
Alfred menurunkan pelana dari kudanya yang telah berlari berhari-hari. Mereka hanya sesekali beristirahat untuk mengumpulkan tenaga. Ia tahu batas kekuatan kudanya. Meskipun kuda-kuda yang mereka bawa dari Eimersun adalah keturunan terbaik, memaksakan mereka berlari tanpa henti hanya akan membunuh mereka.
Alfred memberikan sebotol sari apel kepada Elric. Sejak diberi oleh Emune dulu, ia jadi suka meminumnya. Elric yang duduk, berdiri lalu duduk lagi menolaknya. Ia mendesah sedih dan kesal. Ia khawatir tidak bisa sampai di Onykz sebelum Emune. Sedang apa Emune sekarang? Apakah ia baik-baik saja?
Alfred, Elric, Sean dan Aiden duduk mengelilingi api unggun. Greg datang bergabung sementra Fiona belum terlihat. Cukup lama baru Fiona muncul dengan keranjang berisi makanan. Ia yakin semua pasti lelah. Mereka butuh istirahat dan menyiapkan diri untuk perjalanan besok.
“Kita tidak akan sampai jika tidak menjaga stamina. Kuda-kuda terlalu lelah untuk dipaksa berlari malam ini.” Alfred tidak mau gegabah.
“Aku ingin segera sampai ke Onykz,” ucap Elric.
“Kau pikir hanya kau yang mau ke sana? Jangan khawatir, gadis itu sedang berjuang di luar sana dan aku yakin ia pasti terus menunggumu,” ucap Greg menimpali Elric.
“Alfred, bukankah kita punya rumah singgah di Dermon? Kalau ada kuda yang kuat, aku bisa melanjutkan ke Onykz tanpa menunggu Draxe istirahat.”
“Itu memang lebih cepat tapi rumah singgah itu sudah ditutup karena kerusuhan beberapa purnama lalu,” jawab Alfred.
“Greg, kita bisa menyusul Emune!” Fiona berdiri tiba-tiba.
“Fiona, duduklah,” ucap Greg.
“Tidak, apa yang Elric katakan benar. Kita bisa menyeberangi padang pasir setengah hari lalu berganti kuda di Stedia dan Snable jadi kita bisa lebih cepat sampai di Onykz.” Fiona tahu itu bisa dilakukan.
“Hmmm, kau benar.” Alfred menyukai ide itu.
“Kuda-kuda kita bisa beristirahat penuh malam ini,” ucap Aiden.
“Kuda-kuda baru itu, bagaimana mendapatkannya?” tanya Sean.
“Serahkan padaku. Aku akan mengirim kabar ke Stedia dan Snable,” ucap Greg.
“Terima kasih,” ucap Elric. Bersekutu dengan para pedagang memang memiliki banyak keuntungan. Senyum muncul di wajahnya.
***
Horeen berdecak heran karena Proner masih saja tidur saat mereka sampai di ujung Padang Pasir Harapan. Ia menurunkan Emune yang langsung melakukan peregangan karena otot-ototnya kaku selama dibawa terbang tadi. Horeen melihat Proner dan seringai jahil terbentuk di bibirnya.
Telapak tangan Horeen menampar Proner sekali saja tapi keras. Proner bangun gelagapan. Ia meloncat dan terguling-guling di atas rumput. Horeen tertawa puas lalu menjauh dari sana.
“Apa yang terjadi?” tanya Proner pada Emune sambil membersihkan diri dari debu ban daun-daun kering yang menempel di rambut dan pakaiannya.
“Kau tidak sadar ya? Pulas sekali tidurmu dalam gendongan Horeen. Leonz saja tidak sampai tidur,” ucap Emune. Ia tertawa geli.
“Aku tidak suka naik Leon dan tidak suka terbang.” Proner menggerutu. “Mana Avena dan Leonz?”
“Mereka seharusnya tidak jauh,” jawab Emune. “Horeen, cari Avena dan Leonz!” seru Emune.
Horeen membumbung tinggi lalu melesat ke padang pasir. Ia menemukan keduanya. Leonz membuat cahaya pelindung yang membuat mereka mengambang. Avena tidak bergerak.
“Avena jatuh. Pelindungku tidak kuat,” ucap Leonz. Ia meringis.
“Lepaskan, Leonz. Aku akan membawa kalian ke tepi,” suruh Horeen.
__ADS_1
Horeen mendorong Leonz yang masih ada di dalam cahaya pelindung hingga menggelinding dengan cepat ke tepi sebelum pelindungnya hancur. Ia sendiri menggendong Avena dan menyelimutinya dengan jubahnya.
“Perempuan genit, membuat khawatir saja,” gerutu Horeen.
“Horeen, Leonz tidak bergerak. Avena bagaimana?” Emune menggendong Leonz dengan wajah cemas.
