
Emune menyalakan lampu minyak dan meletakkannya di tengah-tengah meja. Ia berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa ia tidak keberatan jika mereka tidak mau ikut menemukan naga Elqoz. Perjalanan menuju Onykz saja sudah sangat melelahkan, apalagi nantinya mereka harus berhadapan dengan sang naga.
“Aku ikut,” ucap Leonz. “Aku senang bepergian dengan kalian. Daripada diam di Llyohawee … aku disuruh belajar terus,” ucap Leonz sedih.
Padahal ia hanya sebentar ke sana tadi tapi kepalanya pusing disuruh membaca buku mantra, menghafal bahan-bahan ramuan dan belajar menggunakan tongkat sihir. Ia tidak pernah memakai tongkat sihir dan rasanya aneh menyalurkan energi pada sebuah tongkat. Ia lebih suka menggunakan tangannya, seperti ibunya yang selalu bergerak anggun saat menyihir sesuatu.
Avena rasanya ingin mencubit pipi Leonz. Apa beratnya belajar ketimbang kemungkinan jadi santapan Elqoz?
“Horeen, Avena, bagaimana?” tanya Emune.
“Aku rasa aku masih bisa berkeliling sedikit lagi,” ucap Horeen. Sulur-sulur hijau di sekelilingnya bergerak pelan.
Avena memiringkan bibirnya sambil mengangkat kedua bahunya sedikit. “Aku tidak terlalu yakin tapi baiklah, mungkin ada yang menarik di perjalanan.”
“Terima kasih. Aku rasa kita harus keluar dari Orsgadt dan mencari cara aman melintasi dunia ajaib.” Emune menghembuskan napas lega karena punya teman yang bisa diandalkan di perjalanan.
“Kau tidak menunggu Elric?” tanya Proner.
“Aku rasa Elric akan lebih baik tanpaku.” Emune menjawab dengan sedikit keraguan dan setumpuk kesedihan.
“Itu menyedihkan,” celetuk Leonz.
“Sok dewasa! Kau tahu apa soal asmara?” Avena mencubit pipi Leonz. Leon meringis.
Proner langsung mendorong Avena dan memeluk Leonz. “Kau ini. Dia masih kecil.”
“Ah, kau hanya naksir pada versi dewasanya tadi, bukan?” cemooh Avena.
“Tentu saja tidak!” sahut Proner. Ya, versi dewasa Leonz tadi memang membuatnya tercengang, begitu juga Horeen tapi Leonz yang sekarang sangat menggemaskan, menurutnya.
“Asmara, ya? Apa pentingnya?” Horeen melesat pergi. Sudah menjadi kebiasaan Horeen untuk datang dan pergi semaunya.
“Mau ke mana dia?” tanya Avena. “Aku akan mengikutinya.”
“Aku rasa mereka saling menyukai,” celetuk Leonz. Ia sibuk membuka keranjang kecil dan menawarkan makanan pada Proner dan Emune.
“Le-Leonz ….” Proner meringis. Terkadang celetukan bocah ini membuatnya heran.
Suara gedebuk keras di luar membuat Emune dan Proner siaga. Proner mengintip dari celah pintu dan berdecak melihat pohon tempatnya bersandar tadi sudah tumbang. Apa lagi ini, pikirnya. Tepat saat ia akan keluar, sebuah dorongan keras membuat wajahnya mencium daun pintu.
“A-apa ….” Proner memegang hidungnya yang sakit.
Seorang pria muda masuk dan berseru.
“Emune! Sayang!” seru pemuda itu.
__ADS_1
“Elric! Elric!” Emune melompat melihat siapa yang datang.
Proner mengenali pemuda itu. Ah, ya, kekasih Emune.
Dua orang lagi masuk. Greg dan Fiona. Emune yang tadi dipeluk dan dicium oleh Elric, berlari ke arah keduanya. Pertemuan yang mengharukan antara ketiganya membuat mata Leonz berkaca-kaca. Ia langsung dipangku oleh Proner.
“Kau menepati ucapanmu. Terima kasih,” ucap Greg pada Proner. Proner mengangguk dan menjabat tangan Greg yang terulur padanya.
Leonz yang dipangku Proner menyentuh tangan Greg dan dengan santainya berbisik kepada Greg: Kau akan menjadi ayah yang hebat. Greg tersenyum pada Leonz dan segera mendekati Fiona.
Emune memperkenalkan Leonz pada Elric, Greg dan Fiona. Gadis kecil itu senang menjadi pusat perhatian banyak orang meskipun jelas bahwa ia memang paling lengket dengan Emune dan Proner.
