Orsgadt

Orsgadt
Lengan, Pedang dan Belati


__ADS_3

Langit yang tenang mengingatkan Elric pada tahun-tahun yang berlalu. Ketika ia terkurung di istanya yang megah dan nyaman, Emune justru sedang hidup dalam kesusahan. Jika sang pewaris tahta muncul, ayahnya pasti akan mendukungnya. Entahlah dengan Arsyina dan Imperia.


“Aku harus melatih diriku agar siap menghadapi situasi apa pun. Horeen, aku harus menolongnya. Aku berjanji membantunya.” Emune mengangkat kepalanya dari dada Elric.


“Horeen?” tanya Elric.


“Oh, dia peri yang mengangkat dan membantingmu saat bertarung dengan Greg,” ucap Emune santai.


“Peri? Di tanah manusia?” Elric keheranan. Semua makhluk dunia ajaib tersegel di bagian lain dunia manusia. Apakah segelnya rusak? Tidak mungkin!


“Sepertinya dia mengalami hari-hari yang sangat berat. Kasihan.” Emune tahu rasanya dijauhi orang atau disakiti orang tapi tidak punya teman adalah bencana terberat dalam hidup.


Elric mengedarkan pandangannya. “Dia ada di sini?”


“Itu! Dia di sana.” Emune menunjuk ke arah perbukitan yang dilewati rombongan burung yang terbang cukup rendah.


Elric melihat burung-burung banyak sekali bergerombol terbang lalu pada satu titik mereka berhenti seolah terkejut akan sesuatu. Satu per satu jatuh hingga tidak ada yang tersisa di langit.  “A-apa itu?”


“Horeen. Apa pun yang ada di dekatnya akan mengalami kesialan,” bisik Emune.


“Kenapa kau berbisik?”


“Aku tidak mau dia mendengarnya.”


Elric menepuk keningnya. Calon pengantinnya ini memang baik hati. “Bagaimana cara membantunya?”


Emune tersenyum miris. “Ia akan terbebas jika melakukan kebaikan tapi entah sampai kapan ia harus melakukannya jadi aku pikir sebaiknya meminta bantuan pada Olevander.”


“Olevander yang mana?” tanya Elric.


Emune jengah. Ia seperti pernah mengalami kejadian ini. Ah, aku ingat! Greg waktu itu yang bertanya padaku. “Olevander yang campuran manusia, peri dan penyihir. Bukan Olevander pemilik rumah minum di Eimersun yang putrinya cantik sekali,” ucap Emune geli.


Elric memencet hidung Emune yang mancung. “Sok tahu. Siapa yang bilang putri pemilik rumah minum itu cantik?”


Emune kesal karena Elric lebih memperhatikan “Olevander yang lain”, bukannya yang bisa membantu Horeen. Ia cemberut. “Greg,” jawabnya singkat.


Elric tertawa hanya sebentar lalu mendeham dan dengan serius berkata pada Emune, “Berarti kita harus ke Onykz.”


“Bagaimana kau tahu?”


“Aku sudah dijejali segala macam informasi tentang Artamea sejak kecil dan perjalanan bersama sahabat-sahabatku membuatku mendapat lebih banyak ilmu dan pengalaman. Mungkin itu yang membuatku suka berada di luar istana.” Elric mencium kening Emune.


“Kau benar-benar pangeran sejati. Elric, aku pasti bisa merebut kembali hakku dan membebaskan Orsgadt dari kekejaman Goenhrad.”


“Pasti. Aku akan selalu membantumu.” Elric mencium pipi Emune yang bersemu merah karena terlalu bersemangat. “Kita harus memikirkan cara untuk berpisah dari Fiona dan Greg. Apa kau takut, Emune?”


Emune menggeleng. “Tidak lagi. Bagaimanapun juga aku harus menghadapinya, bukan?”

__ADS_1


“Kau gadis yang kuat. Sungguh tak kusangka, gadis lugu yang malu melihat Tuan dan Nyonya Bretien bercumbu di semak-semak sekarang akan melawan Goenhrad,” Elric tertawa geli.


Emune meninju bahu Elric pelan. Mukanya memerah mengingat kejadian itu. Malam itu di Ulrych, pertama kalinya ia bertemu dengan Elric. Emune akhirnya jadi bercerita tentang teman-temannya di Ulrych, termasuk soal Urndie yang ingin ia temui di Palach.


