Orsgadt

Orsgadt
Berlari dan Terbang


__ADS_3

Padang rumput di depan istana Erreandrey pagi ini kembali ditutupi oleh ribuan kupu-kupu raksasa. Emune menyukai pemandangan ini. Ia tidak lama keluar dari Ulrych tapi banyak sekali yang terjadi. Dengan semua hal buruk, ia menganggapnya bagian dari cobaan perjalanan dan semua hal baik adalah penyeimbangnya.


            Teman-temannya sudah siap. Ibu Leonz menggerakkan tangannya dan membuat pelindung gaib untuk Emune dan Proner. Kehadiran manusia biasa bisa membawa kehebohan di Hutan Dumina jadi mereka harus disembunyikan.


            Erreandrey memeluk Leonz dan mencium keningnya. Putri kecilnya itu sekarang akan menempuh perjalanan berbahaya padahal usianya masih sangat muda. Tidak ada alasan untuk menahannya di Hutan Dumina. Semua keturunan Hertena adalah peri-peri dengan kemampuan luar biasa. Khusus Leonz, ia adalah calon Olevander jadi ia harus berjuang agar bisa bertahan hidup sendiri di dua dunia.


            Leonz tidak menangis sama sekali. Ia hanya memeluk ibunya dan berjanji akan kembali. Dengan mahirnya ia membuat sebuah gelang cantik dari bunga-bunga liar lalu diberikannya kepada ibunya. Ketika gelang itu dikenakan oleh Erreandrey, rangkaian bunga liar berubah menjadi cahaya dan menghilang, yang tertinggal adalah rajah berwarna biru bercahaya seperti lilitan sulur.


            "Ibu tahu. Pergilah, kau pasti bisa mengatasi apa pun." Sekali lagi Erreandrey mencium kening putrinya. Leonz tersenyum.


            Kelompok kecil yang aneh itu lalu berangkat. Leonz, Emune dan Proner menaiki Leon si singa hitam. Proner sempat protes dan ingin minta agar diantar dengan kuda saja tapi Emune tidak setuju. Dengan Leon mereka bisa sampai lebih cepat. Proner meringis kesal, semua kegundahannya tenggelam dalam teriakan seru Leonz dan Emune.


            Avena dan Horeen yang mengikuti di belakang sedang lomba meluncur. Tidak satupun dari mereka mau berada di belakang yang lain. Horeen yang masih dalam lindungan cahaya sangat senang karena tidak ada kesialan di sekitarnya. Itu berarti ia bisa berjalan bersama mereka tanpa khawatir.


Avena tidak menyukainya, bukan karena Horeen pembawa sial tapi karena peri itu bisa membaca pikirannya. Avena melesat lalu duduk di belakang Proner dengan punggung saling beradu. Horeen geram, ia mencoba untuk bergabung tapi Leon menendangnya dengan kaki belakang karena tidak mau ada tambahan penumpang lagi. Avena tertawa terbahak-bahak sementara Horeen yang terpental jauh berteriak marah.


"Ini tidak adil!“ protes Horeen.


            Lari Leon sangat cepat dan lompatannya sangat jauh. Di bagian hutan yang agak terang, singa hitam itu menurunkan kecepatan dan mulai berjalan.


            "Kenapa Leon berhenti berlari?" tanya Emune.


            "Kita sampai di wilayah peri Harness. Mereka akan mempengaruhi pikiran kalian dan mengajak kalian untuk tinggal di hutan," jawab Leonz.


            "Itu saja?" tanya Avena.


            "Setelah tiga malam menguras cahaya hidup kalian, mereka akan membakar kalian di api unggun raksasa," jawab Leonz.


            "Ha! Sudah kuduga. Tidak ada yang wajar dengan hutan ini. Hewan-hewan aneh yang terlalu besar, makhluk-makhluk gaib mengerikan dan penyihir-penyihir gila." Proner mengomel sendiri.


            "Proner, diam," ucap Leonz setengah berisik. "Ingat, jangan layani mereka. Lihat lurus ke depan."


            "Bagaimna dengan Avena dan Horeen?" tanya Emune khawatir.


            "Avena mungkin sedikit terpengaruh kalau darah manusianya lebih kental. Avena, ibu atau ayahmu yang manusia?" tanya Leonz.


