Orsgadt

Orsgadt
Korta dan Anthura


__ADS_3

Tiga ratus tahun yang lalu, seorang peramal menemukan gulungan perkamen yang memaparkan ramalan masa depan. Ramalan itu berbunyi: Akan datang masa kegelapan di Artamea. Tanah akan dikuasai Korta dan langit akan dikuasai oleh Anthura. Manusia menjadi debu yang hilang tertiup angin. Ramalan itu tidak pernah dianggap serius karena Korta hanya bisa dibangkitkan oleh Raja Peri Dougraff atau kekuatan yang setara dengan yang dimilikinya.


Leonz menatap wajah Emune. Sejak pagi tadi tidak terlihat tanda-tanda perubahan. Emune sudah siap dengan zirah Orsgadt. Leonz menghampiri Proner dan bertanya dengan suara pelan. “Apa ada yang terjadi saat aku belum bangun tadi?” tanya Leon.


Proner heran karena Leonz berbicara sepelan itu padanya. Proner lalu menceritakan Emune yang melayang di udara dan terhempas ke tempat tidur. Mata Leonz membelalak. Wajahnya langsung pucat.


“Emune, kita berangkat sekarang!” seru Leonz keras hingga mengejutkan semua orang di ruangan itu.


“Leonz, ada apa?” tanya Proner. Pasti ada yang darurat hingga Leonz bersikap seperti itu. Ia harus tahu.


“Tidak ada waktu untuk bercakap. Proner, Avena dan Horeen akan ikut dengan kita,” ucap Leonz sambil menarik lengan Emune agar segera masuk ke Lingkaran Arthenes. “Pangeran Elric, Sean dan Aiden, kalian harus membantu pasukan di selatan Orsgadt sampai pasukan Arsyna tiba.”


“Tapi aku harus menjaga Emune,” protes Elric.


“Tidak kali ini. Situasinya sudah berubah. Percayalah, Anda lebih dibutuhkan di selatan,” ucap Leonz tegas. “Horeen, kami membutuhkanmu,” ucap Leonz dengan mata tertutup. Dalam sekejap Horeen sudah ada di dalam lingkaran bersama Emune, Proner, Avena dan Leonz. Mereka lenyap menyisakan Elric, Sean dan Aiden.


“Sial!” Elric sangat geram. Lagi-lagi ia tidak bisa menjaga Emune. “Sean, Aiden, kita harus membantu Kesatria Hemworth dan Arrand.”


Elric berlari cepat keluar dari istana Eimersun diikuti oleh Sean dan Aiden. Mereka menaiki kuda masing-masing lalu memacunya kencang ke perbatasan selatan Orsgadt. Kepala Elric penuh dengan Emune yang mungkin saja akan menghadapi bahaya dan ia tidak bisa menjaganya.


***


Di tiga tempat berbeda, raja-raja dari tiga kerajaan yang bersekutu melawan Orsgadt sedang menatap langit. Warna biru cerah dan awan putih yang tadinya menghias Artamea sekarang sudah berubah jadi abu dan kemerahan. Belum tengah hari tapi sudah seperti warna langit senja. Ini pertanda buruk dan mereka harus bersiap.


Kuda-kuda yang ditunggangi oleh para panglima perang mulai menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Insting hewan memang sangat peka jika ada predator yang mendekati mereka. Sesuatu yang menyeramkan akan terjadi.


“Korta ....” Raja Duncan berbisik pelan. Apa yang ia takutkan sekarang akan terjadi.


“Semuanya bersiap!” teriak Alfred. Perintah itu diulangi dari satu baris pasukan ke barisan yang lain.


Trompet dan genderang peperangan berbunyi kembali. Riuh seolah ingin mengusir langit yang tidak bersahabat. Para prajurit berseru mengelu-elukan kerajaan mereka. Semangat perang sudah membumbung setinggi langit, mereka hanya tinggal menunggu musuh yang belum juga terlihat.

