
Ketika fajar datang, semua orang sudah bersiap untuk berangkat ke pos masing-masing. Ratu Adelaine mencium putrinya dengan linangan air mata. Ia tidak menyangka akan begini jadinya, padahal mereka baru saja bisa berkumpul bersama.
Raja Duncan mencium kening Mirena. Meskipun perempuan, Mirena adalah kesatria tangguh, tak kalah jauh dengan Elric. Sebagai calon ratu Eimersun, Mirena tidak mungkin mundur dari tugas ini.
Elric memeluk kakak perempuannya. Biasanya mereka akan saling ganggu tapi hari ini mereka hanya saling menepuk bahu. Tidak ada waktu untuk bersedih, peperangan sudah di depan mata.
Meskipun Raja Duncan memberi tenggang waktu bagi Goenhrad untuk menyerah dalam tiga hari, ia tidak mau kecolongan. Pasukannya sudah bersiap sejak semalam. Mengingat Goenhrad merasa lebih kuat karena menguasai Anthura, ia bisa saja menyerang hari ini.
Setelah semua pergi dan hanya menyisakan sang ratu dan mereka yang bertugas menjaga Leonz dan Emune, aula menjadi sepi. Ratu Adelaine mendatangi kamar Emune bersama Elric dan Proner. Emune dan Leonz masih terbaring tak bergerak, mereka sangat lemah sejak kejadian tadi malam.
“Elizai, semoga semua berjalan lancar. Hiduplah, Nak,” bisik Ratu Adelaine. Ia mengecup kening Emune dan memeluk Elric sebelum Sean dan Aiden membawanya ke tempat yang aman.
Proner duduk di tepi tempat tidur sambil memegang tangan kecil Leonz. Ia tersenyum karena gadis cilik ini tanpa ia sadari telah mencuri perhatiannya. Terlepas dari versi dewasanya yang sangat cantik, Leonz adalah teman kecil yang lucu.
“Dia bersungguh-sungguh tentang kau akan jadi suaminya kelak?” tanya Elric.
Proner menyeringai. “Saya tidak tahu dari mana dia dapat ide itu tapi baiklah, saya akan menunggunya cukup umur untuk menikahinya.”
“Terkadang aku pikir Emune terjebak dengan orang-orang aneh tapi kalian adalah teman-teman terbaiknya.”
“Anda lebih hebat dari kami, Pangeran. Tanpa kehadiran di sisinya saja ia bisa setegar itu. Anda memberinya harapan.”
“Kau sangat menyayangi Emune. Apa kau ... mencintainya?” tanya Elric pelan. Ia ingat semalam betapa garangnya Proner menebas penyusup itu, begitu juga dulu di Toure. Semua demi melindungi Emune.
“Pangeran tidak berpikir saya akan merebutnya, bukan? Tidak seperti itu. Tuan Putri memiliki kebaikan dan wibawa yang membuat orang tunduk padanya. Saya mengikutinya ke mana-mana bahkan tanpa tahu bahwa ia seorang penerus tahta Orsgadt.”
“Aku hanya sedikit konyol, mungkin cemburu karena tidak bisa menemaninya dalam perjalananan ke Dunia Ajaib.”
“Jangan, Pangeran. Lagi pula, apa Anda pikir gadis cilik Hertena ini akan membiarkan saya hidup-hidup jika berani menggoda perempuan lain?” ucap Proner geli.
“Kau benar.” Elric tertawa geli. Leonz memang terlihat sudah memberi tanda pada Proner agar tidak ada yang mendekatinya.
Emune dan Leonz tiba-tiba terduduk dan batuk-batuk. Asap hitam keluar dari mulut mereka lalu menghilang. Elric dan Proner segera membawakan mereka air minum. Bukannya minum, keduanya malah turun dari tempat tidur dan duduk di lantai. Leonz membuat sebuah segitiga lalu lingkaran di dalam segitiga itu dan membuat satu segitiga lagi di dalam lingkaran.
“Emune ....” Leonz menatap Emune dengan mata berbinar.
“Leonz ....” Emune menatap Leonz dengan senyum lebar di bibirnya.
Keduanya lalu berpelukan gembira. Elric dan Proner kebingungan. Entah apa yang terjadi pada keduanya.
