
Terbangun karena suara kicauan burung dan hangatnya matahari, Emune mengusap wajahnya pelan. Kejadian semalam sangat mengejutkan dan menakutkan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kejadiannya jika Avena dan Horeen tidak segera datang.
Emune menoleh dan memeriksa situasai. Ia tersenyum melihat Leonz masih meringkuk di pelukan Proner. Ada pemandangan baru bagi Emune saat melihat Avena masih tertidur di pelukan Horeen.
Proner bangun lebih dahulu. Ia, seperti halnya Emune, terkejut melihat Avena dan Horeen yang terlihat mesra. Senyum jahil Proner langsung hilang saat Emune melotot.
Baru saja Emune mau memarahi Proner, tahu-tahu Leonz sudah berdiri di depan Horeen dan Avena. Gadis cilik itu mengetuk bahu keduanya dengan sebuah ranting. Avena dan Horeen terkejut dan bangun terduduk. Wajah Avena memerah sedangkan Horeen pura-pura melihat ke arah lain.
“Pacaran terus. Kita harus berangkat ke Eimersun,” ucap Leonz ketus. Usai berkata begitu, gadis kecil itu sibuk membuat Lingkaran Killgins.
Emune dan Proner tertawa terbahak-bahak. Kesal karena tawa Proner yang dianggapnya berlebihan, Avena menamparnya dengan kabut es. Setelah puas saling ganggu, mereka lalu bersiap untuk memasuki Lingkaran Killgins.
Leonz belum mulai melakukan apa-apa saat Proner tiba-tiba keluar dari lingkaran dan berjalan ke dekat sebuah batu. Ia membungkuk mengambil sesuatu dan berbalik sambil berseru kepada yang lain.
“Hei, lihat! Aku menemukan sebuah cincin!” teriak Proner. Sebuah benda berkilau ada di antara ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya. Proner berjalan pelan ke arah lingkaran.
Entah dari mana datangnya, angin kencang bertiup. Daun-daun bersuara keras saat angin mengenai helai-helai mereka. Burung-burung dan hewan lainnya berlari menjauh. Suara berderak terdengar di sekeliling mereka.
“Oh, tidak! Jangan lagi!” teriak Emune saat pohon-pohon besar bergerak maju perlahan mengurung mereka berlima.
Avena dan Horeen bersiap menghadapi serangan itu. Mereka hendak mengamuk ketika tiga makhluk yang tampak seperti Horeen namun lebih tinggi dan berwajah seram seperti kulit pohon yang sangat tua muncul di depan mereka. Mereka jelas-jelas bukan manusia.
“Pencuri!”
“Kembalikan cincin Raja Drav.”
Dua peri yang berada di sebelah kiri dan kanan berbicara dengan suara berat dan sangat keras. Emune dan Proner menutup telinga masing-masing.
“Siapa Raja Drav?” bisik Emune pada Horeen.
__ADS_1
“Raja Peri Hutan. Sangat galak dan tidak menyenangkan,” jawab Horeen.
“Yang di tengah itu?’ tanya Avena.
“Ya. Jangan lihat matanya,” Horeen berpesan. Horeen berdecak kesal, bukannya menunduk, Emune dan Avena malah melotot melihat pada sang raja.
Proner melihat cincin yang ada di tangannya. Ia maju dan menyodorkannya.
“Aku tidak sengaja menemukannya,” ucap Proner.
Peri di sebelah kiri mengambil cincin dari tangan Proner lalu menyerang Proner hingga pria itu terjengkang. Leonz marah karena Proner diserang seperti itu tapi Proner menahannya. Horeen maju dan meminta maaf pada Raja Drav.
“Sangat kami sesalkan namun teman kami memang tidak sengaja menemukannya, Yang Mulia,” ucap Horeen.
Raja Drav menoleh ke arah Proner. “Bawa dia. Dia akan jadi suami putriku,” titah sang raja pada dua pengawalnya.
Leonz tidak bisa lagi menahan amarahnya karena mereka berani-beraninya mau merebut Proner darinya. Gadis cilik itu berdiri, menunjuk ke arah Raja Drav.
Semua makhluk yang ada di tempat itu menganga, melihat ke arah Leonz. Seandainya Emune atau Avena yang berucap tadi, mungkin akan masuk akal tapi Leonz masih kecil jadi terdengar lucu dan aneh di telinga mereka. Horeen mendeham, mengingatkan bahwa lawan mereka bukan peri sembarangan.
