
Alfred, Aiden dan Sean sampai di tempat Elric dan yang lainnya menunggu. Mereka senang sekali bisa bertemu dengan Emune tapi tentu saja Elric tidak mengijinkan Aiden dan Sean memeluk Emune. Alfred terharu saat mendapat pelukan dari Emune.
Di mata Alfred gadis itu sedikit kurus dan pucat sekali. Alfred menepuk punggung tangan Emune dan dengan jenaka merapalkan mantra yang ia buat sendiri. Menurutnya itu akan membuat Emune lebih kuat menghadapi cobaan dalam perjalanan hidupnya.
“Jangan percaya, itu hanya akal-akalannya saja,” bisik Sean pada Emune.
“Untuk mendapatkan gadis-gadis,” tambah Aiden.
Alfred mendeham. “Sean, Aiden, coba kalian cari kelinci atau rusa untuk kita makan malam ini. Kalian senang bermain di hutan, bukan?”
Keduanya langsung kabur sebelum Alfred marah. Emune tertawa.
Alfred mendengarkan penuturan Emune. Greg dan Fiona sudah mendengar dari Proner tapi mereka ikut memperhatikan ucapan Emune. Ketiganya tidak setuju jika Emune melawan Elqoz hanya ditemani Proner, Horeen, Avena dan Leonz. Saran Alfred, karena Elqoz itu sama mengerikannya dengan Anthura jadi sebaiknya membawa pasukan khusus dari Eimersun.
“Tidak ada waktu untuk ke Eimersun.” Lagi-lagi Emune menolak untuk pergi ke Eimersun. “Horeen, Leonz, adakah cara lebih cepat ke Kigurst?” Ia bertanya pada keduanya karena peri dan penyihir biasanya mengetahu banyak hal tentang dunia ajaib.
“Kita bisa menaiki pegasus. Meskipun masih kurang cepat untuk tiba di Kigurst dalam tiga atau empat hari,” ucap Horeen.
“Pegasus tidak bisa mendekati Kigurst karena ada kutukan Elferion. Kau tidak ingat?” tanya Leonz pada Horeen.
“Ah, sialan. Aku lupa.” Horeenmeninju pelan sebatang pohon. Pohon itu langsung lebur jadi abu.
“Apa itu kutukan Elferion?” tanya Fiona.
“Kutukan untuk semua makhluk bersayap,” jawab Leonz. “Sangat buruk. Gara-gara raja peri laut Kigurst bertengkar dengan raja peri Derhame yang menguasai semua makhluk bersayap, begitulah jadinya.”
“Ada-ada saja. Untung mereka semua disegel di dunia ajaib. Coba bayangkan kalau mereka berkeliaran di dunia manusia. Sangat aneh!” Avena berbicara dengan nada ketus.
“Kau lupa kalau kau juga setengah peri?” cemooh Horeen.
“Leonz, bagaimana?” tanya Emune.
Ia sempat menoleh pada Proner yang duduk bersandar di pohon. Ia kelihatan sangat mengantuk. Emune benar-benar menoleh saat Proner tertidur dan jatuh ke tanah dengan suara gedebuk keras. Proner terlonjak kaget dan tanpa sadar menarik pedang cahaya pemberian Erreandrey.
“Di mana? Di mana naga itu?” Ia bergerak tak beraturan berusaha menjaga kuda-kudanya dengan menjejak tanah keras-keras.
Semua tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Proner.
“Kita bahkan belum sampai ke Kigurst,” ucap Avena sambil tertawa.
“Pria konyol,” ejek Horeen.
“Sudah, kau tidur lagi sana,” ucap Emune sambil memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
“Kalau aku tidak melihat aksinya malam itu, aku mungkin akan berpikir seribu kali untuk membiarkanmu pergi bersamanya,” ucap Elric. Ia geli melihat Proner yang tiba-tiba bisa konyol dan mempermalukan dirinya seperti tadi.
“Kau ini .... Dia itu pria pertama yang akan kukukuhkan sebagai kesatria Orsgadt kelak. Kuharap semua berjalan lancar,” ucap Emune pada Elric.
“Baik, tapi ingat, kau tidak boleh menikah selain denganku,” ucap Elric.
“Tentu saja.” Emune berkata-kata dengan yakin.
