Orsgadt

Orsgadt
Di Eimersun


__ADS_3

Sekian belas tahun telah berlalu sejak malam mengerikan di istana Orsgadt. Sangat lama tapi mata Arthen masih bisa melihatnya hingga hari ini. Ia tidak bisa membayangkan kengerian yang dialami oleh rakyat Orsgadt saat itu. Ia saja yang terbiasa melihat mayat dan darah tumpah masih sering diganggu oleh mimpi buruk hingga kini.


Arthen menunggu kedatangan Hemworth di rumah minum itu sejak kemarin. Hemworth mengalami banyak masalah akhir-akhir ini. Mata-mata Goenhrad menyisir semua wilayah dengan teliti. Semoga ia bisa lolos, harap Arthen.


Seorang pria berjubah hitam masuk ke rumah minum. Ia tidak membuka tudungnya. Langkah-langkahnya pasti mengarah ke meja Arthen. Ia duduk di seberang, berhadapan dengan Arthen. Pria itu adalah Hemworth.


“Bagaimana kabarmu, Saudaraku?” tanya Hemworth.


“Semakin tua karena menunggumu,” gurau Arthen.


Keduanya tertawa pelan.


“Pertemuan sudah diadakan. Eimersun dan Arsyna sudah siap.” Arthen mengetuk pelan meja dengan telunjuknya.


“Aku mencium bau busuk di Imperia. Bagaimana menurutmu?” tanya Hemworth.


“Sudah ada kabar mengenai itu. Aku akan kirim orang untuk menyelidiki.”


“Arthy, dia sudah tumbuh jadi gadis yang sehat dan cantik.”


“Kau tahu, kita bahkan tidak melahirkannya tapi melihatnya hidup dan menjadi wanita hebat akan setimpal dengan semua yang harus kita lepaskan. Aku sangat ingin bertemu dengannya.” Arthen menahan napas saat dadanya terasa sesak.


“Akan ada waktunya untuk itu, Arthy. Jika rencana ini lancar, kita harus siap bergerak. Kuserahkan Imperia kepadamu.”


“Baik.”


“Aku pergi. Sampai jumpa,” ucap Hemworth.


“Hati-hati. Sampai jumpa,” balas Arthen.


Hemworth keluar dari rumah minum setelah membeli sebotol anggur. Ia menarik tali kekang kudanya dan memacunya pergi ke arah Eimersun. Sudah saatnya bergabung dengan sahabat-sahabatnya di sana.


***


Ratu Adelaine berlari tergopoh-gopoh ke aula kerajaan. Seorang pelayan mengatakan bahwa putranya, Pangeran Elric, sudah kembali dari perjalanannya. Ia sedang menyulam tadi dan jarinya sampai tertusuk jarum karena terkejut dan senang. Putranya yang pemberontak itu tiba-tiba pulang, tidak biasanya. Kecemasan menyerang karena ia mengira Elric mungkin terluka.


“Elric, putraku tersayang!” seru Ratu Adelaine, segera memeluk putranya yang sedang berdiri di aula bersama Alfred, Aiden dan Sean. Ia tidak memedulikan suaminya yang sedang memasang wajah serius.


“Ibu! Tetap cantik seperti biasanya.” Eric mencium pipi ibunya. “Ayah tidak membuat ibu susah hati?” goda Elric. Ia melirik sedikit pada sang raja.


“Tidak. Putra Ibu yang selalu membuat susah hati,” jawab sang ratu.


Yang mulia Raja Duncan terbatuk pelan. Istri dan anaknya yang satu ini memang suka heboh sendiri. Ia bisa melihat senyum Alfred dan wajah geli Sean dan Aiden yang masih ada di Aula. Ia harus melakukan sesuatu sebelum istrinya menahan Elric di kamarnya.

__ADS_1


“Adelaine, ada hal penting yang harus kami bicarakan. Jangan khawatir Elric tidak akan ke mana-mana.”


Ratu Adelaine mendesah. “Baiklah. Elric, kau berhutang cerita pada Ibu,” Ratu Adelaine tersenyum pada putranya lalu melenggang pergi meninggalkan aula.


“Ke perpustakaan,” perintah sang raja.


Raja Duncan duduk dengan kepala tertunduk. Ia tidak pernah menyukai topik yang disebutkan oleh Alfred. Pemberontakan Orsgadt bukan hal yang menyenangkan untuk dibicarakan.


Pintu ruang perpustakaan terbuka. Seorang gadis cantik berjalan masuk dengan anggun. Berbeda dengan Elric yang tampan dan menggoda, gadis ini memiliki keteguhan dan mata elang ayahnya. Ia adalah Mirena, putri sang raja dan kakak perempuan Elric.


“Ayah, aku rasa aku harus dilibatkan dalam hal apa pun yang bocah ini ingin lakukan,” ucap Mirena sambil menjewer telinga adiknya. Eric meringis, kakaknya ini masih saja galak. “Sudah bosan tebar pesona di jalanan Artamea?” tanya Mirena ketus pada adiknya.


“Belum,” jawab Elric dengan santai.


“Duduklah, Mirena. Alfred, lanjutkan,” ucap Raja Duncan.


Alfred menceritakan tentang situasi Arsyna dan bagaimana Goenhrad mulai mengacau di sana sini. Ketika sampai pada kisah pemberontakan Orsgadt, Raja Duncan terhenyak di kursinya. Ia belum juga bisa memaafkan keputusannya untuk tidak membantu Orsgadt waktu itu.


