Orsgadt

Orsgadt
Pengkhianat


__ADS_3

Arthen memasuki sebuah ruangan dengan pedang terhunus. Darah yang lengket di bilah pedangnya adalah darah dua orang pengawal raja yang menghalangi jalannya. Ia tahu waktunya tidak banyak tapi ia akan pastikan misinya tuntas sebelum pasukan pengawal berdatangan.


Seorang pria dengan jubah dan mahkota kerajaan duduk di kursi tanpa bicara. Ia sepertinya sadar bahwa satu-satunya yang bisa mencegah amukan Arthen hanya dua kesatria yang sekarang menjaganya. Matanya merah dan kedua tangannya terkepal. Ia menggebrak meja dengan marah.


Seperti mengerti, kedua kesatria tadi langsung mengapit dan menyerang Arthen. Pertarungan sengit tidak bisa dielakkan. Dua lawan satu memang tidak adil rasanya tapi Arthen bukan kesatria sembarangan. Ia adalah satu dari dua kesatria andalan yang tersisa di Orsgadt. Belasan tahun berjuang sebagai penyintas tentu saja pengalamannya lebih banyak dari kedua kesatria yang jadi lawannya.


Suara pedang beradu dan teriakan-teriakan marah memenuhi ruangan. Alih-alih menyelamatkan diri, sang raja hanya duduk diam menatap permukaan meja di hadapannya. Jika Arthen menang, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk membunuhnya. Ia berharap mendapatkan kematian yang cepat jika itu terjadi.


Arthen yang haus darah sudah tidak peduli pada sekelilingnya. Kilasan kejadian belasan tahun lalu sekarang menguasainya. Darah dan mayat-mayat yang bertumpuk di alun-alun lalu kepanikan rakyat yang berusaha menyelamatkan diri dari amukan pasukan hitam Goenhrad muncul di kepalanya. Sebuah tebasan langsung menghabisi nyawa salah seorang lawannya. Tidak perlu waktu lama untuk menghabisi yang kedua.


Arthen menurunkan pedangnya. Ia berjalan ke arah sang raja dengan pedang yang berlumuran darah. Ia mengangkat pedangnya lurus ke arah pria yang duduk menekur.


“Leoric Thenosyes, aku menuntut penjelasanmu,” ucap Arthen dingin.


Raja Thenosyes menggebrak meja dan berdiri. Ia menunjuk murka ke arah Arthen. Ia sepertinya tidak peduli ada sebuah pedang terhunus sudah siap menghunjam jantungnya saat ini.


“Kesatria pongah! Berani-beraninya kau menyebut namaku tanpa gelar!”


“Gelarmu hanya omong kosong. Kuberi kau gelar baru: Thenosyes Pengkhianat!” seru Arthen geram. “Duduk dan jelaskan. Aku takkan ragu memenggal kepalamu,” ancam Arthen.


Raja Thenosyes pelan-pelan duduk di kursinya. Ruang ini adalah ruang khusus yang hanya bisa diakses dari kamar pribadinya. Jika Arthen bisa sampai di sini maka bisa dipastikan tidak ada yang mengetahuinya. Kalaupun para pengawal lain tahu, pasti sudah terlambat. Ia bisa mati kapan saja.


“Apa yang kau inginkan?” tanya sang raja. Ia menelan ludahnya untuk kesekian kalinya.


“Pemberontakan Orsgadt, apa andilmu?” tanya Arthen.


Raja Thenosyes menatap nanar ke dinding di belakang Arthen. Peta Artamea tersulam indah di selembar kain beludru berwarna biru. Ia hanya diam melihat wilayah Orsgadt.

__ADS_1


“Waktu itu aku membiarkan perbatasan timur Imperia dijadikan markas intel dan pasukan hitam Goenhrad. Semuanya demi putriku. Demi Ellaine. Dia baru berusia beberapa hari dan kondisinya sangat buruk. Penyihir Goenhrad berjanji akan menyembuhkan Ellaine jika aku mau membantu penyerangan ke Orsgadt. Aku tidak menyangka Orsgadt akan takluk secepat itu. Pembantaian itu .... Goenhrd berjanji tidak akan menyakiti keluarga kerajaan!” Raja Thenosyes menangis terisak. “Kumohon, jangan sakiti anak dan istriku. Bunuh saja aku.”


“Raja Agung Orsgadt menganggapmu saudaranya dan kau mengkhianatinya! Dengan senang hati akan kukabulkan permintaanmu!”


Arthen tidak ragu untuk mengangkat tinggi pedangnya. Ia siap memenggal kepala sang pengkhianat yang menyebabkan kehancuran Orsgadt. Sedikit lagi bilah pedang itu menyentuh leher Raja Thenosyes, pedangnya terhenti oleh kekuatan yang tidak terlihat.


“Tahan amarahmu, Kesatria Arthen. Kita masih membutuhkannya.” Horeen mendekati Arthen yang tampak gusar. Kesatria itu sedang menarik pedangnya yang lain tapi dihentikan oleh Horeen. “Aku Horeen, teman Emune. Tugasku mengawasi pergerakan Imperia.”


“Emune, apa dia aman?” tanya Arthen. Ia memang sudah dikabari oleh Hemworth mengenai keberadaan seorang peri yang akan mengawasi wilayah Imperia. Ia tidak menyangka peri itu muncul saat ini.


