
Fiona memacu kereta dengan santai. Pagi ini ia menggantikan Greg yang tertidur di belakang. Walaupun Fiona tahu bahwa Greg sangat tangguh, ia tidak mau mengambil resiko satu anggota rombongan menjadi sakit karena memaksakan diri.
Emune yang duduk disampingnya menoleh lalu mengendus-endus. Senyum jahil muncul di bibirnya kemudian ia menggeser duduknya agar lebih jauh dari Fiona.
“Jangan berkomentar. Ini gara-gara kau menumpahkan parfum ke bak mandi,” ucap Fiona mengingatkan Emune akan kejahilannya semalam. Pelayan sudah membersihkan bak dan mengganti airnya tapi bau parfum itu tidak juga hilang. Pagi tadi juga sudah ia habiskan untuk berendam lama-lama tapi baunya masih sama.
“Berapa banyak mawar kau beli, Emune? Wanginya penuh di belakang sini.” Greg berbicara dengan mata masih tertutup. Ia baru bangun dan sudah duduk bersila di belakang. “Lapar. Ada makanan?”
Emune menoleh pada Fiona sambil meringis. Fiona menarik Emune, menyuruhnya menggantikannya memegang kendali kereta. Mata Emune berbinar-binar. Ia sudah diajari oleh Greg kemarin dan sekarang saatnya mencobanya. Emune mengangguk-angguk saat Fiona menyuruhnya santai.
“Jalanannya lurus. Ini mudah, kecepatan seperti ini saja,” ucap Fiona mengarahkan.
“Baik. Aku mengerti,” sahut Emune.
Seperti sais yang sudah kawakan, Emune mengendalikan kuda dengan baik. Untuk pertama kalinya ia merasa berperan penting, bukan sekedar penumpang yang selalu merepotkan Fiona dan Greg.
Fiona pergi ke belakang. Ia mengeluarkan bekal untuk Greg. Sebotol anggur pemberian Rhea ia letakkan di bangku di samping Greg.
“Emune tidak membeli mawar. Dia menumpahkan sebotol parfum mawar ke bak mandiku. Apa baunya aneh sekali?” tanya Fiona sambil mengulurkan lengannya ke arah Greg.
Greg memegang tangan Fiona, mencium punggung tangan yang bersih dan lembut dengan bibirnya. Fiona terkejut, ketika hendak menarik tangannya Greg sudah lebih dulu menariknya hingga terduduk di samping Greg. Greg tahu-tahu saja sudah bersandar di bahu Fiona dan tertidur lagi.
Biasanya Fiona akan mengamuk tapi kali ini ia akan berbaik hati pada Greg yang sudah mati-matian menjaganya dan Emune. Fiona menarik selimut yang ia lipat lalu letakkan di atas pangkuannya. Pelan-pelan ia menggerakkan tubuh Greg hingga pria itu sekarang tidur dengan kepala di atas pangkuan Fiona.
Fiona tersenyum dan tangannya bergerak mengacak-acak rambut Greg. Ia baru kali ini begitu dekat melihat Greg yang tertidur. Dengkurannya halus dan tangan kanannya menyilang ke dekat sabuk belatinya, bukti bahwa ia petarung terlatih yang selalu bersiap menghadapi bahaya bahkan saat tidur.
“Grag masih tidur. Kau bisa, Emune?” tanya Fiona.
“Tidak masalah. Hei, ada kereta lain di depan. Haruskah kita melewati mereka?” Emune seketika terpikir akan lomba adu cepat kereta barang. Pasti seru, pikirnya.
“Tidak. Pelan saja, ikuti mereka. Jangan terlalu dekat agar tidak kena debu,” jawab Fiona.
“Aku mengerti.” Emune menggelengkan kepalanya untuk menghapus bayangan soal lomba tadi.
Emune menikmati perannya sebagai sais kereta. Ia bisa melihat segala sesuatu berbeda dari tempat duduk sais. Jalanan jadi lebih menarik karena ia lebih fokus dan awas pada sekelilingnya.
