Orsgadt

Orsgadt
Musuh Terakhir


__ADS_3

Langkah-langkah kaki Goenhrad membawanya ke ruang teratas menara utama Orsgadt. Tempat itu kacau balau. Hanya genangan darah yang ia temukan di lantai. Yhourin benar-benar lenyap. Ia berpegangan pada tembok. Menggumamkan nama kekasihnya yang telah beralih dunia.


“Mata hatimu sudah terbuka,” ucap Leonz pelan. Ia masih ada di ruangan itu tapi sengaja menyembunyikan dirinya dari Goenhrad.


Pria itu langsung bersiaga namun begitu melihat yang berbicara adalah seorang penyihir, ia menyeringai dan melepas pegangan pada gagang pedangnya.


“Kau yang membunuh Yhourin?” tanyanya dingin.


“Bukan, Elizai.” Leonz memungut tongkat Eltran yang ada di lantai lalu menyihirnya hingga menghilang.


“Apa dia menyebut namaku saat ....” Gonhrad merasakan sakit di dadanya. Yhourin adalah wanitanya tapi ia bahkan tidak bisa melindunginya dengan baik.


“Ya. Kau seharusnya tidak terlibat dengannya. Sebagian dirinya adalah makhluk kegelapan,” ucap Leonz datar.


“Sudah terlambat, bukan? Kau hanya ingin mengajakku berbincang atau sedang bersiap menyihirku jadi kodok?” Goenhrad bertanya dengan santai.


“Halden putra Merthan, kau cuma punya satu kesempatan untuk memperbaiki nasibmu,” ucap Leonz.


Goenhrad melotot. Tidak ada yang tahu nama aslinya selain ia sendiri dan Yhourin. Bagaimana penyihir cilik ini bisa tahu? Goenhrad menelan ludahnya.


“Kau terlalu menganggap enteng keturunan Hertena.” Leonz tersenyum. Ia mendekati Goenhrad yang berdiri kaku namun seolah penuh pertanyaan di kepalanya. “Bawa gadismu pergi ke barat. Aku akan melindungi kalian,” ucap Leonz.


“Mengapa aku harus mempercayaimu?” Goenhrad mencoba membaca wajah Leonz. Penyihir kecil ini pasti sedang berusaha menyiksaku dengan rasa penasaran, pikirnya.


“Karena cuma aku yang bisa menyelamatkanmu saat ini. Kau tidak mau Felicia dan calon bayimu terluka, bukan?”


Dada Goenhrad bergemuruh. Penyihir cilik ini ternyata tahu tentang Felicia. “Mengapa?”


“Karena 17 tahun dari sekarang, hanya ia harapan Artamea dari kehancuran besar. Anggap saja bantuanku ini adalah hutang yang harus kau bayar di masa depan.”


Leonz mengulurkan tangannya ke arah Goenhrad. Pria itu tidak juga bergerak. Leonz maju dan menyentuh tangannya. Mata Goenhrad seperti tertutup benda putih sesaat. Ia lalu melihat sebuah padang rumput di balik bukit kecil. Sebuah pondok berdiri di tengah padang rumput luas.


Pemandangan itu tampak seperti rumah seorang petani karena ada deretan ladang gandum dan beberapa ekor sapi dan kambing.  Di salah satu sisi padang, seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun sedang berlari ketakutan dikejar oleh seekor induk ayam. Anak kecil itu menangis dan berteriak memanggil ibunya.


Seorang perempuan berlari keluar tergopoh-gopoh lalu mengangkat dan memeluk anak kecil itu dengan sayang. Lelaki tampan bertubuh tinggi kekar keluar dari rumah dan memeluk wanita dan anak kecil itu sambil tertawa geli. Lelaki itu adalah dirinya dan ibu sang anak adalah Felicia. Berarti anak kecil itu adalah putra mereka.


Leonz menarik tangannya dari tangan Goenhrad. Pria itu sedang mengusap matanya yang basah. Ia mengangguk pada Leonz.


Setelah merasa yakin Goenhrad mengerti maksudnya, leons tersenyum. “Gadismu tidak akan bisa melihatku. Ikuti saja apa yang kau dengar di kepalamu.”