Elric menggandeng tangan Emune, mengajaknya kembali ke pusat kota. Greg dan Fiona sudah menunggu di kamar yang disewa untuk mereka bertiga. Greg memaksa berada di kamar yang sama karena tidak mau Elric menyelinap masuk atau mengajak Emune keluar penginapan di malam hari. Ia belum bisa sepenuhnya mempercayai pemuda itu.


“Aku mengantuk, bolehkah aku tidur dulu?” ucap Emune sambil menguap.


“Apa saja yang kau lakukan sampai mengantuk seperti ini? Kau dibius Elric?” tanya Greg curiga.


“Tidak. Tadi kami bertemu Alfred, Aiden dan Sean di dekat bukit lalu Alfred mengajariku memanah. Oh, konyol sekali, aku membayarnya dengan sebotol sari apel. Aku bisa memanah dengan baik, sungguh mengejutkan. Lalu aku belajar mengendarai kuda. Oh, Brix, kuda tunggangan Alfred benar-benar kuda yang manis. Setelah itu aku dan Elric ke pondok kecil di dekat bukit,” ucap Emune menjelaskan panjang lebar dengan wajah bahagia.


Emune sama sekali tidak memperhatikan Fiona yang mencoleknya sejak tadi untuk menyuruhnya diam. Wajah Greg muram. Seperti ada awan hitam dan kilat-kilat kecil yang berputar-putar di sana. Emune menutupi mulutnya, ia sudah berbicara terlalu banyak.


“Ayo, tidur saja Emune. Kalau kau lapar, ada makanan di meja sudut itu,” ucap Fiona. Ia tahu Greg pasti uring-uringan setelah ini.


“Terima kasih,” ucap Emune. Ia duduk di tepi tempat tidur.


“Tidurlah, nanti kalau kau bangun dan merasa segar aku bisa mengajarimu menggunakan pedang,” ucap Greg.


“Dengan senang hati aku akan mengajarimu cara menggunakan belati,” Fiona menambahkan.


Emune senang sekali. Ia sampai melompat memeluk Greg dan Fiona. “Kalian memang yang terbaik,” ucapnya ceria.


***


Greg mengajari Emune dengan bantuan Elric yang sukarela menjadi contoh. Tanpa ampun Greg mendorong dan membanting Elric ke tanah.


“Aku baru tahu kalau kita tidak harus menggunakan pedang, cukup mendorong dan membanting seperti itu saja,” ucap Emune dengan polosnya.


Fiona tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya. Emune memang polos. Ia tidak tahu kalau Greg sedang melampiaskan kekesalannya pada Elric. Elric memang luar biasa karena ia meladeni Greg tanpa sedikit pun membalas. Kelincahannya menyelamatkannya dari kemungkinan cedera parah.


Lagi-lagi Fiona tertawa saat giliran Emune tiba. Emune sepertinya meniru gerakan-gerakan menyerang tanpa pedang yang dilakukan Greg pada Elric tadi. Tentu saja efeknya berbeda. Bukannya menjatuhkan Greg, malah Emune yang merosot atau terjerembap ke tanah. Sedikit-sedikit Greg berhenti karena khawatir Emune terluka oleh pedang yang dengan susah payah dipegangnya.


“Hei, Greg, dia akan jadi sasaran empuk kalau kau tidak melatihnya dengan benar!” teriak Fiona. Ia menoleh pada Elric yang tersenyum geli di sampingnya. “Tidakkah menurutmu mereka sangat manis?” tanyanya sepintas lalu.


“Ya, sangat manis. Greg pasti sangat khawatir pada Emune.” Elric tersenyum tipis.


“Begitulah. Emune membuat sisi kebapakan Greg muncul. Gadis itu sangat manis. Aku dan Greg akan melakukan apa pun untuk melindunginya.”


“Emune menyayangi kalian. Dia mengatakannya padaku,” Elric berkata tulus.


“Aku sendiri menganggapnya seperti adik perempuanku. Dia tidak selemah kelihatannya. Larinya sangat cepat dan dia bisa selamat setelah bertemu Voispir.” Fiona mengeluarkan satu belatinya.


Tentu saja, dia keturunan Raja Agung Orsgadt, ucap Elric dalam hati. Melihat bagaimana Fiona dan Greg menjaga Emune, ia ingin memberitahu mereka tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat.


“Ah, giliranku,” ucap Fiona.