***
Emune, Leons, Proner dan Elric duduk di gazebo. Mereka sedang mengawasi langit. Serangan biasa tidak mereka khawatirkan, Korta dan Anthura yang harus diwaspadai. Leonz tidak mencium sesuatu yang aneh di udara. Ia yakin terang hari bukan pilihan yang bijak bagi Orsgadt jika ingin memulai peperangan.
__ADS_1
“Sebelum matahari tenggelam, itu waktu yang tepat jika ingin membangkitkan Korta dan Anthura,” ucap Leonz.
“Leonz, kita ke sana malam ini. Bisakah kita menembus pelindung Yhourin?” tanya Emune.
“Aku yakin kita bisa masuk tapi untuk keluar, aku masih ragu,” jawab Leonz. Penyihir itu sangat licik, pikirnya.
“Bagaimana jika kita masuk lewat menara?” tanya Elric.
“Menara?” tanya Proner.
“Konon Menara Orsgadt memiliki jalur rahasia untuk sampai ke ruang bawah tanah tempat Yhourin menggunakan sihir-sihirnya.” Elric pernah mendengar tentang itu namun tak ingat kapan.
“Kita harus memancing Goenhrad keluar.” Proner bersedekap.
“Aku rasa kita bisa mengandalkan Ayah dan Mirena untuk melakukan itu,” sahut Elric.
“Kau benar.” Proner mengangguk setuju.
Emune memperhatikan daun-daun rapuh yang berguguran. Mereka tertiup angin dan pasrah ke mana saja mereka di bawa. Sebagian jatuh di sungai yang mengalir di bawah istana Eimersun dan sebagian lagi tersangkut di tebingnya. Ketika sebuah daun berhenti, tidak bergerak sama sekali, ia tahu ada kekuatan besar yang sedang menahannya.
Ia menoleh ke arah Leonz, Proner dan Elric yang diam membeku. Emune memejamkan matanya sebentar lalu membukanya saat sesuatu yang hangat terasa mengalir ke kepalanya.
“Yang Mulia Raja Peri Dougraff, Elizai memberi hormat,” ucap Emune.
“Elizai, takdir mempertemukan kita,” ucap sang raja peri.
“Benar, Yang Mulia.” Emune menunduk hormat.
“Peperanganmu sudah dimulai. Hentikan sebelum terlambat.”
“Hamba tidak bisa melakukannya. Garis keturunan Raja Agung Orsgadt tidak bisa berhenti di sini,” tolak Emune tegas.
“Kau paham konsekuensinya?” tanya Raja Peri Dougraff.
“Tentu, Yang Mulia.” Emune merasakan hawa hangat saat raja peri menatapnya lembut.
“Kau tidak bisa mengalahkan Goenhrad. Jika Korta dan Anthura bangkit, seluruh dunia manusia akan hancur.”
“Benar dan hamba tidak bisa mengharapkan bantuan dari Yang Mulia, bukan?” tanya Emune.
“Tidak, Emune. Dunia Ajaib sudah tersegel,” jawab sang raja peri.
“Hamba tidak bermaksud meragukan Yang Mulia tapi selama belasan tahun, bukankah terbukti bahwa segel itu telah terbuka?” Nada keputusasaan terdengar tipis dalam suara Emune. Sebenarnya ia ingin berteriak tapi tidak ada gunanya. “Yhourin, Anthura dan makhluk-makhluk buas yang ada di istana Orsgadt, bukankah mereka seharusnya berada di dunia yang tersegel?”
__ADS_1
Raja Peri Dougraff tidak terpancing oleh kesinisan Emune. “Selalu ada alasan atas suatu keadaan.”
“Semoga bukan sesuatu yang membuat Yang Mulia lemah,” ucap Emune.
Raja Peri Dougraff geram mendengar kalimat Emune. Daun-daun di sekeliling mereka hancur jadi abu. Gadis ini memancing emosinya dan ia berhasil. “Kau lancang, Emune.”
“Yang Mulia, hanya dengan satu kalimat hamba sudah dianggap lancang. Hamba sungguh berharap lautan darah dan air mata yang tumpah di Orsgadt selama ini bisa membuat Yang Mulia luluh dan menghukum Goenhrad dan Yhourin. Jika harapan hamba terlalu tinggi, hamba mohon agar Yang Mulia membiarkan kami, para manusia, untuk berjuang dengan cara kami sendiri.”
