Orsgadt

Orsgadt
Mundur


__ADS_3

Pasukan Eimersun bergerak mendekati istana. Alfred mencegah Raja Duncan dan memintanya untuk menunggu di bukit Thorsca. Sebagai seorang kesatria berpengalaman, ia tahu ada yang tidak beres. Meski sihir Yhourin sudah menutupi pembatas kedua Orsgadt tapi tidak adanya pasukan pengaman di sekitar tembok membuatnya khawatir.


Gerakan pasukan Eimersun sangat cepat dan teratur.  Dalam sekejap mereka sudah membentuk formasi serang dan bertahan di sekitar tembok kedua. Avena menajamkan telinganya. Manusia biasa mungkin tidak menangkap suara aneh yang sayup-sayup yang mengisi udara malam. Bukan suara manusia biasa, pikir Avena.


Hemworth dan Arrand saling menatap. Angin yang tiba-tiba menghilang dan kepekatan malam membuat keduanya semakin waspada. Pasti ada kejutan lain yang disiapkan oleh Goenhrad dan penyihirnya. Baik Hemworth maupun Arrand tidak menyukai kejutan. Terutama di tengah-tengah peperangan di malam hari.


“Mundur! Mundur!” teriak Avena seperti orang gila. Tangannya berayun membuat dinding es tinggi di depan barisan pasukan Eimersun.


Pasukan Eimersun segera mundur teratur. Mereka kebingungan karena tidak melihat musuh yang dikhawatirkan Avena. Pasukan Eimersun benar-benar buta karena berperang di malam hari tanpa sinar bulan sedikitpun.


Alfred memerintahkan agar pasukan ketapel melempar bola-bola api. Satu per satu bola-bola api melesat di udara. Sebagian jatuh di padang luas dan sebagian lagi jatuh di danau. Begitu bola api besar melintas di atas kepala mereka, pasukan Eimersun baru bisa melihat ratusan sosok hitam yang sudah mengelilingi mereka dengan senjata terhunus.


Sudah terlambat. Satu orang anggota pasukan hitam setara dengan empat atau lima orang prajurit Eimersun jadi pembantaian tak terelakkan. Teriakan kemarahan dan raungan kematian naik ke udara yang tak bergerak.


Avena mengamuk melihat keberingasan pasukan hitam. Selagi Arrand dan Hemworth membuat jalan bagi pasukannya untuk mundur, dengan marah Avena menutupi tempat pertempuran itu dengan kabut es. Ia berteriak keras dan semua pasukan hitam tersungkur dengan luka menganga di dada mereka. Kemarahan Avena telah membekukan dan menghancurkan jantung pasukan bengis itu.


Raja Duncan memerintahkan pasukannya untuk mundur ke belakang tembok kedua. Sepertiga pasukannya sudah habis dan sisanya harus bertarung menghadapi apa pun yang akan muncul berikutnya setelah ini. Tidak ada pilihan lain selain menunggu hari cukup terang.


Avena yang tidak mau ambil risiko mendapat serangan baru menambah tumpukan es yang berujung runcing ke bagian dalam wilayah Orsgadt. Membuat tembok es sebesar itu tentu saja menghabiskan energinya. Ia memutuskan untuk turun dan bersandar di pohon besar. Tubuhnya lemah dan hampir jatuh saat dua lengan menangkap dan menggendongnya.


“Horeen ....” Avena tersenyum lemah.


“Masih juga suka marah-marah sampai kehabisan energi,” ucap Horeen.


Horeen melayang naik dan membawa Avena ke atas cabang pohon besar. Terlindung oleh rimbunnya pepohonan, Horeen mencium bibir kekasihnya sambil meletakkan tangan kanannya di dada Avena. Untung ia cepat datang, kalau tidak Avena bisa kritis.


“Beristirahatlah,” ucap Horeen lembut.


Mata Avena terbuka. Ia tersenyum melihat Horeen. Matanya kemudian tertutup kembali.


***


Leonz muncul di kamar raja tempat Emune dan teman-temannya berkumpul. Mulutnya terbuka saat melihat Emune yang sudah memakai baju zirah dan siap dengan pedangnya. Ia menoleh pada Proner dan yang lainnya. Ia lega mereka tidak apa-apa.


“Ehem, Pangeran Elric, terpesonanya nanti saja. Kita masih punya urusan lain,” ucap Leonz.


“I-iya,” jawab Elric.


Proner, Sean dan Aiden langsung tertawa geli melihat Elric yang malu dikata-katai oleh seorang gadis cilik. Sean berlutut seakan memeriksa Leonz. Ia tersenyum saat melihat gadis kecil itu baik-baik saja.


“Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Aiden. Jalur menuju tempat ini sangat memusingkan. Ia sendiri yakin akan tersesat jika tidak bersama Emune.


“Aku punya sensor cinta yang kuat,” jawab Leonz santai.


Aiden meringis, aneh mendengar kalimat itu keluar dari mulut si gadis cilik. Emune dan Elric tertawa geli.


“Kesatria Orsgadt ternyata pemalu,” goda Sean. Ia menyikut Proner yang meringis malu.


Proner mendeham. Ia harus mengalihkan perhatian semua orang sebelum mereka menjadikannya bahan olokan. “Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”

__ADS_1


“Yhourin. Kita harus menghentikannya sebelum ia membangkitkan Korta dan Anthura,” ucap Emune.


“Menurutmu di mana Goenhrad saat ini?” tanya Aiden.


“Aula, kurasa,” jawab Proner.


“Jangan berpikir untuk ke sana dan menghabisinya. Yhourin melindunginya dengan sihir berlapis-lapis,” ucap Leonz.”


“Kau tidak bisa mengalahkan sihir itu?” tanya Sean pada Leonz.


Leonz tiba-tiba berhenti. Ia membuat semua orang yang di belakangnya saling bertubrukan. Sean dan Aiden mengaduh pelan.


“Hanya Emune yang bisa melakukannya,” jawab Leonz. Ia melanjutkan jalannya.


Jalan menuju ruang bawah tanah sangat memusingkan. Emune yang merasa hafal seluk beluk istana ini jadi bingung sendiri. Ia menggaruk kepalanya.


“Sepertinya tempat ini sudah diubah,” gumamnya.


“Sihir lagi,” ucap Leonz. Leonz menabur serbuk ajaib lalu mengetuk lantai tiga kali dengan ujung sepatunya. Ia menoleh pada Emune. “Sudah terlihat sekarang?”


“Ya. Ayo, lewat sini,” ajak Emune.


“Ke mana semua pengawal?” tanya Sean.


“Sepertinya Goenhrad sangat yakin pada kemampuan Yhourin jadi ia merasa tidak perlu pengawal,” jawab Elric.


Sesampainya di pintu menuju ruang bawah tanah, Leonz menempelkan telapak tangannya. Tidak ada kekuatan sihir yang dirasakannya. Ini aneh, pikirnya. Leonz mundur dan membiarkan Sean dan Aiden masuk setelah mengingatkan untuk berhati-hati.


Begitu pintu terbuka, beberapa anak panah melesat ke arah mereka. Sean dan Aiden yang sigap menggerakkan pedang mereka untuk menangkisnya.


“Yhourin tidak ada di sini,” ucap Leonz.


“Mundur,” ucap Proner waspada.


“Jika dia ingin melihat kekacauan yang dibuatnya, dia pasti di menara utama,” ucap Emune. Emune berdecak kesal. Ia terlalu fokus pada ruang bawah tanah sampai tidak mengingat menara utama istana Orsgadt.


Mereka berlari menaiki anak-anak tangga, terus ke arah menara utama Orsgadt. Pertarungan sengit pasti sudah menunggu mereka terlebih lagi Yhourin takkan dengan mudah mau menyerah.


Dugaan Emune benar. Jalur menuju menara utama dijaga oleh pengawal-pengawal raja. Ini tak akan mudah, pikir Emune. Ia tidak gentar. Mereka berlari sambil menyerang siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Keringat dan darah membasahi pakaian dan tubuh mereka.


“Leonz, bagaimana?” tanya Emune. Ia menghapus peluhnya dan mengibas pedangnya yang berlumuran darah.


“Terasa kuat di sini,” ucap Leonz. “Hati-hati,” ucap Leonz.


Proner dan Eric mendobrak pintu tebal itu. Kesal karena pintu itu sangat kokoh, Proner mengeluarkan pedang cahaya pemberian ibu Leonz dan menghancurkan pintu itu dengan satu tebasan.


“Aku mau satu. Di mana bisa kubeli?” tanya Aiden terkagum-kagum.


“Ibuku yang memberinya,” jawab Leonz dengan senyum bangga.

__ADS_1


Aiden meringis. Ia tidak akan mungkin memiliki pedang seperti itu jika itu adalah pemberian ibu Leonz.


Mereka masuk ke ruangan itu dengan waspada. Sebelum sampai di ruangan teratas, mereka harus menaiki anak tangga yang mengular. Tiba-tiba Leonz terjatuh. Proner cepat mengangkat tubuh gadis cilik itu.


“Emune, tidak bisa ....” Leonz mengulurkan tangan ke arah Emune.


Emune menangkap tangan Leonz. Entah berapa banyak tenaga Leonz yang terpakai sejak tadi. Bodoh, umpat Emune dalam hati. Seharusnya ia lebih memperhatikan kondisi Leonz.


