
Canggung. Itu yang dirasakan oleh Emune saat ia dan teman-temannya berkumpul di Onykz. Ia sebenarnya tidak ingin menjadi pengganggu tapi keinginannya sangat kuat untuk memastikan Horeen dan Avena mendapatkan apa yang mereka mau. Dengan begitu ia bisa tenang meninggalkan mereka.
Proner bersender di pohon sambil memainkan sebuah ranting kecil. Ia melihat Emune hampir tanpa berkedip. Gadis itu benar-benar berjiwa besar. Dalam kegentingan sekalipun ia tidak mau melibatkan orang lain walaupun Proner sudah berusaha meyakinkannya agar meminta bantuan Horeen dan Avena untuk menghadapi Goenhrad.
Proner sudah menyatakan kesetiaan pada putri Orsgadt jadi tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Ia juga lebih tenang dan senang karena rumahnya masih terawat dengan baik. Bibi tetangganya memberitahunya bahwa rumah itu sering dijadikan tempat singgah para pengelana maupun pedagang yang tidak mampu membayar sewa penginapan di Orsgadt.
Proner geleng-geleng kepala mendengar betapa mahalnya biaya hidup di Orsgadt saat ini. Ia tidak keberatan, setidaknya itu bisa membantu orang lain yang sedang kesusahan. Ayah dan ibunya akan melakukan hal yang sama karena mereka orang-orang yang baik hati.
Pondok Olevander berada tidak jauh dari rumah Proner. Sebuah cahaya terlihat menyebar keluar dari pondok kecil itu. Olevander sudah datang. Proner menghampiri Emune. Mereka berjalan mendekat.
“Aku sudah menunggumu,” ucap sebuah suara dari dalam pondok.
Proner ingin masuk tapi melihat Avena yang sangat antusias, ia mundur dan memberi jalan pada peri campuran itu.
Avena masuk dan melihat seorang laki-laki tua bertubuh tinggi dan berambut putih sedang berdiri dan melihat ke luar jendela.
“Aku Avena, aku adalah—”
“Bukan kau. Aku menunggu yang lain,” ucap Olevander sambil mengelus-elus jenggotnya yang juga berwarna putih.
“Tapi aku—“
“Keluarlah. Belum saatnya kau menemuiku.”
Avena keluar sambil menggerutu. Karena kesal, ia duduk di bawah pohon tempat Proner tadi dan memasang wajah cemberut.
Horeen masuk ke dalam pondok. Wajahnya ceria karena ia akan terbebas dari kutukan. Ia bahkan belum bicara satu kata pun saat Olevander menyuruhnya keluar dengan kalimat yang sama seperti yang dikatakan pria tua itu kepada Avena.
Emosi karena diabaikan oleh Olevander, ia menepi dan mengomel sendiri di bawah rimbunnya pohon. Kemarahannya terlihat jelas karena daun-daun pohon gugur satu persatu dan batang pohonnya berubah menjadi hitam seperti arang.
“Gadis muda, masuklah,” perintah Olevander.
Emune melihat ke arah Proner. “Aku?” tanyanya tidak yakin. Proner hanya menjawab dengan anggukan walau wajahnya sama bingungnya dengan Emune.
Emune masuk ke dalam pondok. Olevander adalah seorang laki-laki tua, seperti Urndie tapi tubuhnya tinggi dan suaranya agak serak dan misterius. Pria itu menatap Emune dan tersenyum.
“Akhirnya kau kembali ke tanah kelahiranmu, Elizai.” Pria tua itu menyambut Emune, memeluknya lalu membantunya duduk. Ia tersenyum saat merasakan kekuatan pelindung yang diberikan oleh Erreandrey pada Emune.
“Anda mengenal saya?” tanya Emune heran.
“Tentu saja. Aku adalah salah satu pilar Orsgadt. Satu-satunya yang mengatur agar kau selamat dari pembantaian itu. Urusan yang sangat tidak baik ... kejahatan tidak termaafkan.”
“Jika Anda tahu, mengapa tidak memperingatkan keluarga saya?” tanya Emune gusar.
“Sudah tentu aku memberitahu kakekmu. Namun, kakekmu terikat pada tanggung jawabnya sebagai seorang raja. Ia memilih mengorbankan dirinya demi memenuhi Ramalan Kuno.”
“Ramalan Kuno?”
“Ya.” Olevander mengetuk meja kayu di hadapannya. “Kalian boleh masuk jika ingin mendengarkanku,” ucapnya tegas.
Avena, Horeen dan Proner masuk ke dalam pondok. Mereka sepertinya malu karena ketahuan menguping. Olevander terkekeh.
