Orsgadt

Orsgadt
Galvei


__ADS_3

“Cukup, Fiona. Kita tidak sedang melancong,” protes Emune pada Fiona yang berbelanja dengan santai di pasar raya.


“Kita memang sedang melancong. Seingatku tidak ada yang mengharuskan kita untuk cepat-cepat tiba di Eimersun,” balas Fiona. Ia sibuk mencoba beberapa selendang yang pada akhirnya tidak satu pun ia beli.


“Bukankah lebih cepat lebih baik? Arrand pasti mengkhawatirkan kita.” Emune merengut.


“Kau lupa ada Greg? Arrand tidak akan mempermasalahkan kalau kita datang dua bulan lagi atau tiga bulan lagi,” ucapnya ceria.


“Tidak, tidak, tidak. Kita harus segera keluar dari Arsyna.” Emune tidak bisa menunggu sampai dua bulan.


Fiona menghentikan kesibukannya memilih parfum. Ia menyemprotkan satu yang dipegangnya ke tangan Emune lalu mengendus-endus. Emune menarik tangannya dan menyeka bagian yang berbau parfum ke bajunya. Hidung Emune tahu itu wangi mawar tapi terlalu keras menurutnya.


“Kenapa kita harus buru-buru keluar dari Arsyna? Setelah Galvei, masih ada banyak kota yang harus kita lalui untuk sampai ke gerbang selatan Imperia. Kota-kota itu sangat bagus, Emune. Kau akan menyukai perjalanan ini. Santai saja,” ucap Fiona.


Emune mendekat dan berbisik. “Arsyna sedang gawat, banyak perampok. Kau tidak ingat kejadian di Darfin?”


“Ada Greg. Tunggu sebentar,” Fiona memegang kedua bahu Emune. Ia melihat dari atas ke bawah. Sambil bergumam dan mengerutkan kening, ia memutar tubuh Emune sampai dua kali. “Baik, ada satu hal yang harus kita bereskan. Ikut aku.” Fiona menarik Emune keluar dari toko parfum.


“Tidak mau. Aku mau kembali ke penginapan saja,” tolak Emune. Mereka saling tarik-menarik disaksikan olleh orang-orang yang lewat. “Ini memalukan, Fiona,” protes Emune.


“Aku tidak akan ragu untuk menyeretmu, Emune. Apa perlu kusuruh Greg untuk membopongmu?” Fiona menyeringai sadis.


“Ini terlalu berlebihan! Greg, lakukan sesuatu,” pinta Emune pada Greg.


“Hmm … aku rasa sebaiknya aku tunggu kalian di kedai itu,” ucap Greg yang lalu pergi menyelamatkan diri dari dua gadis tengil yang harus ia jaga.


Emune melotot. “Pengkhianat!” serunya pada Greg yang berlalu sambil menyeringai. Emune menyerah, Fiona hampir seukuran dengannya tapi dari segi tenaga ia kalah jauh. Mana mungkin bisa menang melawannya, pikir Emune.


Fiona berhenti di depan sebuah bangunan yang lebih rapi dan bersih dibandingkan yang lain. Ia menggandeng Emune masuk. Emune melihat bagian dalam toko dengan mata bersinar-sinar. Pakaian-pakaian yang cantik dan mewah berderet rapi lengkap dengan aksesoris dari perak dan perunggu. Emune tidak berkata-kata saat Fiona menggandengnya terus ke bagian belakang toko.

__ADS_1


“Aha! Ini dia! Pakaian perjalanan yang praktis. Mudah dikenakan dan bisa untuk berlari, melompat dan berguling-guling di tanah.” Fiona memeriksa bahan dan jahitan pakaian itu.


Emune terdiam melihat pakaian yang ditunjukkan oleh Fiona. Pakaian itu seperti pakaian laki-laki. Sebuah tunik, ikat pinggang dari kulit, celana panjang dan sepatu bot.


“Kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini?” tanya Emune polos.


“Kau akan lebih nyaman dan lebih mudah bergerak. Ingat darfin? Kau bisa berkelit dengan mudah kalau memakai ini,” jawab Fiona.


“Kenapa aku harus memakai ini sedangkan kau memakai gaun?” tanya Emune lagi.


