Orsgadt

Orsgadt
Inti Elzenthum


__ADS_3

Hening. Mengapa begitu hening? Bukankah sedang ada perang di luar sana? Apakah aku melewatkan sesuatu?


Emune tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Sesuatu sedang mengambil alih tubuhnya setelah ia menghancurkan Yhourin. Penyihir jahat itu sudah jadi abu, tinggal Goenhrad yang tersisa. Emune merasa hangat, ia seperti sedang dipeluk oleh kekuatan yang tak terlihat.


Sayup-sayup ia mendengar suara Proner dan Leonz. Apa yang mereka bicarakan? Emune tidak bisa menangkap kata-kata mereka. Suara Proner lalu menghilang.


Leonz, ya, Leonz sedang berbicara padanya. Terdengar cukup keras dan jelas. Ia mengerti semua ucapannya. Goenhrad, Elqoz, dan Korta. Leonz menyuruhnya untuk meredam kekuatannya. Bagaimana caranya? Ia tidak tahu.


Elric, ia ingat pada kekasihnya. Elric pasti sedang mencemaskannya. Emune tersenyum. Ia ingin segera bertemu Elric. Ia ingin memeluk Elric. Ia harus membebaskan diri dari kekuatan ini.


Pelan-pelan Emune bisa merasakan tangannya lagi. Seluruh indranya yang tadi terasa tumpul kini mulai berfungsi. Suara peperangan d luar sana mengusik telinganya. Emune menunduk melihat cahaya biru yang ada di kakinya. Ada sesuatu di dalam cahaya itu.


Mata Emune terpaku pada cahaya kecil di ujung kakinya. Tiba-tiba matanya berkilat, lapisan berwarna merah darah menutupi pandangannya. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat peperangan di luar sana. Mayat-mayat yang bergelimpangan, darah yang menggenang dan teriakan-teriakan kematian berputar-putar di kepalanya.


Lalu ada Alfred yang terbaring tanpa nyawa. Emune tidak bisa menangis. Lapisan merah itu menghalangi air matanya. Hatinya sakit. Ia sangat marah.


***


Kemunculan cahaya merah yang yang melesat dari utara dan jatuh di tengah-tengah pasukan Korta mengejutkan semua yang ada di medan perang. Mereka yang tahu, seperti Olevander, Verunum, Elqoz dan Horeen merasakan kengerian. Peperangan akan berubah menjadi kehancuran Artamea.


Cahaya merah itu pelan-pelan naik ke angkasa. Sesosok tubuh berbaju zirah lengkap berwarna keemasan melayang dengan kedua tangan di samping tubuhnya. Matanya tertutup, rambutnya berkibar pelan.


Melihat pasukan Korta yang membeku sejak kemunculan cahaya merah tadi, para raja dan panglima memerintahkan pasukannya untuk mundur. Mereka menatap kebingungan pada sosok yang melayang jauh di depan mereka. Apakah ini ancaman baru?


Leonz muncul di tengah-tengah Verunum dan Olevander. Ia menggenggam tangan keduanya tanpa bicara. Ia akan mencoba membangkitkan kesadaran Emune sekaligus membendung kekuatan Elzenthum. Belum tentu berhasil tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

__ADS_1


Kekuatan Leonz hampir habis jadi ia perlu tambahan energi dari Olevander dan Verunum. Sayangnya tenaga keduanya juga tinggal sedikit. Avena dan Horeen tiba-tiba muncul dan berlutut di belakang Leonz sambil memegang pundak gadis cilik itu. Sebuah cahaya putih muncul di depan Leonz. Erreandrey, ibunya ikut berlutut di depannya sambil meletakkan telapak tangannya di kening Leonz.


Gelombang cahaya berwarna merah bergerak cepat menyebar ke segala penjuru. Pasukan Korta yang membeku lenyap dari medan perang, begitu juga hewan-hewan buas peliharaan Goenhrad dan Anthura yang masih terkapar tidak berdaya di utara Orsgadt.


Pekik kemenangan memenuhi udara. Pasukan dari tiga kerajaan bersukacita karena pasukan Korta telah lenyap. Kegembiraan itu langsung hilang saat gelombang itu tidak juga berhenti bahkan semakin luas jangkauannya. Mereka segera diperintahkan untuk mundur oleh para panglima pasukan masing-masing.


Formasi yang dibentuk oleh Leonz mengeluarkan cahaya berwarna-warni yang dengan cepat mengurung gelombang cahaya. Cahaya putih keluar dari puncak kepala Leonz dan melesat ke arah sosok Emune yang masih melayang.


