
Aula kerajaan Orsgadt yang megah namun suram menjadi semakin suram saat Goenhrad berdiri dengan wajah murka. Utusan dari Eimersun baru saja pergi. Raja Duncan memberinya waktu tiga hari untuk menyerahkan Tahta Orsgadt. Penjaga perbatasan mengabarkan bahwa bala tantara Eimersun sudah siap siaga di selatan dan timur Orsgadt. Goenhrad mengepalkan kedua tangannya.
“Yhourin, semua karena ia diam-diam mengirim pasukan hitam untuk menyerang Elizai,” ucapnya geram.
Ia sudah memperingatinya semalam dan terus berjaga untuk memastikan Yhourin tidak turun dari ranjang mereka. Seharusnya ia ingat kalau Yhourin tidak perlu ke ruang bawah tanah kalau hanya ingin memerintahkan pasukan hitam untuk bergerak.
Goenhrad meninggalkan aula setelah menyambar dua buah pedang yang biasanya ia biarkan terpajang di samping tahtanya. Pedang-pedang itulah yang belasan tahun lalu mengeksekusi keluarga kerajaan Orsgadt tanpa ampun.
“Sepertinya aku membutuhkan kalian lagi,” ucapnya pelan.
Seolah-olah tidak ada bahaya yang sedang mengintai, Yhourin santai saja berdiri di dekat jendela. Ia puas setelah semalam berhasil mengejutkan Eimersun. Meski Elizai tidak bisa ia sentuh, ia cukup senang membuat seisi istana kalang kabut.
Elizai, gadis itu mengingatkannya pada pembantaian Orsgadt yang membuat Goenhrad berhasil menaklukkan kerajaan besar ini hanya dalam satu malam. Elizai sangat mirip dengan ibunya dan matanya tentu saja mirip dengan ayahnya. Meski tidak menyukai kepongahan dan kepercayaan diri gadis itu, ia mengagumi tekad yang terpancar dari tatapannya.
Yhourin sangat paham bagaimana rasanya menderita jadi ia tahu pasti bagaimana Elizai bisa jadi gadis yang kuat seperti sekarang ini. Ia menyeringai. Sudah kepalang, perang sudah dimulai. Sudah saatnya, pikir Yhourin.
“Kau membangunkan singa tidur,” ucap Goenhrad geram. Ia membanting pintu kamar dan menghampiri Yhourin yang berdiri di dekat jendela.
“Aku hanya menghilangkan kebosanan,” ucap Yhourin.
Goenhrad sangat tahu kalau Yhourin tidak bisa dibantah tapi kali ini sudah sangat keterlaluan. Ia menyambar pinggang gadis itu. Sekali tarik, bibir Yhourin sudah dipagutnya dengan kasar. Setelah beberapa saat saling pagut, Goenhrad melotot. Ia melepaskan pagutannya dan menyeringai. Darah menetes dari bibirnya yang terluka digigit oleh Yhourin.
Yhourin cepat memeluk Goenhrad. Ia tahu kekasihnya itu sedang murka atas tindakannya semalam. Melihat dua pedang yang kini ada di sabuk pinggang Goenhrad, ia gemetar. Goenhrad sudah siap berperang.
“Jika ini bisa membuatmu senang, kau akan dapatkan perangmu, Yhourin,” ucap Goenhrad. Dada Goenhrad bergemuruh.
***
Angin yang bertiup pelan memainkan helai-helai rambut Emune yang tergerai. Gadis itu meringis, jika Ratu Adelaine melihatnya membiarkan rambutnya tidak terjalin rapi, ia pasti akan diceramahi. Emune jadi teringat pada ibunya sendiri.
Sangat singkat waktu yang diberikan oleh semesta bagi mereka untuk bersama-sama. Setelah penglihatan yang diberikan oleh Voispir waktu itu, Emune tidak bisa melupakan betapa cantik ibunya dan betapa gagah ayahnya. Ia merindukan mereka.
Elric menyentuh bahu Emune lalu memeluknya dari belakang. Gadisnya pasti sedang memikirkan sesuatu, pikirnya. Sejak kembali dari perjalanan ke wilayah selatan Artamea, mereka jarang berbicara. Elric hanya memeluk Emune dan Emune selalu diam dalam dekapannya.
“Aku akan selalu menjagamu,” bisik Elric.
“Aku tahu. Terima kasih,” ucap Emune.
“Baju zirahmu sudah disiapkan. Kau pasti senang akan segera terbebas dari gaun ini,” goda Elric. Ia membalik badan Emune agar mereka bisa berhadap-hadapan. Ia ingin melihat wajah Emune yagn bersemu merah.
__ADS_1
“Kau menggodaku terus,” ucap Emune dengan pipi bersemu merah.
“Hahaha, aku suka melihatmu malu-malu.”
“Tak heran kalau Ibu dan Mirena bilang kau ini tengil,” ucap Emune sewot.
“Begitulah. Mungkin karena aku tidak punya beban untuk jadi penerus tahta, aku jadi lebih bebas berekspresi.”
“Kau pemberontak,” ucap Emune geli.
“Ibu dan Mirena sudah meracunimu. Ayo, kau harus mencoba baju zirahmu.”
“Aku sudah punya. Ada di istana Orsgadt.” Baju zirah itu adalah harta penting Orsgadt. Goenhrad sekalipun tidak akan bisa mengenakannya karena ia bukan keturunan Raja Agung Orsgadt.
“Berarti kita harus menerobos Orsgadt dan menemukan zirah itu terlebih dahulu.”
