
Suara langkah kaki membuat Emune menoleh. Avena muncul dengan langkah tegap. Gadis keturunan peri itu duduk agak jauh dari api unggun.
“Kakiku sudah sembuh,” ucap Avena yang baru datang kepada Emune.
“Bagus sekali. Horeen ke mana?” tanya Emune. Ia mendengar suara debum keras tadi.
“Entahlah. Peri aneh,” ucap Avena.
“Hmmm, tidak aneh menurutku.” Emune menilik wajah Avena dengan serius.
“Maksudmu?” tanya Avena.
“Avena, Horeen jelas-jelas menyukaimu,” jawab Emune.
“Dia cuma iseng karena tidak ada yang bisa diganggu.”
“Lain kali lihat matanya baik-baik, ya. Kau akan tahu,” ucap Emune.
“Terakhir kali kulihat, matanya masih hijau,” ucap Avena.
“Kalian berciuman lagi?” goda Emune asal saja.
Avena langsung duduk tegak. Terkejut dengan pertanyaan Emune. “Itu, dia menyembuhkan kakiku,” jawab Avena. Sialan, kenapa harus dengan ciuman, gerutu Avena dalam hati.
Emune tertawa kecil. “Kau harus terbiasa dengan itu. Kurasa Horeen benar-benar menyukaimu.”
“Ya ... ya ... kata Tuan Putri yang sedang jatuh cinta pada pangeran Eimersun,” goda Avena balik.
“Memang begitu. Seperti itulah Elric melihatku. Kau hanya tak sadar dan tidak memperhatikan Horeen.”
“Ah, sudahlah. Kepalaku pusing mendengar namanya disebut. Bagaimana dengan rencana besok?” tanya Avena.
“Leonz akan menggunakan Lingkaran Killgins dengan sebagian inti batu Ezuron,” jawab Emune.
“Bukankah butuh dua peri Hertena untuk itu? Kau tidak bisa membantunya karena kau tidak bisa mengontrol Ezuron, bukan?” tanya Avena. Ia merasa harus waspada karena Leonz memang perlu diwaspadai. Gadis cilik itu sangat aneh, pikirnya.
“Aku tidak tahu apa rencana Leonz. Biarlah dia beristirahat dulu. Kita juga harus istirahat bergilir.”
“Ya. Baiklah.”
Jauh dari teman-temannya, Horeen mengomel dan marah-marah sendiri menyusuri tepi wilayah tanpa sihir. Setiap langkahnya yang penuh kemarahan menumbangkan pohon-pohon yang dilewatinya.
“Gadis konyol. Awas saja nanti kau akan jatuh cinta padaku,” gumam Horeen kesal.
***
Fajar datang dan Emune sudah siap menyambutnya. Ia yang paling dulu terbangun di antara mereka semua. Ia tersenyum melihat Horeen sudah kembali dan tidur sambil bersandar di sebuah batu besar. Ia tidak perlu membangunkan mereka karena satu per satu sudah membuka mata dan duduk.
Horeen yang menghilang semalam ternyata menangkap beberapa ekor kelinci dan memanggangnya untuk dijadikan sarapan pagi ini. Mereka harus mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.
Semua makan dalam diam. Gunung Moughty dan Elqoz membayangi mereka sejak Olevander menyebutnya malam itu. Apakah mereka akan bisa mengalahkan seekor naga? Bukan sembarang naga tapi Elqoz, sang naga pembangkang.
“Leonz, aku rasa kita sudah siap,” ucap Emune.
__ADS_1
“Ya. Aku sudah siap. Kali ini aku perlu bantuan Horeen dan Avena. Emune tidak punya kekuatan untuk mengontrol Ezuron, dia bisa mati tersedot oleh Ezuron,” sahut Leonz.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Avena.
Leonz membuat lingkaran Killginz di atas tanah dengan pedang cahaya milik Proner. Ia menyuruh Emune dan Proner untuk berdiri di tengah. Setelah pelindung cahaya menyelubungi mereka semua, Leonz, Horeen dan Avena bergandengan tangan membentuk segitiga di sekeliling Proner dan Emune.
“Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan genggaman tangan kalian,” ucap Leonz tegas.
Avena dan Horeen mengangguk. Avena yang awalnya malu-malu saat tangannya digenggam Horeen sekarang sudah benar-benar siap. Horeen benar, kekuatan di tangannya sangat besar, Avena bisa merasakannya.
Kelimanya menghilang dalam sekejap. Hening kembali meraja di dekat laut Kigurst. Kepiting raksasa bergerak pelan ke tempatnya semula.
Leonz, Horeen dan Avena muncul di kaki pegunungan Moughty. Mereka terkejut karena Emune dan Proner tidak juga muncul. Horeen langsung melesat naik dan mencari mereka.
“Aku di sini,” ucap Emune lemah. Proner tergeletak di dekatnya bersimbah darah.
