Orsgadt

Orsgadt
Memasuki Hutan Dumina


__ADS_3

Burung-burung berkicau, serangga kecil bersahutan meramaikan pagi di tepi hutan. Proner dan Emune sudah bangun sebelum fajar datang. Leonz masih meringkuk diselimuti jubah Proner. Horeen tidak terlihat, mungkin ia sedang sibuk membagi kesialan di tempat lain. Mereka sedang menunggu Avena yang sejak semalam belum kembali.


“Emune, pertimbangkan lagi. Greg dan yang lain pasti sedang cemas. Melintasi wilayah dunia ajaib bukan perkara main-main.”


“Aku tidak main-main. Proner, aku juga sama sepertimu. Mengikuti omongan seorang peramal tanpa mengerti kenapa dan untuk apa, tapi semakin aku maju, semakin terbuka pandanganku. Aku harus ke Orsgadt.”


“Baiklah. Sebaiknya kita tunggu Avena.”


Emune melihat ke kejauhan. Horeen memang gila. Kemarin tepi hutan ini adalah padang rumput hijau yang damai. Dalam sekejap Horeen mengubahnya jadi jurang selebar hampir seratus meter dan kedalaman yang tidak bisa diketahui. Tidak mungkin diseberangi kecuali bisa melayang seperti Horeen dan Avena.


“Ke mana Avena?” gumam Proner. Kenapa ia pergi begitu lama?


“Aku di sini,” jawab Avena yang tiba-tiba muncul. Ia membawa sesuatu. “Mereka semua baik-baik saja. Hanya gusar, terutama pria yang bernama ‘Greg’. Kekasihmu yang tampan menahanku dan memaksaku bercerita. Lalu kakak perempuanmu menyuruhku menyerahkan ini. Sudah kukatakan pada mereka bahwa jurang tidak bisa dilalui. Mereka harus menyusurinya. Mereka akan menyusul ke Onykz. Sampai mana peri si— ehem, maksudku Horeen, membuat jurang ini? Benar-benar merepotkan.”


Emune membuka bungkusan kain yang diberikan oleh Avena. Terlipat rapi di dalamnya ada jubah panjang yang dibelikan Fiona, sebuah rompi dan sepasang pelindung tangan. Rompi dan pelindung tangan itu adalah benda-benda favorit Fiona. Ia memeluknya.


“Ini dari lelaki yang berkumis,” ucap Avena. Ia menyerahkan busur dan satu set anak panah kepada Emune.


“Alfred, namanya Alfred,” Emune menerimanya dengan senang. Senjata pertama yang bisa ia gunakan adalah panah. Busur dan anak panah ini milik Aiden, akan dikembalikannya nanti.


Emune menghampiri Leonz yang masih bermimpi. Ia menepuk lembut pipinya untuk membangunkan gadis kecil itu. Leonz membuka matanya lalu duduk.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Leonz.


“Ya. Kalau masih mengantuk, aku bisa memanggulmu,” ucap Proner.


“Aku sudah besar, tidak perlu dipanggul,” Leonz menguap. “Mungkin sampai tumpukan batu besar, jalan ini terus saja,” gumamnya lalu tertidur lagi.


Emune tertawa geli. Proner akhirnya memanggul Leonz.


“Anak kecil aneh. Setidaknya dia bilang dulu ada apa di dalam situ,” gerutu Avena.


“Kurasa tidak ada apa-apa. Leonz pasti memperingatkan jika memang ada bahaya.”


“Mana Horeen?” tanya Avena.


“Entahlah. Biarkan saja, dia akan menyusul,” jawab Emune. “Avena, kenapa kau mengikutiku?”


“Kupikir itu ide yang cukup bagus. Kalau kutukan Horeen bisa dihilangkan, aku akan minta Olevander untuk menghapus kekuatanku.”


“Apa bisa begitu? Bukankah itu akan tetap kau miliki selamanya karena kau setengah peri?” tanya Proner.


