Orsgadt

Orsgadt
Keturunan Raja


__ADS_3

Anak panah melesat dari busur yang dipegang Emune. Sangat cepat dan meluncur lurus ke depan. Begitu anak panah melaju, Aiden menaiki kudanya dan mengikuti di belakang.


Sasaran itu berjarak sekitar tiga ratus meter. Aiden tersenyum. Ia mencabut anak-anak panah yang menancap dan kain yang dijadikan penanda sasaran.


Sesampainya di tempat Alfred, ia turun dari kuda dan memamerkan kain sasaran tadi. Emune terperangah. Tanda hitam pada kain menunjukkan posisi anak panah Emune, panah itu menancap tepat di tengah.


“Kau hebat sekali, Emune!” seru Elric. Ia memeluk Emune penuh semangat.


“Oh! Aku pasti bermimpi!” seru Emune dalam pelukan Elric.


“Kau yakin ini pertama kalinya kau memanah?” tanya Sean.


“Emune, kesatria wanita dari Ulrych!” seru Aiden.


“Aku bisa,” gumam Emune. Tangannya yang kebas baru terasa sekarang.


“Kau pemanah sejati, Emune. Semakin sering berlatih, kau akan bisa memanah dengan baik bahkan dalam kegelapan, seperti Elric,” puji Alfred.


“Terima kasih.” Emune menggenggam tangan Alfred dengan perasaan gembira yang meluap-luap.


Elric sebenarnya ingin mencium Emune tapi karena teman-temannya ada di sana, ia urungkan. Bisa-bisa ia terus diolok-olok oleh mereka.


“Elric, ajari Emune berkuda. Tidak ada salahnya, Emune akan sangat membantu jika ia bisa mengurus dirinya sendiri kalau ada sergapan seperti malam itu,” ucap Alfred.


Elric mengangguk. Serangan malam itu memang mengerikan. Jika mereka tidak terlatih, mereka pasti sudah tidak bernyawa dibantai oleh para pembunuh itu.


“Kuda mana yang akan kau pakai?” tanya Sean.


Emune berjalan di depan empat ekor kuda yang telah makan dengan baik dan sudah dipasangkan pelana. Ia melewati Draxe, juga dua kuda berikutnya. Ia berhenti di depan kuda keempat.


“Gila,” desis Sean. Ia menyikut Aiden.


“Bencana,” gumam Aiden.


“Emune, kau naik Draxe saja ya.” Elric menarik Emune tapi Emune tidak bergerak. Ia menatap kuda keempat tanpa berkedip.


“Aku mau yang ini,” ucap Emune.


“Ini Brix, tunggangan Alfred. Tidak satu pun dari kami boleh menaikinya,” bisik Elric pada Emune.


“Alfred melarang?” tanya Emune heran.


“Bukan, kuda ini tidak mau ditunggangi oleh siapa pun selain Alfred,” Elric sekarang benar-benar panik. Jangan! Bagaimana jika Emune dilemparkan ke udara sepertiku dan Sean? Atau ditendang hingga pingsan seperti Aiden?


“Elric, berhenti berbisik-bisik. Biarkan Emune mencobanya,” hardik Alfred.


Elric mundur teratur. Ia bergabung di samping Sean dan Aiden. Ketiganya melihat cemas ke arah Emune. Hanya Alfred yang duduk santai di batu besar.

__ADS_1


Emune menatap kuda jantan hitam di depannya. Kuda itu adalah ras unggul dan hanya kastil besar yang memilikinya. Emune mengulurkan tangan kanannya. Dengan lembut ia meletakkannya di kening Brix. Kening kuda itu terasa hangat.


“Brix, aku Emune. Senang bertemu denganmu,” ucap Emune sambil tersenyum. Emune berjalan ke samping, membelai surai kuda hitam itu. Kuda yang gagah dan terawat baik, pikir Emune.


Kuda itu meringkik pelan. Emune menepuk-nepuk punggung Brix yang tidak ditutupi pelana. Emune dalam sekejap sudah duduk di atas pelana dan memegang tali kekang kuda.


“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sedikit, Brix?” tanya Emune pada kuda itu. Seperti mengerti, Brix mulai berjalan membawa Emune pergi dari sana.


Elric, Aiden dan Sean tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Brix mau ditunggangi orang lain selain Alfred? Orang baru dan seorang perempuan? Gila!


