
Kemunculan naga baru yang melawan Anthura menaikkan lagi semangat juang pasukan dari tiga kerajaan. Verunum memberi mantra pada senjata-senjata yang mereka gunakan agar bisa menghambat gerakan pasukan Korta. Penyihir itu sangat tahu bahwa Korta tidak akan bisa dihentikan tanpa segel dari Raja Peri Dougraff.
Olevander sekarang mengerahkan kekuatannya untuk menghidupkan pepohonan dan batu-batu besar untuk menggempur pasukan Korta. Para pejuang Gnaern yang diberi cap “pemberontak” oleh Goenhrad kini mulai kehabisan tenaga. Mereka satu persatu mundur dan bergiliran mengatasi pasukan Korta.
“Ini gila. Kita akan kehabisan tenaga jika melakukan ini terus,” teriak Sean pada Aiden.
“Sangat gila! Aku rasa jika kita selamat, kita beralih jadi penyhir saja.” Aiden meringis.
“Paling-paling kau akan sibuk membuat ramuan cinta,” olok Sean.
“Kau pikir aku kurang tampan hingga harus menggunakan ramuan cinta?” Sean menatap tajam Aiden.
Sungguh miris memang. Di usia mereka yang terbilang muda, mereka harus ikut dalam peperangan mengerikan ini. Canda mereka hanyalah pengalihan dari kengerian yang ada di hadapan mereka saat ini. Jika bisa, keduanya lebih suka bertualang keliling Artamea saja hari ini.
Melihat para pejuang Gnaern yang mulai kewalahan, Raja Duncan memerintahkan pasukannya untuk bersiap. Pembawa berita sambung menyambung meneruskan kabar sampai ke tempat Raja Zyruone dan Raja Thenosyes. Sekali lagi pasukan tiga kerajaan yang sudah banyak berkurang harus siap menghadapi Korta.
Sementara itu di utara Orsgadt, ratusan prajurit Korta yang tadi dibawa terbang jauh oleh burung-burung elang raksasa bergerak mendekati istana Orsgadt. Hanya menunggu waktu hingga mereka sampai di medan pertempuran. Suara tulang-tulang beradu dan pedang-pedang yang diseret sangat mengerikan. Tanpa melakukan apa pun, pasukan Korta adalah ancaman bagi semua makhluk hidup.
Lebih jauh lagi di utara, dua ekor naga sedang bertarung. Elqoz dan Anthura saling serang dengan semburan api, taring, tanduk dan cakar-cakar mereka. Mereka saling mencengkeram dan terbang selagi ekor-ekor berduri tajam mengincar tubuh lawan. Raungan keras dari keduanya membahana, menambah kengerian di Artamea.
Bagian utara Orsgadt adalah kediaman Anthura. Naga itu tidak pernah meninggalkan Orsgadt sejak ia dibangkitkan oleh Yhourin dulu. Tersamar seperti sebuah gunung, Anthura adalah makhluk gaib yang punya kekuatan penghancur. Kebangkitannya saat ini sudah pasti menjadi pintu kebebasan setelah belasan tahun teridur di bawah sihir Yhourin.
Elqoz bergerak pelan mendekati lawannya. Saat pemberontakan Orsgadt dulu, segel Raja Peri Dougraff telah menghalanginya untuk menghentikan kekejaman Anthura tapi sekarang, sang raja peri tidak lagi ikut campur jadi Elqoz bisa menuntaskan urusan mereka yang pernah tertunda.
Anthura semakin waspada. Meskipun keduanya sama-sama berwujud naga, Anthura dan Elqoz berbeda dalam garis keturunannya. Anthura adalah naga perang yang menjadi tunggangan para peri sedangkan Elqoz adalah naga Virtone, naga penjaga Artamea yang memiliki jiwa dan kebijakan. Secara gamblang, ia adalah Olevandernya para naga.