“Alfred dan yang lain?” tanya Emune.
“Mereka menunggu di luar perbatasan. Kita bisa menemui mereka besok,” jawab Elric.
“Kita harus keluar dari Orsgadt sekarang juga. Misi kami sudah pasti, jadi tidak perlu ditunda lagi,” ucap Emune.
“Tapi, Emune. Kita baru bertemu dan aku ingin membawamu ke Eimersun.” Elric menggenggam tangan Emune.
“Hmmm, sebaiknya kita biarkan mereka bicara berdua,” ucap Greg yang merasakan sedikit ketegangan antara Elric dan Emune.
“Terima kasih,” ucap Emune.
Saat semua orang sudah keluar, Elric langsung menarik dan memangku Emune. Jantungnya rasanya akan pecah karena begitu gembira bisa melihat kekasihnya lagi. Emune sedikit kurus namun matanya masih mata yang penuh semangat dan memancarkan kebaikan.
“Aku merindukanmu,” ucap Emune sambil bersandar di dada Elric. Dari debar jantungnya, ia tahu Elric juga merasakan yang sama. Ia hanya ingin Elric mengerti bahwa masih ada perjalanan berbahaya lainnya yang harus ia tempuh. Tanpa Elric.
“Aku juga. Aku tenang sekarang. Kau tidak mau ke Eimersun, tidak apa, aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi.” Elric membelai pipi Emune.
“Elric, kau tidak bisa ikut. Hanya aku, Proner, Avena, Leonz dan Horeen yang bisa pergi. Olevander mengatakan bahwa untuk mengalahkan Goenhrad aku harus mengambil jantung naga Elqoz. Hanya kami berlima yang boleh pergi.” Emune menatap serius wajah Elric. Ia tidak mau Elric memaksa ikut karena itu akan sangat berbahaya.
“Elqoz? Gila! Aku tidak akan membiarkanmu menempuh bahaya seperti itu.” Elric merasa Emune terlalu terpaku pada niatnya mengalahkan Goenhrad hingga tidak memikirkan keselamatannya sendiri.
“Aku harus pergi. Hanya ini cara menghentikan Goenhrad. Kumohon, mengertilah.”
“Kupikir aku bisa merubah pendirianmu. Bagaimana aku bisa tenang membiarkanmu pergi?” Elric berucap getir.
Emune menggenggam tangan Elric. “Saat ini aku hanya bisa meminta tolong padamu untuk kembali ke Eimersun. Greg dan Fiona akan mengabari Arrand. Aku harap dengan jantung naga itu, Goenhrad akan takluk. Anthura tidak boleh muncul lagi di Artamea.”
Elric sangat kesal. Ia merasa tidak punya daya apa pun untuk menolong Emune. Ia harusnya mendampinginya melalui semua kesukaran tapi Emune justru memintanya untuk kembali ke Eimersun. “Baiklah. Kau harus berhati-hati. Kau dengar? Jangan membuatku kalap dan mengejarmu ke gunung Moughty.”
Emune tertawa geli. “Aku akan baik-baik saja. Lihat saja, kami pasti akan kembali.”
“Aku akan memberi tahu Ayah tentang ini. Ia pasti senang kalau tahu kau masih hidup. Ia selalu menyalahkan dirinya karena tidak bisa membantu Orrsgadt saat itu.” Elric juga harus melakukan sesuatu dan menyusun kekuatan pendukung untuk Emune.
__ADS_1
“Sampaikan salamku bahwa kejadian itu bukan salahnya. Aku segera kembali. Maukah kau menungguku?” tanya Emune manis.
“Pasti. Hanya kau yang kutunggu,” jawab Elric. Harusnya aku yang bertarung dengan naga dan Emune yang menungguku di Eimersun. Ini tidak benar!
Mereka bertatapan mesra. Elric menarik dagu Emune lalu menciumnya lagi. Ia tidak ingin melepaskannya karena ini bisa jadi ciuman terakhir mereka saat ini. Emune menikmati kehangatan bibir Elric hingga mendesah, seolah ia tidak akan lagi bertemu dengannya.
Pintu pondok terbuka, Avena berteriak. “Kalian harus keluar sekarang juga!”
Elric menurunkan Emune lalu menggandengnya berlari keluar dari pondok. Sesampainya di luar, mereka terperangah melihat gerombolan serigala besar sedang menggeram dan mendekat. Taring-taring dan kuku-kuku tajam mereka siap mencabik siapa pun di dekat mereka.