Alfred tertawa melihat ketiga pemuda itu. “Kalau Emune bisa menaklukkan Elric, ia pasti bisa menaklukkan Brix. Pelajaran untuk kalian, kelembutan terkadang jauh lebih kuat daripada pedang,” ucapnya santai.


Elric, Aiden dan Sean menggeleng-gelengkan kepala mereka pelan. Emune memang luar biasa. Tidak hanya Alfred, kudanya pun tunduk pada kehendak gadis itu.


“Kenapa tiba-tiba kau mengajarinya panahan dan berkuda?” tanya Sean.


Alfred mendesah. “Dia satu-satunya yang membayarku dengan sebotol sari apel,” ucapnya geli.


Ketiga pemuda itu garuk-garuk kepala lalu tertawa terbahak-bahak. Sebotol sari apel adalah bayaran yang aneh untuk seorang pelatih hebat seperti Alfred.


Emune berkeliling bukit dengan Brix. Ia berteriak keras karena senangnya saat Brix berlari kencang. Senyum tak juga hilang dari wajahnya saat kembali ke tempat semula. Elric membantunya turun.


Emune memeluk leher Brix. “Terima kasih,” bisiknya pada kuda itu. Brix meringkik sebagai balasan.


Alfred menyudahi pelajaran hari itu jadi Elric mengajak Emune ke pondok kecil. Kepergian keduanya diiringi oleh nyanyian Sean dan Aiden yang menggoda mereka.


Emune tertawa geli. Ia malu tapi tidak menyangka kalau wajah Elric juga bisa memerah karena malu.


“Jadi, apa yang ingin kau ceritakan?” tanya Elric saat mereka sudah ada di dalam pondok.


“Elric, aku ….” Emune berhenti sebentar. Hatinya mengatakan kejujuran akan mempermudah segalanya. Ia lalu melanjutkan, “Aku ... seorang putri raja,” ucapnya pelan.


Debaran jantung Emune semakin kencang. Ia sedang menyiapkan diri mendengar tawa Elric. Elric pasti menganggapku gadis konyol yang terlalu banyak berandai-andai.


“Aku tahu,” jawab Eric tenang. Elric hanya tersenyum dan memeluk kekasihnya dengan hangat.


Emune membelalak. Eric tahu? Bagaimana dia bisa tahu? Emune tidak mau membuat kesimpulan sendiri jadi ia berkeras agar Elric bicara padanya. “Bagaimana kau bisa tahu?”


Elric melepaskan pelukannya. Ia dan Emune kini duduk dan saling menatap dengan wajah serius. Elric tersenyum kepada Emune, “Coba keluarkan isi tasmu,” ucapnya dengan mata berkilat-kilat.


Emune ragu sesaat kemudian meletakkan tas kecil buatan Bibi Mary di atas bangku. Ia menarik talinya dan membiarkan Elric melihat isinya. Apa yang Elric cari?


Elric mengulurkan tangannya dan mengeluarkan satu dari banyak benda yang ada. Emune memekik pelan. Elric sedang memegang buku kecil ajaibnya! Elric bisa melihatnya?


“Siapa yang memberimu buku ini?” tanya Elric. Elric mengerti kalau Emune terkejut karena ia bisa melihat buku kecil itu. Ia sendiri heran bagaimana Emune bisa memilikinya.


“Lord Berham, kami ke kastil Berham waktu itu. Beliau menyuruhku membaca sebuah buku setelah itu memberikan yang ini padaku. Viona dan Greg tidak bisa melihatnya. Mengapa bisa begitu, ya?” tanya Emune.

__ADS_1


“Buku Kebijaksanaan. Ini adalah satu dari beberapa benda ajaib yang diberikan oleh Raja Peri kepada Raja Agung Orsgadt.  Buku ini hanya bisa dilihat oleh keturunan raja,” Elric menjelaskan.


“Buku Kebijaksanaan. Apa kau keturunan raja?” tanya Emune. Ia menganga melihat Elric. Berbeda dengan dirinya yang kumal, Elric memang cocok disebut keturunan raja.


Elric mengembalikan buku kecil itu ke dalam tas lalu menyerahkan tas kepada Emune. Ia duduk sambil menggenggam tangan Emune. Ia tidak mau memeluk Emune saat mereka sedang berbicara tentang hal ini.


Ini sangat penting. Kekasihnya ini entah sadar atau tidak sedang memikul beban yang sangat berat, tidak hanya untuk kebebasan Orsgadt tapi juga untuk seluruh Artamea.