“Aku lebih suka jadi apa saja yang tidak membuatku diusir dan dilempari.” Avena sangat membenci penilaian manusia yang terlalu dangkal.


“Kekuatanmu luar biasa. Bila kau gunakan untuk kebaikan, kurasa tidak perlu dihilangkan,” ucap Emune.


“Begitu menurutmu? Kenyataannya, manusia sering salah paham, sangat menyebalkan.” Avena tersenyum miris.


“Aku mengerti,” ucap Emune. Manusia memang menyebalkan, terutama yang otaknya tertinggal di dengkul.


Mereka terus berjalan di jalan kecil yang mengarah ke tengah hutan. Proner tidak terlihat lelah sama sekali dengan tambahan beban di punggungnya. Leonz belum juga bangun.


***


Serangan mendadak dari gerombolan hitam memperparah kondisi Toure setelah serangan jekzer. Jarak antara kedua kejadian begitu dekat dan tidak ada waktu untuk mengantisipasinya. Aiden mengepalkan tangan melihat mayat warga kota dan darah yang menggenang di jalanan. Gerombolan itu benar-benar ingin menghabisi seluruh penduduk kota yang mereka temui. Jika Greg dan Fiona tidak segera memberitahu mereka, bisa fatal jadinya.

__ADS_1


“Kita harus segera berangkat ke Onykz jika ingin menyusul Emune.”


“Kenapa Emune tidak bilang kalau dia mau ke Onykz. Elric, ada yang kau sembunyikan dari kami?” Greg menggebrak meja. Semua jadi aneh sejak pemuda ini muncul.


Elric diam saja. Ia sedang sibuk memikirkan Emune. Avena memang mengatakan mereka tidak perlu khawatir karena ada Horeen dan dirinya yang akan menjaga Emune tapi tetap saja kekhawatiran Elric tak ada habisnya.


Greg kesal karena Elric tidak mempedulikannya. Ia rasanya ingin membanting Elric kalau saja Alfred tidak berdiri di antara mereka berdua.


“Duduklah. Akan kuberitahu,” ucap Elric. Tidak ada jalan lain. Keselamatan Emune jadi taruhannya jika orang-orang ini menyusul Emune tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka hadapi.


Fiona menarik Greg agar duduk di kursi di sampingnya. Elric menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia menatap mereka satu per satu. Ia mempercayai mereka karena telah melihat sendiri bagaimana mereka begitu gigih menjaga Emune. Seperti sebuah kawanan kecil, mereka telah saling melindungi tanpa diminta. Inilah yang paling dibutuhkan oleh Emune.


“Ingat, rahasiakan apa yang kukatakan. Emune adalah keturunan terakhir dari Raja Agung Orsgadt.”


Semua saling berpandangan. Mereka tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu. Setahu mereka seluruh keluarga kerajaan sudah dibantai saat pemberontakan Orsgadt, termasuk putri kecil yang baru lahir.


Greg menggebrak meja. Ia sangat marah. Kebohongan apa yang dikatakan pemuda ini? Greg menunjuk tepat ke wajah Elric. “Kau pembohong!”


Alfred, Aiden dan Sean berdiri seolah bersiap menghajar Greg. Fiona menahan tubuh Greg.


“Pangeran Kerajaan Eimersun bukan seorang pembohong! Jaga kata-katamu,” ucap Alfred dingin dan mengancam.


“Pangeran? Elric?” Fiona garuk-garuk kepala. Ia sering ke Eimersun namun belum pernah melihat anggota kerajaan berada di tempat umum apalagi berkeliling Amartea seperti Elric dan teman-temannya.


“Tolong, duduklah. Tidak ada waktu untuk ribut-ribut.” Elric menunggu semuanya duduk. “Emune punya Buku Kebijaksanaan. Hanya keturunan raja yang bisa melihatnya. Walaupun aku sudah tahu tapi aku menunggu sampai ia sendiri mencceritakannya. Ia berhasil mengetahui sejarahnya dari Voispir dan ramalan dari seorang pembaca garis tangan membuatnya bersikeras untuk pergi ke Orsgadt. Satu-satunya masalah adalah, ia tidak bisa menyingkir dari kalian berdua yang menjaganya begitu ketat.”