Anthura memulai serangannya. Sayapnya terkembang, cakar-cakarnya mengincar dada Elqoz. Elqoz bergerak lebih cepat. Ia melesat ke atas lalu mencengkeram kedua sayap Anthura, merobek salah satunya dengan ekor berdurinya. Raungan Anthura terdengar ke segala penjuru. Elqoz tidak berhenti sampai di sana. Ia terus melesat ke angkasa hingga hilang di balik langit merah abu yang sejak tadi menutupi wilayah Artamea.
Cukup lama kedua naga itu menghilang, sesuatu tiba-tiba meluncur turun dengan cepat. Anthura tidak bisa melakukan apa pun karena sayapnya tidak berguna dan luka-lukanya sangat parah. Naga itu menabrak tanah dengan raungan dan suara berdebam keras. Tanah bergerak dan pepohonan melesat ke semua arah karena dahsyatnya tubrukan itu. Naga itu belum mati tapi tidak bisa bergerak sama sekali.
Elqoz mendarat dengan anggun di atas tanah. Ia berjalan pelan di depan Anthura yang penuh luka dan tidak sadarkan diri. Elqoz menunjukkan seringai kemenangannya.
__ADS_1
“Langit bukan lagi milikmu,” ucap Elqoz dingin.
Kembali ke medan pertempuran, para pejuang Gnaern sudah setengahnya mundur. Pasukan Arsyna maju dengan semangat tempur tinggi. Mantra yang diberikan Verunum pada senjata-senjata mereka terbukti ampuh. Jika semula bagian tubuh prajurit Korta akan bersatu kembali jika terpencar karena serangan, kini kerangka-kerangka itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyatukan diri.
“Ini tidak cukup,” ucap Raja Zyruone. Ibarat sebuah tubuh, mereka sekarang sedang lumpuh namun memaksakan diri untuk bergerak. Tinggal menunggu waktu untuk jatuh dan mati.
“Raja peri sungguh-sungguh menarik diri. Ini tidak benar,” ucap Hemworth.
Raja Arsyna mengusap wajah panglima Karneg yang telah berpulang dalam perang dengan wajah sedih. Ia kehilangan satu dari tiga orang panglima yang menyertainya ke medan perang ini. Dua panglima lainnya sedang berjaga dengan pasukan masing-masing.
Di kubu pasukan Imperia, Raja Thenosyes baru saja mendapat laporan mengenai kekuatan pasukannya saat ini. Bila dibandingkan dengan Eimersun yang sekarang tinggal sepertiga dari jumlah awalnya, pasukannya masih lebih banyak. Raja Thenosyes menoleh pada Arthen yang geram dan mengepalkan tangannya. Ia juga sama geramnya.
Olevander tersenyum ketika melihat Elqoz muncul seorang diri dari langit utara. Naga itu dengan anggun hinggap di menara utama Orsgadt. Satu urusan sudah selesai, Olevander membatin.
Pasukan Korta sekarang sudah terkumpul di medan perang. Dengan ganas mereka mendesak maju, menyerang semua prajurit musuh tanpa ampun. Sihir Verunum mulai lemah, begitu juga Olevander. Avena sudah kembali ke medan perang namun kekuatannya dan kekuatan Horeen hanya bisa menghalau pasukan Korta tapi tidak bisa menghancurkan mereka.
Dalam kekacauan dan ketakutan yang ditebar oleh pasukan Korta yang terus mendesak maju, sebuah cahaya merah melesat dari utara dan jatuh tepat di tengah-tengah pasukan Korta. Angin berhenti bertiup dan langit yang semula masih punya semburat abu sekarang jadi merah sempurna. Elqoz yang bertengger di menara utama Orsgadt menggerak-gerakkan kepalanya. Naga berwarna biru itu turun dari tempatnya bertengger dan bergerak ke bagian selatan atap istana Orsgadt.
Elzenthum.
