Orsgadt

Orsgadt
Duyung-Duyung Kigurst


__ADS_3

Perjalanan menaiki kepiting batu raksasa benar-benar tenang dan terasa lama. Tanjung Penantian yang Emune dan teman-temannya tuju terletak jauh di selatan dunia ajaib. Mereka berlima tertidur setelah bercanda dan saling mengganggu seharian. Horeen yang menghilang setelah kejadian memalukan tadi belum juga kembali.


“Kau merindukan ibumu, Leonz?” tanya Emune yang berbaring di samping Leonz.


“Ya. Ibu pasti sedang bertemu Ayah, sekarang. Aku merindukan mereka.”


Emune tergoda untuk bertanya siapa ayah Leonz tapi ia menahannya.


“Siapa sebenarnya ayahmu?” tanya Avena, ikut masuk dalam percakapan Emune dan Leonz.


Emune melotot. Harusnya Avena tidak menanyakan itu.


“Ayahku adalah seorang manusia. Ia sangat tampan dan baik hati. Aku akan menikah dengan pria yang seperti Ayah,” ucap Leonz bersemangat.


“Kau dengar itu, Proner? Tidak ada harapan untukmu,” ucap Avena mengejek Proner.


Proner melotot. Ia malas berdebat dan hanya melempar pandangan sebal pada Avena. Apa maksud Avena berbicara seperti itu di depan Leonz? Leonz kan masih kecil.


“Kau sendiri bagaimana? Horeen tadi sudah menyatakan cinta, bukan?” Proner bertanya dengan nada mencemooh.


“A-apa yang kau bicarakan? Tidak ada yang seperti itu,” jawab Avena ketus.


“Maksudmu? Kau tidak suka pada Horeen?” tanya Proner.


“Ya, tidak juga. Bukankah kita semua kawan seperjalanan?” tanya Avena sambil tertawa yang dibuat-buat.


“Begitu? Kupikir kalian serasi. Sayang sekali,” ucap Emune. Ia kembali berbincang dengan Leonz.


Avena membalik badannya lalu menendang pantat Proner yang tidur bersandar pada batu, tidak jauh darinya. Proner mendelik dan melemparinya dengan gumpalan tanah kering.


***


Setelah menunggu beberapa lama, kuda-kuda tunggangan Elric dan yang lain tiba juga di tempat mereka berpisah dengan Emune dan kelompok kecilnya. Gerbang kerajaan Eimersun bisa mereka capai sore ini karena kuda-kuda mereka sudah segar dan siap berlari jauh.

__ADS_1


Draxe meringkik nyaring, senang bertemu Elric. Elric berbisik pada kuda itu bahwa Emune sudah pergi tapi pasti akan kembali. Kuda itu meringkik pelan seperti mengerti apa yang Eric katakan.


“Kita berangkat sekarang,” ucap Alfred.


Eric mengangguk. Ia sekali lagi melihat ke titik tempat Emune menghilang tadi pagi. Ia berharap gadis kesayangannya itu tidak mengalami hal buruk dalam perjalanan barunya.


Dipimpin oleh Alfred, rombongan itu melesat ke arah Eimersun. Alfred menyeringai, ini pertama kalinya mereka cepat kembali ke Eimersun. Ia sudah membayangkan ekspresi kedua orang tua Elric yang pasti terkejut melihat putranya buru-buru pulang.


“Aku rasa hujan akan turun lebih cepat di Eimersun,” gumam Alfred sambil memacu kudanya lebih kencang.


***


Goenhrad menatap langit dari jendela Menara tertinggi istananya. Es yang menutupi istana sudah mencair dan kembali menjadi air danau. Sejak menaklukkan Orsgadt, ia tidak punya kesenangan lain selain mengacaukan Artamea dan tentu saja, meniduri Yhourin. Ia geram karena ada peri-peri yang mengusik ketenangannya. Bila ia saja bisa marah seperti ini, apalagi Yhourin.


Yhourin terus berkutat di ruang bawah tanah sejak kemarin malam. Ia tidak sekalipun naik ke kamar mereka. Goenhrad berdecak kesal. Matanya mulai perih dan kepalanya nyeri. Ia harus segera ke kamar dan mengambil cahaya kehidupan wanita-wanita bodoh yang sekarang pasti sudah menunggunya.


Goenhrad berjalan cepat menuruni tangga menara. Ia tidak peduli pada siapa pun yang ditemuinya. Langkahnya terhenti sebentar di depan kamarnya. Ia mendengar gelak tawa genit wanita-wanita yang dibawakan oleh suruhannya. Seringai jahat muncul di wajahnya. Ia masuk lalu menutup pintu rapat-rapat.


***


Matahari segera terbenam, mereka berlari ke ujung tanjung, tempat yang dikatakan sebagai titik berkumpulnya para duyung. Semburat indah matahari terbenam perlahan digantikan oleh kegelapan. Mereka berjaga-jaga, menunggu kehadiran para duyung.


Bisikan-bisikan merdu mulai terdengar. Proner dan Horeen sudah pasti langsung tegak karena mendengar suara wanita yang bernada merayu. Tepukan di air bertambah keras, sesuatu telah mendatangi mereka.