“Tidak apa-apa, Leonz cuma kelelahan karena memakai cahaya pelindungnya. Yang satu ini hampir mati terpanggang di sana,” jawab Horeen.
“Emune, biar aku yang menggendong Leonz. Dia pasti mengantuk lagi,” ucap Proner yang segera mengambil Leonz dari pelukan Emune. Ia menggendong Leonz sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Emune berjongkok di dekat Avena. Kesialan Horeen sudah mulai muncul, rumput-rumput di sekitar mereka mengering seketika. Proner yang sedang menggendong Leonz tiba-tiba menabrak dahan pohon, seingatnya dahan itu tidak ada tadi. Emune terlompat kaget karena ada kelinci tiba-tiba melintas di depannya, ia terjerembab hingga pantatnya terasa sakit.
Proner dan Emune meringis kesakitan. Saat itulah mereka melihat Horeen menyangga punggung Avena dengan lutut kirinya lalu mencium bibir Avena. Proner dan Emune melotot tapi tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang dilakukan Horeen?
Horeen bisa merasakan cahaya hidup Avena mulai membesar. Bibirnya terasa lebih lembut dan basah ketimbang tadi. Sedikit saja terlambat, ia bisa mati. Avena masih lemah dan ia belum tentu bisa bangun dalam waktu cepat. Horeen mendesah, ia terpaksa harus menggendongnya.
“Bagaimana rasanya mencium peri campuran?” tanya Emune polos. Horeen terlihat menikmatinya tadi.
“Sejak kapan kau menyukai Avena?” tanya Proner.
“Biasa saja dan aku tidak menyukainya. Itu bukan ciuman seperti yang kalian kira. Aku hanya memberinya tenaga agar cahaya hidupnya menguat. Sepertinya aku harus menggendongnya melewati Lembah Kematian. Aku akan membawa Leonz juga. Setelah keduanya bisa kuturunkan di tepi, aku akan menjemput kalian. Ingat, berjalan lurus. Abaikan apa pun. Tidak ada makhluk hidup di lembah itu selain kalian berdua.”
Proner dan Emune melihat Horeen yang menjauh membawa Avena dan Leonz. Tinggal mereka berdua sekarang.
“Lembah Kematian. Apa mereka bisa menyakiti manusia?” tanya Emune.
“Tidak secara langsung tapi mereka muncul seperti ilusi yang akan membuatmu tersesat berkeliling lembah dan mati karena lapar dan haus, saling membunuh atau terjatuh ke rawa-rawa hitam yang menarikmu ke dalam tanah.” Proner berdeham pelan.
Proner mengeluarkan sebuah selendang tipis dan mengikat pergelangan tangan kanan Emune dan pergelangan tangan kanannya sendiri. “Untuk berjaga-jaga,” ucapnya pada Emune.
Emune mengangguk. Proner memang bisa diandalkan, pikirnya. Ia mencoba mengingatkan dirinya bahwa hanya ia dan Proner yang masih hidup.
Mereka melangkah dengan hati-hati. Masing-masing membawa tongkat dari ranting kayu yang cukup panjang untuk memandu perjalanan mereka. Lembah itu tidak begitu menyeramkan awalnya namun semakin jauh, kabut semakin tebal. Mereka tidak bisa melihat tangan masing-masing. Dengan tongkat kayu mereka memastikan jalan di depan aman untuk dilalui.
Suara angin bertiup di sekitar mereka seperti tipuan suara. Proner mulai mendengr suara ayah dan ibunya. Tawa, tangis bahkan jeritan kematian ayahnya juga terdengar. Ia mengibaskan tongkatnya agar suara-suara itu hilang.
“Proner, kau mendengarku?” tanya Emune. Ia sendiri sedang berjuang mengalahkan ilusi-ilusi yang mengganggunya. Wajah keluarganya terus muncul bergantian. Mereka mengulurkan tangan, mengajaknya pergi. Emune memejamkan mata. Jika ia mengalami ini, bisa jadi Proner juga. Hanya masalah waktu sampai satu dari mereka kehilangan kontrol dan berbuat aneh. Ia putuskan untuk mengajak Proner bicara.
“Ya, samar-samar. Ilusi ini menutupiku,” jawab Proner.
“Kau ingat waktu kau menolongku di tepi hutan?” Emune penasaran sekali tapi tidak menemukan saat yang tepat untuk bertanya.
“Ya.” Proner tidak mungkin tidak ingat malam itu.
“Kenapa kau tidak memakai pedangmu sendiri untuk menjatuhkan orang jahat itu?”
“Kau menyadarinya?” tanya Proner.
“Ya.”
Proner diam beberapa saat. “Karena pedangku tidak akan bisa mengalahkannya.”
__ADS_1
“Maksudmu?” tanya Emune heran.