Sebenarnya mereka bisa sampai di Eufrack siang ini jika memacu kuda-kuda lebih cepat tapi Emune ingin Greg dan Fiona beristirahat dulu. Dipaksakan seperti apa pun, ia tidak akan bisa cepat sampai di Orsgadt selama masih bersama keduanya.
Berpisah dengan Greg dan Fiona memang satu-satunya jalan agar ia bisa mempersingkat rute dan waktu ke Orsgadt tapi akan sangat berbahaya karena Emune tidak punya kekuatan dan kemampuan melindungi diri seperti Fiona. Kalau ingin selamat, ia harus meminta Greg untuk mengajarinya bela diri dan cara menggunakan senjata.
Hari ini ia memakai pakaian yang dipilih Fiona di Galvei. Ia akui, berpakaian seperti ini jauh lebih nyaman dibandingkan jika memakai gaun. Greg sangat baik telah memberinya sebuah sabuk kulit yang bisa ia gunakan untuk menyimpan belati pemberian pamannya. Penampilannya sekarang sudah seperti pemuda pengelana saja.
Kota Eufrack sudah di depan mata. Greg yang sudah kembali menjadi sais segera mengurangi laju kereta. Ia menoleh sebentar ke belakang. Fiona dan Emune masih tertidur.
Anggur yang diberikan Rhea ternyata sangat keras. Greg curiga Rhea memasukkan serbuk tidur ke dalamnya. Ia sempat minum segelas tadi pagi dan langsung mengantuk. Emune dan Fiona yang meminumnya siang tadi juga langsung tertidur dan belum bangun sampai sekarang.
__ADS_1
Greg tahu Rhea kesal kepadanya. Greg tegas menolaknya semalam, bahkan memalingkan muka saat Rhea mendekat dan akan menciumnya. Rhea, perempuan dengan kecantikan bagai peri tidak mudah menerima penolakan.
Mereka kenal sudah lama dan ada sejarah di antara mereka berdua. Greg tahu pasti tidak akan ada hal baik bagi mereka. Dipaksakan seperti apa pun, Greg dan Rhea tidak akan bisa jadi pasangan yang awet.
Teringat bagaimana ia terbangun tadi membuatnya menyeringai. Hari sudah siang dan ia terkejut saat sadar bahwa ia tidur dengan pangkuan Fiona sebagai bantal kepala. Fiona tidak terlihat malu atau sungkan. Gadis itu memberinya air untuk membasuh muka dan minum. Emune ternyata menjadi sais dadakan selama ia tidur.
Semuanya berjalan baik sampai saat Emune meminta beristirahat makan siang di tepi sungai kecil. Mereka makan dengan lahap tanpa berbicara. Fiona meminum anggur pembelian Rhea dan menyodorkan sedikit kepada Emune. Emune menolak tapi Fiona memaksanya dengan berkata bahwa Emune harus bisa membedakan minuman beralkohol dengan air dan sari buah jika mau selamat di perjalanan.
Emune mencium anggur di dalam cangkir dengan hati-hati. Ada sesuatu yang menusuk indera penciumannya selain wangi buah. Pelan-pelan ia menyesap anggur itu sampai habis lalu meminum segelas penuh air putih.
Greg dan Fiona tertawa geli melihat tingkah Emune. Tidak berselang lama, kedua gdis itu tahu-tahu sudah tertidur di atas rerumputan di bawah naungan pohon. Karena mereka tidak juga bangun setelah tiga rombongan pedagang melewati mereka, Greg akhirnya membopong mereka satu persatu ke kereta.
“Gadis-gadis tengil!” Greg tertawa terbahak-bahak di kereta sambil berteriak.
Berita kekacauan di beberapa kota sepertinya sudah sampai di Eufrack. Di pos depan dua petugas berjaga bersama seorang prajurit berkuda dengan senjata lengkap. Setiap pengunjung wajib melapor dan ketua rombongan dicatat oleh petugas. Mereka juga diingatkan bahwa gerbang akan ditutup setelah gelap.
