Orsgadt

Orsgadt
Di Tepi Hutan Dumina


__ADS_3

Letih dan sedih karena kejadian yang tak terduga, Emune duduk di atas tanah dan bersandar di pohon. Elric pasti cemas, Fiona dan Greg, juga Alfred, Sean dan Aiden. Apakah mereka selamat?


Emune melihat sesuatu muncul dari kejauhan. Meskipun tidak mungkin, ia tetap berharap bahwa itu adalah Elric. Semakin dekat semakin jelas itu bukan Elric, melainkan seorang gadis berambut putih yang memegang tongkat kayu. Gadis itu meluncur di atas jurang dengan sesuatu yang terlihat seperti uap atau kabut. Begitu menginjak tanah, kabut di bawah kakinya hilang.


“Kau siapa?” tanya Proner. Ia memegang gagang pedangnya erat-erat.


“Aku Avena. Buatlah api dan beri tanda pada orang-orang di seberang sana,” ucapnya datar.


Mendengar ucapan gadis itu, Emune melompat dan mencengkeram bahunya tapi langsung ia lepaskan. Tubuh gadis itu dingin sekali, seperti es.


“Apa mereka selamat?” tanya Emune.


“Ya. Hanya patah hati karena kau terjebak di sini,” ucapnya acuh. “Api, beri mereka tanda,” ucapnya lagi-lagi dengan nada datar.


Proner menyalakan api dengan cepat. Ia membuat obor dari ranting kayu dan sobekan kain lalu membakarnya dengan api yang ia buat. Ia berharap api itu bisa dilihat dari ujung sana.


Proner membuat bentuk lingkaran agar yang melihatnya yakin itu bukan sekedar api unggun. Setelah beberapa kali, ia berhenti. Obor ia tancapkan ke tanah dan mulai membuat api unggun. “Emune, kemarilah,” ucapnya memanggil Emune.


“Kau ... bagaimana kau tahu namaku?” tanya Emune


“Hati-hati manusia, jangan coba-coba mengusiknya,” ucap Horeen memperingatkan Proner.


“Kau pasti Horeen, si peri pembawa sial,” cemooh Avena.


Horeen mendelik. Gadis berambut putih itu tidak bisa menjaga mulutnya, pikirnya kesal.


“Aku baru tahu ada peri pembawa sial. Lalu kau ini apa?” tanya gadis kecil bertudung abu-abu. Ia adalah yang paling kecil baik dari ukuran maupun usia.


“Aku rasa dia makhluk campuran yang dikutuk. Bukankah kau juga sial?” Horeen tertawa terbahak-bahak. Saking kerasnya daun-daun yang gugur bergetar lalu pecah dan lebur jatuh ke tanah.


“Horeen, hentikan.” Emune tidak jadi mendekati Proner. Kepalanya pening karena dikelilingi orang-orang yang tidak dikenalnya. Hanya Horeen yang ia tahu namun Horeen juga harus menjaga jarak darinya.


Emune duduk lagi di tanah. “Dengar, selain Horeen aku tidak tahu kalian siapa. Bisakah kita semua duduk dan memperkenalkan diri masing-masing? Horeen, maaf, sebaiknya kau berdiri di dekat jurang saja,” ucap Emune.


Horeen bergerak ke arah jurang. Ia sengaja berhenti sebentar di dekat Avena. Hanya sebentar tapi efeknya luar biasa. Avena bersin-bersin dan menggigil.


Seorang penguasa es terkena flu? Aneh sekali. “Sangat tidak lucu!” serunya pada Horeen sambil meniup ke arah Horeen. Gelombang angin dingin tiba-tiba muncul menabrak Horeen hingga terpental jauh. Horeen muncul kembali sambil menyeringai. Avena tersenyum menang.


Emune mendesah dan ingin menangis. Padahal semuanya lancar karena Elric sudah tahu tentang identitasnya dan mereka tinggal mencari jalan untuk berpisah dari Greg dan Fiona. Kenapa aku harus terjebak di tepi Hutan Dumina bersama “orang-orang” aneh ini? Aku mau Elric, ingin bersama Elric. Sebaiknya aku urus dulu yang satu ini, pikir Emune.