__ADS_1


Elric melihat wanita muda itu berjalan menghampiri Emune. Saat berpapasan dengan Greg, mereka bicara sebentar lalu Fiona menepuk keningnya sendiri dan berlalu. Apa yang mereka bicarakan?


“Emune tangguh?” tanya Elric.


Greg duduk di samping Elric, cukup jauh. Ia menunjukkan bagian samping pelindung tangannya yang terbuat dari kulit tebal. Tiga sayatan panjang tampak jelas.


“Sangat tangguh. Pedang itu terlalu berat untuknya. Dengan pedang yang tepat ia bisa menjatuhkan musuhnya. Dia cepat sekali mengerti.” Greg menatap dua perempuan yang diamanatkan padanya.


“Itu juga yang dikatakan Alfred. Aku rasa Urndie punya peran besar.” Rumput kering di tangan Elric jatuh ke tanah setelah tertiup angin.


“Urndie?” Greg menoleh.


“Orang pintar di Ulrych. Sepertinya Emune banyak membaca buku di pondoknya. Bisa jadi ia pernah membaca buku seni bertarung atau panduan para kesatria,” ucap Elric asal saja.


“Bisa jadi,” ucap Greg.


Di depan sana Fiona sedang mengajari Emune cara menggunakan belati. Gerakan-gerakan Fiona terlihat biasa namun Elric tahu jika kecepatannya ditambah, siapa pun lawan Fiona harus berhati-hati. Alfred yang berhadapan dengan Fiona juga mengatakan bahwa Fiona sendiri pasti bisa menjatuhkan sepuluh lelaki dengan belati-belatinya.


Sebenarnya Elric senang karena Emune dikelilingi orang-orang yang hebat tapi ia sendiri ingin segera membawanya ke Eimersun. Emune akan lebih aman di Eimersun daripada di jalan-jalan Artamea. Onykz masih tiga sampai empat minggu perjalanan. Ia harus melakukan sesuatu agar rute mereka ke Imperia dibatalkan dan mereka langsung ke Eimersun.


“Ayo kita kembali. Perasaanku tidak enak,” ucap Greg.


Awan gelap yang bergerak dari arah utara seperti pertanda buruk. Greg berlari ke arah Fiona dan Emune. Awan gelap itu terus bergerak mendekat.


Tidak seperti awan, pikir Elric. Elric melihat dengan teropong kecilnya. Ia langsung menunggangi Draxe dan menyambar tali kekang Brix. Elric seperti kesetanan memacu kudanya menghampiri Greg, Emune dan Fiona yang berlari dari arah berlawanan.


“Jekzer! Jekzer!” teriak Elric keras.


Greg membantu Emune naik ke atas kuda yang ditunggangi Elric. Ia sendiri bersama Fiona menunggangi Brix. Brix pasti merasakan ada yang tidak beres hingga membiarkan Greg menungganginya.


Elric dan Greg memacu kuda ke pusat kota sambil berteriak menyebut “jekzer” tanpa henti. Fiona terlihat cemas sementara Emune masih belum mengerti apa yang sedang dihindari oleh Elric dan Greg. Melihat orang-orang yang panik berlarian masuk ke dalam bangunan lalu mengunci pintu dan jendela, ia yakin “jekzer” bukan hal yang menyenangkan untuk ditemui.


"Elric, apa itu tadi?" tanya Emune.


Elric memacu Draxe tanpa henti. Begitu sampai di pusat kota ia cepat-cepat turun dan membantu Emune. "Jekzer, gagak maut. Sial! Di mana Alfred dan yang lain? Jangan lepaskan tanganku," perintah Elric. Emune mengangguk.


Alfred, Sean dan Aiden datang tergopoh-gopoh.


"Jekzer? Kenapa mereka ada di sini? Sial, kuda-kuda di mana?" tanya Sean.


"Cepat, kumpulkan kuda-kuda dan buat api!" seru Alfred.


Dalam sekejap Aiden dan Sean sudah berlari ke istal memeriksa kuda-kuda mereka.


Fiona dan Greg tiba dan langsung turun dari punggung Brix. Alfred mengambil alih Brix dan bergegas ke arah perginya Sean dan Aiden.


"Kita harus menolong orang-orang ini," seru Greg. Kepanikan membuat kota kecil itu kacau. Orang-orang berlarian masuk ke bangunan yang mereka anggap aman. Sebagian kecil masih tersisa di jalanan. "Elric, jaga Emune."

__ADS_1


Elric mengangguk. Ia harus segera membawa Emune ke tempat yang aman.


__ADS_2