            "Ayahku," jawab Avena singkat.


            "Bagus. Keturunan peri perempuan sangat kuat, kita akan baik-baik saja," ucap Leonz optimis.


            "Proner," panggil Emune.


            Proner mendekat. Ia sebisa mungkin menghindar dari kaki-kaki singa hitam yang menendangnya.


            "Kalau kau lihat aku dan Proner aneh-aneh, bangunkan kami," perintah Emune.


            Horeen mencengkeram bahu Proner dan mengguncang-guncangnya sambil berkata dengan nada datar, "Bangun, bangun, bangun," lalu menampar wajah Proner.


            "Apa-apaan kau?" Proner menarik telinga Horeen karena kesal.


            "Hei, kalian berisik!" Leonz menyuruh semua orang diam.


            "Bagiku dia sudah aneh," ucap Horeen dengan santai lalu segera melesat naik. Ia lebih suka berada di ketinggian. Avena mengikuti jejak Horeen. Di atas sini semua terlihat lebih jelas.


            "Kenapa peri-peri Harness bisa melihat kita padahal kita memakai pelindung cahaya?" tanya Proner.

__ADS_1


            "Oh, mereka istimewa. Mereka tidak melihat wujud asli kalian tapi cahaya hidup kalian dan tidak ada pelindung cahaya yang bisa mengelabui mereka kecuali …."


            "Kecuali?" tanya Emune dan Proner setengah berbisik.


            "Pelindung cahaya raja peri," jawab Leonz serius.


            Emune menoleh sebentar ke tepi hutan. Ia membelalak heran. Elric ada di sana!


            "Elric!" teriak Emune. Ia berusaha turun dari punggung Leon. Proner menahan tubuh Emune.


            "Emune, itu tidak nyata. Itu hanya ilusi dan …." Ucapan Proner terhenti. Seorang wanita cantik muncul dari pepohonan. Wanita itu tersenyum pada Proner. "Ibu!" teriak Proner. Pegangannya pada Emune terlepas. Keduanya jatuh dari punggung Leon.


            Leonz menepuk kedua pipinya lalu berteriak memanggil Proner dan Avena. Keduanya melesat menyambar Emune dan Proner kemudian mendudukkan mereka di atas punggung Leon sebelum mereka berlari mengejar ilusi masing-masing ke tepi hutan.


            Setelah sekian ratus meter, Leon kembali berlari. Wilayah peri-peri Harness adalah wilayah yang sangat berbahaya. Apa saja bisa terjadi dalam jarak itu. Leonz lega, ia sendirian saja mungkin tidak bisa menolong Emune dan Proner, untung ada Avena dan Horeen.


            "Apalagi yang akan kita temui, Leonz? Lebih baik bersiap jika memang akan ada badai," ucap Proner.


            "Tidak ada badai tapi ada lautan api di depan sana dan Leon harus kembali ke pondokku."


            "Lautan api?" Emune mencoba mengingat-ingat. "Aku hanya pernah mendengarnya dari Horeen," gumam Emune.


            "Tentu saja. Tidak ada manusia yang lolos dari sepertiga area Hutan Dumina," ucap Horeen. "Leonz bisa mengatasinya. Bukan begitu, Leonz?"


            "Ya tapi setelah itu kau dan Avena harus mencari jalan untuk menyeberangi padang pasir. Oh ya, pelindung cahaya akan hilang di ujung Hutan Dumina jadi sebaiknya kau menjaga jarak," Leonz mengingatkan.


            "Aku tahu," ucap Horeen. Ia membumbung tinggi mendekati Avena.


            "Aku tidak tahu apa rencana mereka. Seharusnya kita rapat dulu. Bagaimana kalau kacau nanti?" Proner protes lagi. Sebagai manusia biasa yang tidak punya kekuatan gaib ia tentu mencemaskan nyawanya dan Emune.


            "Proner, kau ini banyak khawatirnya, ya? Tidak ada yang bisa kita lakukan." Emune geleng-geleng kepala.


