Orsgadt

Orsgadt
Elric dan Emune


__ADS_3

Angin kencang menderu keras berputar-putar lalu menyambar tanah dan pepohonan yang dilewati. Seperti sulur tanaman, angin mengikat keempat orang yang sedang bertarung dan dengan satu hentakan membuat mereka terbanting ke tanah. Mereka semua kesakitan dan terbatuk-batuk.


"Terima kasih, Horeen. Mereka memang perlu diberi pelajaran," ucap Emune. Ia tersenyum senang karena Horeen benar-benar datang saat dibutuhkan.


"Manusia, selalu bertindak sebelum berpikir. Apa aku perlu menambah derita mereka?" tanya Horeen. Empat manusia konyol, pikirnya.


"Tidak. Sudah cukup." Emune mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan peri itu sebagai ucapan terima kasih tapi Horeen sudah mundur lebih cepat.


"Jangan sampai kau terkena sial. Baiklah, aku pergi." Horeen lenyap sambil membawa rumput-rumput yang mengering di setiap langkahnya.


Emune mendekati empat orang yang sekarang terduduk kelelahan dan kesakitan. "Fiona, kau tidak apa-apa?" tanya Emune cemas.


"Uugh, seperti dijatuhkan dari lantai dua Balach," jawab Fiona.


Emune memapahnya agar bisa duduk di dekat Greg. Seperti magnet Greg dan Fiona langsung berpelukan. Manisnya, pikir Emune.


"Greg, bagaimana keadaanmu?” tanya Emune.


"Tidak apa-apa, Emune. Apa itu tadi?" tanya Greg heran.


Emune tidak menjawab. Ia sudah lari ke arah Elric. "Elric. Kau tidak apa-apa?"


Elric menatap Emune. Gadis itu nyata dan ada di dekatnya. Rasanya semua sakit di badannya langsung hilang. Ia langsung memeluk Emune. "Akhirnya aku menemukanmu," ucap Elric penuh suka cita.


Emune merasa hangat dalam pelukan Elric. Ia tidak berbohong, Elric benar-benar mencarinya. "Ayo, bersandar di sini saja dulu. Siapa laki-laki itu?"


"Alfred, temanku." Elric melihat Alfred sedang bersandar sambil bersiap dengan pedangnya.


Emune menghampiri Alfred. "Anda tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja. Terima kasih, Nona." Alfred menurunkan pedangnya.


"Emune, namaku Emune. Kedua orang itu temanku, Fiona dan Greg. Mereka orang baik." Emune tersenyum pada Alfred.


Alfred ikut tersenyum. "Sepertinya begitu. Jangan khawatirkan aku. Tolong rawat Elric."


Emune mengangguk. Ia meletakkan sebotol sari apel di dekat Alfred lalu kembali ke Elric.


Alfred mengambil botol itu dan membukanya. Ini pertama kalinya ada seorang gadis memberinya sebotol sari apel. Ia menenggak isinya dan tersenyum melihat Emune merawat Elric dengan hati-hati. "Pantas saja kau tidak bisa tidur karena memikirkannya, Tuan Muda. Perempuan berkualitas," gumamnya.


Setelah kesalahpahaman tadi, mereka berenam sekarang duduk bersama mengelilingi api unggun di padang rumput di pinggir kota. Emune mengomel karena mereka hampir saling bunuh tadi.


"Kalian membuatku takut. Tidak bisakah bertanya dulu sebelum bertarung?" Emune geleng-geleng kepala.


Keempat orang yang tadi saling adu senjata bicara bersamaan, saling tunjuk dan berusaha membela diri. Mereka akhirnya tertawa mengingat betapa konyolnya mereka tadi. Emune geleng-geleng kepala lagi.


"Sebaiknya kita kembali ke penginapan. Kami akan melanjutkan perjalanan besok pagi," ucap Greg.


"Ke mana?" tanya Elric.


"Toure. Kami akan ke Imperia dulu baru ke Eimersun," jawab Greg.


"Maaf, aku ingin bicara dengan Emune sebentar," ucap Elric.


Elric menggenggam tangan Emune dan mengajaknya menjauh dari sana. Greg hendak melarang tapi dicegah oleh Fiona.


"Itu Elric, pacar Emune." Fiona berbisik.


"Pacar?" tanya Greg. Sejak kapan?

__ADS_1


"Ya. Jangan ganggu mereka." Fiona tersenyum geli melihat ekspresi tidak percaya Greg.


Greg duduk akhirnya. Ia menawarkan sebotol kecil anggur Farclere yang terkenal pada Alfred. Alfred mengambilnya dan hanya meneguk sedikit. Botol dan isinya ia kembalikan ke Greg. Kenapa sari apel tadi jauh lebih enak ketimbang anggur ini, pikir Alfred. Ia menyeringai.


