Orsgadt

Orsgadt
Petaka Hitam


__ADS_3

Fiona menaiki Draxe sementara Greg menyambar seekor kuda berpelana yang lewat. Emune ingin membantu tapi Elric sudah menariknya masuk ke bangunan terdekat, sebuah toko rempah-rempah.


Mata Elric teliti memeriksa semua ruangan dengan cepat sambil menutup semua pintu dan jendela. Elric membawa Emune ke lantai dua. Setelah semua pintu dan jendela tertutup, ia memilih satu kamar di lantai bawah dan mendudukkan Emune.


Elric berlutut di depannya. Ia menyentuh wajah Emune yang pucat. "Tidak apa-apa. Mereka akan kembali. Jangan khawatir," Elric mencoba menenangkan Emune yang syok.


"Aku tidak membantu ...," desisnya kesal pada diri sendiri.


"Prajurit terlatih pun belum tentu bisa mengatasinya. Jangan salahkan dirimu."


Elric duduk di samping Emune. Hari yang benar-benar aneh, pikirnya. Horeen lalu jekzer. Mereka seharusnya tidak ada di tanah manusia.


Suara pintu yang digedor membuyarkan pikiran Elric. Ia memeriksa dari celah pintu. Begitu pintu dibukakan, Fiona diikuti Aiden, Sean, Greg dan Alfred menyeruak masuk. Alfred cepat-cepat menutup pintu.


"Kuda-kuda aman," ucap Aiden. Ia menepuk-nepuk pipinya. Sepertinya mabuknya hilang karena serangan jekzer.


"Greg, apa yang kau bawa?" tanya Emune.


"Oh, aku menemukannya di pinggir jalan," ucap Greg. Ia membuka lilitan kain pada benda yang ia bawa sejak tadi, "Lucu ya?"


Fiona dan Emune mendekat. Bayi perempuan itu berkulit putih, pipi tembam dan montok. Umurnya paling tidak lima bulan, menurut Fiona. Fiona mengambil bayi itu dan menggendongnya. Bayi itu sangat lucu.


"Bagaimana bisa ia tidur sepulas ini di tengah kekacauan?" tanya Sean.


"Karena dia itu bayi," jawab Aiden.


Emune menyikut Greg. "Fiona akan jadi ibu yang hebat. Kau pasti sedang membayangkannya," goda Emune.


Greg menjewer telinga Emune. Emune cuma meringis.


"Apa yang akan kita lakukan padanya?" tanya Sean.


"Tunggu jekzer pergi, kita cari orang tuanya atau serahkan ke otoritas kota," jawab Alfred.


Emune mencoba menggendong bayi itu. Elric ingin mencubit pipi si bayi karena gemas.

__ADS_1


"Ooh ... sebaiknya kalian segera menikah," ucap Sean dengan mata berkedip-kedip menggoda Elric dan Emune. Aiden tertawa geli.


"Ibunya pasti panik luar biasa," ucap Fiona.


"Di antara sebegitu banyaknya bangunan, kenapa kau memilih toko rempah-rempah ini?" Greg menggerutu.


"Kurasa bagus," ucap Fiona, "jadi aku dan Aiden tidak tergoda menghabiskannya. Bayangkan kalau ini toko anggur," ucap Fiona sambil tersenyum geli.


Greg menatap tidak percaya pada Fiona yang tiba-tiba membela Elric. Ia menghela nafas lalu naik ke lantai dua. Salah satu ruangan memiliki jendela yang diberi palang kayu yang tak akan bisa dilewati jekzer. Ia membuka jendela itu dan melihat ke luar.


Tidak ada tanda-tanda jekzer di langit maupun di jalanan. Greg mendesah melihat bekas kekacauan yang disebabkan oleh jekzer. Toure harus gerak cepat untuk membereskannya.


Fiona tahu-tahu sudah ada di belakang Greg. Ia memeluk pria itu dari belakang. Menyandarkan kepalanya dan merasakan betapa kekarnya punggung pria itu.


Greg membalikkan badan lalu memeluk Fiona. Gadis itu memberikan tatapan yang tidak akan ia tukar dengan apa pun. Greg menciumnya. Mereka baru saja berjuang untuk bertahan hidup. Ketakutan akan kehilangan pasangan membuat tubuh mereka hampir membeku.


Greg tidak mau kehilangan Fiona, begitu pun Fiona. "Aku akan selalu menjagamu," janji Greg.


Fiona tersenyum. "Aku tahu," balas Fiona. Ia diam sesaat. "Bila terjadi sesuatu, berjanjilah kau akan mengutamakan keselamatan Emune. Kumohon," pinta Fiona.


Rahang Greg mengeras, "Aku berjanji," ucapnya.


Alfred memimpin di depan. Fiona da Emune berjalan di tengah. Bayi kecil itu tertidur lagi di pelukan Fiona. Elric dan Greg berjaga-jaga di belakang. Mereka sedang ke bagian kota tempat Greg menemukan bayi itu. Mereka berpisah karena Alfred, Aiden dan Sean akan memeriksa kuda-kuda.


"Bagaimana dengan kuda-kuda kereta?" tanya Emune pelan. Mereka meninggalkannya di padang rumput di dekat bukit tadi.