“Baiklah, namaku Emune. Seperti kalian lihat aku terpisah dari teman-temanku. Aku dalam perjalanan ke Eimersun tapi saat ini aku harus sampai di Onykz untuk menemukan Olevander yang bijak dan memintanya membebaskan Horeen dari kutukan,” ucap Emune.


“Proner, aku seorang pengelana. Aku bertugas untuk menjaga Emune,” ucap Proner.


“Menjagaku? Untuk apa kau menjagaku?” Emune kebingungan. Apa Arrand mengirim orang baru?


“Aku juga tidak tahu. Seorang peramal menunjukkannya padaku.” Proner mendengus pelan.


Semua yang ada di sana melihat tidak percaya pada Proner. Pandangan Avena seolah menanyakan apakah manusia begitu bodohnya mau saja mempercayai ramalan?


“Apa peramal itu memakai tudung yang membuat wajahnya hampir tidak terlihat dan berteriak-teriak menyuruhmu pergi?” tanya Emune. Ia ingat pada peramal aneh yang dulu pernah ditemuinya.


“Ya! itu dia. Ehem, peramal aneh itu memperlihatkan dirimu di sesuatu yang seperti pusaran kabut,” ucap Proner.


“Aku?” Emune mengerutkan keningnya.


“Ya. Kau di Galvei waktu itu. Aku mencarimu ke sana,” jawab Proner.


Benarkah? Emune mencoba mengingat-ingat. Di Galvei dia hanya ingat ada Rhea yang gila.


Emune memperhatikan wajah Proner yang terkena cahaya api unggun. Pria itu masih muda, seumuran Fiona. Walaupun pengelana tapi terlihat bersih.

__ADS_1


Benarkah ia pernah bertemu dengannya? Jangan-jangan pria ini hanya mengada-ada. Tapi tadi ia menyelamatkanku. Untuk apa ia melakukannya jika tidak dirasa perlu? “Ah! Kau yang berdiri di toko anggur waktu itu!” pekik Emune. Ia ingat sekarang.


“Ya. Aku ingin tahu ke mana kau pergi.” Proner memperhatikan Emune. Dari jarak sedekat itu ia tidak merasa ada yang aneh dengan gadis itu.


“Kau mengikuti sampai ke sini? Pantas aku merasa ada yang aneh. Kenapa Greg tidak tahu? Mungkin ia terlalu sibuk menjagaku dan Fiona.” Emune berbicara sendiri.


“Greg tahu. Ia mengizinkanku mengikuti kalian selama aku menjaga jarak,” ucap Proner.


Emune ternganga. Greg tahu?


“Wah, nasibmu sama denganku,” ucap Horeen. Ia sedang memainkan daun-daun yang berubah jadi abu setiap ia sentuh. Tidak ada yang menyahuti Horeen.


Selanjutnya giliran Avena. Gadis berambut putih itu menggerakkan jari-jarinya, rambutnya yang panjang dijalin oleh kabut putih yang bergerak seperti dua buah tangan.


“Avena, aku campuran manusia dan peri es. Aku hanya iseng berkeliling Artamea awalnya lalu tadi kudengar dari temanmu bahwa kau akan mencari Olevander untuk menolong peri sial itu jadi aku putuskan untuk mengikutimu,” ucapnya datar.


“Avena, jangan sebut dia seperti itu. Namanya Horeen. Bagaimana kalian bisa ada di luar dunia ajaib? Setahuku kalian tersegel di sana.” Emune tentu saja heran.


“Aku hanya setengah peri jadi aku bisa hidup di tanah manusia. Aku diusir oleh penduduk desa karena membekukan desa. Kepala desa bejat! Dia mau menyentuhku.” Avena menepis bahunya seakan-akan tangan lelaki menjijikkan itu masih ada di sana.


“Lalu kau mengamuk dan menyakiti warga desa?” celetuk Horeen.


Avena menyeringai. “Aku tidak bermaksud begitu. Walau sudah coba kujelaskan, mereka tiba-tiba datang membawa air panas untuk disiram ke tubuhku. Aku bisa mati, jadi kubekukan saja semuanya. Tidak lama, hanya sebentar. Mereka masih hidup dan langsung mengusirku,”


“Kenapa kau sampai dikutuk, Horeen?” tanya Proner.


Horeen yang sejak tadi diam melayang di atas jurang lebar hasil kepanikannya mendengar teriakan Emune bergerak ke tepi namun masih cukup jauh dari kelompok kecil yang mengelilingi api unggun. Ia menatap langit yang gelap penuh bintang.