Elric dan Emune duduk di batu besar, tidak begitu jauh dari tempat Alfred dan kedua teman Emune. "Kau membuatku gila Emune. Malam itu mengapa kau tidak memberitahu kalau akan ke Alder?" Elric melempar sebatang ranting jauh-jauh.


"Aku tidak berpikir itu penting. Aku juga tidak tahu kalau kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu.” Emune menunduk.


"Aku mencarimu ke Ulrych." Elric tersenyum mengingat bibi Emune yang membanting pintu saat ia ke sana dulu.


"Oh, maafkan aku," ucap Emune.


"Tidak apa. Kebetulan sejalur dengan rute kami. Bibimu dan anak kembarnya sehat. Aku rasa para lelaki sedang di ladang saat aku datang."


"Syukurlah. Aku merindukan mereka. Aku hanya belum bisa kembali." Emune menatap mata teduh Elric yang bisa menenangkannya.


"Bagaimana denganku? Apa kau merindukanku?" tanya Elric.


"Apa aku boleh merindukanmu?" tanya Emune pelan.


Elric menoleh. "Pertanyaan apa itu?"


"Elric, kau tampan dan baik hati. Pasti ada perempuan yang menantikanmu kembali dari perjalanan ini." Emune sedang menggunakan logikanya. Pria tampan selalu dikelilingi banyak wanita, pikirnya.


"Gadis sok tahu." Elric menggenggam tangan Emune lalu mengeluarkan kotak berisi kalung pertunangan yang sudah ia siapkan. "Aku datang ke Ulrych untuk membuat ikatan. Aku membawa ini untukmu."


Emune ragu-ragu menerima kotak kecil yang disodorkan oleh Elric. Ia membukanya dan terpukau oleh indahnya kalung emas berbandul batu safir yang ada di dalamnya.


"Elric ini ...."


"Maukah kau menerimanya?" Elric menatap penuh harap. Baru kali ini ia sampai susah makan susah tidur karena seorang gadis.


Pikiran Emune terpecah antara kebahagiaan atas lamaran Elric dan tugas berat yang harus ia emban. Ia tidak mau melibatkan Elric dalam misi bunuh diri ini tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya yang mengatakan bahwa ia menginginkan Elric. Aku harus bagaimana?


"Tidak. Apa kau meragukanku?" Elric membaca wajah Emune, mencoba mencari keraguan di sana.


"Elric, tidak. Aku ... ini pertama kalinya aku keluar dari Ulrych. Banyak sekali yang ingin kulihat." Sebuah kejujuran dan sebuah dalih yang sempurna, pikir Emune.


"Aku mengerti kau ingin bertualang. Emune, ikatan ini bukan berarti kita harus menikah hari ini atau besok. Aku tidak masalah jika kau ingin melihat dunia yang belum pernah kau lihat. Lagi pula jika menikah, setidaknya kau harus berumur delapan belas tahun."


"Benarkah?" tanya Emune. Ia cukup lega mendengarnya. Seakan-akan aku bisa merebut kembali Orsgadt sebelum ulang tahunku yang ke delapan belas. Konyol sekali!


"Benar." Elric meraih tangan Emune.


Emune tersenyum. "Aku mau," ucapnya malu-malu.


"Emune, syukurlah." Elric memeluk Emune erat-erat. Rambut dan kulitnya yang wangi tercium oleh Elric. Gadis ini miliknya.


Emune hanyut dalam pelukan Elric. Pikirannya tentang Orsgadt seperti menghilang saat bersama Elric. Biarlah, malam ini saja, pikirnya.


Elric memasangkan kalung pemberiannya ke leher Emune yang jenjang. Sangat pantas dikenakan oleh Emune. Ia semakin bersinar menurut Elric.


Emune memegang bandul kalung pemberian Elric dengan gembira. Mereka kini sepasang kekasih. Emune tidak tahu apa yg kelak akan  terjadi tapi seperti tekadnya merebut tahta Orsgadt, ia juga takkan menyerah untuk menjaga ikatannya dengan Elric.


Elric menggendong lalu memangku Emune. Mereka duduk di atas rumput di balik batu besar. Ia membelai wajah kekasihnya yang berhari-hari dikejarnya tanpa henti.


Emune tersenyum pada Elric kemudian menunduk. Elric mengangkat dagu Emune lalu mencium bibirnya dengan lembut. Kerinduan yang menggebu-gebu merasuki keduanya, membuat mereka lupa pada hal lain. Saat berhenti berciuman, keduanya saling menatap penuh arti.