Elric menatap pada Greg dan Fiona. Keduanya tampak sangat geram karena tidak tahu apa-apa. “Hari ini harusnya aku meminta kalian menyerahkan Emune dalam pengawasanku namun serangan itu terjadi hingga semuanya buyar.”


“Kau bahkan tidak bisa menjaganya dengan benar,” cemooh Greg. Ia muak pada Elric.


“Sudah kuduga. Aku rasa Emune lebih tenang sekarang karena ia bisa terus maju tanpa harus menyakiti perasaan kalian. Alfred, kirim berita ke Eimersun. Ayahku harus tahu. Aiden, Sean, kalian bebas kembali ke Eimersun.”


“Jangan konyaol. Kau tidak akan bertahan tanpa bantuan Aiden Yang Hebat,” ucap Aiden pongah.


“Apalagi tanpa Sean Yang Menakjubkan,” tambah Sean.


Elric mendesah. Ia sudah menduganya. Akhirnya mereka semua akan pergi bersama menyusul Emune.


Mereka segera bersiap-siap. Jika seperti yang dikatakan Avena bahwa Emune akan memotong jalan ke Onykz melalui Hutan Dumina, mereka baru akan tiba lima sampai tujuh hari lagi karena berjalan kaki. Dengan kuda-kuda terbaik, rombongan Elric bisa sampai hanya dalam empat hari jika tanpa hambatan di perjalanan.


Alfred menepuk bahu Elric. “Kita akan menemukannya,” ucapnya menenangkan Elric.


“Ya. Kita harus menemukannya,” rahang Elric mengeras. Ia akan memastikan Emune selamat dan membawanya ke Eimersun sesegera mungkin.


***


Rombongan Emune sampai di tumpukan batu besar. Semula mereka pikir tumpukan batu besar yang disebut Leonz hanyalah batu-batu sebesar gerobak tapi yang ada di hadapan mereka adalah gunung batu yang besar dan menjulang tinggi.


“Leonz, ini tumpukan batunya?” tanya Avena. Anak kecil ini bahkan tidak bisa membedakan tumpukan batu dengan gunung batu, gerutunya dalam hati.


Leonz membuka mata. Ia tersenyum. “Ya, itu dia. Ambil jalan ke kiri. Kita akan lewati padang kupu-kupu.”


“Kita tidak sedang melancong. Ada jalan yang lebih cepat?” tanya Avena ketus.


“Memang tidak. Itu jalan paling aman. Kecuali kalau kalian mau melewati wilayah raksasa dan kalajengking raksasa.”

__ADS_1


“Kurasa kupu-kupu lebih baik,” ucap Avena cepat.


Leonz minta diturunkan pada Proner. Ia menepuk bahu dan punggung Proner sebelum turun. Seketika Proner merasa seperti ada yang memijatnya. Nyaman sekali rasanya. Leonz berkedip padanya lalu menarik tangan Emune dan mengajaknya bergegas.


Bagian hutan yang mereka lalui jauh dari kesan angker. Padang rumput, lembah dan kolam-kolam kecil justru terlihat indah.


“Apa yang terjadi dengan manusia yang terperdaya oleh para penyihir?” tanya Emune.


“Mereka jadi santapan atau dijadikan persembahan,” ucap Leonz.


Emune menelan ludah. Seram sekali.


“Tidak semua penyihir jahat. Sebagian hidup berkelompok agar lebih aman dan terhindar dari serangan makhluk gaib. Aku dan Ibu tinggal di utara padang kupu-kupu. Kau akan menyukainya.”


“Senang mendengar ada penyihir yang tidak jahat. Menurutmu berapa lama kita bisa keluar dari Dumina?”