“Hewan peliharaan Goenhrad. Sial, bagaimana dia tahu kita ada di sini?” ucap Greg gusar. Ia menarik Fiona ke belakangnya.
“Aku rasa bukan kita yang diincar tapi kakek Olevander. Syukurlah kakek sudah pergi,” ucap Leonz lega.
Syukurlah? Avena melotot pada Leonz. Bocah ini tidak mengerti kalau saat ini justru mereka yang sedang dalam bahaya.
“Serahkan padaku,” ucap Avena. Dengan gerakan tangan memutar ia mengangkat pohon besar yang tumbang dan mengayunkannya ke arah belasan serigala di depan sana. Hewan-hewan buas itu terjatuh, terlempar dan sebagian tertimpa batang pohon. Sisanya yang selamat dari amukan Avena segera berlari menyingkir dan menghilang dalam kegelapan.
“Kurang ajar! Pasti ulah penyihir sialan itu,” umpat Proner.
“Kita harus memikirkan cara keluar dari gerbang Orsgadat tanpa ketahuan,” ucap Fiona.
“Tidak perlu membawa kuda-kuda. Aku dan Avena akan membawa kalian ke seberang tembok ini,” ucap Horeen.
Mereka semua berhasil ke luar dari Orsgadt dengan melewati tembok perbatasan. Setelah semua menepi dan bersembunyi di hutan, Avena mencari Alfred dan memberitahu tempat Elric dan yang lain berkumpul. Ia lalu menyusul Horeen yang menggerutu sepanjang jalan. Ia dan Horeen adalah keturunan peri jadi mereka mengerti bagaimana bahayanya manusia jika bertemu hewan-hewan buas tadi. Untuk kali ini ia sepakat memberi pelajaran pada Goenhrad.
Bangunan istana memang dilindungi sihir yang tidak bisa mereka tembus tapi bukan berarti mereka tidak bisa melakukan sesuatu. Horeen membuat jurang yang lebar dan dalam di sekeliling danau sehingga tidak ada lagi jalan masuk ke istana itu. Tanah bergetar dan suara berderak terdengar saat sebagian lapisan tanah amblas.
Avena yang sudah terlanjur tidak menyukai Goenhrad dari cerita orang-orang membuat sapuan ringan di udara dengan kedua tangannya. Seluruh air yang ada di danau yang mengelilingi istana bergerak naik lalu membentuk gunung es yang menutupi istana itu sampai ke puncak tertinggi menaranya.
“Bagus sekali. Kurasa itu bisa mendinginkan otak jahat mereka untuk sementara waktu,” puji Horeen.
Avena tidak percaya Horeen memujinya seperti itu. Setahunya peri itu sangat angkuh, menyebalkan dan narsis.
“Kau juga hebat,” ucap Avena balas memuji Horeen. “Terima kasih sudah menyelamatku di padang pasir itu,” ucapnya lagi lalu melesat pergi dengan malu-malu.
Horeen terdiam sebentar. “Hmmm, akhirnya dia mengucapkan terima kasih,” gumamnya. Ia menoleh sebentar, tersenyum puas melihat ulah mereka berdua kemudian kembali ke tepi hutan tempat Emune dan yang lainnya berkumpul.
***
Yhourin yang sedang berada di atas tubuh Goenhrad berhenti menciumi dada pria itu. Udara dingin yang masuk dan memenuhi istana menghilangkan gairahnya. Goenhrad akan protes karena gadis itu turun dari tubuhnya dan berjalan ke arah jendela tapi melihat tatapan Yhourin yang angker, ia memilih diam.
Yhourin merapal mantra lalu meletakkan kedua tangannya di dinding. Hawa panas mulai menjalar di dinding istana. Tenaganya tidak cukup untuk melelehkan es di luar istana tapi ini sudah cukup untuk membuat seluruh istana hangat. Ia menarik tangannya lalu kembali ke pelukan Goenhrad.
Ia mengutuk dalam hati. Peri-peri itu hanya makhluk hina yang tidak akan bisa mengalahkannya. Ia jadi berpikir untuk membangunkan naga Anthura dan mengacaukan seluruh Artamea tanpa ampun.
__ADS_1
“Kembalilah saat kalian siap, kecoak-kecoak sialan,” ucapnya geram.
Goenhrad yang sudah mengerti perangai Yhourin hanya memeluk dan menciumi tengkuk gadis itu. Ia sendiri tidak peduli pada apa yang akan terjadi nanti. Karena sampai sekarang hanya Yhourin yang berharga baginya. Ia tidak ambil pusing jika istana ini maupun Artamea hancur lebur, asalkan Yhourin tetap bersamanya.