Orsgadt

Orsgadt
Api dan Es


__ADS_3

Penjara kota Galvei hanya berisi lima orang tahanan. Dua di antaranya adalah para pemabuk yang mengacau di kota dan tiga orang anggota pengacau berkuda yang berhasil dijatuhkan oleh Kesatria Fergus, Greg dan Fiona. Ketiganya berada di sel yang sama.


Sipir penjara baru saja menyiram para pemabuk dengan seember air dingin karena kesal pada teriakan-teriakan mereka. Kedua pemabuk sepertinya sudah sedikit sadar, mereka sekarang meringkuk kedinginan. Keduanya mengumpat namun dengan suara kecil.


Di sel sebelah, tidak satupun dari ketiga pengacau yang berbicara. Setelah pakaian dan senjata mereka dilucuti, mereka sekarang mengenakan baju tahanan berwarna coklat kusam dan tanpa alas kaki. Ketiganya duduk berpencar seakan sedang bertengkar. Tidak satupun dari mereka punya wajah ramah dan tanpa bekas luka.


Greg masuk dengan izin dari Kesatria Fergus. Begitu melihat ketiganya ada di sel yang sama, Greg langsung berteriak. “Buka selnya, pisahkan mereka!”


Kesatria Fergus terkejut, begitu juga para sipir. Kedua pemabuk sampai melompat bangun dan menjauh dari sisi sel yang berdekatan dengan ketiga pengacau.


Sayang, sudah terlambat. Ketiga pengacau sudah berdiri lalu yang paling besar dengan satu hentakan langsung mematahkan leher rekannya yang terdekat. Ia mengulang serangan yang sama ke rekannya yang satu lagi.


Dua mayat bergelimpangan di lantai sel yang kotor. Ketika pintu sel berhasil dibuka, orang terakhir menyeringai, matanya bergerak liar. Ia menunggu seorang sipir mendekat lalu menyambar pedang pendek sipir itu dan menusuk jantungnya sendiri lalu tubuhnya yang besar dan berat terkulai ke lantai penjara, tanpa nyawa.


“Aku tidak mengira ini akan terjadi,” ucap sang sipir. Suaranya bergetar karena syok melihat kengerian di hadapannya.


Kejadian itu begitu cepat sampai semua orang tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Greg memeriksa ketiganya, semuanya sudah mati.  Wajah geram Kesatria Fergus membuat sipir-sipir penjara mundur ketakutan.


“Mereka bukan orang-orang biasa.” Greg membuka mulut mayat-mayat itu satu per satu-satu. Dugaannya benar, lidah mereka dipotong. Sudah lama sekali ia tidak melihatnya. Mereka muncul lagi untuk suatu alasan.


“Pembunuh dari Orsgadt,” gumam Kesatria Fergus.


“Anda mengenalinya.” Greg medesah berat.


“Ya. Kami menangkap beberapa orang perampok di Regis. Para pembunuh bayaran menyamar menjadi perampok dan menyebar teror. Tidak masuk akal. Apa yang membuat mereka keluar dari Orsgadt? Ini mengkhawatirkan. Aku harus memperingatkan walikota.” Kesatria Fergus mencengkeram kuat gagang pedangnya karena marah.


“Itu yang terbaik,” ucap Greg. “Saya akan mengirim kabar ke rombongan pedagang, mengingatkan mereka untuk berhati-hati.”


Greg menendang kerikil di jalanan dengan kesal. Seharusnya ia datang lebih cepat. Ini gara-gara pemuda konyol itu.


“Tidak ada yang bisa kau lakukan,” ucap Proner yang muncul di belakangnya. “Terus berjalan, anggap kita sedang menikmati malam,” ucapnya santai.


“Kau mengikutiku?” tanya Greg. Ia berjalan tanpa mengubah kecepatan langkahnya.


Proner merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Ia memang mengikuti Greg tadi. “Mereka kelas paling bawah di hirarki pasukan Goenhrad. Meskipun Goenhrad menyangkal keberadaan mereka, seperti yang kau lihat, mereka nyata.”


“Kau dari Orsgadt, apa yang sedang terjadi di Orsgadt?” tanya Greg.


Proner mengertakkan gerahamnya. “Aku meninggalkannya belasan tahun lalu. Orsgadt kian tahun kian parah. Entah apa yang terjadi di sana saat ini.”

__ADS_1


Greg tidak heran. Sejak pemberontakan Orsgadt, tidak ada lagi yang berani menyebutnya terang-terangan. “Aku mendengar kabar-kabar buruk dari para pedagang.”