“Itu suatu kesalahpahaman. Aku mengantar istri Raja Peri Bunga yang kutemui di hutan lalu tiba-tiba aku disergap, dikutuk dan dilempar keluar dari dunia ajaib.”


“Kau tidak tahu alasan mereka melakukannya?” tanya Emune.


“Seandainya aku tidak panik, ini tidak akan terjadi. Bagaimana kita bisa sampai ke Orsgadt dengan cepat?” Emune pusing sekali. Sepertinya tidak ada yang normal di kelompok ini, pikirnya.


“Kita bisa menyusuri tepi hutan dan sampai di Imperia. Sayangnya badai pasir sebentar lagi datang, beresiko jika lewat perbatasan.” Proner menambahkan ranting ke api unggun.


“Kita bisa lebih cepat jika melewati Hutan Dumina,” ucap Horeen.


Semua menoleh padanya. Ide itu jelas gila. Tidak ada manusia yang berhasil keluar hidup-hidup dari hutan itu. Proner, Emune dan Avena berbicara bersamaan yang intinya menolak ide gila Horeen.


Mereka tidak mau jadi santapan para penyihir atau makhluk peliharaan mereka yang mengerikan. Bagaimana jika mereka dimantrai jadi batu atau kecoa atau kambing? Horeen berusaha menjelaskan tapi ketiganya terlanjur tidak berminat karena resikonya yang tinggi.


“Aku bisa mengantar kalian,” gadis kecil bertudung abu-abu yang sejak tadi belum mendapat giliran bicara akhirnya bersuara juga. Semua menoleh kepadanya. Mereka baru ingat di antara mereka ada seorang anak perempuan kecil. “Hai, aku Leonz. Aku seorang penyihir,” ucapnya dengan nada ceria.


“Itu maksudku,” ucap Horeen. “Kalian sama buruknya dengan peri-peri yang menangkap dan mengutukku tanpa mau mendengarkan penjelasanku,” ucap Horeen pelan. “Menyebalkan!” serunya sambil membanting pantatnya ke tanah untuk duduk.


Jangankan duduk, belum tersentuh saja tanah di sekelilingnya sudah amblas dan menambah lebar jurang itu. Ia lagi-lagi diabaikan oleh yang lain. Mereka sekarang sibuk berbicara dengan si gadis kecil.


“Maaf, aku sampai lupa kau ada di sini. Benarkah kau bisa membantu kami keluar dari Hutan Dumina?” tanya Emune.


“Tentu. Biarpun masih kecil, aku juga seorang penyihir,” jawab Leonz.


“Setelah Hutan Dumina ada Padang Pasir Harapan dan Lembah Kematian. Kalian bisa terpanggang di padang pasir tanpa oasis dan tempat berlindung. Lalu tersesat di lembah dengan hantu-hantu yang akan menyeretmu jatuh ke rawa hitam atau lubang kematian,” ucap Horeen memberi tahu siapa saja yang mungkin tidak tahu.


“Aku pernah mendengarnya. Apa kau bisa membuat pelindung dengan kekuatan es yang kau punya, Avena?” tanya Emune.


“Aku belum pernah menggunakannya lama-lama. Akan kucoba.”


“Sedikit mengkhawatirkan tapi tidak salah jika kita coba,” ucap Proner.


“Berapa lama perjalanan melintasi padang pasir itu?” tanya Avena.

__ADS_1


“Tiga hari jika tidak terhenti oleh badai,” jawab Horeen.


“Aku rasa kita bisa mencobanya,” ucap Emune.


“Kau yakin teman-temanmu akan menyetujuinya?” tanya Avena.


“Mereka tidak perlu menyetujuinya. Kita akan pergi tanpa mereka,” ucap Emune. Semula ia menyesali kejadian ini namun sekarang ia menganggapnya sebagai jalan lain yang bisa membawanya ke Orsgadt lebih cepat.


“Kau yakin, Emune?” tanya Proner. “Avena bisa membawa kita ke seberang, kurasa,” ucap Proner.


