
Setelah peperangan besar yang memakan banyak korban, cahaya kehidupan tampak menguat di kerajaan Orsgadt. Mungkin karena begitu lama dikuasai oleh sihir Yhourin, tanah, air dan udara menjadi tidak bersih. Sekarang, semua kembali ke asalnya, murni dan menyegarkan. Penobatan sang ratu berjalan lancar. Para bangsawan yang ikut ditawan di gua bawah tanah tak henti mengucap syukur atas kembalinya Orsgadt ke tangan keturunan Raja Agung Orsgadt.
Aula kerajaan Orsgadt masih ramai oleh para tamu yang menikmati jamuan dan berbincang-bincang. Kedua penasehat ratu, Arthen dan Hemworth, sedang membahas pemulihan Orsgadt. Mereka selama ini hanya mendengar kabar dari para intel namun sungguh pilu rasanya saat menyaksikan sendiri keterpurukan rakyat Orsgadt.
“Apa aku harus mengirim Proner untuk menangkap pangeran yang sedang mencuik ratu kita?” tanya Arthen geli. Dengan ekor matanya ia bisa menangkap gerakan Elric yang membawa Emune keluar dari aula.
“Apa menurutmu kita bisa menculik Proner dari Leonz?” Hemworth balik bertanya lalu terkekeh.
“Hahaha, aku rasa tidak. Biarlah, mereka juga perlu waktu untuk berdua,” ucap Arthen.
Keduanya tersenyum geli. Setelah beberapa gurauan ringan, keduanya kembali berbicara serius. Tidak ada lagi waktu bersantai usai penobatan sang ratu. Arthen memerintahkan seorang kurir untuk pergi ke Imperia. Ada satu orang lagi yang harus kembali ke Orsgadt. Kehadirannya sangat penting untuk membangun Orsgadt yang baru.
Elric menggenggam tangan Emune dengan mantap. Jubah kerajaan dan mahkota sudah dilepaskan dengan bantuan seorang pelayan senior. Keduanya kini berjalan, setengah berlari, ke arah gazebo di utara istana. Mereka hanya ingin berduaan walau sebentar.
Langkah Elric yang penuh semangat terhenti tiba-tiba. Ia menarik Emune agar mengikutinya bersembunyi di balik tanaman pembatas yang rimbun. Elric meletakkan jari telunjukknya di bibir. Emune mengangguk tanda mengerti.
Keduanya mengintip dari sela-sela tanaman pembatas. Tampak seorang gadis cantik seusia Emune sedang duduk menghadap ke utara. Putri Ellaine, putri Raja Thenosyes sedang mengagumi keindahan taman utara Orsgadt. Meskipun sebagian hancur karena peperangan tapi ia tak henti tersenyum menatapnya.
Di tengah keseruan Elric dan Emune yang sedang menyelidik sang putri, seseorang berdiri di dekat mereka.
“Apa yang dilakukan seorang ratu dan calon suaminya di sini? Sungguh mencurigakan,” ucap orang itu.
“Sean!” seru Elric dan Emune tertahan. Mereka refleks menarik Sean agar ikut menunduk.
“Kalian sedang mengintip siapa?”
“Mengintip? Tidak sopan. Kami sedang mengintai,” ucap Elric ketus.
“Putri Ellaine sepertinya sedang menunggu seseorang,” ucap Emune. Ia kesal sekali pada gaunnya yang terasa mengganggu geraknya.
“Dia sedang menungguku,” jawab Sean santai.
“Kau?” tanya Elric dan Emune serempak.
“Sebentar, ya. Kalian akan tahu,” ucap Sean.
Sean berdiri lalu berlari ke arah gazebo. Sebelum sampai, ia sempatkan memetik setangkai mawar merah. Elric dan Emune tertawa tanpa suara saat jari-jari Sean tertusuk durinya. Pemuda itu melihat jari-jarinya sebentar lalu melanjutkan berjalan ke gazebo.
Dari tempat mereka sekarang, Elric dan Emune bisa melihat Sean dan Putri Ellaine sedang berbincang akrab meski tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Sang putri tersenyum bahagia mendapat bunga mawar dari Sean. Belum hilang senyum dari bibir Putri Ellaine, Sean sudah mendekat dan menciumnya. Sang putri tidak menolak, hanya memejamkan mata saat Sean melanjutkan ciumannya. Saat itulah Sean mengacungkan jempolnya ke arah Elric dan Emune yang masih bersembunyi.
__ADS_1
“I-itu!” seru Emune tertahan. Wajahnya sudah merah saja.
“Sean gila!” umpat Elric. Ia cepat-cepat menarik Emune menjauh dari gazebo. Konyol sekali, omelnya dalam hati.
Mereka sampai di taman barat. Elric dan Emune tertawa akhirnya.
“Ini seperti saat perayaan Ulrych, ya?” tanya Elric.
“Iya. Ah, ada-ada saja.”
“Herannya, kau masih saja memerah saat melihat orang berciuman,” goda Elric.
“A-aku tidak mau melihatnya,” ucap Emune sambil cemberut.
“Hahaha, aku hanya menggodamu. Kau lebih suka dicium, bukan?”
“Hmmm, tidak juga,” ucap Emune sambil tersenyum jahil. Elric sampai membawanya keluar dari aula, sudah pasti mau mencium dan memeluknya.