Greg membawa kereta masuk ke gerbang pertama. Sebuah halaman luas sudah disiapkan sebagai tempat parkir kereta dan menambatkan kuda-kuda. Grek menepuk-nepuk Fiona dan Emune. Hanya Emune yang bereaksi dan membuka matanya.
“Ini di mana?” tanya Emune.
“Eufrack. Kau bisa bangun dan berjalan sendiri?” Greg memegang tangan Emune.
“Ya, kurasa bisa.” Emune bangun dan mencoba keluar dari gerbong kereta lewat belakang tapi kakinya terantuk dan ia terjerembab ke tanah.
“Aduh, sakit!” serunya pelan karena masih mengantuk.
Greg lalu memanggul Fiona dan menggandeng Emune melewati gerbang kedua. Ia tidak peduli pada orang-orang yang melihat mereka dengan tatapan aneh. Untungnya Fiona tidak berat jadi Greg bisa menjaga kedua gadis itu sekaligus.
Kali ini Greg hanya memesan satu kamar untuk mereka bertiga. Kamar yang dipesan berada di deretan depan. Greg kemungkinan akan keluar sepanjang malam jadi ia tidak ambil pusing untuk menyewa kamar tambahan. Khusus malam ini ia berniat menyerahkan keamanan kedua gadis itu kepada Proner yang tadi dilihatnya sudah duduk di salah satu kedai dekat gerbang kedua.
“Emune, tidurlah lagi. Fiona biarkan saja seperti itu. Jangan keluar kamar,” perintah Greg pada Emune yang masih setengah sadar. Greg mengunci kamar dari luar lalu menyelipkan kunci ke dalam kamar melalui celah di bagian bawah pintu.
Emune melihat kepergian Greg tanpa ekspresi. Ia membaringkan diri di atas tempat tidur lalu terlelap dan mendengkur halus.
Fiona bangun dengan kepala pening dan rasa mual. Ia sampai muntah-muntah dan demam. Emune menggedor pintu dari dalam kamar. Ia sudah menemukan kunci yang diselipkan Greg dari bawah pintu tapi karena terburu-buru, kakinya justru menendang keluar kunci itu. Itulah yang membuatnya panik menggedor pintu sementara Fiona terbaring lemas di tempat tidur.
Pintu dibuka oleh pengurus penginapan, seorang laki-laki berkulit gelap dan berperut besar. Emune hampir saja tertawa geli karena ia tampak seperti kantong kulit untuk menyimpan air.
“Berisik! Kau mengganggu tamu-tamu lain. Lentz tidak akan membiarkanmu mengacau,” hardik pria itu.
“Lentz? Siapa Lentz?” tanya Emune heran.
“Aku, Lentz Swaizz, pengurus penginapan ini.” Si pria berperut besar menepuk dadanya.
Emune tidak merasa penting untuk mengetahui siapa pengurus penginapan. Ia harus mengurus Fiona. “Maaf, Temanku sakit dan kami terkunci karena .…” Emune berhenti sebentar. “Tolong, apa ada tabib di sini?” tanya Emune.
__ADS_1
Lentz menghampiri Fiona. Tangannya yang besar menutupi hampir setengah wajah Fiona yang pucat. Lentz menghela nafas.
“Dia minum serbuk tidur?” Lentz tahu beda antara tanda-tanda tamu yang terkapar tidur karena mabuk dengan yang minum serbuk tidur.
“Tidak. Kami minum anggur Galvei saat makan siang tadi.” Emune menjulurkan lidahnya sedikit karena ingat rasanya yang tidak enak.
“Hmmm … anggurnya masih ada?” tanya Lentz.
Emune mengambil botol anggur yang isinya tinggal sepertiga. Lentz mengambilnya lalu membuka tutupnya. Hidungnya kembang kepis saat mencium anggur dari tepi kepala botol.
