
Hutan kecil di tepi Lembah Kematian ditutupi oleh rimbunnya pepohonan dan kegelapan malam. Kelompok kecil Emune dan kawan-kawannya beristirahat di deretan pohon di balik tumpukan batu besar. Avena, Leonz dan Proner terbaring diam di sebelah api unggun yang dibuat Emune sementara Horeen duduk agak jauh dari mereka.
Emune, satu-satunya yang masih sadar, menyenderkan punggungnya di tumpukan batu. Samar-samar ia ingat kejadian tadi. Suara gaib yang ingin membunuhnya dan satu lagi, suara gaib ibunya. Emune tidak tahu apakah itu nyata tapi ia merasakan hawa panas itu, begitu juga kehangatan saat mendengar suara ibunya. Ia yakin itu suara ibu kandungnya.
“Sihir apa itu tadi?” Emune bertanya pada Horeen.
“Penyihir keturunan peri,” jawab Horeen.
Emune masih saja merinding mengingat suara yang begitu tajam, misterius dan mengerikan tadi. “Peri asli atau seperti Leonz?”
“Seperti Leonz. Kekuatannya jauh lebih besar ketimbang penyihir peri.”
“Apa keturunan seperti Leonz banyak di Artamea?”
“Tidak banyak. Peri yang menjalin hubungan dengan penyihir manusia harus siap dibuang dari kelompoknya jadi seperti pertaruhan besar. Itu jarang terjadi.”
“Sebelum mendengar suara ibuku, aku rasa itu memang ibuku, ada suara lain yang mengancam akan membunuhku. Siapa dia?” tanya Emune.
“Aku tidak tahu pasti. Dia hanya mengirim bayangannya. Ia tidak ingin identitasnya diketahui.” Horeen bisa merasakan kekuatannya namun tidak melihat wujudnya.
“Tapi kenapa menyerangku?”
“Jika itu bukan serangan acak, aku rasa dia adalah penyihir Goenhrad. Satu-satunya yang tidak menginginkanmu hidup, bukan?” Horeen menyeringai. Jika demikian maka Emune termasuk beruntung karena masih bernyawa saat ini.
“Aku rasa begitu. Siapa nama peri api yang diusir itu?” Dalam pikiran Emune, ia harus tahu sebelum berhadapan langsung dengannya. Penyihir jahat, tunggu pembalasanku!
“Yhourin. Ayo, istirahat. Kita semua harus mengumpulkan energi. Semoga mereka bisa bangun besok pagi,” ucap Horeen.
“Ya. Horeen, terima kasih.”
“Ya. Kau selalu berterima kasih. Begitu juga Leonz. Hanya perempuan genit dan pengelana konyol itu yang tidak tahu terima kasih padahal aku selalu menyelamatkan mereka. Ah, untuk apa aku memikirkan dua makhluk tidak penting itu!” Horeen bersungut-sungut pergi.
Emune tertawa miris lalu mengeluarkan Buku Kebijaksanaan. “Aku ingin tahu tentang Yhourin,” ucapnya pelan. Buku kecil itu terbuka di sebuah halaman dengan gambar pohon ek yang terbakar. Halaman di sampingnya berisi sebuah puisi. Seperti puisi Air Terjun Penyesalan, pikir Emune.
Langit berkehendak pada keturunan peri api
__ADS_1
Amarah tak terbendung yang membawa bencana
Dalam kehampaan gurun dan desisan lidah api
Ia dibuang ke tanah manusia
Manusia dan makhluk gaib adalah musuhnya
Ia harus dihancurkan dengan cahaya biru
Titah Raja Peri jelas bijaksana
Yhourin, hanya pantas menjadi abu
“Dan aku harus menghadapinya,” gumam Emune.
“Siapa?” Leonz rupanya sudah bangun.
“Oh, hai, kau sudah baikan? Bukan siapa-siapa.”
“Iya, tapi aku lapar.” Leonz mengusap mata dan wajahnya.
“Kau tidak akan menemukannya. Aku saja yang pergi,” Proner juga sudah sadar. Ia meringis karena luka di kepala yang membuatnya pingsan tadi terasa sakit.
“Tidak usah, kau belum sembuh,” cegah Emune.
“Leonz, bagi roti dan airnya,” pinta Proner. Leonz memberi sepotong roti dan air lalu kembali ke pangkuan Emune.
Proner makan dengan lahap. Setelah minum, ia pergi mencari hewan buruan. Ia harus makan daging agar lebih kuat. Tidak lama kemudian ia kembali membawa dua ekor kelinci yang siap dipanggang.
“Kenapa dia belum bangun juga?” tanya Emune pada Horeen. Avena masih saja tergeletak di tempatnya.
