
Tanah lapang dan puing-puing bangunan menyambut Emune dan keempat temannya saat mereka tiba di tempat yang disebut oleh Raja Drav. Horeen tidak melihat ada yang mencurigakan namun mata tentu saja berbeda dengan insting. Ia waspada dan berjaga-jaga.
Emune meneguk air dengan tenang. Luka di tangan kirinya sudah mengering. Leonz ingin menyembuhkannya tapi Emune menolak. Ia masih saja tidak bisa melupakan Elqoz. Luka itu hanya sedikit rasa sakit yang ia rela untuk rasakan sebagai penghormatannya untuk naga itu.
Perbatasan Eimersun sudah di depan mata. Gnaern, kota yang ditinggalkan tepat berada di seberang Eimersun. Entah apa maksud Raja Drav namun Emune seperti biasa selalu berpikir positif. Pasti ada hal baik di antara reruntuhan ini, batinnya.
“Kota ini sudah lama ditinggalkan. Kudengar para pemberontak menguasainya,” ucap Proner.
“Pemberontak? Setahuku Eimersun sangat damai,” Avena menatap langit biru di atas mereka.
“Pemberontak yang ingin menggulingkan Goenhrad,” ucap Proner. “Ini satu-satunya tempat yang tidak bisa didatangi pasukan hitam.”
“Benarkah?” tanya Emune.
“Ya. Ini wilayah sihir Verunum, penyihir tua yang disayangi Raja Peri Dougraff.” Horeen duduk di atas sebuah bongkahan puing. Ia menatap lurus ke Avena yang sedang membuat kabut es. Gadis itu menyebar kabut esnya ke sekeliling mereka. Ia akan tahu jika ada sesuatu yang bergerak dan mengancam mereka.
“Syukurlah aku tidak perlu menggunakan kekuatanku tadi. Aku harus bilang pada Ibu agar berterima kasih pada Raja Drav,” ucap Leonz ceria.
“Padahal tadi kau meneriakinya ‘bodoh’ dengan penuh semangat,” cemooh Avena.
“Karena dia akan mengambil Proner,” sahut Leonz ketus.
“Gadis cilik yang aneh. Leonz, kenapa kau tidak berubah jadi versi dewasamu saja supaya Proner bisa menciummu,” goda Avena.
“Lalu bercinta seperti yang kau dan Horeen lakukan di Hutan Ajaib?” Leonz berdecak sambil geleng-geleng kepala.
Wajah Avena langsung memerah. Bagaimana Leonz bisa tahu? Bocah aneh, gerutunya dalam hati. Ia ingin sekali rasanya menyentil bocah itu jauh-jauh. Horeen cuma menyeringai mengingat kejadian malam itu.
“Kau! Penyihir kecil sok tau,” ucap Avena kesal.
“Aku keturunan Hertena. Karena belum dewasa saja makanya kekuatanku terbatas,” sahut Leonz ketus.
Emune tertawa geli. Ia sudah tahu kalau Horeen dan Avena berkencan malam itu.
“Emune, kenapa kau tertawa seperti itu?” tanya Avena ketus.
__ADS_1
Emune berdeham. “Aku diberi tahu oleh Buku Kebijaksanaan bahwa peri es dan keturunannya yang melakukan penyatuan dengan makhluk apa pun akan mengeluarkan gelombang dingin,” ucap Emune santai.
Avena meringis. Berarti cuma si aneh Proner yang tidak tahu, batinnya. Si goblok itu tidak mungkin tahu, batinnya lagi.
Tepat saat itu Proner kembali dari memeriksa sekeliling puing kastil. Ia terlihat lega. Ia diam sebentar, sepertinya ada ketegangan kecil antara Avena dan Leonz, pikirnya. Leonz melengos dan sibuk memeriksa serbuk ajaibnya.
“Ada apa?” tanya Proner pada Emune.
Emune berbisik pada Proner. Proner tertawa terbahak-bahak. Ia tidak peduli pada Avena dan Horeen yang mendelik padanya. Emune cuma bisa garuk-garuk kepala.
“Avena, orang bodoh sepertiku juga tahu kau habis berkencan dengan Horeen. Satu kancing bajumu terlewatkan dan rompimu terbalik,” ucap Proner geli. “Wangi tubuh kalian juga sama,” ucapnya lagi. Ia tertawa lagi.
Avena malu luar biasa. Ia langsung berbalik dan merapikan pakaiannya. Horeen melotot pada Proner seakan menyuruhnya diam.
“Ya, Tuan Pecinta, aku mengerti. Kenapa juga kalian sembunyikan? Jatuh cinta itu wajar,” ucap Proner pada Horeen.