“Semua permukiman dipindah ke utara. Hanya gerbang selatan yang dibuka dan tidak ada yang boleh melewati gerbang kedua, satu-satunya pintu masuk ke bagian dalam Orsgadt.”


“Orsgadt membuat tembok kedua?” tanya Greg.


“Ya. Hanya pasukan keamanan yang bisa memasukinya. Selain itu akan dikawal ketat oleh para prajurit.” Proner merasa ada hal besar yang disiapkan oleh sang raja lalim di dalam sana.


Greg mengelus dagunya lalu serius menghadap depan. “Bagaimana kau tahu semua itu?”


“Orang-orang yang berhasil keluar dari Orsgadt sering berkumpul di rumah minum tertentu di setiap kota. Selalu ada yang membawa berita dari Orsgadt.” Proner bersyukur masih ada celah kecil sumber berita tentang Orsgadt di Artamea.


“Tunggu, apa itu?” Greg menunjuk ke arah timur.


Proner melihat ke arah yang ditunjuk oleh Greg. Hari masih malam tapi di sebelah timur cahaya merah yang sangat besar terlihat jelas dari tempat mereka berdiri.


“Ada desa kecil di ujung timur, Bragha. Sepertinya kebakaran.” Proner bukan peramal tapi ia yakin ada yang tidak baik di sana.


Orang-orang keluar ke jalanan utama kota Galvei. Mereka bergumam dan berbisik-bisik melihat cahaya merah membara di kejauhan.


Greg berlari ke arah kediaman Rhea. Ia harus memeriksa para gadis. Di setengah perjalanan, ia melihat Kesatria Fergus dan dua orang prajurit berkuda ke arah timur.


Proner mengikuti Greg namun ketika dekat dengan kediaman Rhea, ia disuruh menjauh oleh Greg. Proner patuh dan memilih berdiri dalam bayangan bangunan di seberang kediaman Rhea.


“Aku tidak apa-apa. Kebakaran itu cukup jauh. Beberapa orang sedang mencari tahu apa yang terjadi di sana.” Greg mencoba melepaskan diri dari pelukan Rhea.


“Greg, kau kembali. Aku pikir .…” Fiona terdiam melihat Rhea dan Greg berpelukan.


Emune turun dari tangga dan langsung menyambar lengan Greg. Menariknya ke arah kursi dan memaksanya duduk. Greg terkejut, ia tidak menyangka Emune punya tenaga dan kecepatan seperti itu. Rhea tampak kesal karena aksi Emune barusan.


“Kau tidak apa-apa? Ceritakan ada apa di luar sana?” tanya Emune.


“Apakah ada pengacau lagi?” tanya Fiona yang bergabung duduk di salah satu kursi.


“Tidak. Aku tidak ke timur. Sebaiknya lebih berhati-hati. Kesatria Fergus kulihat sedang menuju ke sana,” jawab Greg.


Ketiga perempuan yang duduk di kursi-kursi di dekatnya menghela nafas. Greg menyuruh mereka kembali tidur. Ia akan berjaga-jaga sepanjang malam.


***

__ADS_1


Rombongan penunggang kuda yang tadi mengacau telah tiba di luar desa Bragha, desa di ujung timur Galvei. Tidak ada aktivitas terlihat dari luar desa. Tidak ada tembok maupun pagar yang melindungi desa itu dari serangan luar.


“Ini akan cepat selesai, Djorn,” ucap salah satu dari pengacau.


Djorn, ketua kelompoknya adalah laki-laki bertubuh tinggi besar, hanya kuda hitam yang bisa berlari sambil menahan bobotnya. Ia membawa pedang besar dan sebuah kapak di punggungnya. Matanya menatap bengis seolah ingin meratakan desa di hadapannya.


“Urgy, bakar desa itu,” perintahnya dengan suaranya yang berat dan angker.


“Kalian dengar itu? Bakar desa itu!” seru Urgy dengan lantang. Kegilaan terlihat jelas di kedua matanya.


Kelompok pengacau itu bergerak mengepung desa dari segala penjuru. Obor-obor dinyalakan lalu dengan satu teriakan dari Urgy, mereka melempar obor-obor ke desa. Desa itu hanya desa kecil yang mayoritas bangunannya terbuat dari kayu karenanya dalam sekejap api berkobar di atap, dinding dan tiang-tiang penyangga bangunan.


