
Olevander melotot pada semua orang yang duduk melingkari meja besar dari kayu ek. Tidak satu pun dari mereka berani menatapnya langsung. Ia rasanya ingin mencemooh orang-orang yang mengaku raja dan bangsawan hebat namun begini saja mereka sudah terkulai lemah.
“Jika Anthura bangkit, tidak hanya Orsgadt, seluruh Artamea akan hancur. Aku rasa kita semua sudah mengetahuinya sejak belasan tahun lalu.”
“Olevander, kau sendiri tahu kita tidak punya kekuatan untuk mengalahkan Goenhrad dan penyihirnya. Bagaimana kau mengharapkan kami untuk mengorbankan rakyat kami? Kami hanya manusia biasa. Bahkan jika kami hancur lebur, kau dan dunia ajaib masih ada, bukan?” Yang Mulia Raja Thenosyes, raja dari kerajaan Imperia, menegakkan duduknya. Ia mengkhawatirkan kerajaan dan rakyatnya yang hanya berbatas tembok batu dengan Orsgadt.
“Kalian tidak perlu cemas tentang Goenhrad dan penyihirnya. Itu urusanku,” ucap Olevander keras.
“Kau begitu yakin, seolah kau sudah punya rencana untuk menghancurkan Goenhrad.” Raja Thenosyes menyeringai tidak percaya.
“Anggap saja begitu,” sahut Olevander.
Ruangan itu jadi sepi. Semua orang menatap meja seakan-akan meja itu adalah pelarian terbaik mereka dari tatapan marah Olevander. Raja dari tiga kerajaan dan bangsawan tinggi berkumpul hari ini untuk menetapkan langkah menghadapi Goenhrad.
“Arsyna siap membantu. Meskipun kerajaanku adalah yang terjauh dari Orsgadt tapi bukan berarti akan aman dari Goenhrad dan Anthura.” Yang Mulia Raja Zyruone, raja Arsyna, berkata mantap.
Ia tidak peduli pada penyihir gila yang dimiliki Goenhrad maupun ancaman Anthura, saat ini saja kerajaannya sedang diserang secara acak oleh orang-orang suruhan Goenhrad. Tidak perlu jadi sehebat Olevander untuk menyimpulkan bahwa semua kekacauan di Arsyna adalah ulah Goenhrad.
“Terima kasih.” Olevander mengelus-elus janggut putihnya. Arsyna memang kerajaan paling kecil di Artamea tapi tidak disangsikan bahwa para penyokongnya adalah keturunan orang-orang kuat yang telah ditempa banyak kesulitan sebelum kerajaan itu terbentuk.
“Eimersun sudah siap untuk ini. Jika penyihir itu bisa diatasi dan Anthura tidak terbang di langit Artamea, aku yakin kita bisa mengalahkan pasukan Orsgadt.” Yang Mulia Raja Duncan, raja Eimersun, sangat tahu kemampuan pasukannya. Eimersun yang jaya tidak hanya karena keindahan budayanya tapi ditopang pula dengan kekuatan pasukan yang terlatih.
“Aku tidak bisa tidak berterima kasih padamu,” ucap Olevander.
Raja Imperia mendengus. Dua kerajaan sudah siap menghadapi Orsgadt namun ia sendiri tidak mau gegabah memutuskan apa pun. Ia butuh waktu untuk memutuskan yang terbaik untuk kerajaannya.
“Aku harap kau bisa memutuskan yang terbaik, Thenosyes. Artamea tidak akan bertahan jika tiga kerajaan tidak bersatu.” Olevander mengetuk meja kayu tiga kali. Ada yang sedang dipikirkannya.
“Kapan rencana penyerangan Orsgadt?” tanya Thenosyes.
“Segera. Aku akan memberitahu kalian.” Olevander meletakkan telapak tangan kanannya di atas meja kayu. Ia tiba-tiba berdiri. “Aku harus pergi,” ucapnya lalu lenyap dari hadapan semua orang.