__ADS_1


Sebuah garis berwarna merah keluar dari puncak menara utama Orsgadt langsung menembus langit. Warna merah terang itu perlahan berubah menjadi merah darah lalu menghilang tanpa jejak. Belum habis keterkejutan pasukan yang mengepung Orsgadt, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Di lapangan luas di depan mereka, sesuatu keluar dari tanah dengan gerakan pelan. Prajurit-prajurit kegelapan yang berasal dari kerangka dan memakai baju perang lengkap dengan pedang-pedang panjang yang melengkung ujungnya sudah siap untuk berperang.


Raja Thenosyes menelan ludahnya. Mereka tidak mungkin bisa melawan pasukan Korta. Pasukan itu bukan manusia yang akan langsung mati jika dipenggal. Ia berharap bantuan yang disiapkan Olevander segera datang.


Pasukan Eimersun maupun Imperia bukan pasukan cengeng. Mereka sangat setia dan patuh pada raja mereka. Meski mata mereka membelalak ngeri melihat pasukan musuh yang jelas-jelas tidak akan bisa mereka kalahkan, mereka tidak lantas panik dan lari. Apa pun caranya, pasukan Korta harus mereka kalahkan.


Jauh di utara Orsgadt, gempa besar meluluhlantakkan tanah di sekitar gunung berwarna hitam pekat. Cekungan besar di sekitar gunung hitam itu jika terisi air pasti akan terlihat seperti danau. Gunung hitam bergerak naik, terus naik tinggi ke arah langit. Jika tidak melihat langsung mungkin tidak akan ada yang percaya. Gunung hitam itu adalah sebuah naga raksasa.


Naga itu mengeluarkan raungan yang mengerikan saat melebarkan sayap-sayapnya. Kedua tanduk hitam dan cakar-cakarnya sangat mengancam, begitu juga ekornya yang berduri. Sang naga mengepakkan sayapnya lalu mulai terbang berkeliling di atas wilayah Orsgadt.


“Anthura!” teriak prajurit-prajurit Eimersun dan Imperia.


Para Panglima perang memberi perintah untuk tenang dan bersiap. Ini bencana. Di depan mereka ada pasukan Korta sementara di atas mereka ada Anthura yang siap menyemburkan api dan memanggang mereka.


“Jaga formasi! Jaga formasi! Bersiap-siap untuk menyerang!” teriak Hemworth.


Di timur perbatasan Orsgadt, Mirena menyuruh pasukan ketapel untuk menyiapkan batu-batu besar dan bola-bola api. Mereka tidak akan bisa mengalahkan Anthura tapi setidaknya mereka harus menghambat gerakan pasukan Korta jika ingin menyelamatkan pasukan Eimersun.


Raja Thenosyes dan Kesatria Arthen di barat Orsgadt juga sudah bersiap dengan ketapel-ketapel raksasa yang akan memuntahkan batu-batu besar. Cuma itu yang bisa melakukan sekarang.


***


Yhourin tertawa keras. Ia merasa menang. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan pasukan Kortha dan Anthura. Portal itu terbuka tepat pada waktunya. Ia tidak menyangka rencananya akan berjalan semulus ini.


Puas melihat kekacauan di bawah sana, ia menyelinap turun ke aula kerajaan. Dua wanita cantik dengan pakaian berantakan terbaring mati di samping tembok. Ia berdeham keras saat melihat Goenhrad sedang menindih seorang wanita cantik lainnya yang berkulit putih di atas sebuah meja di sudut aula. Ia jadi kesal karena Goenhrad tidak mengacuhkannya. Dengan satu sapuan tangan dua tubuh yang saling himpit itu terlempar ke dinding. Melihat wanita yang sedang digaulinya tak bergerak lagi, Goenhrad berdiri, menyambar kain sutra yang tersampir di atas meja lalu mendekati Yhourin.


“Sudah puas?” tanya Goenhrad pada Yhourin.


“Belum. Tunggu sampai Artamea hangus oleh Anthura,” jawab Yhourin dingin. Ia heran, tidak biasanya Goenhrad bersikap dingin padanya.


