Orsgadt

Orsgadt
Makhluk Hebat


__ADS_3

Keindahan istana Raja Peri Dougraff tidak menarik sama sekali menurut Olevander. Tidak saat ini karena di bagian lain Artamea ada darah tertumpah dan menggenang. Keras kepala, pikirnya dalam hati.


“Yang Mulia, sebentar lagi seluruh manusia di Artamea akan tersapu habis. Hamba mohon, berbelas kasihanlah pada mereka,” ucap Olevander. Ini adalah kedatangannya yang ketiga. Sama seperti sebelumnya, sang raja peri tidak juga mau turun tangan.


“Batasanku sudah jelas. Lagipula Elizai yakin manusia bisa memenangkan perang ini.” Sang raja peri tidak bergerak di tahtanya.


“Anda tersinggung karena perkataan seorang gadis yang hidup sengsara belasan tahun dan kini sedang menuntut haknya?” Olevander mengelus jenggotnya.


“Olevander, dia punya inti Elzenthum. Energinya sudah penuh. Tidak akan sulit baginya untuk menyegel Korta dan Anthura,” jawab Raja Peri Dougraff.


Olevander menyeringai. “Yang Mulia, tidakkah Yang mulia merasa bersalah karena memanfaatkan bayi itu untuk menampung kekuatan yang begitu dahsyat?”


“Demi Artamea.”


“Jika demi Artamea, sekali lagi hamba mohon belas kasihan Yang Mulia untuk menyelamatkan manusia.”


Raja Peri Dougraff menoleh ke arah pintu masuk karena ada yang datang. Seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat di tangannya. Sang raja tersenyum geli. Ia menjentikkan jarinya, sebutir anggur melayang mengenai kening nenek itu.


“Kau terlihat konyol, Verunum,” ucap sang raja.


Anggur tadi jatuh di lantai. Nenek tua itu mengumpat pelan dan melanjutkan jalannya. Setiap langkahnya diikuti perubahan pada wujudnya. Sesampainya di dekat sang raja dan Olevander, ia sudah menjadi perempuan cantik dengan rambut panjang keemasan dan mengenakan gaun panjang yang berwarna putih. Ia membungkuk hormat pada sang raja lalu membiarkan Olevander menggenggam tangannya sebentar.


“Hamba datang untuk mendukung Olevander, Yang Mulia.” Verunum berucap tenang.


Raja peri tidak senang mendengarnya. Olevander saja sudah cukup melelahkan untuk dihadapi apalagi ditambah dengan Verunum.


“Keputusanku tidak bisa diubah,” jawab sang raja peri.

__ADS_1


Verunum dan Olevander bertatapan. Mereka sampai di jalanan buntu sekarang. Selagi membujuk sang raja, entah berapa banyak sudah manusia yang menjadi korban hari ini. Mereka tidak akan tinggal diam.


“Yang Mulia, hamba permisi. Ada ribuan manusia yang harus diselamatkan hari ini,” ucap Verunum. Ia tidak menunggu jawaban sang raja. Ia sudah siap jika dikutuk menjadi kerikil sekalipun.


“Hamba akan membantunya, Yang Mulia. Hamba mohon diri,” ucap Olevander. Ia tersenyum miris melihat wajah datar sang raja peri.


Raja Peri Dougraff masih tidak bergerak dari tempatnya. Ia berbisik pelan. “Elzenthum.”


***


Raungan kematian di medan perang kembali mengangkasa. Anthura terbang rendah dan menyerang pasukan Arsyna yang berada di selatan perbatasan Orsgadt. Semburan apinya menghanguskan semua yang ada di depannya dan meninggalkan bekas menghitam di tanah sementara cakar dan ekornya yang tajam menghantam barisan prajurit hingga kocar-kacir. Kepanikan melanda dan ketakutan melihat keganasan naga raksasa itu menyelimuti pasukan Arsyna.


Seakan puas mengintimidasi semua manusia yang ada di medan perang, naga itu terbang lalu hinggap di menara utama istana Orsgadt. Ia diam tak bergerak tapi tetap mengawasi medan perang dengan tatapan mengancam.


Pergerakan di dekat istana Orgasdt mulai terlihat. Pasukan Korta sudah terbebas dari mantra Leonz. Barisan pasukan abadi itu bergerak maju menuju musuh yang masih kocar-kacir karena serangan Anthura tadi.