Leonz menjerit melihat proner yang terluka parah. Avena membantu Emune duduk sedangkan Horeen memeriksa Proner. Luka Proner cukup parah. Sebuah tusukan mengenai perutnya.
“Ada bayangan-bayangan hitam menyerang. Aku hanya melihat lengan dan pedang yang terayun. Proner berusaha menjagaku,” ucap Emune lirih.
Leonz yang masih syok melihat Proner yang terluka tiba-tiba mengeluarkan cahaya merah dari keningnya. Cahaya itu melesat ke langit dan menyebar ke semua penjuru. Avena dan Horeen terkesiap. Gadis cilik itu mendekati Proner.
“Pinjamkan tanganmu,” kata Leonz pada Horeen.
Leonz menuntun tangan kanan Horeen agar menutupi luka di perut Proner. Serbuk ajaibnya bekerja lagi. Cahaya merah yang tadi hilang kembali dan berkumpul di bawah telapak tangan Horeen. Perlahan-lahan luka di perut Proner mengecil dan hilang. Tidak ada bekas luka sedikit pun di perut Proner.
Proner membuka matanya. Ia melihat Leonz dan langsung memeluk gadis cilik itu. “Kau tidak apa-apa?” tanya Proner pada Leonz.
“Tidak apa-apa,” jawab Leonz.
“Tidak apa-apa. Hanya tertumbuk batu saat mendarat tadi,” jawab Emune. Tangannya memegang perutnya yang sedikit nyeri.
“Bagaimana bisa ada yang muncul di Lingkaran Killgins itu?” tanya Avena.
“Sihir,” ucap Leonz geram. Sepertinya ia marah sekali karena Proner sampai terluka seperti tadi. “Dia sudah mulai bergerak. Kita harus cepat mengalahkan Elqoz.”
“Aku siap. Aku tidak tahu caranya tapi apa pun akan kulakukan,” ucap Emune.
Mereka mendaki kaki pegunungan itu dan tiba di segel Raja Peri Dougraff. Segel itu berbentuk persegi dan terbuat dari batu hitam yang berkilat terkena sinar matahari. Leonz meletakkan lima mutiara darah laut Kigurst di atas cekungan kecil lalu mundur selangkah.
Mereka menunggu dan menunggu tapi tidak ada yang terjadi. Kelimanya mulai bosan sendiri. Bagaimana mau mendapatkan jantung naga kalau naganya saja tidak muncul?
Horeen kesal dan melesat naik untuk memastikan mereka tidak melewatkan sesuatu. Avena menendang-nendang batu kecil. Leonz berpikir dan berpikir, apakah mungkin ia melewatkan sebuah mantra atau gerakan.
Emune menggenggam bandul kalungnya, seakan meminta kekuatan pada Zamrud Edyssia. “Elqoz, keluarlah! Aku memintamu dengan baik.”
Proner melotot, Emune seperti sedang meminta seorang teman untuk menemuinya. Proner geleng-geleng kepala. Apa mungkin Emune lupa kalau Elqoz itu seekor naga? Kalau aku masih hidup setelah ini, aku akan berendam di air hangat lama-lama, gumam Proner dalam hati.
Tanah yang mereka pijak tiba-tiba bergetar. Debu naik dan angin berputar-putar semakin kencang. Suara raungan keras memenuhi udara. Emune dan Proner menutup kedua telinganya. Mereka mencari tahu dari mana asal suara itu namun tidak menemukannya.
Horeen yang melayang tinggi di langit membelalak dan langsung menukik turun menyambar Emune dan Proner. Ia berteriak kencang pada Avena agar menyambar Leonz dan menjauhi gunung Moughty. Avena segera melakukan apa yang Horeen katakan. Hampir saja ia terlambat.
Mereka berlima berdiri cukup jauh dari gunung Moughty yang terus bergetar dan bergerak. Debu dan bebatuan terlempar, pohon-pohon tumbang. Batu-batu besar bergerak naik, semakin tinggi seolah hendak merobek langit. Lalu wujud gunung itu berubah menjadi seekor naga raksasa. Elqoz ternyata adalah gunung Moughty yang mereka datangi.
__ADS_1
Naga berwarna hijau dan garis perak pada sisiknya itu menggerak-gerakkan kepalanya. Matanya belum terbuka tapi wajah sangarnya sudah membuat Proner meringis. Seperti orang yang baru bangun tidur, ia merentangkan kedua sayapnya yang besar dan membuka matanya pelan-pelan. Dua buah tanduk tajam berwarna hijau tua dan cakar-cakar yang tajam melengkapi keangkerannya.
“Manusia,” ucap naga itu dengan suara mengintimidasi.
“Dia bisa bicara?” Avena ternganga.
“Kau masih berpikir Olevander tidak sengaja lupa memberitahu kita?” bisik Proner pada Emune.
“Aku tidak tahu,” jawab Emune.