Leonz mencengkeram lengan Goenhrad yang besar dengan tangannya yang kecil. Dengan satu ketukan kecil di lantai, mereka sudah berada di kamar tempat Felicia menunggu. Gadis itu sedang berbaring telungkup sambil menangis. Mendengar ada yang datang, ia menoleh. Melihat Goenhrad kembali, ia langsung turun dari tempat tidur dan menghampirinya.

__ADS_1


Goenhrad memeluk Felicia lalu tanpa berkata-kata menyambar kantung kecil berisi keping emas yang ia berikan tadi dan membawa Felicia memasuki lorong rahasia. Lorong itulah yang dulu digunakan untuk menyelamatkan Elizai. Ia baru beberapa purnama ini menemukannya dan sangat miris rasanya karena sekarang giliran dirinya yang harus melarikan diri dari istana ini.


Felicia mengikuti langkah kaki Goenhrad dengan penuh tanda tanya. Ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bertanya jadi ia diam saja. Biar bagaimana pun, ia merasa senang sekarang karena Goenhrad kembali untuknya.


***


Emune, Elric dan Proner turun dari punggung Elqoz. Mereka berhati-hati masuk ke menara. Ketiganya terkejut karena melihat Leonz sedang menunjuk dada Goenhrad deengan tongkat Eltran.


“Leonz!” seru Proner. Ia cemas melihat Goenhrad masih memegang pedang di tangan kirinya.


“Jangan mendekat. Emune, biar aku saja yang menghabisinya. Jangan kotori tanganmu dengan darah manusia busuk ini,” ucap Leonz.


Proner dan Elric tetap tidak percaya bahwa Goenhrad akan diam saja saat nyawanya di ujung tanduk. Keduanya begerak mengapit sisi Leonz untuk berjaga-jaga. Proner merebut pedang di tangan Goenhrad.


Emune yang sudah siap dengan pedang terhunus menghela nafas mendengar ucapan Leonz. Ia sudah melewati belasan tahun yang sangat berat lalu perjalanan yang melelahkan untuk menemui pria durjana yang membantai keluarganya. Saat terbang di punggung Elqoz tadi hawa membunuh sudah memenuhi kepala dan hatinya namun sekarang ia meragukannya.


Emune bisa saja membunuh musuh bebuyutannya itu seperti ia membunuh Yhourin tapi entah kenapa hati kecilnya menolak. Ia bukan seorang pembunuh.


“Biarkan dia pergi. Sudah cukup dendam menyelimuti Orsgadt. Kau tidak boleh menginjakkan kaki selamanya di kerajaan ini,” ucap Emune tajam.


“Yang Mulia,” ucap Proner. Ia seperti tidak setuju dengan keputusan Emune. Penjahat keji ini harus dihukum mati, menurutnya.


“Jangan membantah! Goenhrad, pergilah,” ucap Emune.


“Proner, kabarkan bahwa Goenhrad sudah mati jadi abu karena sihir Leonz. Tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini!” perintah Emune.


Proner berlutut di depan Emune. “Baik, Yang Mulia,” ucap Proner. Ia keluar dari ruangan menara dan mengabarkan titah ratunya kepada Hemworth yang sudah mengamankan istana dari bawahan Goenhrad yang tersisa.


Kabar kematian Goenhrad disambut gembira oleh semua orang. Bendera Orsgadt dikibarkan di puncak-puncak menara. Genderang dan trompet kemenangan terbawa ke seluruh penjuru oleh angin yang bertiup lembut.


Emune melepas helm perangnya. Pedang sudah tersarung aman di tempatnya. Ia merasakan bahunya direngkuh dan dalam sekejap ia sudah berada dalam dekapan Elric.


“Sudah selesai, Elric,” ucap Emune.


“Sudah selesai, Sayang,” balas Elric.


Keduanya saling menatap lama lalu kembali berpelukan. Leonz tersenyum. Ia berjalan ke arah pintu.


“Ada yang ingin bertemu denganmu, Putri Elizai,” ucap Leonz.


Elric melepaskan pelukannya dan mundur sedikit dari Emune. Kekasihnya itu sebentar lagi akan jadi ratu Orsgadt dan pasti akan sangat sibuk. Ia harus belajar bersabar mulai sekarang.