“Dia bercanda, bukan?” bisik Avena pada Emune.
“Aku rasa tidak,” jawab Emune.
Proner yang sudah berdiri tertawa geli mendengar ucapan Leonz. Ia langsung diam saat dipelototi oleh gadis cilik itu. Mantra Leonz kemarin masih bekerja jadi Proner tidak ingat apa-apa soal pernikahan dengan Leonz di masa depan.
“Bawa makhluk-makhluk kurang ajar ini,” titah sang raja akhirnya.
Dua pengawal Raja Drav bergerak maju menyambar Emune dan Proner. Horeen tidak membiarkannya. Ia lebih dahulu menarik keduanya pergi. Leonz yang terlanjur emosi menebar serbuk ajaibnya dan menggerakkan tangannya. Kedua pengawal itu berubah jadi ranting pohon dan terjatuh ke tanah.
__ADS_1
Raja Drav murka dan dalam sekejap Emune dan teman-temannya sudah terikat oleh tanaman rambat yang tebal dan keras. Semakin mereka berusaha untuk melepaskan diri, semakin kencang jalinan sulur-sulur itu mengikat mereka.
Raja Drav mengembalikan kedua pengawalnya ke bentuk peri mereka. Tiba-tiba tiga ekor macan berwarna merah terang muncul dari celah celah pohon yang mengurung kelimanya. Taring-taring tajam dan cakar-cakar yang mengerikan seakan siap mengoyak Emune dan teman-temannya.
Emune berusaha membebaskan tangan kanannya. Ia hanya perlu satu kesempatan untuk membebaskan teman-temannya. Sekarang atau mereka semua akan jadi santapan macan-macan kelaparan. Setelah tangan kanannya terbebas, Emune menarik bandul kalungnya dan mengarahkannnya pada Raja Drav.
“Aku Putri Orsgadt. Kau harus tunduk padaku!” seru Emune dengan suara berwibawa dan keras.
Raja Drav melotot tak percaya. Entah karena ucapan Emune atau karena Zamrud Edyssia yang ada di tangan Emune. Ia berjalan mendekati Emune, bibirnya menyeringai. Sebuah ranting bergerak menggores lengan Emune hingga darah menetes jatuh ke tanah.
Emune meringis. Jika Raja Drav membutuhkan pembuktian dengan darah, maka biarlah, pikirnya. Darahku bisa habis kalau semua makhluk ajaib memintanya seperti ini, batinnya menangis.
Raja Drav menundukkan kepala dengan khidmat. “Maafkan kelancangan hamba, Tuan Putri,” ucapnya pelan. Melihat rajanya membungkuk, para pengawal dan macan-macan angker turut menundukkan kepala.
“Kumaaafkan. Bebaskan kami!” perintah Emune.
Raja Drav mengangkat kepalanya lalu dalam sekejap tiga ekor macan tadi menghilang, begitu juga pohon-pohon yang mengurung mereka. Emune dan teman-temannya diturunkan dengan lembut hingga bisa berdiri di atas rumput.
“Kabar dari selatan ternyata benar. Keturunan Raja Agung Orsgadt masih hidup. Syukurlah ... syukurlah,” ucap Raja Drav. Tatapan matanya yang tadi begitu seram sekarang melembut saat melihat Emune.
Emune menghela napas lega. Ia mengusap luka di lengannya. “Aku harap kami tidak membuat kerusakan besar yang bisa mengganggu ketenteraman hutan ini. Kami harus melakukan perjalanan penting.”
“Tentu tidak. Kami siap membantu, apa pun yang Tuan Putri butuhkan,” ucap Raja Drav.
“Aku tidak ingin melibatkan kalian dalam masalah ini. Kami harus pergi sekarang,” ucap Emune.
“Izinkan hamba membantu. Tuan Puteri akan menemukan sekutu yang hebat di perbatasan Eimersun,” ucap Raja Drav.
Emune tidak tahu maksud sang raja namun ia tahu bahwa nenek moyangnya adalah raja hebat yang sangat baik hingga memiliki banyak pengikut setia seperti Elqoz. Emune mengangguk.
__ADS_1
“Kemuliaan untuk Orsgadt dan Yang Mulia Ratu,” ucap Raja Drav.
Sulur-sulur yang tadi membelit mereka sekarang mengumpulkan mereka menjadi satu di dalam lingkaran Killgins. Tanpa mantra, tanpa bantuan Zamrud Edyssia, Emune dan teman-temannya menghilang dari Hutan Ajaib.