
Mendengar peringatan Greg, Alfred segera menghunus pedangnya, begitu juga Elric, Aiden dan Sean. Emune mengeluarkan belatinya tapi Elric menyuruhnya berlari ke arah hutan dan bersembunyi di balik semak-semak.
"Ingat, apa pun yang terjadi, tetap sembunyi. Aku akan mencarimu," ucap Elric. Ia mencium kening Emune lalu menyuruhnya segera pergi. Emune tidak mau pergi tapi Elric sangat tegas dan memaksa.
Emune sadar tidak ada yang akan bisa ia lakukan untuk membantu. Walaupun sudah belajar menggunakan senjata, ia tidak mungkin menang melawan pembunuh terlatih. Dengan mata berkaca-kaca Emune berlari ke tepi hutan. Ia menemukan semak-semak yang tepat untuk bersembunyi sekaligus mengamati situasi di depan sana.
“Aku akan mencarimu, Emune. Pasti!” ucap Elric pelan dan tegas. Rahangnya mengeras membayangkan sesuatu terjadi pada kekasihnya itu. Sebelum itu, aku harus selamat lebih dulu. Tunggu aku, Amune!
Seperti yang Greg katakan, gerombolan hitam datang hanya beberapa waktu berselang setelah Emune tiba di tepi hutan. Tiga belas orang, hitung Emune. Ia cemas melihat kekasih dan teman-temannya yang akan bertarung dengan orang-orang itu.
Alfred mengelak dari kapak besar yang terayun ke arahnya. Ia melompat ke lutut penyerangnya yang tinggi besar, lalu dengan satu tusukan berhasil melumpuhkannya. Ia tidak menunggu untuk diserang, tanpa ampun Alfred menusukkan pedangnya ke penjahat berikutnya.
Greg yang bertarung dengan pedang dan belati juga sudah melumpuhkan dua orang. Ia segera menolong Fiona yang dikepung tiga orang penjahat.
"Pengecut! Aku lawanmu!" teriak Greg sambil mengamuk menyabetkan pedang dan melempar belatinya. Dua orang penyerang jatuh ke tanah. Fiona menghabisi yang ketiga.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Greg.
"Tidak apa-apa." Fiona lebih mengkhawatirkan Emune dibandingkan dirinya.
Elric, Aiden dan Sean berhasil mengalahkan lawan mereka dengan cepat. Dari tiga belas orang sekarang tinggal empat yang tersisa.
Emune hampir bersorak melihat mereka hampir menang. Ia terdiam saat sebuah suara menegurnya. "Kau sedang apa di sini?"
Emune terkejut saat menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang gadis kecil bertudung abu-abu. Wajahya hanya sebagian terlihat di bawah cahaya bulan. Apa yang dilakukan gadis kecil ini di sini?
Emune hendak berbicara dengan gadis kecil itu tapi ekor matanya menangkap gerakan datang dari arah barat. Seorang anggota gerombolan melihat gadis kecil itu dan sedang mendekat dengan pedang terhunus. Emune mematung sesaat. Orang itu semakin dekat.
Greg melempar belatinya ke arah penjahat yang sekarang menuju tempat Emune. Orang itu bisa mengelak. Tidak ada waktu lagi.
"Proner!" Greg berteriak dengan semua kekuatan paru-parunya.
Sebuah bayangan bergerak dari tepi hutan tidak begitu jauh dari Emune. Emune terkesiap karena ada yang melewatinya. Seorang pria bertudung hitam melesat ke arah penjahat yang tinggal beberapa meter dari tempat Emune berdiri.
__ADS_1
Alih-alih mengeluarkan pedangnya sendiri, pria itu meninju tangan si penjahat, merebut pedangnya lalu dengan satu tebasan berhasil memenggal kepalanya. Kepalanya lebih dulu jatuh ke tanah diikuti oleh tubuhnya yang berdebum keras.
Emune terkejut melihat kejadian mengerikan itu. Ia berteriak histeris memanggil Horeen. "Horeen!"
Horeen datang dari arah utara. Mengguncang bumi dan membelah tanah yang dilaluinya dan sampai di dekat Emune. Walaupun Horeen sudah berhenti, tanah masih terus terbelah. Pria asing itu melompat dan mendarat di sisi yang sama dengan Emune. Tanah masih terus terbelah ke selatan dengan suara retakan yang mengerikan.
Elric dan yang lainnya sudah hampir sampai namun gempa dan retakan bumi membuat kuda-kuda mereka mundur ketakutan.
"Emune!" teriak Elric. Ia nekat akan melompati jurang itu dengan Draxe tapi dihentikan oleh Alfred.