Sean dan Aiden yang sudah sejak tadi bergabung dengan pasukan di selatan sudah siap dengan pedang masing-masing. Mereka tidak akan membiarkan satu musuh pun melewati mereka. Sementara itu Elric sudah menggantikan posisi Alfred untuk memimpin pasukan. Raja Duncan menatap kedua darah dagingnya yang tampak bercahaya di atas kuda masing-masing. Bahkan jika ia mati hari ini, ia akan tenang karena ia yakin Mirena dan Elric akan menjadi pemimpin yang hebat.


Serangan Pasukan Korta mengganas. Pedang-pedang panjang mereka seolah haus darah. Mereka memang pasukan khusus yang bertugas menghancurkan musuh. Setiap tetes darah yang jatuh dari ujung-ujung pedang yang diseret membentuk jejak-jejak mengerikan di atas tanah.


Pasukan Arsyna terus berkurang jumlahnya karena keganasan pasukan Korta. Kerangka-kerangka hidup itu menyabetkan pedang-pedang mereka tanpa ampun. Sungguh pertarungan yang tidak adil.


Saat harapan menipis, sebuah suitan kencang terdengar. Burung-burung Elang raksasa muncul dari langit selatan dan menjatuhkan sosok-sosok kekar yang bersenjata tajam. Burung-burung itu menyambar prajurit-prajurit Korta lalu menjatuhkan mereka jauh di utara istana Orsgadt. Selagi burung-burung sibuk terbang ke sana kemari, sosok-sosok kekar tadi sudah bergerak menyerang pasukan Korta yang tersisa.


Suitan kedua terdengar memekakkan telinga semua manusia di medan perang. Tanpa aba-aba, puluhan pohon besar menerjang pasukan Korta, menggempur dan menggerus mereka menjauh dari pasukan manusia.


“Yang Mulia, Raja Peri tetap pada pendiriannya,” ucap Olevander yang tahu-tahu sudah ada di samping Raja Duncan.

__ADS_1


“Sudah kuduga. Sudahlah, kita akan lakukan semua yang kita bisa,” geram Raja Duncan.


“Verunum menjaga bagian selatan. Pasukan pemberontak sudah diberi mantra jadi mereka akan bisa bertahan sementara waktu.” Olevander pun menyangsikan kenekatan mereka menghadapi Korta dan Anthura tapi manusia adalah makhluk yang hebat. Mendiang Raja Agung Orsgadt telah membuktikannya pada Raja Peri Dougraff. Sayangnya sang raja peri sangat keras kepala.


“Sampai mantra itu habis dan semua manusia mati?” tanya Raja Duncan. Nada sedih terdengar dalam suaranya.


“Selalu ada harapan, Yang Mulia,” ucap Olevander.


Anthura menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan pelan. Burung-burung elang raksasa itu mengusik ketenangannya di menara utama Orsgadt. Naga itu menyemburkan api dari mulutnya, menyerang elang-elang yang melewatinya. Satu per satu elang raksasa terjatuh ke tanah dengan suara berdebam keras.


Anthura baru saja melebarkan sayapnya, hendak terbang ke langit saat suitan ketiga terdengar nyaring. Makhluk raksasa dengan sayap terbentang lebar muncul di langit. Kegelapan menutupi pasukan kerajaan yang berada di bawahnya. Semua ternganga melihat ke langit.


“A-ada naga lain!”


“Apa itu?”


“Naga lain?”


“Ada naga lain!”


Benar, ada naga lain datang ke medan perang. Naga itu sama besarnya dengan Anthura. Warna hijau mendominasi sisiknya lalu ada kilau warna perak menghias setiap lengkung sisik dan garis tubuhnya. Tak kalah ganas dan mengancam, naga baru itu terbang ke arah menara utama istana Orsgadt.


Semua orang yang ada di medan perang bersorak gembira saat melihat naga hijau itu menyerang Anthura. Seperti tidak puas dengan semburan api, naga hijau itu mencengkeram sayap-sayap Anthura dan membawanya ke utara, menjauhi medan perang yang kacau balau.


“Naga apa itu?” tanya Raja Thenosyes.


“Elqoz,” jawab Horeen yang sudah kembali dari mengamankan Avena. Ia tersenyum. Sepertinya Olevander berhutang satu penjelasan lagi pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2