
Kekacauan karena rombongan berkuda membuat panik seisi kota. Semua orang yang ada di jalur yang dilewati bersiaga. Mereka menunggu otoritas kota namun belum juga ada yang terlihat.
Para pria menarik pasangan mereka ke tepi jalan sementara para wanita menjerit-jerit dan sibuk mengamankan anak-anak. Rombongan itu terus melaju, tak peduli pada orang-orang yang terluka karena senjata mereka.
“Fiona, jaga Emune!” seru Greg.
Greg mendorong Fiona dan Emune ke tepi jalan. Ia tidak mau rombongan laknat itu berlalu begitu saja. Greg menarik seorang pengacau hingga jatuh dari kudanya. Dengan satu pukulan keras di rahangnya, pengacau itu pingsan.
“Emune, diam di situ!” Fiona mendorong Emune hingga benar-benar aman lalu menarik belatinya. “Awas, Greg!” serunya pada Greg yang berdiri menghalangi sasarannya. Greg menunduk dan Fiona melempar belatinya ke arah rombongan pengacau itu. Satu lagi pengacau terjatuh dari kuda.
Di belakang Fiona muncul seorang kesatria Galvei yang kebetulan berada di dekat sana, Ia membidik salah seorang dari rombongan pengacau yang berada di deretan belakang dengan busur dan anak panahnya. Tepat sasaran, orang itu terjatuh dan hampir diinjak kudanya yang terus berlari mengikuti rombongan pengacau.
Pasukan keamanan kota Galvei akhirnya muncul dengan nafas terengah-engah dan pakaian basah karena keringat. Kota ini senantiasa damai hingga penguasa kota merasa tidak perlu mempunyai pasukan berkuda. Karena itulah mereka baru datang setelah berlari dari gerbang utama yang jaraknya hampir dua mil.
Anggota-anggota rombongan pengacau yang berhasil dijatuhkan langsung dibawa ke penjara kota.
“Terima kasih. Setidaknya kami bisa menginterogasi mereka,” ucap Kesatria Fergus kepada Greg dan Fiona. Ia akan ikut mengawal ketiga pengacau itu ke markas pasukan pengaman kota Galvei untuk diinterogasi.
“Bolehkah saya ikut melihat interogasinya?” tanya Greg.
“Tentu saja. Kau sudah sangat membantu. Kutunggu di markas,” jawab sang kesatria. Ia mengangguk pada kedua gadis yang bersama Greg lalu mengikuti Pasukan keamanan kota Galvei
Setelah memastikan Fiona dan Emune baik-baik saja, Greg membatalkan kunjungan ke rumah minum. Ia mengajak kedua gadis itu ke rumah kawannya, Rhea, seorang pemilik penginapan dan penduduk asli Galvei.
Mereka disambut dengan hangat oleh Rhea yang ternyata seorang perempuan cantik berusia hanya satu tahun lebih muda dari Greg. Emune sampai menutupi mulutnya yang setengah terbuka karena kagum pada kecantikan Rhea. Fiona biasa-biasa saja seakan sudah pernah bertemu Rhea sebelumnya.
“Menginaplah di sini.” Rhea berkata pada Greg dan yang lain.
“Kami sudah menyewa kamar di penginapan di dekat pasar raya. Kau bisa tinggal, Greg,” ucap Fiona. Tidak terdengar seperti perempuan yang sedang cemburu tapi Emune seperti melihat tarian api berwarna merah menyelubungi Fiona.
“Ya, kita bisa bertemu besok,” tambah Emune singkat.
Rhea tersenyum sementara Greg tenang saja menghabiskan supnya.
“Aku tidak menawarkan. Kamar-kamar sudah disiapkan. Barang-barang kalian akan dibawakan kemari sebentar lagi. Jangan khawatir, penginapan itu punyaku. Aku jamin kalian akan dilayani dengan baik di sini.” Rhea menekankan kalimat pertamanya dengan nada suara datar.
Wah, ini perang urat syaraf, pikir Emune. Siapa yang akan menang, Rhea atau Fiona? Lalu kenapa satu-satunya lelaki di ruangan ini santai saja? Greg tidak tampak peduli kalau para wanita, selain Emune, sedang beradu tatapan tajam.
Greg mengangkat wajahnya setelah tidak setetespun sup tersisa di piring supnya. Ia melihat pada Rhea dan Fiona lalu pada Emune. Ia meletakkan sendoknya.
“Rhea, terima kasih atas keramahtamahanmu. Fiona, aku rasa kalian paling aman di sini. Aku akan ke penjara kota, mencari tahu soal rombongan pengacau tadi. Emune, sebaiknya kau tidur cepat.” Setelah berhenti beberapa saat, Greg melanjutkan. “Kita berangkat besok pagi-pagi sekali. Ada rombongan berpengawal yang akan ke Lonford.”
__ADS_1
“Tidak bisakah kita ke Farclere?” celetuk Emune.
“Ada apa di Farclere?” tanya Greg.
“Tadi pemahat kayu di pasar raya bilang kalau ada festival tahunan yang sangat seru.” Emune memasang wajah ceria sekaligus memohon.
“Festival Farclare masih satu bulan lagi. Aku rasa tidak aman untuk ke sana,” komentar Rhea. Ia hafal rute-rute perdagangan Armatea karena sejak kecil ia sudah berkeliling Armatea bersama orang tuanya.
Emune menggerutu dalam hati. Ia mencari-cari alasan apa yang bisa ia gunakan agar mereka bisa ke Farclere. Kepala Emune pusing dan matanya berkunang-kunang. Ia harus ke Farclere dan bertemu Urndie.