Penduduk desa berlarian ketakutan. Kepanikan melanda semua orang. Beberapa orang berusaha memadamkan api dengan air yang diambil dari kolam kecil di dekat sumur desa tapi sia-sia karena api sudah terlalu besar.


Asap membumbung tinggi. Penduduk desa tidak punya pilihan selain berkumpul di tengah alun-alun karena di luar desa ada orang-orang berpakaian hitam yang siap menerjang siapa saja yang keluar dari desa. Bayi-bayi dan anak-anak kecil menangis, para perempuan menjerit ketakutan. Para pria dengan senjata seadanya berusaha melindungi mereka.


Di salah satu lumbung di pojok desa, seorang gadis terbangun dari tidurnya. Rambutnya yang berwarna putih diikat tinggi. Ia hati-hati keluar dari lumbung dan terkejut melihat api di mana-mana.


Gadis itu hendak lari ke luar desa tapi ada bayangan-bayangan hitam yang bergerak mengancam di luar sana. Ia bisa mendengar teriakan senang mereka saat melihat kekacauan yang terjadi di desa. Jika tidak segera pergi, ia bisa jadi abu atau jadi mangsa siapa pun yang menyebabkan kebakaran ini.


Tangisan, jeritan dan teriakan yang memenuhi udara malam membuatnya sesak. Kemarahan menumpuk di otaknya. Ini tidak bisa dibiarkan! Para penjahat itu pantas mati, pikirnya.


“Aku benci manusia tapi masih cukup baik untuk menyelamatkan mereka,” ucapnya pelan.


Gadis itu menempelkan telapak tangannya ke dinding kayu lalu menepuknya pelan. Kabut dingin berputar-putar bergerak menutupi desa. Penduduk desa bahkan tidak bisa melihat tangan mereka sendiri karena kabut itu sangat tebal.


Seperti hidup, kabut dingin itu menyapu lautan api dan mengalahkannya dalam sekejap. Setelah semua api padam, sebagian kabut dingin berkumpul di tengah-tengah desa. Sekali lagi kabut itu terpecah menjadi beberapa bagian, melesat ke luar desa.


Kabut itu berubah bentuk menjadi pasak es yang tajam lalu menusuk orang-orang berpakaian hitam yang terkejut melihat api yang membakar desa telah padam. Tidak satu pun yang selamat dari pasak es, termasuk Djorn, ketuanya.


Saat si gadis menarik tangannya dari dinding kayu, kabut dingin berangsur lenyap. Api sudah padam dan para pengacau sudah dikalahkan. Ia harus segera pergi sebelum ada yang menyadari keberadaannya di desa ini. Ia menyambar tas dan tongkat kayunya kemudian mengendap-endap keluar dari desa dan bergerak dalam lindungan bayang pepohonan.


Penduduk desa yang sadar bahwa mereka telah selamat dari api dan gerombolan pengacau bersyukur dan berpelukan. Desa mereka hampir habis diamuk api tapi syukurlah tidak ada korban jiwa, hanya beberapa orang yang terluka karena terjatuh dan bertubrukan. Para lelaki segera memeriksa ke luar desa. Mereka terkejut melihat belasan mayat pria berpakaian hitam di sekeliling desa.


Kesatria Fergus tiba di Bragha. Entah bagaimana, api sudah padam dan ada belasan mayat di sekeliling desa. Kepala desa menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melihat apa-apa karena kabut tebal dan tahu-tahu saja api sudah padam.


Mayat-mayat dikumpulkan jadi satu di luar desa. Semuanya akan segera dikuburkan setelah diperiksa oleh otoritas Galvei.


“Urusan yang buruk. Sangat buruk,” gumam sang kesatria. Ini adalah hari paling buruk di Galvei, menurut Kesatria Fergus. Ia sudah memeriksa mayat-mayat itu. Tubuh mereka seperti tertusuk sesuatu tapi ia tidak menemukan senjata yang membunuh mereka.

__ADS_1


Ia mengenali Djorn. Lelaki beringas yang tidak pernah membiarkan lawannya mati dengan mudah itu kini sudah jadi mayat dengan lubang menganga di keningnya. Mungkin hanya perasaanku saja, pikir sang kesatria, mereka semua kelihatan terkejut dan ngeri.


Usai memberi instruksi kepada dua prajurit yang datang bersamanya, Kesatria Fergus kembali ke kota. Ia mengirim utusan ke Kastil Renard yang menaungi Galvei dan kota-kota di sekitarnya. Sepertinya sudah saatnya untuk bersiaga. Sesuatu yang besar, jahat dan mengerikan akan muncul entah dari mana.


__ADS_2