"Mereka tidak akan bisa lolos dari jekzer. Tidak apa, Emune. Otoritas kota akan mengurusnya. Aku akan mencari kuda baru untuk kereta kita," ucap Greg.


Sesampainya di bagian kota tempat Greg menemukan bayi kecil itu, orang-orang sedang berkumpul. Mereka berbisik-bisik menyebut tentang bayi yang hilang. Greg menyeruak dan menemukan perempuan yang mungkin seusianya sedang terisak.


Perempuan itu terus menyalahkan dirinya karena meninggalkan bayinya di keranjang bayi karena ia pikir suaminya yang menggendongnya. Suaminya hanya bisa memeluknya dan memintanya untuk tenang. Hal terburuk yang bisa mereka bayangkan adalah bahwa bayi itu dibawa terbang dan sudah dimangsa oleh jekzer.


Setelah yakin ciri-ciri bayi yang hilang sesuai dengan bayi yang digendongnya, Greg membolehkan Fiona maju. Fiona menyerahkan bayi perempuan itu kepada pasangan yang sedang berduka. Mereka seperti bermimpi melihat bayi mereka masih hidup. Keduanya berkali-kali berterima kasih kepada Fiona dan teman-temannya.


"Dia cantik sekali. Siapa namamu bayi kecil?" tanya Emune.

__ADS_1


"Rhea, namanya Rhea," ucap ibunya senang.


Wajah Fiona dan Emune langsung kaku.


"Nama yang buruk," ucap Fiona ketus. Ia berbalik pergi.


"Nama sial. Sebaiknya ganti," ucap Emune lalu mengikuti Fiona.


Kedua pasangan itu melongo melihat penolong mereka berlalu.


Setelah cukup jauh, Greg tertawa terbahak-bahak. Gadis-gadis ini masih marah pada Rhea. Rhea memang keterlaluan.


"Ada apa dengan 'Rhea'?" tanya Elric.


"Teman perempuanku di Galvei. Dia memasukkan serbuk tidur di anggur yang dihadiahkan saat kami meninggalkan Galvei. Semua terkapar meminumnya. Fiona yang paling parah karena ia minum banyak sekali," jawab Greg.


"Pantas saja mereka kelihatan kesal." Elric tertawa geli melihat Fiona dan Emune yang berjalan sambil marah-marah.


Otoritas kota bergerak cepat membereskan kekacauan. Jazeeah Hall, wali kotanya, berterima kasih karena dengan peringatan dan bantuan dari Greg dan kawan-kawannya, tidak ada korban jiwa dan kerugian bisa diminimalisasi. Ia dengan senang hati memberikan dua ekor kuda terbaik untuk menggantikan kuda-kuda kereta mereka yang tidak selamat dari serangan jekzer.


Malam harinya semua berkumpul di rumah minum. Mereka dengan halus menolak undangan makan malam dari wali kota karena ingin segera beristirahat. Rasanya memang makan dan tidur adalah yang paling mereka perlukan.


Emune ikut dengan Elric, Aiden dan Sean ke bukit sebelah timur. Mereka menyalakan api unggun dan minum anggur. Emune tentu saja hanya minum sari apel dan air putih. Aiden dan Sean dengan lihai menangkap tiga ekor kelinci gendut yang mereka bersihkan lalu panggang untuk makan malam.


"Kenapa tidak makan malam di rumah minum?" tanya Emune sambil berbisik pada Elric.


"Ini lebih menyenangkan. Aiden pandai sekali membumbui kelinci panggang. Cobalah nanti." Elric menggenggam tangan Emune. Ia cemas sekali tadi. Untung Emune cukup tenang saat menghadapi bahaya. Tidak semua perempuan bisa setenang itu dalam ancaman maut.


"Emune, cobalah. Daging kelinci panggang istimewa buatanku," Aiden menyodorkan satu tusuk daging yang sudah matang kepada Emune.


Emune menerimanya. Hidungnya mencium aroma daging terbakar yang menggugah selera. Satu gigitan kecil dan ia langsung membelalakkan matanya. "Ini enak sekali! Aku biasanya makan daging asap tapi ini lebih enak dari daging asap!"


Aiden senang sekali dipuji seperti itu hingga memberikan beberapa tusuk lagi kepada Emune. Elric menertawakan Aiden yang tersipu malu. Sean mengolok-olok Aiden dengan mengatakan bahwa Aiden biasanya hanya bersemu kalau bertemu gadis-gadis yang gaunnya agak terbuka. Aiden membalasnya dengan hanya memberikan setumpuk tulang yang dagingnya sedikit sekali.


Alfred menyeringai. Ia sedang memikirkan sesuatu. Elric memberitahunya tentang Horeen. Peri dan jekzer ada di dunia manusia. Pergerakan kekuatan hitam sudah jelas terlihat. Ia tadi mengirim merpati pos ke Eimersun. Jika pesan itu sampai, sebentar lagi para Tetua Bijak pasti akan berkumpul membahasnya.

__ADS_1


Mereka sedang asyik bercanda dan bercerita ketika Fiona dan Greg tiba-tiba muncul dengan mengendarai seekor kuda. Wajah keduanya sangat gusar.


"Kota diserang. Gerombolan hitam membantai warga kota. Mereka akan segera  sampai," ucap Greg. “Bersiaplah!” serunya.


__ADS_2