“Kau hanya akan membuka segel yang lain.” Sang raja peri menatap tajam kedua mata Emune. Goenhrad tidak ada artinya dibandingkan ancaman lain yang ia khawatirkan.
“Kami, manusia, adalah makhluk biasa yang sangat luar biasa. kami punya semangat, tekad dan harapan. Ketiganya adalah kekuatan terbesar kami.”
“Keras kepala. Tak kusangka keturunan Orsgadt bisa seperti ini. Para pendahulumu adalah orang-orang yang bijak.” Raja Peri Dougraff menoleh ke arah langit. Bencana yang tak bisa dihindarkan akan segera tiba, bisiknya dalam hati.
Emune menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Ia sedang berbicara dengan penguasa nomor satu Artamea. Ia tidak ingin gegabah dan adu mulut tapi ia sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari. “Hamba yakin bahwa hamba juga akan sebijak mereka jika Orsgadt damai dan tenteram. Sayangnya hamba menemukannya dalam keadaan luka dan sekarat. Jika hamba tidak melakukan sesuatu, hanya menunggu waktu bagi kehancuran Orsgadt dan dunia manusia.”
Raja Peri Dougraff terdiam. Gadis ini memiliki darah yang sama dengan Wilhelm, Raja Agung Orsgadt yang pertama. Ia tidak bisa menampik kemiripan mereka berdua. Wilhelm, keturunan terakhirmu adalah bencana yang akan menghancurkan Artamea jika tidak dihentikan, batinnya.
“Yang Mulia, jika kedatangan yang Mulia hanya untuk mengambil Elzenthum dari hamba, jangan ragu. Hamba akan berjuang dengan lengan-lengan kecil hamba demi keadilan bagi Orsgadt,” ucap Emune.
“Kau akhirnya menemukannya. Elizai, Elzenthum hanya bisa tersegel di tubuhmu. Bahkan pemiliknya tak akan bisa merebutnya.”
“Jika demikian, hamba sangat beruntung.”
“Ada kegelapan yang membayangimu. Itu akan selalu mengikutimu.”
“Yang Mulia, Anda menyegel Elzenthum pada diri hamba. Bukankah itu berarti Yang Mulia mempercayakan kekuatan besar hanya pada keturunan langsung Raja Agung Orsgadt karena meyakini kami sangat bijak?” tanya Emune.
Raja Peri Dougraff menempelkan telapak tangannya di atas kening Emune. Ia tersenyum. Kekuatan Elzenthum dalam diri Emune hampir sempurna. Ia tidak mungkin ada di sini saat ini jika kekuatan itu tidak memanggilnya.
“Elizai, semoga kau bisa melewati masalah ini,” ucap sang raja peri.
“Hamba akan berusaha, Yang Mulia.” Emune tersenyum miris.
Raja Peri Dougraff menghilang dalam sekejap. Emune membuka matanya saat suara angin dan air sungai menyentuh indra pendengarannya. Elric, Proner dan Leonz sudah bergerak dan sibuk membahas rencana penyusupan malam nanti.
Elzenthum adalah kekuatan yang baru Emune temukan. Kekuatan itulah yang membuatnya dan Leonz terkapar semalam. Yhourin telah gegabah menyebut tentang diri Emune yang hanya berfungsi sebagai selongsong dan kekuatan inti Emune tidak akan bisa mengalahkannya.
Ia sebenarnya bertaruh dengan nyawanya saat nekat memeluk Leonz yang sedang memancarkan kekuatan perinya. Jika memang ada kekuatan inti di dalam tubuhnya, ia pasti akan selamat dari ledakan kekuatan Leonz. Sungguh ajaib, kekuatan itu memang ada. Ia adalah selongsong bagi Elzenthum, kekuatan besar tandingan sang raja peri.
Senyum terkembang di bibir Emune. Kedatangan Raja Peri Dougraff tidak menyurutkan semangatnya. Ia ingin membuktikan bahwa manusia yang dianggap lemah justru memiliki kekuatan yang sangat besar. Saat ini ia bisa sedikit lega karena masih memiliki Elzenthum.
“Aku sudah siap,” gumam Emune.
__ADS_1