Horeen memperhatikan Avena dari jauh. “Tenaganya terkuras. Ia seharusnya berhati-hati jika tidak tahu batas kekuatannya.”
“Mungkin kau harus menciumnya lagi.” Maksudku agar cahaya hidupnya cepat pulih.” Emune tersenyum geli. Sebuah saran yang bagus, bukan?
__ADS_1
“Perempuan itu merepotkan,” gerutu Horeen. Walau kesal, ia pergi juga menghampiri Avena. Seperti tadi ia menyangga punggung Avena lalu menciumnya. Emune menutup mata Leonz yang penasaran.
Horeen menahan pinggang gadis itu dengan tangan kanannya. Bibir Avena mulai basah. Ia bisa merasakan tubuh Avena mulai merespon.
Mata Avena terbuka dan melotot melihat Horiin sedekat itu dengannya. Begitu sadar bibir mereka sedang berpagutan, muka Avena memerah dan tanpa berpikir ia mendorong Horeen. Sangat keras sampai Horeen terpental jauh.
Avena berdiri. “Peri mesum!” serunya kesal.
Emune dan Proner tertawa terbahak-bahak. Kasihan sekali Horeen, pikir mereka. Leonz menarik tangan Emune yang menutupi matanya. Ia tersenyum saat melihat Avena sudah bangun meskipun tidak mengerti kenapa yang lain tertawa.
Horeen muncul dan diam di tempat yang jauh. Ia sedang mengomel sendiri. Kemarahannya menumpuk. Ia mencoba mengontrol emosinya dengan menggenggam tangan kanannya. Tiba-tiba dua baris pohon-pohon di sekitarnya tumbang dengan suara berdebum yang sangat keras. Ia mendesah lalu memilih berbaring dan tidur.
Emune dan yang lain makan kelinci buruan Proner dengan penuh selera. Proner ternyata pandai membumbui daging kelinci. Leonz makan pelan-pelan, ia menyukai daging kelinci. Hanya Avena yang tidak makan. Ia punya pengalaman buruk dengan daging kelinci yang dibumbui. Proner memotong daging kelinci agak tipis lalu meletakkannya di selembar daun dan menyerahkannya pada Avena.
“Avena, cobalah sedikit,” bujuk Proner.
“Kalau tidak makan, kau bisa lemas. Horeen sudah dua kali membagi tenaganya denganmu. Kau lebih suka dicium Horeen, ya?” goda Emune.
Mendengar ucapan Emune, Avena langsung menyambar daging yang diberikan Proner. Karena enak, ia jadi semangat makan banyak. Tak disangka peri aneh itu ternyata peduli dan tadi sedang menolongku, Avena membatin. Ia tersenyum kecil.
Satu langkah lagi, aku akan tiba di Orsgadt, pikir Emune. Hutan ini satu-satunya yang memisahkannya dengan tahtanya. Ya, tentu saja ada Goenhrad, Yhourin sang penyihir, pasukan hitam dan hewan-hewan buas peliharaan raja lalim itu. Ia tentu tidak bisa melupakan satu lagi yang sangat ditakuti seantero Artamea, naga Anthura.
Ia berusaha menyemangati diri sendiri dengan berkali-kali berkata dalam hati bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku pasti baik-baik saja.
***
Yhourin membuka matanya. Ia melihat ke arah Goenhrad yang tertidur lelap sambil memeluknya. Yhourin mengangkat lengan pria itu agar ia terbebas dan bisa turun dari ranjang besar mereka. Dengan satu gerakan, kain sutra marun yang terhampar di atas kursi melayang lalu membungkus tubuhnya yang polos. Ia berjalan ke arah jendela yang terbuka sedikit.
Langit malam masih sama saja. Ia tidak merasakan adanya kekuatan gaib di udara. mungkin hanya perasaan, pikirnya. Sudah belasan tahun tidak ada yang berani mengusik Orsgadt. Ia bisa tenang karena Anthura, ancaman terbesar Artamea ada di bawah kekuasaannya. Selama Anthura di bawah kendalinya, ia dan Goenhrad aman.
Ia membuat sebuah bola api kecil dan meniupnya keluar dari jendela. Bola api itu berputar-putar sebentar lalu melesat mengelilingi istana Orsgadt. Sesaat kemudian bola api itu kembali dan menghilang tanpa bekas.
“Hmmm, tidak ada yang mencurigakan. Lalu suara apa tadi?” gumamnya lirih.
__ADS_1
Ia menghapus kekhawatirannya dan kembali ke ranjang. Menyusup di antara lengan-lengan kekar Goenhrad dan menutup matanya.
Matanya terbuka lagi. Seseorang memanggilku, Yhourin membatin.