Leonz mendeham meminta perhatian. “Bisakah kita tidak membicarakan urusan asmara? Kita sedang dalam situasi genting. Pangeran Elric, tolong jangan peluk-peluk di depan anak kecil, ya.” Leonz memasang tampang serius seakan ia sudah berumur dua puluh tahun saja.
Elric batuk kecil dan melepaskan pelukannya pada Emune yang tersenyum malu.
“Bocah tengiiiil ....” ucap Avena geram.
Proner langsung berdiri untuk melindungi Leonz dari Avena tapi peri campuran itu sudah lebih dahulu ditarik menjauh oleh Horeen.
Fiona, Greg dan Alfred tertawa renyah. Mereka tidak habis pikir melihat kelakuan teman-teman Emune. Entah bagaimana perjalanan mereka nanti tapi pasti sangat seru.
“Ah, aku ingat!” Leonz berseru.
Leonz meminjam pedang cahaya dari Proner. Dengan pedang itu ia membuat dua buah lingkaran cukup besar yang langsung memancarkan warna biru indah. Leonz menarik sebuah garis di tengah lingkaran terdalam lalu berdiri di tengah-tengah garis. Ia membalik telapak tangan kanannya dan lingkaran cahaya itu hilang.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Greg.
“Lingkaran Killgins,” jawab Leonz. “Seperti portal agar bisa ke mana saja.”
“Kita berlima bisa menggunakannya?” tanya Proner.
“Sayangnya tidak. Perlu dua peri Hertena dewasa untuk melakukannya. Aku hanya ... setengah,” ucap Leonz sedih.
“Oh, Leonz. Jangan sedih. Kita akan cari cara untuk sampai ke Kigurst.” Emune tidak ingin semua patah semangat.
“Seandainya ada sesuatu yang bisa menambah kekuatanku ....” Leonz berpikir keras.
“Leonz, apa yang bisa menambah kekuatanmu?” tanya Proner.
“Benda milik Raja Peri Dougraff,” jawab Leonz.
“Aku punya!” seru Emune. Semua menatap ke arahnya. Emune mengeluarkan kalung zamrud milik mendiang ibunya.
“Wow ... Zamrud Edyssia,” ucap Leonz. Matanya berbinar-binar. “Dengan itu pasti bisa,” ucapnya penuh semangat.
Horeen dan Avena mendekat. Mereka ikut mengagumi zamrud yang tertatah pada bandul kalung milik Emune. “Zamrud Edyssia,” gumam keduanya.
“Aku tidak tahu fungsinya apa tapi itu milik mendiang ibuku,” ucap Emune antusias.
“Ini adalah permata yang paling disukai Raja Dougraff. Ada inti kekuatannya di dalam sini,” ucap Leonz.
“Kurasa ini yang membuatku bisa membelah tanah dan membuat jurang waktu itu. Pantas saja aku punya tenaga sebesar itu,” ucap Horeen.
“Sebentar, Leonz, bagaimana jika kita menggunakan Lingkaran Killgins tapi tenaga zamrud itu tidak cukup?” tanya Avena.
“Aku tidak tahu. Hmmm, mungkin kita akan mati karena tubuh kita terpencar ke sana sini,” jawab Leonz sambil mengangkat bahunya.
Avena menggeram. Sudah habis kesabarannya menghadapi bocah perempuan itu. Horeen langsung membawanya menjauh.
“Kita bisa pergi … aku senang sekali,” ucap Emune.
“Aku tidak tahu,” jawab Leonz. “Zamrud Edyssia adalah permata terkuat di Artamea. Kurasa kita bisa mencobanya. Keluar dari Kigurst kita bisa menaiki unicorn.”
“Te-terbang lagi,” gumam Proner pelan.
“Terakhir kali Horeen membawamu terbang kau tertidur seperti bayi,” goda Emune.
“Aku rasanya lelah sekali waktu itu. Entah kenapa,” sahut Proner.
“Karena kau membawa pedang peri. Kekuatannya bisa membunuh manusia lemah. Sepertinya kau cukup kuat hingga ibuku memberimu pedang itu.” Leonz tersenyum.
“Apa Zamrud Edyssia itu bisa membuatku lemah?” tanya Emune.