“Leonz,” ucap Emune. “Kita kembali ke Eimersun,” ucap Emune.


Sean dan Aiden kebingungan. Mereka sedikit lagi akan sampai di ruang teratas menara dan Emune mau kembali ke Eimersun? Keduanya mengira telinga mereka salah dengar.


“Tidak ada gunanya memaksakan diri. Kita sedang menghadapi penyihir. Tanpa kekuatan Leonz, kita tidak akan bisa menembus pelindungnya,” ucap Emune seakan mengerti kebingungan Sean dan Aiden.


“Bagaimana kita kembali?” tanya Elric.


“Emune, pegang tanganku. Yang lain, pegang lengan Emune. Jangan bergerak. Tenagaku hanya cukup untuk ini,” ucap Leonz.


Setelah yang lain mengikuti instruksinya, Leonz menabur serbuk ajaib di atas tangan Emune yang menggenggam tangannya. Cahaya hijau menyilaukan mata muncul dan mengelilingi mereka berenam. Saat cahaya itu menghilang, Emune dan teman-temannya sudah lenyap.


***


Malam masih panjang. Fajar yang ditunggu masih jauh. Semua pasukan Eimersun sudah mundur sampai luar tembok kedua. Tembok es yang dibuat Avena sepertinya cukup untuk mencegah pasukan hitam melewatinya dan menyerbu lagi. Pergantian barisan dilakukan di pasukan Eimersun.


Raja Duncan menggeram karena jumlah pasukannya sudah berkurang dan belum ada tanda-tanda bantuan dari Arsyna. Horeen mengabarkan kejadian di Imperia. Amarahnya semakin meninggi namun setelah mendengarkan cerita peri itu, ia bersedekap lalu mendesah sedih. Ia turut kesal karena Thenosyes menjadi korban kelicikan Goenhrad. Kesiapan Imperia untuk berperang bersama Eimersun tentu saja disambut baik oleh Raja Duncan. Jika pasukan Arsyna sudah siap, pasukan hitam bukan lagi ancaman.


Horeen membiarkan Avena beristirahat di istana Eimersun. Ia akan menggantikannya menjaga perbatasan barat Eimersun malam ini. Ia lega dengan keputusan Raja Imperia untuk melawan Orsgadt. Ia berbisik pada Arthen untuk terus mengawasi Thenosyes.


“Jangan ragu untuk memenggalnya jika ia berkhianat,” ucap Horeen tadi. Sang kesatria tentu saja menyeringai senang.


Avena berjalan pelan ke arah kamar Leonz. Ia tadi meminta Horeen agar membawanya ke kamar Emune yang bersebelahan dengan kamar Leonz. Ia penasaran karena mendengar suara gaduh. Begitu melihat Emune dan yang lainnya berdiri di dalam lingkaran Arthenes, ia memekik gembira. Lupa pada kondisinya yang sedang lemah, ia memaksa berlari masuk hingga tersungkur.


“Avena!” teriak Emune. Ia segera membantu Avena berdiri dan membantunya berbaring di tempat tidur.


“Tidak apa-apa, hanya perlu pemulihan sedikit. Horeen menggantikanku malam ini.”


“Maaf, aku membuat susah semua orang. Begitu banyak yang harus dikorbankan.” Emune menghapus air matanya.


Elric mendudukkan Emune di tempat tidur di samping Avena. Kekasihnya itu tampak sedih. Wajah garangnya saat bertempur tadi sudah kembali ke Emune, gadis Ulrych yang ia kenal. Elric berlutut di depan Emune dan menggenggam tangannya. Baju Emune penuh darah, begitu juga zirahnya.


“Jangan terus menyalahkan diri. Cepat atau lambat Goenhrad akan merusak ketentraman Artamea. Akan lebih banyak korban berjatuhan jika kita tidak melawannya.”


“Terima kasih. Aku rasa aku tidak akan bisa sejauh ini tanpa bantuan semua orang.”


Elric tersenyum. “Istirahatlah. Kami akan berjaga bergiliran malam ini.”


Emune tersenyum saat Elric mencium keningnya lalu memilih duduk di sudut kamar bersama Proner. Aiden dan Sean berjaga di depan pintu. Emune bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia harus menyeka badannya dan mengganti pakaiannya yang terkena darah dan keringat. Zirah Orsgdt yang merupakan benda pusaka buatan peri terlepas sendiri dari tubuh Emune dan tersusun rapi di meja.


Usai membersihkan diri ia membaringkan tubuhnya di antara Avena dan Leonz yang sudah lebih dulu terkapar kelelahan. Ayah, Ibu, aku berada di antara orang-orang yang hebat dan baik, gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2