__ADS_1
“Kelompok kecil yang unik, manusia, peri murni dan keturunan campuran. Mengingatkanku pada perjalanan menuju Gunung Hitam,” ucapnya. Ia kembali terkekeh. “Masih kurang satu lagi, mungkin dia sedikit terlambat. Orsgadt cukup melelahkan untuk dikunjungi.”
“Permisi, apa aku boleh masuk?” sebuah suara merdu dari balik pintu pondok menyela mereka.
“Tentu saja, masuklah,” sahut Olevander.
Seorang gadis cantik berambut panjang keemasan memakai jubah bertudung gelap masuk sambil membawa keranjang kecil. Hanya Olevander yang mengenalnya karena yang lain menganga terpukau pada kecantikan gadis itu.
“Aku tidak suka Orsgadt. Suram, sepi dan aneh,” ucap gadis itu. Ia tersenyum pada Emune. “Apa kabar? Semua baik-baik saja, bukan?” tanya gadis itu. “Aku merindukan kalian,” ucap gadis itu lagi dengan wajah sedikit murung. Sebentar kemudian ia tersenyum. “Aku senang bisa ada di sini sekarang.”
“Siapa dia?” bisik Avena pada Proner.
“Aku tidak tahu,” jawab Proner.
Horeen memperhatikan gadis itu lekat-lekat. Ia yakin tidak mengenalinya.
Emune mendekati gadis itu dan memeluknya. “Leonz! Ini kau, ya?”
“Leonz?” tanya Horeen, Avena dan Proner bersamaan.
Gadis yang dipeluk Emune berangsur-angsur mengecil menjadi Leonz yang mereka kenal. “Kau mengingatku. Terima kasih.”
“Waah, kau akan secantik itu jika besar nanti? Coba lihat, Proner dan Horeen saja sudah naksir padamu tadi.” Emune tertawa.
“Aku terpaksa, supaya bisa menyelinap ke sini.” Leonz mendekati Avena, Horeen dan Proner. Ia memeluk dan mencium pipi mereka satu per satu setelah merapal mantra pelindung agar tidak tertular kesialan Horeen.
Olevander memberi mereka sedikit waktu untuk bercengkrama. “Karena semua sudah ada di sini, duduklah, akan kulanjutkan,” ucapnya setelah beberapa saat.
“Ketika Raja Agung Orsgadt yang pertama meninggal, ia meminta pada Raja Peri Dougraff untuk meramalkan masa depan Orsgadt. Raja peri menolak karena itu hanya akan memberatkan kepergian sang raja, sahabatnya. Karena sang raja berkeras, akhirnya ia memberinya sebuah gulungan berisi sebuah ramalan.” Olevander diam sesaat. “Ramalan itu mengatakan bahwa akan datang masa kegelapan di tanah Orsgadt. Seorang pewaris tahta akan melewati lautan darah dan air mata untuk merebut tahta itu.”
“Itu saja?” tanya Avena.
“Kenapa tidak ada yang pernah mendengar ramalan ini?” tanya Horeen. Ia yang seorang peri juga tidak tahu.
“Berarti tidak ketahui apakah tahta itu akan berhasil direbut atau tidak.” Proner mengguman ngeri.
“Yang Mulia Raja Agung Orsgadt pasti sangat khawatir pada masa depan negerinya,” gumam Emune.
“Kakek, boleh aku minta minum? Aku haus,” ucap Leonz polos.
“Anak kecil, kami sedang tegang dan kau malah minta air minum?” Avena mengepalkan tangannya geram.
Emune menahan Avena. “Izinkan saya,” ucap Emune pada Olevander yang langsung mengangguk. Emune menuju meja tempat kendi air dan gelas bersih lalu membawanya dan memberikan segelas kepada Leonz. Gadis kecil itu meminumnya sampai habis.
“Kau benar-benar mirip mendiang ibumu, putri raja yang baik dan penyayang.” Olevander tersenyum pada Emune. Ia lalu menatap bergantian pada Horeen dan Proner. “Ramalan itu disegel oleh Raja Peri Dougraff dan ya, Proner, itu tergantung pada kalian sekarang,” ucap Olevander.
“Tolong beritahu aku cara mengalahkan Goenhrad.” Emune langsung ke inti maksud kedatangannya.
“Kau harus membangunkan Elqoz. Hanya Elqoz lawan yang sebanding untuk Anthura.” Olevander mengelus janggut putihnya. Ia seperti sedang menerawang jauh.
“Elqoz? Naga pemalas itu?” tanya Avena.
__ADS_1
“Dia bukan ‘naga pemalas’ tapi ‘naga pembangkang’. Kau tidak pernah belajar, ya?” Horeen mencoba meralat ucapan Avena. “Benar-benar gadis aneh.”