“Seperti kubilang tadi. Zamrud Edyssia adalah permata terkuat. Aku tidak tahu sekuat apa tapi Ibu pernah bilang kalau hanya keturunan Raja Agung Orsgadt yang bisa mengendalikannya. Aku akan membutuhkanmu saat membuat Lingkaran Killgins besok,” Leonz menjelaskan.
Semua bergumam. Perjalanan yang berat sudah menanti tapi berhenti di sini sama sekali tidak mungkin. Mereka harus bersiap.
Tepat saat itu Sean dan Aiden datang membawa lima ekor kelinci. Air liur Emune terbit membayangkan lezatnya daging kelinci masak. Proner membantu Sean dan Aiden agar mereka bisa lekas makan.
Leonz yang kelaparan tidak mau menunggu. Ia menebar serbuk ajaibnya dan dalam satu kedipan mata, semua kelinci sudah matang. Semua bertepuk tangan dan memuji Leonz. Kali ini Avena ikut mengelu-elukannya karena ia juga kelaparan.
Uap panas mengepul saat daging kelinci itu dipotong. Mereka makan dan bersulang dengan minuman apa saja yang mereka miliki saat itu. Ramai dan ceria, begitulah yang terlihat, seakan-akan esok mereka tidak akan berpisah.
Malam semakin larut. Alfred, Sean dan Aiden berjaga di tiga titik dan Greg di titik keempat. Mereka akan menjaga Emune dan teman-temannya agar bisa beristirahat tenang malam ini. Besok adalah hari besar dan hidup mereka akan jadi pertaruhan.
Proner menjaga Leonz yang tidur beralaskan mantelnya. Gadis kecil itu sepertinya tidak nyaman jadi ia langsung memangkunya agar bisa tidur nyenyak. Leonz menggumam menyebut-nyebut ibunya.
Proner tersenyum geli. Bagaimana pun juga, sebenarnya terasa aneh membawa gadis kecil ini menempuh bahaya tapi Leonz bukan gadis kecil biasa tapi keturunan peri Hertena yang tidak bisa dianggap enteng. Proner mengibas mantelnya yang tadi dijadikan alas tidur Leonz. Ia menyelimuti gadis itu.
Elric berbincang dengan Alfred. Ia melihat ke arah Emune yang sedang bersandar di pelukan Fiona. Keduanya memang seperti kakak adik. Elric ingat betapa hancurnya Fiona saat Emune terpisah dari mereka. Keduanya tanpa sadar telah membuat ikatan tak terlihat yang sangat kuat, bahkan mungkin lebih kuat daripada pertalian darah.
__ADS_1
“Alfred, seberapa besar kekuatan Orsgadt saat ini?” tanya Elric.
“Pangeran, jika melihat kekuatan bala tantara manusia, gabungan kekuatan Eimersun dan Imperia saja bisa mengatasinya. Sayangnya ada kekuatan hitam yang turut menjaga Orsgadt. Dalam sekejap pasukan kita akan habis oleh amukan dari penyihir Goenhrad. Jika Anthura muncul, kita hanya akan terlihat bagai kumpulan semut.” Alfred dalam sekejap sudah menggambar peta kasar kekuatan keempat kerajaan Artamea di tanah.
“Kerajaan peri benar-benar angkat tangan, ya?” tanya Elric.
“Titah Raja Peri adalah mutlak jadi kita harus berjuang sendiri.” Alfred tidak menyetujuinya tapi jangankan dirinya, para raja pun tak bisa melawan sang raja peri.
“Semoga Emune bisa menaklukkan Elqoz.” Elric melempar rumput kering di tangannya dengan malas.
“Dia pasti bisa. Dia sangat kuat,” ucap Alfred.
Eric menunduk lalu tiba-tiba tertawa. Alfred menoleh keheranan.
“Kau tahu, pertama kali berjumpa dengannya aku tidak pernah menyangka seperti ini jadinya. Padahal dulu ia malu sekali melihat dua orang bercumbu di semak-semak sampai harus kutarik pergi. Lihat betapa tegarnya ia sekarang. Aku bisa gila jika kehilangan dia.”
Alfred tersenyum miris. “Cinta memang bisa membuat gila. Simpan tenaga Anda, Pangeran. Kita akan kembali ke Eimersun. Paduka Raja pasti tidak akan tinggal diam jika tahu tentang Emune.”