“Serbuk tidur. Jangan minum anggur ini.” Lentz berdecak kasihan.
“Rhea!” geram Emune. Perempuan cantik itu pasti memasukkan serbuk tidur ke anggur yang ia berikan karena kesal pada Fiona.
“Beri dia minum air putih yang banyak. Dia juga harus makan. Aku akan suruh pelayan membuatkannya untuk kalian.”
“Untuk Fiona saja. Aku tdak mabuk” Emune menolak dikatakan mabuk. Ia cuma minum sedikit anggur tadi.
“Kau tidak mabuk tapi dibius dengan obat tidur. Kalau tiak makan dan istirahat, kau tidak akan bisa ke mana-mana sampai dua hari ke depan.” Lentz berkacak pinggang dan menunjuk sadis wajah Emune.
“Dua hari?” Emune terkejut. Ia tidak mau perjalanannya ke Farclere tertunda. “Baiklah, untukku juga. Terima kasih,” ucap Emune akhirnya.
Lentz keluar dari kamar. Ia memungut kunci kamar yang tadi ditendang Emune dan memasukkan anak kunci itu ke lubang kunci di bagian dalam pintu.
Emune menunduk kesal di tepi tempat tidur. Serbuk tidur? Rhea? Dia pasti cemburu pada Fiona, pikir Emune.
Greg menghabiskan makanannya. Ia meninggalkan Fiona dan Emune karena harus menemui seseorang. Sayangnya orang itu tidak juga muncul.
Pelayan membawakan segelas bir berukuran besar. Greg baru saja akan mengambilnya ketika seorang pria besar lewat dan menyenggol pelayan itu. Gelas bir terjatuh dan isinya menyiram wajah dan pakaian Greg.
“Ma-maaf!” seru pelayan itu ketakutan.
“Tidak apa-apa,” ucap Greg.
Greg mengelap muka dan menyeka bajunya yang basah. Ia tidak lantas naik pitam karena hal seperti itu memang sering terjadi. Pria besar tadi juga meminta maaf dan menyuruh pelayan mengganti dengan bir baru.
Setelah segelas bir dan insiden kecil tadi, Greg memutuskan kembali ke penginapan. Ia baru saja akan keluar dari rumah minum saat dua orang mabuk menubruknya dari belakang dan ia terjerembab ke jalanan. Greg cepat-cepat bangun dan membersihkan dirinya. Orang-orang menertawainya tapi lagi-lagi ia berpikir ini hal biasa yang bisa terjadi pada siapa pun.
Dari jauh ia melihat proner yang bersandar pada tiang bangunan di seberang penginapan tempat Greg dan kedua gadis menginap. Greg terus berjalan. Entah dari mana, anak-anak kecil berlarian sambil bersorak-sorai memotong jalannya. Ada yang mendorongnya, ada yang menyikutnya.
Greg masih berpikir ini hal yang biasa sampai satu dari anak-anak itu menubruknya dengan keras hingga Greg limbung dan jatuh tertelungkup di atas genangan air di tengah jalan. Untung saja Greg cepat bangun sebelum dilindas oleh sebuah gerobak dorong yang melaju kencang dari arah belakang.
Baru kali ini Greg merasa sangat sial. Kesialan yang bertubi-tubi bukanlah pertanda baik. Ia mengumpat dalam hati dan berjalan lebih cepat agar segera tiba di penginapan. Sedikit lagi sampai di pintu penginapan, sepatu botnya yang sebelah kiri tenggelam dalam tumpukan kotoran kuda.
Sambil menyeret kakinya untuk membersihkan kotoran kuda dengan debu jalanan, ia berjalan menyusuri tembok penginapan. Ia menoleh ke atas dan saat itulah sebuah jendela di lantai dua terbuka dan seember air tumpah di atas kepala Greg. Greg tidak lagi menganggap semuanya biasa.
__ADS_1
“Eufrack sialan!” serunya keras karena kesal sambil menunjuk ke arah langit.