            Mereka sampai di dekat lautan api. Dari bawah memang terlihat seperti tembok api tapi bagi Avena dan Horeen yang melihat dari atas, benar-benar seperti lautan api. Kedua peri itu memperhatikan sekeliling. Lautan api itu memanjang jauh memisahkan wilayah hutan dengan padang pasir.


Padang pasir di depan mereka sangat luas, angin membentuk pola garis berkelok di atas pasir. Tidak ada oase di padang pasir itu. Semoga Avena bisa melindungi Emune dan Proner dengan kekuatan es yang dimilikinya, pikir Horeen.


            Leon berhenti hanya sekian meter dari tarian lidah api. Semua turun dan menepuk-nepuk punggung Leon. Singa hitam itu tampak sedih saat Leonz membelai surainya. Tugasnya sudah selesai dan ia harus kembali ke pondok Erreandrey segera. Dengan sebuah auman perpisahan yang memekakkan telinga, ia berbalik dan segera lenyap dari pandangan.


            "Apa dia harus mengaum sekeras itu?" tanya Avena. Bagian manusia di dirinya tidak bisa menerima kekuatan suara Leon tadi.


            "Dia raja hutan dan penjaga peri jadi itu sudah kebiasaannya agar semua menyingkir dan tidak menghalanginya." Leonz tersenyum.


            "Lalu kenapa dia malah berjalan di wilayah peri Harness?" tanya Proner.


            "Peri-peri Harness sangat agresif. Jika Leon melesat di wilayah mereka, peri-peri itu tidak akan ragu menarik Emune dan Proner ke dalam wilayah mereka."


            "Wah, Leon luar biasa," ucap Emune.


            "Ayo, kita harus menyeberang," ucap Leonz. Anak kecil itu meniup serbuk berwarna biru yang dikeluarkannya dari sebuah kantong kecil. "Dan lautan api terbelah untuk orang-orang baik," ucapnya.


            Emune dan Proner takjub melihat lautan api itu benar-benar terbelah dan lebih takjub lagi karena di bagian yang terbelah tampak rumput segar yang tidak terpengaruh oleh panasnya api. Leonz mendahului berlari. Kekuatan serbuk itu tidak lama. Emune dan Proner mengikutinya. Karena langkah Leonz pendek-pendek, dalam sekejap ia tersusul. Proner menyambar Leonz dan berlari sambil menggendongnya.


            Emune menoleh ke belakang. Jalan itu mulai menyempit di belakangnya lalu tertutup. Ia menambah laju larinya. Proner dan Leonz yang sudah sampai di ujung khawatir dan meneriakinya agar berlari lebih cepat. Keringat Emune mengalir deras. Ia pernah berlari tapi tidak secepat ini apalagi dengan ancaman api di belakangnya seperti sekarang ini.


Sedikit lagi, gumam Emune dalam hati. Sedikit lagi api di belakangnya akan menyambar, Emune menjejakkan kaki kuat-kuat lalu melompat. Ia mendarat tepat di luar lautan api. Aku selamat, syukurnya dalam hati sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang kencang sekali. Leonz memeluknya.

__ADS_1


            "Tidak apa-apa. Wah, ini pertama kalinya aku berlari sekencang itu."


            "Kau hebat sekali," puji Leonz.


            "Terima kasih, Leonz," ucap Emune. Ia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Avena dan Horeen. "Bagaimana selanjutnya?" tanya Emune.


            "Daripada berjalan dan menghabiskan energi Avena, kita akan terbang. Emune dan Leonz ikut aku, Proner, kau dengan Avena."


            "Kenapa aku dengan Avena?" tanya Proner.


            Avena melotot dan mulutnya menganga. "Kau lebih suka pergi dengan peri aneh itu ketimbang aku yang seksi?"


            "Maksudku ...."


            Tidak ada yang mau mendengarkan keluhan Proner. Horeen sudah melesat jauh sambil menggendong Emune dan Leonz. Dasar anak kecil, pikir Horeen saat Leonz berseru kegirangan. Ia melotot pada Emune saat gadis itu ikut berseru-seru gembira.


            "Apa?" tanya Emune yang menangkap tatapan aneh Horeen.


            "Seorang putri harusnya tidak berseru-seru. Kita ini dalam misi berbahaya, bukan sedang tamasya."