Fiona tertawa pelan. “Karena aku sudah terbiasa bergerak dengan ini. Aku juga bisa berkelahi saat memakainya. Ayo cepat pilih. Tiga pasang kurasa cukup. Masih banyak tempat yang harus kita kunjungi.”


“Baiklah tapi aku akan memakainya besok.” Emune memilih tiga set pakaian seperti yang Fiona tunjuk lalu menambahkan dua buah jubah panjang berwarna gelap.


Emune membawa keluar belanjaannya dengan gembira. Meskipun tadi ia sempat adu urat dengan Fiona, ia sadar bahwa apa yang dikatakan Fiona ada benarnya. Ia tidak mau jadi beban siapa pun jadi ia harus melakukan sesuatu dengan kemampuan fisiknya yang terbatas.


Di luar toko, Greg sudah menanti. Ia mengambil belanjaan Emune dan mengikuti mereka dari belakang. Greg tersenyum melihat Fiona yang terus berkeliling pasar raya sedari tadi dengan gembira. Emune sepertinya menularkan sedikit kefeminiman kepadanya. Ia dengan senang hati akan menjadi pengamat perubahan Fiona yang tomboi, tentu saja dari jarak yang aman.


Proner tiba di Galvei sore hari dan langsung menuju ke pasar raya. Ia tidak mau kehilangan waktu untuk menemukan gadis itu. Pasar raya itu panjangnya hampir lima ratus meter dengan berbagai jenis barang yang ditawarkan di sisi kiri dan kanan. Tidak seperti pasar-pasar lainnya, di sini pasar dibagi oleh sebuah jalanan lebar yang memungkinkan para pengunjung untuk berbelanja ke sisi mana pun dengan mudah. Kelebihan lain adalah pedagang tidak boleh menjajakan daganyannya di jalanan. Otoritas kota sangat tegas dan menetapkan denda satu keping emas bagi yang melanggarnya. Ketika mata uang emas jadi taruhannya, tidak satupun pedagang mau ambil resiko untuk melanggar aturan itu.


Seingat Proner hampir dua puluh tiga pengrajin cermin batu ada di Galvei dan satu-satunya yang berdampingan dengan penjual bunga hanya ada di sebelah timur pasar raya. Ia bergegas ke sana. Ia adalah pemburu yang lihai dan ia jamin tidak akan kehilangan gadis itu, itu pun jika ramalan itu benar.


Ada! Proner menemukan gadis itu. Tepat di seberang jalan, seorang gadis dengan ciri-ciri sama seperti ramalan itu sedang berdiri di sana. Gadis berambut cokelat, matanya tidak terlihat jelas dari tempat Proner tapi ia memakai gelang kulit dan sedang memegang sekuntum bunga mawar.


Proner tidak buru-buru mendekatinya. Ia memilih untuk mengamati saja dari jauh. Melihat gadis dalam ramalannya ternyata benar-benar ada di dunia nyata, ia berdecak kagum. Peramal itu bukan penipu. Mungkin ia akan menyempatkan untuk meminta maaf padanya suatu saat nanti.


Berpura-pura berjalan mencari barang yang hendak dibeli, Proner mengawasi gadis itu dengan hati-hati. Dari seberang ia bisa melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan datang menghampiri dan berbincang dengannya. Si laki-laki menyerahkan sebuah bungkusan yang diterima dengan senang hati oleh si gadis.


Sesaat kemudian laki-laki dan perempuan itu berjalan menjauh meninggalkan si gadis yang segera berjalan ke arah timur dan berhenti di depan pedagang pahatan kayu. Proner penasaran apa yang sedang dibicarakan gadis itu dengan si pemahat kayu. Ia menyeberang dan berpura-pura hendak membeli cermin batu.

__ADS_1


Karena masih tidak bisa mendengar percakapan si gadis, Proner berjalan melewati gadis itu dan berhenti di depan pedagang anggur. Kebetulan, pikirnya, anggur Galvei cukup bagus dan ia memang harus membeli anggur baru untuk bekalnya. Sekarang ia bisa mendengar percakapan keduanya dengan jelas.


“Ada beruang, harimau, kelinci dan macam-macam hewan,” si gadis berbicara dengan pengucapan yang jelas.