“Aku anak bungsu Raja Eimersun.” Elric berhenti sebentar karena Emune terkesiap dan menutupi mulutnya dengan tangan.


“Benarkah?” Emune meringis karena ingat Urndie pernah menyebut soal putra sang raja dari negeri bermandi matahari itu.


“Benar. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain, di Eimersun anak tertua raja yang akan mewarisi tahta. Tidak peduli ia laki-laki atau perempuan. Itu sangat melegakan, kakak perempuanku pasti akan menjadi ratu yang hebat. Ia akan menyukaimu,” Elric berucap sambil tersenyum.


Emune menggenggam tangan Elric. “Kau sungguh-sungguh tidak menginginkan tahta itu?”


“Tidak. Aku lebih suka mendukung penguasa Eimersun namun tetap bebas ke mana saja. Ibuku tidak suka aku berkeliaran tapi selama Alfred, Aiden dan Sean ikut, ia tidak begitu khawatir.”


“Alfred dan yang lainnya adalah keluarga bangsawan?” tanya Emune.


Elric tersenyum. “Alfred adalah keturunan bangsawan yang turun-temurun menjadi pelatih militer, khusus untuk keluarga kerajaan. Sean dan Aiden sepupuku. Bisa dibilang kami berempat adalah kelompok lelaki yang lebih menyukai alam ketimbang terkungkung di istana.”


Emune menunduk sedih. “Aku tidak tahu istana seperti apa. Apa sebegitu anehnya sampai kau menjauhinya?”


“Tidak. Istana Eimersun sangat indah. Hanya saja aku lebih suka berkeliling Artamea. Aku rasa Ibuku akan sangat gembira kalau kita menikah nanti dan aku tidak ke mana-mana karena tak mau jauh darimu.”


Emune tersenyum geli membayangkan Ibu Elric pingsan melihat Elric menikahi Emune yang kumal.  “Apa aku layak jadi istrimu? Aku keturunan raja yang saat ini tak punya kerajaan, tak punya istana, bahkan aku tidak tahu apakah aku bisa merebut Orsgadt atau tidak.”


Tangan kanan Elric naik ke pipi Emune. “Kau tidak perlu menjadi seorang putri atau ratu untuk membuatmu layak jadi istriku. Kau yang aku cintai.”


Akhirnya mereka berpelukan juga. Emune merasakan setetes air mata jatuh di pipinya. Ia segera menghapusnya.  “Apa Alfred tahu? Sean dan Aiden?”


“Tidak. Aku lebih suka menyimpannya sendiri. Perjalananmu sangat berat, setidaknya kami bisa menjagamu jika terjadi bahaya. Awalnya aku ingin membujukmu untuk melepaskan Orsgadt dan ikut ke Eimersun bersamaku tapi setelah melihatmu tadi, kau tampak seperti Ratu Sherenea, salah satu ratu hebat di kerajaan kami.”


Emune tertawa kecil. “Kau bercanda.”


“Tidak. Entah kenapa aku membayangkanmu menaiki kuda perang, memakai baju zirah dan siap dengan pedang terhunus. Konyol sekali.”


Elric tidak menganggap itu terlalu konyol sebenarnya. Jika Emune menuntut tahtanya maka perang bisa saja terjadi. Itu hanya jika Emune bisa membangun kekuatan besar menghadapi pasukan Orsgadt.


“Hahaha, itu berlebihan. Aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana harus menghadapi Goenhrad. Aku hanya terus maju karena tidak sedikit pun bisa melupakan bagaimana keluargaku dibantai. Voispir menunjukkannya padaku.” Tangan Emune gemetar. Matanya masih bisa melihat darah yang tertumpah dan jeritan memilukan keluarganya dan rakyat Orsgadt yang melawan Goenhrad.


Elric memeluk Emune lebih erat. Tidak ada yang bisa membayangkan hal sekeji itu. Elric masih kecil waktu itu. Ia tidak tahu apa-apa.


Semua tampak biasa-biasa saja dan Eimersun selalu damai karena ia tinggal di istana. Padahal kerajaan di sebelahnya, kerajaan tertua, sedang mengalami kekacauan. Ia ingat ayahnya sering duduk diam sambil menatap ke arah barat di malam hari.


“Apa yang akan kau lakukan, wahai kekasihku tersayang?” tanya Elric.

__ADS_1


Desir angin menyela pembicaraan mereka sesaat. Emune menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Aku akan merebut Orsgadt dengan dua lengan kecil ini,” ucapnya mantap.


__ADS_2