Leonz membuat cahaya kecil di atas tangannya lalu melambungkannya ke udara. Cahayanya hanya samar-samar. Para duyung akan kabur jika melihat cahaya terang.


Leonz tersenyum, didepannya sudah ada duyung cantik berambut perak panjang dengan sisik berwarna biru muda. Empat duyung datang mendekat dan menyebar, berenang di depan Emune, Proner, Horeen dan Avena.


“Aku Leonz, keturunan peri Hertena. Beri aku lima mutiara darah,” ucap Leonz dengan berwibawa meskipun suaranya tetap saja kekanak-kanakan.


“Hayleonz Oruzyne, putri dari Erreandrey, kau meminta sesuatu yang sangat berharga. Kami tidak bisa memberikannya padamu. Sulit untuk melepasnya.” Duyung itu berbalik, menyelam pergi lalu muncul kembali ke permukaan. Setiap kali tubuhnya muncul di atas air laut, sisiknya berkilau.


“Sulit tapi tidak berarti mustahil, bukan?” Leonz bersedekap seolah menantang duyung itu.

__ADS_1


Duyung itu meluncur cepat mendekati Leonz. Deru air mendahului di depannya lalu naik membentuk ombak tinggi dan hendak menggulung Leonz. Gadis kecil itu tidak bergeming sedikitpun. Ia hanya menajamkan kedua alisnya lalu ombak itu kembali ke laut.


Duyung itu terkejut. Kekuatan peri Hertena tidak boleh dianggap enteng meskipun masih sekecil itu.


“Buat kami senang untuk ditukar dengan mutiara-mutiara yang kau inginkan.” Duyung itu menunjuk ke arah Leonz.


“Baiklah.” Leonz mengumpulkan teman-temannya dan berbisik. “Teman-teman, pilih lawan kalian dan buat mereka senang. Apa pun yang terjadi, jangan turun ke air.”


Semua mengangguk lalu memilih duyung yang akan mereka lawan. Sebenarnya terasa agak aneh karena awalnya mereka pikir harus bertarung mati-matian dengan para duyung tapi kini malah harus menghibur mereka.


“Aku rasa duyung-duyung ini kurang piknik,” bisik Avena.


Emune tersenyum geli.


Proner tidak tahu harus apa. Ia sibuk memikirkan apa yang seorang duyung inginkan. Setelah kepalanya terasa buntu, ia tidak mau repot berpikir lagi. Pedang cahaya sekarang sudah ada di genggamannya. Ia menunjukkan gerakan menyerang, bertahan sambil berlari dan melompat-lompat. Aksinya diakhiri dengan sebuah salto di udara dan mendarat sempurna di atas pasir.


Duyung di depan Proner bertepuk tangan gembira. Ia berenang dan menyelam lalu melompat keluar dari air. Tangannya mengulurkan sebuah benda bulat berwarna merah. Itu adalah mutiara darah.


Ketika Proner sudah mengambilnya, duyung itu menahan tangan Proner. Dengan gerakan menggoda ia setengah naik ke bebatuan, memamerkan badan atasnya yang seksi tanpa penutup apa pun kepada Proner. Proner batuk kecil. Ia menarik tangannya pelan lalu tersenyum pada duyung itu.


“Terima kasih. Mungkin lain kali,” ucap Proner sambil berkedip. Ia melambai saat duyung itu pergi.


“Genit,” ucap Avena, Emune dan Leonz.


“Apa? Daripada aku membuatnya marah dan mengamuk, itu lebih baik.” Proner melengos, sibuk membela diri.


Leonz menunjukkan sihir air pada duyung di depannya. Duyung itu ternganga melihat air di depannya menunjukkan kota-kota di Artamea, begitu juga pegunungan dan lembahnya. Duyung yang tidak pernah meninggalkan lautan tentu saja baru kali ini melihat hal seperti itu. Ia bertepuk tangan gembira dan memberikan sebuah mutiara pada Leonz.


Avena dan Emune masing-masing menunjukkan keahlian yang berbeda. Avena memamerkan keahliannya membuat patung duyung dari es lalu menyerahkan sebuah tiara cantik dari es kepada duyung lawannya. Ia dengan mudahnya mendapatkan mutiara darah.


Emune menyanyikan kisah cinta peri cahaya yang sering didengarnya di Ulrych dulu. Suaranya yang indah berhasil memukau sang duyung. Tugas Emune pun usai.


Horeen entah kapan menghilang dari pandangan mereka. Sepertinya peri itu malu jadi ia memilih menjauh dari teman-temannya. Proner menyeringai karena suara dari balik batu besar tempat Horeen dan duyung itu terdengar seperti dua orang yang sedang bercumbu. Mereka menunggu agak lama baru peri itu muncul dan menyerahkan mutiara darah pada Leonz.

__ADS_1


Leonz tersenyum senang karena mutiara darah sudah lengkap. Mereka segera berjalan meninggalkan Tanjung Penantian sebelum air laut menutupi tanjung itu. Ia menoleh pada Emune.


“Elqoz, tunggu kami,” ucap Emune dan Leonz serempak.


__ADS_2