Emune mengangguk. “Elric, jika terjadi sesuatu padaku, maksudku ....”
“Tidak ada hal buruk yang akan terjadi padamu. Kita akan memenangkan perang ini.”
“Kau sangat percaya diri.”
Wajah Emune memerah. Elric selalu mengingatkannya tentang Nyonya Bretien. Ia ingin membalas Elric tapi kekasihnya itu sudah mencium bibirnya dengan lembut. Emune memejamkan matanya.
***
Leonz menepuk kedua pipinya yang tembam. Gadis cilik itu sedang membuat lingkaran besar di dalam kamarnya dengan campuran tanah dan serbuk ajaib. Berikutnya adalah sebuah segitiga dan sebuah lingkaran lagi di dalamnya. Leonz keluar dari lingkaran yang dibuatnya. Ia tersenyum puas.
“Bukan Lingkaran Killgins. Apa itu?” tanya Proner.
“Arthenes, lingkaran peri cahaya.”
“Leonz, apa kau kuat mengendalikannya? Tidak ada Horeen dan Avena.” Proner penuh kekhawatiran.
“Ada Emune, jangan khawatir,” sahut Leonz santai.
“Zamrud Edyssia?” tanya Proner. Kalau untuk lingkaran Killgins saja bisa membuat kekuatan zamrud itu terkuras, ini tentu mengkhawatirkan, bukan?
“Elzenthum,” ucap Leonz sambil tersenyum ceria. Dengan inti Elzenthum yang Emune miliki, jangankan hanya ke Orsgadt, mereka bahkan bisa menghancurkan Artamea. Semoga Emune bisa mengendalikannya, harap Leonz.
__ADS_1
“Apa itu Elzenthum?” tanya Proner. Ia tidak suka kejutan.
“Kapan-kapan aku ceritakan.”
Proner duduk di lantai sambil garuk-garuk kepala. Sejak kejadian semalam yang membuat Leonz dan Emune pingsan, keduanya seperti menyembunyikan sesuatu dari semua orang. Proner menatap keluar melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Langit masih biru dan awan putih masih menggantung malas di atas sana. Sebagian besar kekuatan Eimersun sudah bersiap di perbatasan Orsgadt. Semoga Goenhrad bijak untuk mundur agar perang tidak terjadi.
Proner mengangkat wajahnya. Ia seketika membeku. Leonz sedang berjalan menghampirinya tapi gadis cilik itu berubah menjadi gadis seusia Emune atau sedikit lebih muda dari Emune. Sangat cantik. “Le-Leonz ....”
Leonz duduk di pangkuan Proner tanpa canggung. Malah Proner yang risi dan berusaha menurunkan Leonz dari pangkuannya. Bisa bahaya kalau ada yang melihat mereka. Terlebih lagi, ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Leonz berubah wujud seperti ini. Dia pasti sedang bercanda, pikir Proner.
“Ini aku. Semalam aku genap enam belas tahun jadi tidak perlu berpura-pura jadi gadis cilik lagi,” ucap Leonz sambil tersenyum ceria.
“E-enam belas tahun?” Proner kebingungan.
“Iya. Cahaya yang kau lihat itu adalah cahaya kedewasaan keturunan Hertena. Karena khawatir, Ibu selalu menyuruhku menyamar menjadi gadis cilik agar tidak dibawa lari oleh peri-peri mesum,” ucap Leonz sambil tersenyum geli.
Proner meringis. Jangankan peri, manusia saja bisa langsung jatuh cinta dan nekat membawa Leonz kabur kalau melihat kecantikannya. Untuk pertama kalinya Proner bingung harus apa.
Usianya terpaut sembilan tahun dengan Leonz, begitu pun ia sudah memutuskan akan menunggu Leonz dewasa dan menjadikannya istrinya. Lalu tiba-tiba Leonz berubah menjadi gadis berusia enam belas tahun, tepat di saat mereka akan berperang merebut Orsgadt.
“Tidak suka?” tanya Leonz sedih. Ia sudah berubah wujud tapi Proner seperti sibuk berpikir tentang sesuatu.
“Suka,” jawab Proner. Ia meringis. Bertarung melawan penjahat tidak ada apa-apanya dibandingkan bertarung menahan dirinya untuk tidak mencium Leonz.
“Dua tahun lagi kita bisa menikah. Ayah dan Ibu pasti senang punya menantu hebat sepertimu.”
“Kalau aku masih hidup,” gumam Proner pelan sekali.
“Ya?” tanya Leonz.
“Ah, tidak. Hanya terkejut melihatmu berubah seperti ini. Siapa saja yang tahu? Kau akan terus seperti ini atau berubah lagi jadi gadis cilik?” Proner meringis.
“Hanya Emune. Sudah kupikirkan baik-baik. Aku akan berubah jadi gadis cilik. Setelah perang usai, aku akan kembali seperti ini.”
“Leonz, pasti ada pria lain yang lebih baik dariku.” Proner tidak yakin ia cukup baik bagi seorang keturunan Hertena.
“Kau yang terbaik,” ucap Leonz malu.
Proner mendesah. Ia sudah takluk pada gadis ini bahkan sejak awal perjalanan mereka di Toure. Proner menarik punggung Leonz hingga wajah gadis itu terangkat. Ia menatap lekat kedua mata indah Leonz lalu mencium bibirnya dengan lembut. Leonz adalah miliknya yang akan ia jaga dengan seluruh jiwa raganya.
__ADS_1