Elqoz bergerak anggun menghadap ke lima makhluk kecil yang mengusik tidur panjangnya. Ia bisa merasakan kekuatan gaib dari tiga di antara mereka sementara dua lagi benar-benar manusia. Ada yang berbeda dengan si gadis manusia. Ia memiliki sebuah benda berharga.
“Gadis manusia. Kau membawa pusaka Orsgadt.” Elqoz menggerakkan sayapnya pelan. Gerakan sekecil itu pun bisa membuat angin yang bergerak cepat ke arah Emune dan teman-temannya.
“Namaku Emune. Aku keturunan terakhir Raja Agung Orsgadt,” ucap Emune tenang meski sendi-sendinya terasa lemas.
Elqoz tampak berang. Ia mengangkasa lalu mendarat ke tanah dengan suara keras. Emune dan teman-temannya langsung mundur karena tanah yang bergoyang keras.
“Semua keturunan Raja Agung Orsgadt sudah mati. Jangan mengada-ada!” raung naga itu.
Elqoz menyemburkan api dari mulutnya. Horeen dan Avena langsung membawa Emune, Proner dan Leonz menjauh dari semburan api itu. Garis hitam terbentuk di bekas semburan tadi.
“Apa yang kau perlukan untuk membuktikan bahwa aku memang keturunan Raja Agung Orsgadt?” tanya Emune.
“Darah. Hanya darah, pembuktian sejati,” jawab Elqoz. Ekornya menyapu ke arah kelompok Emune. Horeen dan Avena lagi-lagi harus memindahkan Emune, Proner dan Leonz dengan cepat.
Elqoz mengamati gadis yang membawa pusaka Orsgadt. Ia akan menghancurkan tulang-tulangnya jika berani menipunya.
Emune menarik belatinya lalu menorah telapak tangan kirinya dengan ujung belati. Ia meremas tangannya hingga darah menetes dan jatuh ke tanah. Perih tapi Emune menahannya.
Elqoz menggerakkan kepalanya mengikuti angin yang bertiup membawa bau darah Emune. Ia menghampiri Emune. Gadis itu tidak bergerak sama sekali. Justru teman-temannya yang panik.
“Apa yang bisa hamba lakukan untuk Tuan Putri Orsgadt?” tanya Elqoz. Elqoz menundukkan kepalanya di depan Emune. Ia berhutang banyak pada Raja Agung Orsgadt yang dulu pernah menyelamatkan jiwanya. Melihat sang raja masih memiliki keturunan, ia sangat terharu.
Emune menyentuh kening Elqoz dengan tangan kanannya yang sedikit gemetar. Ia seperti bisa melihat kilasan masa lalu saat Elqoz diserang oleh pasukan hitam kemudian diselamatkan oleh Raja Agung Orsgadt yang pertama. Sejak itulah kesetiaannya hanya diberikan kepada keturunan langsung sang raja.
“Aku tak tega untuk memintanya tapi aku sangat membutuhkannya untuk membebaskan Orsgadt dari Goenhrad dan penyihirnya,” ucap Emune.
“Apa pun akan hamba berikan,” sahut Elqoz.
“Aku membutuhkan jantungmu,” ucap Emune pelan.
Elqoz mengangguk. Bila itu yang diinginkan oleh sang putri maka ia akan memberikannya dengan senang hati. Ia menjauh pelan-pelan dan berhenti di jarak yang dianggapnya aman.
Emune menatap nanar pada naga raksasa yang kini sedang bersiap memberikan jantungnya sendiri. Ia tidak sanggup melihatnya namun Elqoz harus diberi penghormatan terakhir untuk baktinya pada keturunan Raja Agung Orsgadt.
“Kemuliaan untuk Orsgadt dan Yang Mulia Ratu,” ucap Elqoz.
Elqoz menoreh dadanya dengan cakarnya yang tajam. Darah mengalir keluar dari lukanya yang dalam. Sekali tarik, jantungnya sudah ada di antara cakar-cakarnya. Naga itu lalu terbaring mati di tanah setelah suara berdebam keras saat ia terjatuh.
Air mata Emune mengalir. Elqoz hari ini menjadi korban dari perjuangannya untuk merebut Orsgadt. Ia mendekati Elqoz. Jantung Elqoz sudah mengeras dan berubah menjadi batu berwarna perak.
Emune melepas gelang kulit pemberian ayah asuhnya dan meletakkannya di ujung cakar Elqoz. Ia meminta terlalu banyak pada naga itu tapi ia sendiri tidak punya banyak untuk diberikan. Emune mengambil jantung Elqoz dan menyerahkannya pada Proner. Ia menggenggam cakar Elqoz dan berbisik di antara isakannya. “Beristirahatlah dengan tenang, wahai kesatria hebat.”
__ADS_1
Emune dan teman-temannya menjauh dari Elqoz. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada naga itu sebelum mereka melayang pergi dibawa oleh dua pegasus yang dipanggil oleh Leonz. Mereka harus menghemat tenaga setidaknya satu hari sebelum ke Eimersun mengunakan Lingkaran Killgins.