“Aah … Balach. Surga para pencinta anggur. Kau tidak seperti tukang minum. Cobalah anggur Galvei. Rasanya sedikit manis, aromanya wangi dan tidak terlalu keras. Aku merekomendasikan toko sebelah ini,” ucap si pemahat kayu sambil menunjuk toko anggur tempat Proner berdiri.


Si gadis menoleh ke toko sebelah. Ia melihat seorang lelaki tua kurus berkumis tipis dan seorang pria muda yang mungkin seusia Fiona sedang berbincang-bincang. Ia tersenyum pada keduanya. Ia kembali berbicara pada si pemahat kayu.


“Di kota mana itu? Pamanku senang memberi teka-teki. Ia hanya menyebutkan satu petunjuk tadi,” ucap si gadis dengan nada sedih.


“Farclere. Tiga hari perjalanan dari sini lewat rute biasa. Akan lebih cepat kalau kau memotong lewat Eufrack, hanya dua hari. Jalannya lebih bagus tapi di daerah itu pernah terjadi perampokan, orang-orang takut lewat sana.” Si pemahat kayu mengecilkan suaranya di kalimat terakhir.


Si gadis mengangguk tanda mengerti. “Terima kasih. Oh, aku mau kelinci ini. Lucu sekali.”


“Pilihan yang bagus. Satu kelinci lucu untuk Anda,” ucap si pemahat kayu. Ia menyerahkan pahatan kelinci kepada si gadis yang memberinya koin perak kecil.


Proner merasa sudah cukup mendengar tujuan gadis itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi atau harus bagaimana setelah ini. Ia berpikir sebaiknya ia amati dulu sampai yakin gadis itu dan dua orang yang berbincang dengannya tadi, si laki-laki dan perempuan, adalah satu rombongan jadi dia akan aman walaupun tanpa Proner. Ia berencana untuk mendahuluinya ke Farclare.


Di Farclere, Proner akan mencari kesempatan untuk berbicara dengannya. Sekarang ia sedikit kesal pada si peramal karena tidak cukup petunjuk yang ia dapatkan. Menjaga gadis itu dari apa atau siapa? Kapan dan sampai kapan? Ia menggaruk-garuk kepala.


Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan. Meskipun hari telah malam, pengunjung pasar raya tidak juga berkurang. Bagian kota yang semakin ramai adalah deretan rumah minum dan penginapan. Pasar raya akan ditutup sebentar lagi namun sisanya akan terus beroperasi tanpa henti.


Dari jarak yang aman, Proner melihat si gadis, sungguh sial dia tidak tahu namanya, bertemu kembali dengan teman-temannya. Sepertinya mereka akan ke rumah minum. Proner bertabrakan dengan seorang perempuan hingga perempuan itu jatuh, ia segera membantunya dan meminta maaf. Teman si perempuan yang berlagak jagoan mengumpat dan hendak menyerang tapi perempuan itu menghentikannya karena melihat Proner membawa pedang.


Proner kesal karena kehilangan buruannya. Gadis itu sudah hilang dari pandangannya tapi ia akan mencarinya ke rumah minum. Mungkin ia ada di sana, pikirnya.


Fiona sebenarnya sungkan mengajak Emune ke rumah minum tapi meninggalkannya seorang diri jauh lebih berbahaya. Ada tiga tempat makan yang pernah Fiona kunjungi dan ia memilih yang terdekat dengan penginapan mereka yang hanya beberapa meter dari ujung barat pasar raya. Tanpa ia sadari ia sudah berkeliling pasar raya tanpa henti sejak mereka tiba di Galvei. Fiona tersenyum melihat Emune yang terlihat mengantuk. Mereka tidak akan berlama-lama, hanya mengisi perut agar bisa beristirahat tenang malam ini.


Kerumunan orang yang ada di jalan utama pasar raya tiba-tiba tersibak oleh rombongan berkuda. Teriakan orang-orang beradu dengan derap kaki kuda. Para penunggangnya berpakaian hitam dan menutupi wajah mereka dengan kain hingga hanya mata-mata bengis yang terlihat.

__ADS_1


Seiring kuda yang melaju membelah jalanan, para penunggangnya menggunakan senjata mereka untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Orang-orang yang tidak beruntung terjatuh dengan luka sabetan pedang dan tombak. Teriakan mengerikan terdengar di sana sini.


“Minggir! Minggir!” teriak orang-orang yang panik menyelamatkan diri.


__ADS_2