“Aku tidak terima. Kau pikir mudah melihatmu berkali-kali jauh dari jangkauan tanganku? Aku seperti gila rasanya,” ucap Elric. Rambutnya yang keemasan dan sudah dipotong rapi bergerak pelan tertiup angin.
“Tak mudah juga bagiku. Kau bisa bayangkan terjepit di antara dua pasangan yang jatuh cinta? Aku merindukanmu,” ucap Emune pelan.
Elric menunduk dan menyentuh hidung Emune dengan hidungnya. Sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir Emune, gadis itu membelalak dan memekik. Elric langsung melindunginya karena mengira ada bahaya.
Tepat di depan sana, di atas rumput hijau, ada laki-laki dan perempuan yang sedang berguling-guling saling himpit. Melihat wajah si perempuan yang meringis kesakitan, Elric langsung berlari menghampiri mereka. Emune mengikuti di belakang.
“Apa yang kalian lakukan?” Elric marah sekali.
“Elric! Aku sedang menghajar pemuda pongah ini,” jawab Mirena yang sedang ditindih oleh Aiden.
“Oh, ya? Kau jauh lebih pongah dariku,” ucap Aiden kesal.
“Bangun dan jelaskan!” seru Elric dengan nada dingin. Kakak dan sepupunya lebih terlihat seperti pasangan yang sedang berbuat mesum ketimbang dua orang yang sedang bertengkar.
Aiden berdiri dan mengulurkan tangan kepada Mirena. Mirena menepisnya dan meninju bahu pemuda itu dengan keras. Aiden kesakitan dan melotot.
“Gadis barbar!” seru Aiden marah. Sekejap saja ia sudah mengunci lengan dan pinggang Mirena.
Elric menepuk keningnya. Marah dan kesal. Rencananya berkencan dengan Emune gagal lagi. Emune mengusap punggung Elric agar ia bisa sabar.
__ADS_1
“Buruk sekali nasib Eimersun punya calon ratu dan kesatria seperti kalian,” keluhnya.
“Lepaskan!” seru Mirena pada Aiden. Ia menginjak kaki pemuda itu lalu mengayunkan tinjunya tanpa ampun.
Aiden yang tidak menyangka akan dapat serangan brutal dari Mirena terhuyung dan jatuh di atas rumput. Ia mengusap bibirnya yang berdarah.
“Aiden, maaf,” ucap Mirena. Terkejut melihat ulahnya sendiri.
“Kemari! Rawat aku!” perintah Aiden pada Mirena.
Elric melotot mendengar ucapan Aiden. Ia ingin menendang sepupunya itu tapi urung karena kakaknya sudah berjalan ke arah Aiden.
Mirena mendekat dan mengeluarkan sapu tangannya. Ia berlutut di dekat Aiden yang masih meraba-raba rahangnya yang sakit. Seharusnya aku tidak meninjunya sekeras itu, Mirena membatin.
“Bukan begitu caranya,” protes Aiden saat Mirena mengulurkan tangannya yang memegang saputangan. Ia menarik Mirena lalu langsung mencium bibir gadis yang kelak akan menjadi ratu Eimersun. Mirena membelalak kaget tapi kedua lengan Aiden sudah menguncinya hingga tidak bisa bergerak. Aiden meringis karena berciuman membuat lukanya jadi semakin sakit tapi ia senang sekali dan sempat-sempatnya berkedip ke arah Elric dan Emune.
“Aaarggghh! Aku bisa gila karena kalian!” seru Elric. “Jangan berbuat mesum! Aiden, jaga kakakku!” serunya lagi sebelum menarik Emune ke tempat lain.
Emune yang tahu betapa frustrasinya Elric, mengajaknya ke menara barat daya Orsgadt. Penjaga menara membungkuk hormat dan memberi jalan kepada sang ratu dan calon suaminya. Sesampainya di kamar teratas, Elric dan Emune malah terpesona pada pemandangan di luar sana.
“Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Emune akhirnya.
“Abaikan mereka. Mereka hanya terlalu gengsi untuk mengakui perasaan masing-masing.”
“Oh, ya?”
“Aku sudah lama tahu tapi tidak mau mencampurinya. Emune, ini gila.”
“Tidak gila. Kau hanya sedang lelah.”
“Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk menikahimu?”
“Beberapa purnama lagi.”
“Beberapa purnama saja aku sudah sibuk berkeluh kesah, apalagi Proner yang harus menunggu dua tahun lagi,” ucap Elric sambil meringis.
“Itu pun kalau ia tidak membuat Leonz kesal dan mengubahnya jadi kodok atau semut,” gurau Emune.
Keduanya tertawa lepas. Elric tak tahan lagi dan segera mencium bibir indah kekasihnya. Ciuman yang lembut, dalam dan lama. Kebahagiaan kecil mereka yang tidak pernah puas ia nikmati bersama Emune. Senyum Emune diam lama di wajahnya saat mereka saling bertatapan.
__ADS_1
Emune tidak menginginkan apa pun selain Elricnya begitu juga Elric yang hanya menginginkan Emune. Mereka lalu berpelukan lama sambil melihat ke arah selatan Orsgadt. Langit yang biru, awan yang putih dan warna hijau dari hutan dan padang rumput membuat semuanya semakin indah.