“Yang Mulia, keturunan Raja Agung Orsgadt masih hidup,” ucap Alfred pelan.


Raja Duncan langsung berdiri. Ia tidak percaya pada apa yang didengarnya. “Kau jangan membawa cerita yang dibuat-buat Alfred. Aku bisa memenggalmu sekarang juga,” ucap Raja Duncan geram.


“Hamba tidak berani melakukan itu, Yang Mulia,” ucap Alfred sambil menunduk.


Raja Duncan mencengkeram lengan putranya. “Dia ... bayi itu masih hidup? Elizai masih hidup?” tanya sang raja dengan suara bergetar.


“Benar, Ayah,” jawab Elric.


“Di mana dia sekarang?” tanya Mirena. Berita ini sangat mengejutkan.


“Dia sedang melakukan perjalanan penting saat ini. Ia akan membutuhkan kita saat ia kembali nanti.”


“Elizai ....” Sang raja menggumam pelan.


Elric membantu ayahnya kembali duduk di kursinya. Ia sudah terlalu sering melihat ayahnya bersedih jika mengingat Orsgadt. Tentu saja berita ini menjadi pukulan yang berat karena bayi yang dikira sudah mati, keturunan terakhir dari sahabatnya, ternyata masih hidup dan ia baru mengetahuinya.


Elric menceritakan tentang Emune. Ia menggabungkan semua yang ia tahu tentang kekasihnya itu, termasuk memberi tahu pertemuannya dengan Olevander. Raja Duncan sangat marah karena Olevander tidak pernah memberitahunya tapi ia lebih tenang saat Elric menjelaskan bahwa keputusan Olevander itulah yang membuat Emune selamat sampai saat ini.


“Emune ke Gunung Moughty?” tanya Mirena.


“Ya. Ia harus mengalahkan Elqoz. Itu satu-satunya jalan untuk mengalahkan Anthura.” Elric masih saja kesal karena terpisah lagi dari Emune.


“Apa kau yakin ia bisa melakukannya?” tanya Mirena lagi.

__ADS_1


“Aku yakin pasti bisa. Ia bersama orang-orang yang hebat. Jangan khawatir,” ucap Elric padahal dalam hati ia merasa tercabik-cabik karena tidak bisa menemani dan melindungi Emune.


Alfred melanjutkan cerita Elric. Ia juga menceritakan tentang teman-teman seperjalanan Emune. Ia tahu sang raja sudah memutuskan untuk membela Emune dan ia merasa sangat lega.


“Semoga mereka bisa tiba dengan selamat di Gunung Moughty,” ucap Alfred.


***


Greg dan Fiona tiba di kediaman Arrand di Eimersun. Kastil itu sudah berkali-kali mereka datangi dan tetap saja tampak gagah menurut mereka. Mereka menunggu Arrand di sebuah gazebo di taman utara.


Arrand datang dengan wajah khawatir. Ia memeluk Fiona dan menepuk punggung gadis itu. Ia tahu kalau Fiona sangat kesal dan sedih karena harus membiarkan Emune pergi sendiri ke dunia ajaib. Ia mendudukkan Fiona agar gadis itu bisa sedikit tenang. Ia kemudian menyalami Greg dengan hangat dan berterima kasih karena telah menjaga kedua putri angkatnya.


“Emune memiliki takdir yang luar biasa. Ia harus menjalaninya. Fiona, Greg, kalian mungkin tidak tahu tapi hanya segelintir orang yang mengetahui jati diri Emune. Ada sebuah kelompok rahasia yang dibentuk untuk menyiapkan kembalinya Emune sebagai ratu. Kami menyebut kelompok ini sebagai Pilar Orsgadt. Kami semua bergerak di bawah sumpah setia dan hingga saat ini kami berhasil menjaganya dengan baik.” Arrand menatap ke kejauhan.


“Apakah kita bisa mengalahkan kekuatan pasukan hitam dan sihir yang digunakan Goenhrad?” tanya Fiona.


“Jangan khawatir tentang itu. Kami sedang menyusun kekuatan. Bukankah kalian bersama Pangeran Elric?” tanya Arrand.


“Ya. Elric langsung ke istana,” jawab Fiona.


“Kita akan ke istana besok pagi. Fiona, beristirahatlah. Ada yang harus kubicarakan dengan Greg,” ucap Arrand.


“Aku ....” Fiona tidak jadi protes.


“Kau harus istirahat,” ucap Arrand tegas. Ia tidak ingin dibantah.


Fiona mengangguk dan pergi ke kamarnya. Ia memang punya kamar khusus di kastil Arrand.


“Greg, kau menyukai Fiona?” tanya Arrand tanpa basa-basi setelah Fiona pergi.


“Saya .... Ya, saya menyukai Fiona,” jawab Greg.


“Jaga dia baik-baik. Setelah ini aku mungkin tidak akan ada untuk menjaganya,” ucap Arrand dengan nada getir.


“Tuan ....”


Arrand memainkan pisau buah yang tadinya ada di atas meja. “Pilar Orsgadt hidup hanya untuk satu tujuan dan itu berarti kami juga harus siap mati untuk tujuan itu.”


“Saya mengerti.”


“Bagus. Aku lega sekarang. Terima kasih,” ucap Arrand. Arrand menyuruh pelayan mengantar Greg ke kamarnya. Ia lalu duduk termenung. Sebentar lagi peperangan akan terjadi dan ia sudah siap.


Angin malam yang dingin bertiup membawa dedaunan yang gugur dan membawanya jauh. Malam semakin larut dan Eimersun tenggelam dalam kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2