“Aku rasa tidak masalah. Sedikit membelok ke Farclere bukan masalah besar. Kecuali kau keberatan dan ingin segera kembali ke rombonganmu, Greg. Aku dan Emune mengerti jika kau misalnya mau berhenti sampai di sini.” Fiona berkata-kata menyetujui keinginan Emune untuk ke Farclere.
“Tapi .…” Rhea mencoba untuk menyela.
“Jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja, Rhea. Kalau begitu kita ke Farclere,” Greg tersenyum.
“Benarkah?” Emune seperti tidak percaya pada pendengarannya. Sakit kepalanya langsung hilang. Rasanya ia sanggup diajak bergadang sampai pagi karena senangnya.
“Ya. Kita akan ke Farclere. Selamat tidur,” ucap Greg. Ia segera keluar rumah.
“Baiklah, mari kuantar ke kamar kalian. Kalian bisa beristirahat selagi Greg keluar.” Rhea mendesah pelan. Ia tidak suka pada Greg yang manis pada perempuan lain.
Di dalam kamar yang disiapkan Rhea untuk Emune dan Fiona, kedua gadis itu sedang bersantai.
“Kau salah, aku menyukainya.” Fiona mengelap lengannya yang basah. Ia sedang berendam di bak mandi mewah berisi air hangat sedangkan Emune sudah duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk bantal.
Emune mendeham. “Lalu kenapa kau mau ke Farclere kalau bukan untuk membuat Rhea kesal?”
Fiona tersenyum. “Kemari, akan kuberi tahu,” ucapnya pada Emune. Seringai jahil menghias wajahnya.
Emune menghampiri Fiona yang masih berendam. Fiona berbisik padanya. Muka Emune merah karena kesal. Ia mendengus dan menumpah seluruh isi parfum baru Fiona ke dalam bak mandi lalu lari ke tempat tidur besar yang harus ia bagi dengan Fiona.
“Dasar penggila anggur. Awas kalau aku celaka karena kau mabuk-mabuk di Farclere!” seru Emune kesal dari jauh.
Fiona tertawa lepas lalu mengomel karena sekarang air di bak mandi penuh dengan bau parfum. Baunya sangat menyengat hingga kepalanya pusing.
Tidak jauh dari rumah Rhea, Proner mengikuti semua kejadian dengan seksama. Gadis itu bernama Emune dan dua orang yang bersamanya bernama Fiona dan Greg. Kedua orang itu seperti pengawal si gadis. Gadis itu, ia akan mulai mengingatnya sebagai “Emune”.
“Emune. Hmmm … nama yang tidak biasa,” gumam Proner.
“Ada perlu apa kau dengan gadis itu?” Sebuah suara dari arah belakang bertanya pada Proner.
__ADS_1
Orang itu tidak sekedar bertanya. Ia juga menempelkan pedang ke lehernya. Proner merasakan dinginnya bilah pedang yang menyentuh kulitnya. Tanpa menoleh, ia menjawab dengan hati-hati. “Kau tidak akan percaya kalau kuceritakan.”
Bilah logam yang terasa dingin di lehernya sekarang berpindah ke punggungnya. Dari gerakan pedang itu, Proner tahu lawannya bukan orang biasa. Ia tidak boleh gegabah.
“Siapa namamu? Kau bisa mulai bercerita,” ucap orang itu awas.
Proner mulai kesal. “Hei, aku tidak akan bicara pada hantu. Ayo bicara dengan jantan, setelah itu aku tak peduli apa maumu,” tantang Proner.
“Cukup adil. Berbaliklah,” ucap pria itu.
Proner membalikkan badannya perlahan. Sial, umpatnya dalam hati. Penyerangnya adalah Greg, pria yang menjaga Emune.
“Baiklah. Beri aku sedikit ruang. Kau tidak memerlukan pedang itu.”
“Begitu menurutmu?” Greg tidak bergerak sama sekali.
“Proner, aku dari Orsgadt. Gadis yang bersamamu, aku harus menjaganya,” ucap Proner dengan suara dipelankan.
“Siapa yang menyuruhmu menjaganya?”
Kali ini Proner menghela nafas berat. “Sebuah ramalan,” jawabnya singkat.
Greg tertawa terbahak-bahak. Ia pikir pria muda ini sudah tidak waras.
“Fiona tidak perlu dijaga. Setan saja takut padanya,” ucap Greg. Ia tertawa lagi.
“Bukan dia. Gadis yang satu lagi,” ucap Proner.
Greg terdiam. “Emune? Kenapa?”
“Aku tidak tahu. Ramalan itu berkata begitu. Aku bukan ancaman. Jauhkan pedangmu.”
“Kalau ramalan itu menyuruhmu lompat ke jurang, apa kau akan melompat?” tanya Greg geli. Ia menyarungkan pedangnya.
“Tentu saja tidak!” seru Proner.
“Kau gila. Jauh-jauh dari Emune. Kali ini anggap saja aku berbaik hati,” ucap Greg tegas dan mengancam.
“Hei, kau pikir aku ini orang iseng yang senang memata-matai gadis muda ya?” Proner protes namun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mungkin. Dengar, aku senang ada yang membantu menjaga Emune tapi ingat, jangan dekat-dekat. Kau cukup melihatnya dari jauh. Kalau kau macam-macam .…” Greg menarik pedangnya sedikit dari sarungnya untuk menunjukkan keseriusannya pada Proner.
__ADS_1
Proner menelan ludah. “Tentu saja. Menjaga jarak, aku akan ingat itu,” ucapnya dengan wajah kecut.
Greg meninggalkan Proner yang masih berdiri di gang gelap sambil mengawasi kediaman Rhea. “Dia bisa berguna,” gumamnya.