"Retakannya masih bergerak! Bahaya!" teriak Alfred.
Fiona turun dari kuda lalu terduduk lemas di tanah. "Emune," gumamnya.
Greg menghampiri Fiona dan memeluknya. "Kita akan cari jalan ke sana. Tidak apa-apa, ada Proner di sana."
Sean berjalan ke arah retakan. Obor ditangannya hanya menerangi permukaan retakan. Jurang yang lebar dan dalam telah terbentuk dalam sekejap. Jurang itu memisahkan dunia manusia dengan Hutan Dumina.
"Apa-apaan itu tadi?" tanya Sean. Baru kali ini ada gempa yang sebesar dan seaneh itu.
"Horeen?” tanya Aiden. Ia merasa ketinggalan berita karena tidak tahu siapa Horeen yang dimaksud.
"Peri pembawa sial. Teman Emune," jawab Elric. Ia masih lemas karena terpisah dengan Emune. Mereka baru saja bertemu dan terpisah dengan cara yang mengerikan.
"Apa? Pembawa sial?" tanya Sean.
"Emune cerita, ia mengikuti kalian sejak keluar dari Galvei. Dia yang membanting kita saat bertarung dulu." Elric merasa dadanya sakit sekali. Ia mencemaskan Emune.
Alfred menghela nafas. Gemuruh di kejauhan menandakan retakan masih berlangsung. Ia tidak mau mereka celaka karena gegabah. Mereka harus bersabar sedikit.
"Siapa Proner?" tanya Alfred.
Giliran Greg menghela nafas. "Pengelana yang bertugas melindungi Emune."
__ADS_1
Elric melotot. Apa lagi itu? Ia kesal karena Emune sekarang terpisah jauh darinya dan sedang bersama manusia dan peri yang ia tidak tahu.
Greg membantu Fiona duduk dengan tenang di atas rumput. Ia masih syok.
"Proner yakin bahwa ia memang ditugaskan untuk menjaga Emune. Ia mengikuti kita terus tapi aku menyuruhnya menjaga jarak. Horeen itu, kenapa dia mau menuruti Emune?" tanya Greg pada Elric.
"Emune mau membantunya agar terbebas dari kutukan. Ia akan ke Onykz untuk meminta bantuan pada Olevander,” jawab Elric.
"Hmmm, pantas waktu itu Emune bertanya padaku soal Olevander dan Orsgadt." Greg ingat betul saat Emune bertanya dulu.
"Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Fiona kesal. "Troll kecil itu benar-benar membuatku gila. Greg, kita harus menyelamatkannya."
"Saat itu aku pikir ia hanya iseng bertanya." Greg membelai kepala Fiona agar sedikit lebih tenang. “Kita akan menyelamatkannya. Pasti.”
Semua terdiam untuk mengatur emosi dan tenaga mereka. Malam yang mengerikan lagi-lagi terulang. Kali ini Emune yang jadi korbannya.
"Aku tidak mengerti. Siapa yang menyuruh Proner menjaga Emune?" tanya Aiden.
"Seorang peramal. Awalnya aku menertawakannya tapi terbukti dia memang bisa diandalkan tadi." Greg tidak meragukan kelihaian Proner.
"Ya, dari gerakannya terlihat ia sangat terlatih. Kita tunggu hari terang dan mencari jalan ke sana." Alfred berjalan ke arah kudanya
Angin dingin tiba-tiba menyelimuti tempat itu. Kabut tipis naik dari tanah dan memenuhi area di sekitar jurang. Mereka semua terkejut karena ada seorang gadis berambut putih berjalan melewati mereka, terus ke arah jurang.
"Akan kuberi tanda kalau mereka selamat," ucap gadis itu tanpa berhenti sedikit pun.
Sean dan Aiden berlari hendak mencegahnya ke bibir jurang tapi gadis itu dengan mudahnya meluncur di atasnya dan menghilang dalam kegelapan.
"Si-siapa gadis itu?" tanya Sean.
"A-apa dia jatuh?" tanya Aiden.
Tidak ada yang bisa menjawab karena gadis itu muncul entah dari mana dan tiba-tiba saja menyeberangi jurang hingga tak terlihat lagi. Semua terduduk di atas rumput dengan perasaan kesal, marah dan sedih. Emune sekarang ada di seberang sana tanpa mereka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dari tempat yang jauh tampak sebuah titik kecil berwarna merah kuning yang membesar lalu bergerak membentuk lingkaran. Lingkaran api, tanda dari gadis aneh tadi. Mereka lega, setidaknya Emune selamat.