“Aku ingin mengantar kalian segera tapi tidak bisa. Aku masih kecil, tenagaku tidak kuat menjaga kalian terus-terusan. “


“Menjaga? Maksudnya?” tanya Proner.


“Aku bisa mengundang kalian masuk ke hutan namun aku juga harus melindungi kalian agar tidak menarik pemangsa atau penyihir lain. Kalian sedang berada di dalam cahaya pelindungku.”


“Ya, makanya dia terus mengantuk,” Horeen yang tiba-tiba muncul membenarkan ucapan Leonz. Peri itu tidak lagi membuat kerusakan besar, hanya rumput-rumput yang mengering yang terlihat saat ia lewat.


“Oh, Leonz, terima kasih!” Emune memeluk Leonz. Leonz menepuk-nepuk punggung Emune.


Langit di sela-sela rimbunnya puncak pepohonan tampak cerah. Perjalanan mereka sepertinya tanpa hambatan. Mereka akan mengunjungi ibu Leonz dan meminta izin agar ia bisa mengantar mereka keluar dari hutan.


Suara menggeram mengejutkan mereka. Proner memegang gagang pedangnya dengan waspada. Emune bersiap dengan belati dan Avena sudah membuat kabut dingin di kedua telapak tangannya. Horeen … Horeen? Ke mana peri satu itu?


Dari rimbunnya semak sesuatu yang besar berwarna hitam melompat ke depan Leonz yang sedang memetik bunga liar. Emune, Avena dan Proner membelalak melihat seekor singa berwarna hitam legam setinggi hampir dua meter menyeringai lalu memperlihatkan taring-taring mematikan. Surainya berkibar-kibar, hanya kedua matanya yang berwarna putih dan keningnya memiliki tanda yang bentuknya seperti tetesan air berwarna abu. Cakarnya terlihat mengancam dan Proner yakin, setiap sabetannya bisa membunuh.


“Horeen, kau di mana?” bisik Emune. Bisa-bisanya peri satu itu menghilang di saat genting.


“Maaf, aku alergi kucing!” seru Horeen yang mengintip dari balik sebuah pohon.


Avena kesal sekali mendengarnya. Ia mengirim kabut dinginnya untuk meninju Horeen. “Jangan bercanda!”


“Aduh! Sungguh, aku alergi.” Horeen bersungut-sungut.


“Sekarang atau tidak sama sekali,” ucap Proner. Ia menyeringai. Inikah akhir perjalanannya mengikuti Emune? Jadi mangsa singa hitam raksasa? Tragis.


“Leon!” teriak Leonz membuat semua teralihkan ke gadis kecil itu. Ia berlari dan memeluk singa angker itu tanpa rasa ragu dan takut. Singa itu menjilat wajah Leonz dengan lidahnya yang basah. Leonz terkikik geli. “Ibu menyuruhmu menjemput?” Pertanyaan Leonz dijawab dengan auman yang membuat Emune, Proner dan Avena menutup telinga.


“Gadis kecil, kau membuat jantungku hampir copot,” Avena mengeluh.


“Maaf, ini singa peliharaan ibuku. Ibu pasti khawatir hingga menyuruhnya menjemput. Ayo kita naik Leon saja,” ajak Leonz pada Proner dan Emune, “Avena dan Horeen bisa mengikuti,” ucapnya senang.


Leonz, Emune dan Proner berurutan duduk di atas punggung singa itu. Mereka dibawa melesat ke arah padang kupu-kupu. Leonz dan Emune berseru karena senang sedangkan Proner tampak tidak menikmati dan ingin cepat-cepat sampai di tujuan.


“Alergi kucing? Peri konyol,” olok Avena pada Horeen.


Horeen mengibaskan rambutnya. Ia tidak suka menghabiskan energi meladeni Avena. Kucing hitam adalah pertanda buruk. Ia harus menghindarinya.


“Perasaanku tidak enak,” ucap Horeen. Walaupun begitu ia tetap mengikuti ke mana Emune dan yang lainnya pergi.

__ADS_1


__ADS_2