Mereka semua akhirnya duduk bersandar di puing-puing kastil. Selagi semua duduk-duduk, Horeen menghilang dan kembali dengan makanan dan minuman. Ia menenggak anggur mahal Eimersun dan membaginya pada Avena tapi ditolak. Avena tidak kuat minum minuman keras. Terakhir kali mabuk, ia terjatuh ke sungai dan membekukan alirannya sampai ia sadar kembali.
“Horeen, kenapa Verunum disayangi oleh Raja Peri Dougraff?” tanya Emune.
“Pada masa kegelapan, saat semua makhluk di Artamea hidup bebas dan saling memangsa, hanya Verunum penyihir dengan kekuatan yang besar yang membuat tempat aman bagi para penyihir dan peri. Gnaern ini adalah tempat itu. Raja Peri Dougraff memberinya satu inti kekuatan yang melindungi Gnaern dari segala sihir hitam sebagai ucapan terima kasih.”
“Tidak, seingatku.” Leonz menepuk-nepuk pipinya yang tembam.
“Kita tidak bisa mengharapkan bantuan mereka, Emune,” ucap Proner.
“Aku tahu. Kita harus berperang sendiri. Kurasa, memang sudah saatnya,” ucap Emune.
“Jangan khawatir, Ayah dan Ibu pasti akan membantu,” ucap Leonz.
“Terima kasih, Leonz.”
Avena berdiri. Ia merasakan sesuatu. “Sesuatu terjadi di Utara,” ucap Avena.
Avena dan Horeen akan membawa Proner, Leonz dan Emune ke utara tapi terhenti karena sebuah kuda tegap berpelana lengkap berlari mendatangi mereka.
__ADS_1
“Kita perlu tunggangan, bukan?” ucap Leonz.
“Terima kasih, Leonz. Aku bisa gila kalau harus terbang lagi,” ucap Proner.
Proner menunggangi kuda bersama Leonz dan Emune. Manusia memang sebaiknya di darat saja, Proner membatin senang. Ia tidak tahu kuda siapa itu tapi kondisinya prima jadi ia memacunya kencang ke utara.
“Di sebelah sana!” seru Emune.
Proner memacu kudanya ke arah yang ditunjuk Emune. Emune meloncat turun dan mengulurkan tangannya, menyambar tangan seorang nenek yang sedang bergelantungan di tepi jurang. Hanya sebuah tunggul yang ia cengkeram erat-erat yang menyelamatkannya dari terjatuh ke jurang tajam di bawah sana. Nenek itu tidak berat jadi Emune sendiri bisa membantunya naik.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Emune.
“Tidak apa. Terima kasih. Tadi itu sangat berbahaya. Hampir saja,” ucap nenek itu dengan nafas tersengal-sengal.
Emune menyodorkan kantong airnya kepada sang nenek. Nenek itu meneguk air dari kantong dengan ceria. Ia melihat Emune dari atas sampai bawah. Saat mengembalikan kantong air, ia menyentuh tangan kiri Emune yang tergores ranting saat bertemu Raja Drav. Ia tersenyum senang.
“Kau sudah bertemu dengan mereka, Elizai. Syukurlah ....” Nenek itu tersenyum.
“Nenek tahu namaku?” tanya Emune heran.
“Tentu saja. Tuan Putri Orsgadt, calon ratu yang sudah lama ditunggu oleh kawan-kawanku.” Sang nenek menyentuh punggung tangan Emune sebentar lalu tersenyum lagi. “Elqoz dan Drav, memang sudah saatnya.”
Emune menatap nenek itu tanpa berkedip. Ia terlihat sama seperti nenek-nenek lain yang pernah Emune kenal. Bagaimana ia bisa tahu, tanya Emune dalam hati.
“Maaf, nenek siapa?” tanya Emune.
“Kau tidak perlu tahu. Kau telah menyelamatkanku, aku akan membalasnya. Lanjutkan perjalananmu ke Eimersun. Kau sudah ditunggu di sana,” ucap sang nenek. Sekejap kemudian ia menghilang.
“Siapa nenek itu?” tanya Avena.
“Mungkin nenek tadi yang disebut oleh Raja Drav,” ucap Proner.
“Sepertinya aku pernah melihatnya,” ucap Horeen.
“Verunum,” jawab Leonz singkat.
__ADS_1
Semua menoleh ke arah Leonz. Gadis cilik itu sedang melihat ke langit biru. Ia menebar serbuk ajaibnya ke udara. Serbuk itu berkilau tertimpa sinar matahari dan menghilang begitu saja.
“Peperangan sudah dekat. Dia sekutu yang hebat,” ucap Leonz. Rambutnya yang keemasan bergerak pelan karena angin.