkan rumah itu ditempati asal dijaga dan kuburan kedua orang tuanya tidak diganggu. Proner tersenyum sedih, akhirnya kedua orang tuanya bersatu di alam lain.


Perjalanannya dari Alder menjadi lebih berat karena perampok yang merajalela di Arsyna. Ia seharusnya sudah memasuki Imperia tapi kata-kata peramal itu membuatnya mengubah rutenya ke Essait. Ia bukan tipe yang mempercayai ramalan tapi peramal itu entah darimana tiba-tiba berlari dan menariknya ke gang kecil. Memaksanya duduk hanya dengan kata-kata.


“Perjalanannmu sangat jauh namun tujuanmu belum tercapai. Duduklah, akan kuberitahu cara untuk menyelesaikannya,” ucap peramal itu sambil memainkan jari-jarinya yang keriput dan berkuku panjang.


Karena penasaran, Proner akhirnya duduk manis menunggu si peramal selesai dengan bola kristalnya. Bukannya menggunakan bola kristal yang ada di atas meja, peramal itu justru meniup serbuk berwarna putih langsung ke wajah Proner. Proner bersin-bersin.


Ia hampir mengamuk tapi peramal itu malah menunjukkan telapak tangannya dan membuat gerakan melingkar dan seperti menarik sesuatu ke dalam genggamannya. Ia kemudian membuka genggamannya dan sebuah bola kecil bercahaya muncul di telapak tangannya.


Sang peramal menggeser bola kristal ke samping, meletakkan sebuah kain hitam di atas meja dan dengan hati-hati melepas bola kecil tadi. Bola itu tidak jatuh ke atas kain hitam tapi mengambang sekitar lima sentimeter di atasnya. Sebuah pusaran terbentuk lalu Proner melihat sesuatu bergerak di permukaan pusaran.


Seperti kepingan-kepingan kaca, satu per satu menempel dan akhirnya menampilkan sebuah gambar. Seorang gadis sedang memegang sekuntum bunga mawar. Gadis itu berambut cokelat, bermata cokelat tua dan kulitnya putih bersih. Ia mengenakan gelang kulit dan sedang memegang bunga merah.


“Berapa bayaran untuk tipuan ini?” ucap Proner kesal. Ia yakin sedang ditipu oleh seorang peramal gadungan.


“Tidak perlu bayar. Ini bukan tipuan. Gadis itu kunci dari tujuanmu. Temukan dia,” jawab si peramal.


Si peramal melipat kain hitam dua kali lalu memasukkannya ke kotak di samping meja. Sisa serbuk putih yang ditiup tadi ia hapus dengan sebuah lap. Ia menyadari ada serbuk yang menempel di bola kristalnya. Ia meraih bola kristal lalu mulai menggosok dan menggosok tanpa menghiraukan laki-laki muda yang masih duduk di depannya.


“Temukan lalu apa?” tanya Proner.


Si peramal mengangkat wajahnya yang hanya terlihat sedikit karena tertutup tudung kepalanya. “Oh, kupikir kau sudah pergi,” ucapnya seperti kecewa karena Proner masih ada di sana. “Kau harus menjaganya.”


“Itu saja?” Proner kesal juga pada gerak-gerik si peramal yang cenderung mengabaikannya padahal dia tadi sampai ditarik-tarik masuk ke lorong ini. Dasar peramal gila, umpatnya dalam hati.


“Tuan, aku ini peramal, bukan dewa. Kau harus temukan dan putuskan sendiri apa yang akan kau lakukan. Begitulah cara kerja dunia ini. Waktumu sudah habis. Pergilah, pelangganku segera datang,” ucap peramal itu ketus.


Proner tidak menyukai sikap peramal itu dan ramalannya yang konyol. Ia bergegas keluar dari lorong kecil itu. Seperti yang dikatakan si peramal, beberapa orang mulai keluar masuk lorong. Mereka keluar dengan macam-macam raut wajah.


Proner menghentikan seorang perempuan paruh baya. Ia ingin mendengar kesaksiannya tentang ramalan orang tua itu. “Nyonya, maaf mengganggumu. Apakah ramalan orang itu benar terjadi?”

__ADS_1


Perempuan itu melihatnya dengan tatapan curiga.


“Aku tidak bermaksud buruk,” ucap Proner, berusaha meyakinkannya.


“Dia itu peramal hebat. Sudah berkali-kali kami ke sini. Aku dan suamiku menikah lama dan tidak punya anak selama hampir sepuluh tahun. Kami iseng waktu itu tapi peramal bilang kami akan segera punya anak dan bayi itu akan lahir di musim gugur. Ramalan itu jadi kenyataan,” ucap perempuan itu.


“Apa dia memberimu sesuatu untuk dimakan atau diminum?” tanya Proner.


“Obat, maksudmu? Tidak ada. Dia hanya meniupkan serbuk putih itu. Suamiku sampai bersin-bersin. Lucu sekali,” ucap perempuan itu sambil tertawa geli.


“Terima kasih,” ucap Proner.