“Emune, aku Leonz, sahabatmu.” Cahaya putih itu mengeluarkan suara di dekat telinga Emune.


Tidak ada jawaban apa pun. Mata Emune sudah semerah darah. Tubuhnya yang diselimuti cahaya merah kaku seperti sebatang pohon mati.


Cahaya putih itu berubah menjadi Leonz dalam wujud kabut putih bergerak pelan. Kedua tangan kecil Leonz menyentuh pipi Emune yang sebagian tertutup helm perangnya.


Emune merasa ada sesuatu yang sejuk menyentuhnya. Ada suara Leonz lalu satu per satu wajah orang-orang yang disayanginya muncul. Ayah, ibu dan kakeknya tersenyum padanya. Berikutnya muncul semua yang ia kenal sejak ia kecil dan mereka yang melakukan perjalanan bersamanya.


Senyum manis Elricnya yang tampan dan mencintainya membuatnya merasa hangat. Ia juga ingat pada Fiona, Greg, Arrand dan Kesatria Hemworth yang memeluknya penuh kasih saat ia tiba di Eimersun.


“Aku tidak pernah sendiri,” ucap Emune dengan mulutnya sendiri.


Begitu kalimat itu terucap, gelombang cahaya berwarna merah yang tadi sangat liar berubah menjadi biru lalu menembus pelindung yang dibuat dengan formasi Leonz tadi. Gelombang itu terus mengalir ke seluruh penjuru Artamea, menimbulkan gempa bear dan kecil, membelah tanah dan mengalirkan air di jurang yang dibuat oleh Horeen beberapa waktu lalu. Sungai api yang dulu harus dilalui Emune dan kawan-kawannya berubah menjadi padang rumput luas dan Lembah Kematian tertutup oleh es abadi.


Keheningan pun kembali meraja.


Leonz terjatuh ke dalam pelukan ibunya. Erreandrey memeluk dan menciumi putrinya yang berwajah pucat dan lemas. Tidak hanya Leonz, Olevander, Verunum, Avena dan Horeen jatuh terduduk. Elzentum memang bukan lawan mereka. Entah apa jadinya jika Erreandrey tidak datang menolong.

__ADS_1


Horeen memeluk Avena. Ia hampir gila memikirkan bahwa Avena akan celaka karena Elzenthum. Ia sendiri tidak masalah jika terluka dan mati tapi ia tidak rela jika itu terjadi pada kekasihnya. Avena tersenyum dalam pelukan Horeen.


Tubuh Emune yang masih melayang setelah gelombang cahaya biru menghilang kini pelan-pelan turun dan jatuh ke tanah. Proner dan Elric memacu kuda masing-masing dengan cepat. Elric memangku Emune dan memeriksa nadinya. Proner berlutut di dekat Emune.


“Elric, bantu aku berdiri,” pinta Emune.


Elric enggan melakukannya tapi merasakan dadanya yang ditekan oleh telapak tangan Emune, ia segera membantunya berdiri.


“Kau harus istirahat,” ucap Elric.


“Ini belum selesai. Goenhrad,” ucap Emune.


“Hamba yang akan menghukumnya,” ucap Proner. Ia tidak mungkin membiarkan Emune melawan Goenhrad sekarang.


“Kalian lupa? Aku keturunan terakhir Raja Agung Orsgadt. Tenagaku masih cukup untuk menghukum pria laknat itu,” ucap Emune.


Elric dan Proner menghela nafas berat. Emune tersenyum. Ia melihat ke utara, ke arah naga biru yang bertengger di menara utama istana Orsgadt. “Elqoz, bawa aku ke tempat pembunuh itu,” ucap Emune.


Naga biru itu datang dan menyapa Emune.


“Tentu, Yang Mulia,” jawab Elqoz dengan suara batinnya. Ia rasanya tidak tega mengagetkan orang-orang yang ada di medan perang yang tidak tahu ia bisa berbicara bahasa manusia. Lain kali saja, ia membatin geli.


Proner dan Elric tidak tinggal diam. Emune duduk paling depan dan dijaga oleh Elric. Emune meletakkan tangannya di atas lengan Elric yang memeluk pinggangnya. Ia senang masih bisa bertemu dan merasakan keberadaan kekasihnya itu. Emune menoleh sebentar ke arah Proner yang duduk gugup di belakang Elric. Senyum geli tersungging di bibir Emune karena ia ingat betul betapa Proner benci terbang.


Elqoz mengangkasa dan terbang ke menara timur laut istana Orsgadt.

__ADS_1


__ADS_2