“Pergilah. Puaskan dirimu.” Goenhrad duduk di tahtanya dengan malas. Meski Yhourin sangat yakin akan menang melawan tiga kerajaan tapi Goenhrrad sendiri tidak yakin. Ia tidak sedang sok tahu. Ia merasa hari ini bisa jadi hari terakhirnya sebagai raja dan manusia.

__ADS_1


“Kau tidak menyukai caraku?” tanya Yhourin. Ia duduk di pangkuan Goenhrad dan meletakkan kepalanya di dada pria itu. Mereka sudah bersama jauh sebelum Orsgadt mereka taklukkan. Hari ini, justru di hari yang sangat penting, ia tidak merasakan detak jantung Goenhrad yang selalu kencang saat bersamanya. Pria ini bahkan tidak memeluknya.


“Terlalu berlebihan. Yhourin, ayo pergi dari sini. Selagi masih ada waktu,” ucap Goenhrad. Ia mendesah lalu memeluk Yhourin.


Yhourin turun dari pangkuan Goenhrad. Ia menatap Goenhrad dengan tajam. Bukan kalimat tadi yang ingin didengarnya.


“Kau lihat nanti. Kita akan memenangkan perang ini!” seru Yhourin kesal.


Goenhrad menangkap pinggang Yhourin. Penyihir cantiknya ini harus diberi pelajaran. Yhourin meronta ingin melepaskan diri tapi cara Goenhrad memegang pinggangnya dan tatapan matanya yang tidak seperti tadi memberitahunya bahwa Goenhradnya sudah kembali.


***


Emune dan teman-temannya tiba di ruangan bawah menara utama istana Orsgadt. Kemarin Emune dan Leonz harus pergi dari sini karena Leonz kehabisan tenaga. Sedikit lagi mereka akan sampai di ruang atas tempat Yhourin membentengi dirinya selagi mengacaukan ketenangan Artamea.


Leonz menyuruh Emune berlutut. Calon ratu Orsgadt itu menurut saja. Ia terkejut saat Leonz memeluknya erat.


“Apa pun yang terjadi, jangan biarkan dendam dan amarah menguasaimu. Kau tidak pernah sendiri, Emune. Bila kau marah, ingatlah kami semua yang sangat menyayangimu,” ucap Leonz dengan suara bergetar.


“Aku pasti akan mengingatnya. Terima kasih, Leonz,” ucap Emune.


Leonz melepas pelukannya. Ia membuat sebuah segitiga dengan serbuk ajaibnya lalu menarik serbuk itu dari satu titik ke titik lain hingga menjadi lingkaran penuh. “Illumi Arthenes,” bisiknya sambil membalikkan telapak tangannya di atas lingkaran tadi.


“Sudah terbuka. Kalian bisa ke atas sekarang,” ucap Leonz.


“Leonz, kau mau ke mana?” tanya Proner.


“Ada yang harus kuurus. Proner, sampai nanti,” ucap Leonz sambil mencium pipi Proner yang berlutut di depannya.


Proner sempat tertegun di tempatnya. Dadanya sakit melihat Leonz pergi. Ia meringis, pasti ini yang dirasakan Elric tadi, pikirnya. Seruan Horeen menyadarkannya. Ia bergegas menaiki tangga dan berjaga-jaga di belakang Avena.


Horeen menggebrak pintu yang menghalangi mereka masuk ke kamar teratas. Pintu itu lebur jadi debu. Horeen masuk dan menyeringai melihat Yhourin yang sedang berdiri sambil memegang tongkat Eltran. Ia ingin sekali rasanya menampar wajah penyihir licik itu.

__ADS_1


Emune maju. Ia menatap tajam pada Yhourin. Sebuah senyum tersungging di bibir Emune. Ia yakin Yhourin sangat percaya diri akan memenangkan perang ini tapi ia ingin memberinya satu kesempatan lagi sebelum ia benar-benar menghancurkannya.


“Yhourin, menyerahlah,” ucap Emune dengan suara berwibawa.


__ADS_2