Perempuan itu melanjutkan jalannya dan meninggalkan Proner yang manggut-manggut di depan lorong kecil itu. Saat itulah ia mendengarkan sebuah teriakan dari dalam lorong.


“Kau masih disitu? Sudah kubilang, pergi! Pergiiii!”


Proner langsung melompat dan pergi menjauhi lorong kecil dan si peramal gila. Kepalanya pusing karena memikirkan gadis dalam ramalan tadi. Di mana gadis itu? Ke mana ia harus mencarinya?


Proner menggigit daging kelinci panggang hasil buruannya. Cukup empuk dan enak. Anggur yang ia beli di kota tadi tidak begitu bagus jadi ia memakai setengahnya untuk menyiram daging kelinci yang akan dipanggang. Ia bisa bersabar dan membeli yang lebih enak di kota berikutnya.


Rempah-rempah dari kota juga menambah lezat daging itu. Beberapa potong sudah diasapi dengan baik. Itulah bekalnya untuk perjalanan besok.


Kehidupan seorang pengelana tidak selalu seburuk yang orang-orang katakan. Jika beruntung ia akan menemukan pondok tua yang masih bisa dijadikan tempat menginap satu atau beberapa malam. Jika tidak, bermalam di alam terbuka tidak terlalu buruk. Ada ceruk kecil dan gua yang bisa dijadikan tempat berlindung dari hujan dan angin malam. Sungai-sungai dan sumur-sumur berair jernih menjadi tempat pelepas dahaganya dan kelinci liar adalah sumber energi berharga yang tak ada habisnya di alam.


Gadis berambut cokelat dan bermata cokelat tua. Ada ratusan bahkan ribuan gadis seperti itu di Arsyna dan berkali lipat lagi jika menyebut Artamea. Ia membutuhkan petunjuk untuk menemukan gadis itu. Sangat tidak bijak berkeliling mencari seorang perempuan tanpa arah yang jelas.


Proner memperbaiki posisi tidurnya. Sekelilingnya sudah gelap gulita. Hanya bintang-bintang di langit yang masih setia menemaninya. Ia berusaha memusatkan perhatiannya pada gambar di atas pusaran tadi. Pasti ada petunjuk di sana.


“Gadis berambut cokelat. Mata berwarna cokelat tua. Gelang kulit. Mawar merah. Ada sesuatu di belakang gadis itu,” gumam Proner. Ia tiba-tiba bangun dan duduk dalam gelap. “Cermin, ya, cermin batu! Cermin batu hanya ada di Galvei!”


Proner keluar dari ceruk kecil. Ia menemukan satu petunjuk. Galvei hanya dua hari perjalanan dari sini. Ia yakin bisa menemukan gadis itu. Ia harus sampai di Galvei dulu setelah itu akan ia pikirkan nanti. Kali ini ia menyetujui ucapan si peramal gila.


Proner menyudahi makan malamnya. Ia mematikan api unggun dan masuk ke ceruk yang cukup besar untuk menampung tubuhnya. Setelah merasa nyaman, ia memejamkan mata.


Essait, kota kecil penghasil anggur terbaik di utara Arsyna. Daerah ini sangat subur. Perkebunan anggur membentang sepanjang mata. Rumah-rumah berdiri berjauhan dan tempat pembuatan anggur ada di setiap perkebunan.


Proner menikmati perjalanannya kali ini. Meskipun ia masih tidak percaya pada omongan si peramal, tidak ada salahnya berkeliling. Dia tidak pernah lupa janjinya untuk membalaskan dendam ayahnya tapi sepertinya ia semakin jauh dari tujuannya itu.


Orsgadt tidak mudah dimasuki dan tidak sembarang orang berani masuk ke Orsgadt. Rumor yang beredar mengatakan bahwa di dalam sana terjadi hal-hal mengerikan. Orang-orang kaya dirampok, para perempuan dijadikan budak dan orang-orang menghilang secara misterius.


Keluar dari Orsgadt juga tidak mudah karena melibatkan harta yang jumlahnya besar. Sekali menyatakan keluar dari Orsgadt, seluruh harta yang ditinggalkan menjadi milik kerajaan meskipun masih ada keluarga lain yang tinggal di sana. Orang-orang yang kabur dari Orsgadt tersebar di tiga kerajaan lain. Arsyna adalah tujuan mereka yang tidak terlalu beruntung. Setidaknya dengan sedikit harta yang tersisa mereka bisa membeli sebuah rumah dan tanah pertanian kecil di Arsyna.

__ADS_1


Proner menghentikan kudanya dan menepi. Ada rombongan pedagang yang datang dari arah berlawanan. Kereta-kereta dengan gerbong besar yang lewat disertai riuh tawa canda dan nyanyian membuatnya tersenyum. Seandainya ia tidak bersumpah untuk membalaskan dendam ayahnya, ia mungkin akan memilih jadi pedagang seperti mereka.


Rombongan pedagang telah berlalu. Proner melanjutkan perjalanannya. Jika tidak ada rintangan, ia akan tiba di Galvei besok sore. Gadis berambut cokelat, tunggu aku!


__ADS_2