            "Horeen, aku belum pernah bertualang jadi maklumlah kalau aku sedikit gila dan aneh," Emune mencoba berdalih.


            Horeen cuma menyeringai. Ia menoleh ke belakang dan berhenti mendadak. Di belakang sana, seperti adegan dansa di aula istana, Proner dan Avena sedang melayang-layang sambil berpelukan. Proner sepertinya terpaksa memeluk erat Avena karena takut terjatuh di atas padang pasir lalu mati, sedangkan Avena tampak menikmatinya. Perempuan genit, gerutu Horeen dalam hati.


            "Berhenti bermain-main! Kita harus segera keluar dari sini. Malam di padang pasir tidak aman," ucapnya geram.


            "Hahaha, jangan khawatir. Proner menyukainya, bukan begitu?" tanya Avena dengan nada genit.


            "Hahaha, ba-bagaimana menurutmu?" Proner balik bertanya. Ia cuma ingin cepat-cepat sampai. Pertama menunggangi Leon, lalu terbang bersama Avena. Ah, sepertinya penderitaanku masih panjang, keluhnya dalam hati.


            Horeen kesal karena perjalanan jadi terhambat. Ia segera menukar Leonz dengan Proner lalu melesat pergi. Avena dan Leonz bertatapan kebingungan. Keduanya lalu tersenyum. Perjalanan dilanjutkan. Sedikit lagi mereka akan tiba di ujung padang pasir.


            Avena dan Leonz adalah pasangan terbang yang serasi. Mereka berputar-putar melayang sambil tertawa gembira. Emune ingin bergabung tapi Horeen sudah melotot duluan. Emune tertawa geli melihat Proner yang tertidur padahal mereka sedang terbang tinggi. Ia akhirnya memilih untuk membuka Buku Kebijaksanaan.


            "Lautan api itu ulah peri api yang diusir ya?" tanya Emune pada Horeen.


            "Ya," jawab Horeen.


            "Kau membuat jurang di tepi Hutan Dumina, kau tidak akan dihukum karena itu?" tanya Emune.


            "Tidak. Siapa suruh mengutukku seperti itu? Bukan salahku."


            Perhatian Emune teralihkan oleh sesuatu di bawah sana. "Oh! Horeen, coba lihat di bawah sana!" seru Emune.


            Horeen melihat ke bawah. Sebuah sungai berkelok terbentuk mengikuti gerakan Horeen.


            "Aku sudah membuat jurang, menumbangkan pohon-pohon dan sekarang ada sungai di bawah sana. Lalu kenapa?" tanya Horeen.


            "I-itu keajaiban." Emune terpana. Ia menampar pipi Proner tapi pria itu tidak berekasi sama sekali.


            Horeen mendengus kesal. "Aku sudah cukup muak dengan keajaiban. Semakin cepat kutukan ini hilang, semakin baik."


            Emune hendak mengatakan sesuatu tapi ia urungkan. Ia tidak bisa bicara sembarangan. Horeen pasti sudah melalui banyak kesulitan karena kutukan itu. Sama seperti Avena ataupun Proner yang membawa beban kematian kedua orang tuanya, begitu juga dirinya sendiri. Leonz juga, walaupun masih kecil, beban berat calon Olevander ada di tangannya.


            "Ya, kurasa itu yang terbaik," ucap Emune.

__ADS_1


            Horeen melihat sepintas dan tahu Emune sedang memikirkan sesuatu. Sebagai seorang peri, Ia tidak tertarik urusan manusia. Hanya karena dikutuk makanya ia mengembara tak tentu arah di Artamea. Dari sekian banyak manusia, cuma Emune yang berkata ingin menolongnya, padahal ia sendiri punya beban berat di pundaknya. Gadis yang hebat, pikirnya.


            Perhatian Horeen teralihkan oleh Proner yang tidur sambil menggumam. Ia heran manusia satu ini bisa tidur nyenyak saat terbang secepat ini. Ingin rasanya Horeen menurunkan Proner sedikit agar pantatnya terbakar oleh panasnya pasir di bawah sana tapi ia hanya menyeringai konyol. Ia senang karena tanah hijau sudah dekat dan setelah itu ia bisa bertemu Olevander.


__ADS_2