“Pedangku hanya gagangnya yang besi tapi bilahnya terbuat dari kayu.” Proner tersenyum miris karena mendengar kejujurannya sendiri.
“Apa?” Emune hampir saja berhenti berjalan karena terkejut.
“Ayahku dibunuh oleh Borrin, panglima perang Goenhrad. Ia mengambil pedangnya lalu menyuruhku mencarinya jika aku mau balas dendam. Aku tidak mau menggunakan pedang besi, tidak sampai Borrin mati.”
“Jadi kau berkelana hanya dengan bersenjatakan pedang kayu? Wow, itu luar biasa,” puji Emune.
“Hahaha, kalau kau bilang itu luar biasa, bagaimana dengan kau sendiri? Melintasi Artamea sendirian hanya dengan sebuah belati.” Proner merasa Emune lebih hebat darinya.
“Aku tidak pernah sendiri,” ucap Emune “Awalnya hanya bertiga dengan Fiona dan Greg lalu Elric dan teman-temannya datang. Sekarang, ada kau, Leonz, Horeen dan Avena. Aku mungkin tidak bisa apa-apa kalau sendiri.”
“Setelah bertemu Olevander, apa yang akan kau lakukan?” tanya Proner. Ia harus mengetahuinya karena sekarang dendamnya pada Borrin menjadi nomor dua setelah tanggung jawabnya untuk menjaga Putri Mahkota Orsgadt.
“Kita harus mengantar Leonz ke desa penyihir di Orsgadt. Selanjutnya, aku akan mencari cara untuk menghancurkan Goenhrad. Aku sudah tidak bisa mundur lagi.”
“Seorang diri? Kau salah. Berdua, kau punya seorang pengikut setia. Aku.”
“Terima kasih, Proner.” Emune masih bisa bersyukur karena ada Proner. Ia bisa saja tersesat dan mati saat nekat masuk ke hutan Dumina.
Berjalan sambil berbicara terbukti menghindarkan mereka dari ilusi-ilusi di Lembah Kematian. Tidak ada lagi suara angin, tidak ada suara apa pun. Kesunyian yang menurut Emune sangat tidak wajar.
Proner menggenggam tangan Emune. Membuatnya berhenti berjalan. “Ada yang salah,” gumamnya.
Tiba-tiba tanah yang mereka injak bergetar lalu amblas. Dalam kabut yang pekat dan gemuruh tanah yang bergerak naik turun di beberapa tempat, Emune dan Proner berteriak, “Horeen!”
Gerakan tanah terhenti seketika. Emune dan Proner terjebak di lubang yang sangat dalam. Sebuah batu mengenai kepala Proner dan membuatnya jatuh pingsan.
Emune terseret jatuh karena tangan mereka masih terikat oleh selendang. Mana Horeen? Kenapa ia belum muncul?
“Kau hanya manusia yang tidak berdaya. Kau akan segera mati.”
Sebuah suara memenuhi kepala Emune. Ia mencoba berdiri tapi Proner sangat berat, dan ikatan selendang itu juga sulit sekali dibuka. Ia akhirnya menarik belatinya dan memotong selendang itu. Setelah lengannya terbebas, ia berdiri berjaga-jaga.
“Siapa kau?” tanya Emune.
“Aku? Dewi Kematian. Bersiaplah untuk mati!” seru suara itu.
Emune merasakan ada hawa panas yang mendatanginya. Belatinya terlepas karena hawa panas itu mengikat tubuhnya. Kakinya menempel erat, tangannya terikat ke belakang.
Hawa panas itu menutupi wajah dan dadanya, membuatnya sesak. Emune tidak mau menyerah begitu saja. Ia berusaha melawan tapi tidak bisa membebaskan dirinya dari serangan itu. Tubuhnya melemah, terkulai sambil mengambang.
Ia mengira dirinya sudah berpindah alam tapi sebuah suara berbisik padanya. Putriku, kau adalah cahaya Orsgadt. Hiduplah, hiduplah.
Semua rasa sakit dan sesak hilang, berganti dengan rasa hangat yang sangat nyaman. Tubuh Emune melayang turun dan jatuh ke tanah dengan lembut. Ia samar-samar mendengar suara Horeen dan pemandangan berubah dari kabut pekat menjadi langit berbintang.
“Kita segera sampai, Emune. Bertahanlah,” ucap Horeen. Ia heran melihat tanah bergerak seperti tadi terlebih-lebih di Lembah Kematian. Kekuatan sihir seperti itu sangat jarang bisa ditemukan, kecuali pemiliknya adalah keturunan peri. Untung ia bisa menemukan mereka. “Kejadian yang aneh,” gumam Horeen.
“Aku rasa aku bertemu arwah ibuku,” gumam Emune.
__ADS_1
Horeen meniup wajah Emune. Benar, Emune sudah terkena sihir.