“Ya. Ada baiknya terpisah dari mereka. Kita harus segera ke Orsgadt.” Emune sudah memantapkan niatnya. Kedua mata Emune menatap lidah api yang menari-nari di hadapannya. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan mundur, ia harus segera sampai di Orsgadt.  “Avena, tolong sampaikan pada Elric, aku menunggunya di Onykz,” pinta Emune pada Avena.


Avena bangun lalu mulai menyeberangi jurang dengan anggun, dibantu oleh kabut dingin di bawah kakinya. Ia senang karena untuk pertama kalinya ada orang-orang yang melihat kepergiannya tanpa mengumpat dan melemparinya. Ini menakubkan!


“Kenapa kau tidak melesat saja supaya lebih cepat sampai? Sok anggun!” seru Horeen yang dari tadi kesal pada Avena. Ia menggerakkan tangan dan mendorong udara ke arah punggung Avena.


Avena terdorong dan dengan cepat sampai di tepi jurang. Ia marah pada Horeen yang mengganggu momen kebahagiaannya dan mengibaskan tangan sambil berteriak marah. “Peri bodoh!” seru Avena.


Jauh di seberang sana Horeen diserbu pusaran kabut dingin dan dibanting-banting ke tanah sampai tiga kali.


“Apa semua peri kekanak-kanakan seperti itu?” tanya Leonz.


“Kurasa tidak. Abaikan mereka,” jawab Emune.


“Aku akan mencari kelinci untuk kita makan,” ucap Proner. Ia meringis melihat Horeen yang tertelungkup di tanah. Untung saja dia peri, pikirnya.


“Leonz, berapa usiamu?” tanya Emune.


“Sembilan tahun jalan,” jawab Leonz.


“Maukah kau buka tudungmu?” pinta Emune.


“Tentu.” Leonz membuka tudungnya. Emune hampir saja menganga di depan Leonz. Anak perempuan ini cantik sekali. Rambutnya yang panjang sebahu berwarna keemasan dan bergelung-gelung indah. Wajahnya berbentuk bulat telur, pipinya sedikit tembam dan bersemu merah. Siapa yang akan mengira dia seorang penyihir?


“Kau cantik sekali!” seru Emune tertahan.


“Ibuku selalu bilang begitu,” ucap Leonz polos.


“Sihir apa saja yang bisa kau lakukan?” tanya Emune.


“Aku masih belajar membuat ramuan dan merapal mantra. Aku bisa membuat cahaya kecil,” ucapnya bangga. Ia menjentikkan tangan kirinya. Sebuah cahaya kecil muncul dan membesar hingga sebesar kepalan tangan.


“Wah, kau pintar sekali!” Emune bertepuk tangan.


“Aku juga bisa membuat sulur-sulur seperti punya Horeen,” tambah Leonz.


Horeen melihat sulur-sulur yang dimaksud Leonz. “Ini bukan ‘sulur-sulur’, ini ikatan kutukan!” serunya kesal.


Emune mengabaikan kekesalan Horeen. “Benarkah? apa yang akan dilakukan sulur-sulur itu?” tanya Emune antusias.


“Akan kutunjukkan.” Leonz menepuk cahaya tadi, menggerakkan kedua telapak tangannya perlahan di sekeliling cahaya. Bola cahaya itu berubah menjadi sulur-sulur yang terus memanjang. Leonz meletakkannya di tanah. Sulur itu terus memanjang dan bergerak ke arah tepi jurang. “Itu bisa bertahan cukup lama. Dulu hanya bisa sebentar saja.”


“Indahnya ….” Emune terpesona. Selain api unggun, sekarang ada sulur-sulur yang memberi cahaya di tepi hutan itu.


Proner kembali dari berburu kelinci. Ia mendapatkan dua ekor dan langsung menyiapkannya untuk dibakar. Ia terkejut melihat sulur-sulur bercahaya namun karena tidak berbahaya, ia akhirnya tersenyum.


Avena belum kembali bahkan setelah daging kelinci matang. Emune berharap tidak ada sesuatu yang serius yang terjadi di seberang sana. Emune, Proner dan Leonz makan dengan lahap.


Emune menatap langit. Elric, aku ingin bertemu segera denganmu, ucapnya dalam hati.


Angin berhembus menggoyang dedaunan. Emune menyerahkan semuanya pada penguasa alam. Ia hanya yakin bahwa ia tidak akan berhenti berjuang demi tahtanya.

__ADS_1


__ADS_2