“Ya. Alfred, terima kasih,” ucap Elric.
“Sudah kewajiban hamba,” balas Alfred.
Di bawah sebuah pohon, Fiona duduk memeluk Emune. Ia enggan membiarkan gadis itu pergi besok. Banyak yang mereka alami bersama dan ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Emune. Emune juga memiliki perasaan dan pemikiran yang sama. Ia harus menjauhkan Fiona dari kekacauan yang akan terjadi.
“Kau sudah mempertimbangkan ajakan Elric?” tanya Fiona.
“Berkali-kali tapi darahku tidak bisa mengiyakannya.”
“Orang tuamu pasti sangat bangga padamu.”
“Kau juga bangga padaku?” tanya Emune.
“Tentu saja. Emune yang kalem, Emune yang tidak pernah melihat dunia di luar Ulrych tiba-tiba akan melawan Elqoz. Kalau Greg yang memberitahuku, aku pasti sudah mengira ia berbohong dan menamparnya keras-keras,” Fiona tertawa miris.
“Hahaha, beruntung sekali Greg punya perempuan segalak dirimu.”
“Hei, aku bukan perempuannya,” protes Fiona.
“Baiklah, kau kekasihnya yang tercinta.”
“Kau ini. Kau nyaman bepergian dengan teman-teman barumu?”
“Kau takkan percaya betapa seru dan anehnya mereka. Aku bukan apa-apa tanpa mereka.”
“Kau selalu merendah. Kebaikan hati adalah kekuatan besar yang tidak bisa dikalahkan oleh sihir apa pun.”
“Sesekali aku berkhayal bahwa ini tidak terjadi dan aku masih berkeliling Artamea bersama kalian. Aku hanya tidak bisa menghapus penglihatanku atas kejadian pembantaian itu. Teriakan Ibu dan Ayahku, perlawanan Kakek dan semua yang menjaga kami. Aku harus melakukan sesuatu, itu terus terngiang di telingaku.” Emune menatap sayang pada Fiona. Fiona sangat baik, bisiknya dalam hati.
“Kau sudah benar dengan melakukan ini. Aku harap kau bisa ke Eimersun saat semua selesai.”
“Ya. Tentu.”
“Emune, jangan menyerah. Ingat, kau punya aku dan Greg. Walaupun dunia meninggalkanmu, kami selalu punya tangan-tangan yang terbuka untuk memeluk dan menjagamu.”
“Terima kasih, Fiona,” ucap Emune haru. Mereka berpelukan lebih erat.
“Aku rasa pangeranmu sudah tak sabar menunggu giliran untuk memelukmu,” goda Fiona. Elric terlihat berjalan ke arah mereka.
“Atau kau yang tak sabar dipeluk Greg?” Emune menggoda balik Fiona. Fiona mencubit pipi Emune sambil tertawa. Ia tersenyum pada Elric yang baru datang. Fiona lalu pergi te tempat Greg.
“Ayo, kau harus istirahat,” ucap Elric pada Emune. Ia duduk di samping Emune lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mereka bertatapan lalu Elric mencium Emune. Ia menyampaikan seluruh cintanya melalui ciumannya yang lembut dan dalam.
Emune meneteskan air mata. Elricnya yang tampan, kekasihnya yang mencintainya sepenuh hati. Ia sangat mencintainya. Setelah ciuman itu, keduanya terus berpelukan. Bahkan saat Emune tertidur, Elric terus memandanginya.
Horeen berdiri dari duduknya yang cukup lama. Peri campuran di sebelah sana sedang menatap langit yang tertutup rimbunnya pepohonan. Horeen mendekati Avena. Ia tahu gadis peri itu terkejut karena kedatangannya tapi Horeen santai saja.
__ADS_1
Peri yang sedang dalam kutukan itu tidak peduli jika Avena mengeluarkan kekuatannya dan membuatnya beku atau melemparnya jauh entah ke mana. Ia berdiri di hadapan Avena, menarik pinggang dan tengkuk Avena lalu menciumnya. Avena terkejut karena gerakan Horeen yang tiba-tiba. Ia tidak sempat protes karena ciuman Horeen semakin dalam dan tubuh mereka sudah menempel erat. Avena merasakan tubuhnya menghangat, lalu ia pun membalas ciuman Horeen.