“Dia di tangan para kesatria hebat. Kurasa kita harus menyelesaikan urusan di sini terlebih dahulu.” Horeen mendekati sang raja. “Di mana istri dan anakmu?” tanya Horeen pada sang raja.


“Jangan sakiti mereka!” seru sang raja Imperia.


“Aku tidak punya hobi seperti itu. Bawa kami bertemu dengan mereka, Yang Mulia,” pinta Horeen cukup sopan.


Raja Thenosyes bangkit dari kursinya. Melawan Arthen saja tidak bisa, apalagi melawan seorang peri. Ia tertunduk pasrah dan berjalan keluar menuju kamar putrinya. Ia ternganga ngeri melihat mayat-mayat pengawalnya yang bergelimpangan di sepanjang jalur menuju kamar tidurnya. Arthen benar-benar mengamuk.


“Ayah, siapa mereka?” tanya Putri Ellaine dengan suara lemah.


“Teman-teman ayah,” jawab sang raja dengan suara sedih.


“Silahkan menepi, ini tak akan lama,” ucap Horeen.


Raja Thenosyes membimbing istrinya yang kebingungan agar memberi jalan untuk Horeen. Putri Ellaine terkejut saat Horeen duduk di tepi tempat tidurnya dan menarik tangan kirinya.


“Tenang saja. Tidak akan sakit,” ucap Horeen. “Pejamkan matamu,” perintah Horeen kepada sang putri.

__ADS_1


Horeen menggenggam tangan kiri Putri Ellaine. Cahaya biru berpendar dari tangan Horeen. Cahaya merambat pelan ke lengan dan seluruh tubuh Putri Ellaine. Ketika seluruh tubuh sang putri sudah tertutup cahaya biru, cahaya itu perlahan berubah jadi putih dan menghilang.


Mata sang putri terbuka dan asap merah kehitaman keluar dari mulutnya yang menganga. Horeen menangkap asap itu dan menghancurkannya dengan genggamannya. Tubuh Putri Ellaine terkulai lemas.


Ratu Charmaine memekik dan menangis melihat putrinya tidak bergerak. Sang raja menahannya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh peri itu tapi ia tidak bisa gegabah membiarkan istrinya untuk mendekat.


“Dia sedang tidur, biarkan saja,” ucap Horeen. “Putrimu tidak pernah sakit. Ia dikenai sihir Yhourin. Mereka menipumu,” ucapnya pada sang raja.


Wajah Raja Thenosyes memerah karena marah. Ia mengkhianati sahabat baiknya yang sudah seperti saudara dan menyebabkan kekacauan di Orsgadt karena suatu kebohongan keji. Ia menoleh pada istrinya yang tampak cemas. Ini tidak bisa dibiarkan, tegasnya dalam hati.


“Jaga Ellaine. Ini saatnya aku menebus kesalahanku,” ucapnya dengan mata penuh kemarahan.


Ratu Charmaine menganguk lalu mendekati putrinya. Ia hanya bisa meneteskan air mata saat suaminya pergi bersama dua orang asing yang disebutnya “teman-teman” tadi. Lindungi suamiku, doanya dalam hati.


***


Langit semakin gelap. Leonz merasakan kekuatan yang tidak biasa sedang bergerak memenuhi udara. Setelah Emune dan yang lain pergi, ia berkonsentrasi dengan urusannya sendiri. Ia menyeringai senang. Ia sudah jadi Hertena dewasa, itu artinya kekuatannya sudah penuh.


Ia melihat ke arah timur. Peperangan sedang terhenti karena pasukan Eimersun tidak bisa melewati tembok kedua yang diberi sihir oleh Yhourin. Leonz menumpah sebagian serbuk ajaibnya ke lantai. Ia membuat empat titik kecil di atas serbuk yang berserakan. Tangan kecilnya melayang di atas empat titik itu selama beberapa saat lalu ia menutupnya dengan sebuah gebrakan pelan.


“Satu sudah beres,” ucap Leonz. Ia berbisik, “Avena, sihirnya sudah hilang. Hati-hati dengan hewan-hewan buas di sebelah utara.”


Di tempatnya berjaga, Avena mendengar bisikan Leonz. Ia cepat-cepat menggebrak tembok kedua. Kabut dingin menyelimuti tembok itu dari timur sampai selatan. Begitu kabut menghilang, tembok kedua sudah rata dengan tanah.


Avena langsung melesat ke utara. Ia harus memastikan hewan-hewan buas peliharaan Goenhrad tetap di kandang mereka. Jika tidak, pasukan Eimersun bisa habis dimangsa.


Melihat tidak ada lagi yang menghalangi mereka, Raja Duncan memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju. Tujuan utama mereka adalah istana Orsgadt. Berperang di kegelapan malam adalah hal yang mengerikan namun tidak ada pilihan lain, Orsgadt harus segera ditaklukkan.

__ADS_1


Leonz berdiri. Tugasnya di sini sudah selesai. Ia harus bergabung dengan Emune dan yang lain. Leonz bersedekap kesal.


“Yhourin, jangan kabur. Perangmu sudah datang,” ucapnya sambil menyeringai.


__ADS_2