Emune menyandarkan kepalanya di dada Elric. Rasanya ia bisa tertidur di sini karena sangat nyaman. Ciuman pertamaku dengan pemuda yang kusukai. Aku sangat beruntung!

__ADS_1


Sementara itu Fiona sibuk menahan Greg yang panik karena Emune tidak terlihat lagi.


"Emune dalam bahaya. Dia menghilang." Greg waspada.


"Greg ...." Fiona meringis. Greg bisa sangat konyol kalau menyangkut Emune.


"Elric pasti memperdayanya. Ayo kita periksa," ajak Greg.


"Greg, biarkan saja." Fiona tersenyum pada Alfred yang menyeringai geli melihat Greg yang khawatir berlebihan. Ia tahu Elric dan Emune ada di balik batu besar itu. Mungkin sedang berciuman, pikirnya.


"Biarkan? Bagaimana kalau Emune celaka?" Greg berdiri dan memanjangkan lehernya, berharap bisa melihat apa saja yang terjadi di balik batu besar itu.


Fiona menarik Greg sampai benar-benar duduk. "Mereka itu pacaran. Kau pikir mereka akan saling gebuk? Paling juga berciuman."


"Berciuman?" tanya Greg. Emune belum cukup dewasa untuk berciuman, tegasnya dalam hati.


"Bercumbu," ucap Fiona menggoda Greg.


"Bercumbu?" Greg melotot. Emune tidak boleh bercumbu sebelum dewasa, pikirnya.


"Beberapa bulan kemudian kau akan punya cucu yang imut dan montok," tambah Fiona sembari tersenyum geli. Ia melirik pada Alfred yang tertawa pelan sambil memainkan botol sari apel di tangannya.


"Apa sih yang kau bicarakan?" Greg menyentil hidung Fiona.


"Greg, kau ini seperti bapak-bapak cerewet yang khawatir putrinya akan dihamili. Bisakah kau santai sedikit?" Fiona tertawa. "Kau harus melihat kepanikan Greg saat Emune hampir diculik di Darfin," ucap Fiona pada Alfred.


"Karena itu aku selalu khawatir! Jangan sampai Emune kenapa-kenapa!" teriak Greg sambil berdiri. Ia ingin suaranya sampai ke balik batu itu. Ia lalu melotot pada Fiona yang tertawa terbahak-bahak.


Alfred tertawa kecil. "Jangan khawatir, Elric pria yang baik. Ia juga dapat diandalkan."


Greg sudah setengah duduk lalu memilih untuk berdiri lagi dan berteriak. "Emune, sudah malam. Waktunya tidur!"


Kali ini Fiona dan Alfred tertawa terbahak-bahak bersamaan. Greg sangat lucu, pikir mereka.


Di belakang batu besar, Elric dan Emune tertawa geli mendengar Greg yang berteriak konyol.


"Dia pasti kesal karena ada aku." Elric memainkan rambut Emune yang tergerai.


"Greg seperti itu setelah aku hampir diculik di Darfin." Emune bergidik setiap mengingatnya.


"Apa? Emune, itu mengerikan!" Elric tidak menyukainya.


Emune tersenyum miris. Ia juga menyesalinya. "Greg menyelamatkanku. Apa jadinya kalau tak ada Greg dan Fiona."


"Aku akan menjagamu mulai sekarang."


"Apa kau akan ikut sepanjang perjalananku?"


"Tentu. Aku tidak mau kau terluka."


Emune tersenyum.  Elric tampak berkilau di matanya. Kekasihnya yang akan selalu melindunginya sudah ada di sini. Emune merasa tenang.


"Elric. Aku ...." Emune menimbang-nimbang untuk memberi tahu Elric soal identitas dan misinya.


"Aku tidak melarangmu bepergian tapi aku mau kau aman jadi aku akan menjagamu." Elric mengganggam erat tangan Emune. "Aku tahu Greg akan berteriak-teriak lagi kalau kita tidak ke sana tapi aku ingin menciummu lagi."


"Aku rasa Greg harus lebih bersabar," ucap Emune malu-malu.


Elric mencium Emune di bibir lalu keningnya.  Emune tersenyum karena menyukai ciuman lembut itu.  Elric membantu Emune berdiri. Mereka kembali ke api unggun sambil bergandengan tangan.

__ADS_1


Greg segera memisahkan Emune dan Elric. Ia menarik Emune agar berjalan lebih dulu di depan dengan Fiona. Fiona dan Emune berbisik-bisik geli. Mereka kembali ke penginapan masing-masing.


Malam itu Emune bermimpi sangat indah. Di dalam mimpinya ada Elric dan Orsgadt yang berhasil ia rebut dari sang raja lalim Goenhrad.


__ADS_2