“Kau pikir ibuku yang peri punya waktu banyak untuk menceritakan semua isi dunia ajaib?” Avena sewot.
“Avena, Horeen, tenanglah.” Emune menengahi. “Bagaiman menemukannya?”
“Ia tertidur di gunung Moughty di bagian selatan dunia ajaib. Kau harus mengambil jantungnya. Sebelum ke sana kalian harus ke laut Kigurst untuk mengumpulkan lima Mutiara darah dari para duyung cantik. Mereka sangat cantik tapi juga sangat sensitif. Para pria sebaiknya berhati-hati agar tidak tergoda menyelam bersama mereka.” Olevander melihat bergantian ke arah Proner dan Horeen. “Aku rasa tidak akan sulit. Kalian berlima bisa mengatasinya. Nah, Mutiara darah itu nantinya akan jadi kunci untuk membuka gerbang gunung Moughty.”
“Bagaimana kami bisa masuk ke dunia ajaib? Kami, maksudku aku dan Proner hanya manusia biasa.” Emune berharap ada mantra yang akan memindahkan mereka ke mana saja dengan mudah.
“Tentu saja kalian bisa. Kau mempunyai benda pusaka Orsgadt di kantongmu dan Proner punya pedang dari Erreandrey, bukan?” tanya Olevander.
“Ibuku memberimu pedang?” tanya Leonz penasaran.
Proner mengangguk. “Ya. Setelah dia tahu pedangku hanya pedang kayu. itu tidak bisa melindungi Emune, katanya.”
“Pedang kayu? Kau berkelana seperti ahli pedang hanya dengan pedang kayu? Aku pasti sudah gila. Kita akan jadi camilan Elqoz,” Avena memegang kepalanya yang mendadak pusing.
“Aku suka camilan. Hmmm, Ibu sering membuatkan kue dari nektar bunga. Enak,” ucap Leonz dengan wajah tanpa dosa.
“Lalu ada bocah cilik yang kerjanya tidur terus dan bermain. Apa yang harus kulakukan?” Avena mencemaskan hidupnya jika terus bersama orang-orang aneh itu.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Olevander lembut.
Avena mengangkat wajahnya yang terbenam di antara dua lengan di atas meja. “A-aku ….”
Olevander tersenyum. “Tidak ada yang lebih menyenangkan dari perjalanan jauh yang menegangkan bersama orang-orang yang unik, bukan? Kekuatan yang ingin kau hilangkan itu adalah warisan dari ibumu. Itu sangat berharga karena hanya itulah caranya untuk melindungimu.”
Avena menunduk. Ia memang lebih dekat dengan ibunya ketimbang ayahnya yang manusia. Setelah ibunya meninggal, ayahnya larut dalam kesedihan. Ia bahkan tidak sanggup melihat wajah Avena yang sangat mirip dengan ibunya. Tak lama kemudian ia pun meninggal, membawa kesedihannya pergi selamanya. Sekarang baru ia sadar dan ngeri membayangkan bagaimana jadinya jika ia tidak punya kekuatan ini.
“Dan kau, Horeen. Kurasa kau akan bersenang-senang juga. Kau telah membuat jurang lebar di dekat Dumina. Hmmm, aku harap tidak memicu hal lain. Nah, bagaimana pun juga, kutukan itu akan hilang nanti.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Leonz.
“Hahaha, Leonz, kau akan menjadi cahaya mereka,” jawab Olevander.
“Aku belum bisa membuat cahaya lama-lama,” ucap Leonz.
Avena menepuk jidatnya, ia pusing lagi.
“Jantung naga itu, bagaimana menggunakannya?” tanya Proner.
“Lemparkan saja pada musuhmu,” ucap Olevander santai. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan memberikannya pada Emune. “Obat ini akan menghancurkan racun apa pun yang masuk ke tubuh selama belum mencapai jantung. Satu tetes saja.”
“Terima kasih,” ucap Emune.
“Aku harus pergi sebelum penyihir Goenhrad mengamuk. Elizai, jalanmu memang penuh rintangan dan akan menyakitkan tapi kau tidak pernah sendiri.”
Cahaya yang semula menerangi pondok berangsur hilang, begitu juga Olevander. Mereka diam dalam gelap selama beberapa waktu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Lamunan mereka buyar saat cahaya kembali menerangi ruangan.
“Aku bisa membuat cahaya,” ucap Leonz sambil tersenyum manis. Mata Emune membelalak, takjub pada cahaya yang ada di atas telapak tangan Leonz.
__ADS_1
Sayangnya cahaya itu hanya bertahan sebentar, mereka kembali diselimuti kegelapan.