__ADS_1


Seorang pria berpakaian kesatria datang bersama Kesatria Hemworth. Keduanya berlutut di hadapan Emune.


“Kemuliaan untuk Orsgadt dan Yang Mulia Ratu,” ucap keduanya bersamaan.


Emune cepat-cepat meminta mereka berdiri. Ia sudah menganggap Kesatria Hemworth sebagai ayahnya. Ia tidak akan mengizinkannya berlutut seperti itu. Emune tidak mengenal kesatria yang satu lagi. Rambutnya yang panjang dan wajah yang tertutup oleh kumis dan cambang terasa asing di mata Emune.


“Yang Mulia, dia adalah Kesatria Arthen,” ucap Kesatria Hemworth.


Begitu mendengar nama Arthen disebut, Emune langsung memeluk pria itu dan menangis terisak. Kesatria Arthen adalah penyelamatnya, seperti Kesatria Hemworth, tidak ada penghormatan yang lebih pantas selain menganggapnya sebagai ayahnya sendiri.


Kesatria Arthen tentu saja terkejut diperlakukan seperti itu oleh ratunya. Ia kebingungan dan melihat ke arah Hemworth. Hemworth tersenyum geli.


“Kesatria Arthen, selamat, putrimu yang hilang sudah kembali,” guraunya. Arthen memang baru kali ini bertemu dengan Emune.


Kesatria Arthen memeluk Emune dengan penuh kasih. Bayi kecil itu sekarang sudah kembali ke tanah kelahirannya. Semua penderitaan dan beban selama belasan tahun seakan terangkat dari pundak sang kesatria.


“Selamat datang kembali ke istana Orsgadt,” ucap Kesatria Arthen. Ia yakin penderitaannya tidak ada apa-apanya dengan semua yang dialami oleh ratunya ini.


“Terima kasih. Terima kasih,” ucap Emune.


Setelah berpelukan lama, Kesatria Arthen memegang bahu Emune. Ia tersenyum melihat putri kandung mendiang Pangeran Cedric dan Putri Erica yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik.


“Pangeran Cedric dan Putri Erica pasti sangat bangga pada Yang Mulia,” ucapnya.


“Aku harap Kesatria Arthen juga bangga padaku,” ucap Emune. Padahal tadi aku berubah jadi sesuatu yang mengerikan tapi aku tetap saja gadis yang cengeng, keluh Emune dalam hati.


“Tentu saja. Setidaknya Hemworth sekarang tidak bisa terus-terusan membuatku iri dan penasaran karena bercerita terus tentang Yang Mulia,” ucapnya ceria.


“Seharusnya kau cukur kumis dan cambangmu sebelum kemari, agar Yang Mulia bisa mengenalimu,” goda Kesatria Hemworth.


“Ah! Pantas saja aku kebingungan,” pekik Emune. Ia baru sadar kalau kumis dan cambang Kesatria Arthen memang membuatnya tidak mengenalinya tadi.


Semua orang di ruangan itu tertawa kecuali Kesatria Arthen yang menyeringai kesal pada Kesatria Hemworth. Keramaian bertambah saat Putri Mirena datang.


“Aku hanya ingin memastikan calon iparku tidak terluka. Kalian tahu kan, Ratu Eimersun seperti apa?” ucapnya santai sambil memegang tangan dan dagu Emune.


“Aku mendengarnya. Akan kuberitahu Ibu,” ucap Elric. Ia menarik Emune menjauh dari kakaknya.


“Coba saja, semua rahasia kelammu ada padaku, Adik Kecil,” tantang Mirena. Elric langsung meringis dan menarik Emune lebih jauh lagi dari kakaknya.


Lagi-lagi semua orang tertawa karena tingkah Pangeran Elric yang sepertinya khawatir Emune mendapat bocoran rahasia hitamnya dari kakaknya sendiri. Emune tersenyum geli. Mirena memang senang sekali kalau bisa mengganggu adiknya.

__ADS_1


Langit sudah kembali biru dan sebentar lagi akan kemerahan karena sore akan datang. Orsgadt telah kembali ke tangan pemilik sahnya. Masa pemerintahan baru telah dimulai.


__ADS_2