***
Sebelum kemunculan Elzenthum, di menara Orsgadt, Leonz maju dua langkah dari tempatnya berdiri. Ia lega karena Proner sudah ada di medan perang. Jika pria itu tahu kebenaran bahwa saat ini Leonz harus menaklukkan Emune yang memiliki energi pemusnah masal, ia yakin Proner akan memaksa untuk tinggal.
Leonz tidak akan pernah membiarkan Proner menjadi korban dari inti Elzenthum yang sedang memancar ganas dari tubuh Emune. Melihat Yhourin yang jadi abu saja sudah mengerikan menurutnya.
Leonz menggunakan suara batinnya. Cuma itu yang bisa didengarkan oleh Emune saat ini. Sekarang atau tidak sama sekali, pikir Leonz. “Emune, aku ada di sini untuk menemanimu. Kau ingat siapa aku?”
Lama tidak ada jawaban dari Emune. Leonz maju lagi selangkah. Inti Elzenthum bisa menghancurkan Artamea kapan saja jadi tidak ada kata aman bagi semua makhluk, kecuali Raja Peri Dougraff dan para peri yang ada di istananya.
“Leonz,” jawab Emune.
__ADS_1
Leonz mengelus dadanya. Ia lega karena Emune mengenalinya. Ia satu langkah lebih maju jika Emune bisa mengingatnya. “Redam kekuatanmu, Emune. Yhourin sudah kalah.”
“Goenhrad masih hidup.”
“Kita akan mengalahkannya setelah ini. Semua panglima dan pasukannya sudah kalah. Redam energimu, Emune,” ucap Leonz.
“Anthura dan Korta ....”
“Elqoz akan mengurus Anthura. Korta akan kita urus nanti.”
“Elqoz?” tanya Emune.
“Ya. Dia sudah siap,” jawab Leonz.
“Tapi ... jantungnya ....” Nada ragu samar terdengar dalam suara Emune yang tidak sepenuhnya sadar.
“Aku baru tahu dia keturunan Virtone. Setelah meminta jantungnya, kau memberinya gelang kesayanganmu, bukan? Elqoz bisa hidup kembali jika ia menyerahkan jantungnya dengan sukarela dan meneima sesuatu tanpa diminta. Jantung barunya sudah tumbuh, Emune,” ucap Leonz.
“Syukurlah. Korta bagaimana?”
Leonz menghembuskan nafas pelan-pelan. Ia sendiri sulit mengatakan apa pun saat ini. Korta adalah pasukan abadi yang hanya bisa disegel oleh Raja Peri Dougraff dan Emune yang memiliki inti Elzenthum.
Sang raja peri tidak juga bergerak hingga saat ini berarti Emune adalah harapan terakhir. Masalahnya Emune baru saja menemukan kekuatannya dan ia belum tahu sedahsyat apa Elzenthum. Elzenthum bisa meledak kapan saja karena Emune tidak bisa mengontrolnya.
“Kita akan mencari jalan untuk menyegelnya. Kembalilah, Emune,” pinta Leonz.
Cahaya biru yang melindungi Emune mulai bekurang. Pelan tapi pasti, cahaya itu turun dari puncak kepalanya. Leonz tersenyum gembira. Sedikit lagi maka Elzenthum akan terkunci penuh.
“Emune!” jerit Leonz tiba-tiba.
Cahaya biru yang memancar dari tubuh Emune seharusnya sudah menghilang tapi hanya sebentar, cahaya biru itu tiba-tiba berubah menjadi merah menyala. Energinya sangat besar hingga Leonz terdorong dan menabrak tembok. Leonz meringis kesakitan. Cahaya pelindungnya tidak berguna jika berhadapan dengan energi Elzenthum.
__ADS_1
Leonz tidak bisa apa-apa saat Emune melesat hilang dari hadapan Leonz. Ia menepuk dadanya dengan segenggam serbuk ajaib. Leonz menghilang.