__ADS_1
Semua bangsawan tinggi disuruh keluar. Ruangan itu kini hanya berisi tiga orang raja yang duduk menekur.
“Thenosyes, demi Artamea, kuatkan tekadmu.” Zyruone menatap tajam pada sahabatnya itu.
“Mudah bagimu untuk bicara. Kerajaanmu tidak berbatasan langsung dengan Orsgadt.”
“Kau tidak sadar kalau kerajaanku yang lebih dahulu dikacaukan oleh Goenhrad? Tinggal menunggu waktu bagi Imperia dan Eimersun untuk mengalami hal yang sama.” Zyruone mengepalkan tangan dan menggebrak pelan meja di depannya.
“Tidak ada yang aman jika Goenhrad tidak ditaklukkan.” Duncan juga mengepalkan tangannya. Ia ingat betapa lemahnya keputusannya belasan tahun lalu. Ia tidak mau lagi hal itu terjadi.
Thenosyes berdiri. “Aku tidak bisa menjawab sekarang tapi akan kupikirkan.” Ia keluar dari ruangan diikuti pandangan sedih Zyruone dan Duncan.
“Kita tidak bisa mengharapkannya. Kurasa kita harus bersiap dari sekarang.” Duncan memajukan badannya. Dengan tatapan serius ia menatap Zyruone. “Para peri juga tidak mau campur tangan. Aku tidak tahu apa rencana Olevander tapi kuharap itu berhasil.”
“Ya. Orsgadt hanya memiliki sedikit pasukan tapi mereka adalah pasukan pembunuh berdarah dingin. Kita harus punya kekuatan lima kali lebih besar jika ingin menghentikan mereka.”
“Jujur saja, kekalahan besar akan membayangi jika Imperia tidak bergabung.”
“Aku juga menangkap kesan seperti itu. Kurasa kita harus lebih berhati-hati dari sekarang,” jawab raja Arsyna.
“Aku setuju.” Raja Duncan manggut-manggut pelan.
“Ah, bagaimana kabar keluargamu? Seharusnya aku mengunjungimu tapi sebentar lagi putriku akan mengambil alih kerajaan dan aku harus mengajarinya banyak hal.”
“Mereka sehat. Kau tahu, putriku sedang senang-senangnya bertualang dengan teman-temannya. Istriku, kau tahu sendiri, ia selalu tenang dalam suasana apa pun. Oh, iya, Mirena benar-benar tangguh. Bagaimana dengan Elric?”
“Pemuda tengil itu sedang sibuk mengejar gadis-gadis, kurasa. Sulit sekali menahannya di istana. Ibunya sampai stres.” Seringai heran muncul di wajah Raja Duncan.
“Hahaha. Kurasa ia mengikuti jejakmu jadi penakluk wanita.”
“Seperti kau juga tidak begitu.”
__ADS_1
Keduanya tertawa mengingat betapa konyolnya kisah masa muda mereka.
***
Thenosyes menggebrak meja. Ia bangkit dari tahtanya lalu berjalan hilir mudik. Pertemuan dengan Olevander, Duncan dan Zyruone membuatnya kesal. Pandai sekali mereka menganggap enteng Goenhrad dan penyihirnya. Pertaruhannya terlalu besar.
Ratu Charmaine mendatangi dan memeluk suaminya. Ia tahu suaminya sedang resah akan sesuatu. Ia hanya bisa memeluknya agar kekasihnya itu sedikit tenang.
“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kesal. Di mana Ellaine?” tanya Thenosyes pada istrinya.
Ellaine adalah putri mereka yang baru saja berulang tahun ketujuh belas. Ia lahir hanya beberapa hari sebelum pemberontakan Orsgadt terjadi. Kondisi tubuhnya sangat lemah jadi ia dan istrinya selalu mengkhawatirkannya.
“Ada di taman bersama para pelayan. Dia sudah besar, jangan terlalu cemas.”
“Menjadi seorang ayah ternyata lebih sulit jika dibandingkan dengan menjadi seorang raja.”
“Begitukah? Yang Mulia Raja Thenosyes, kau adalah raja, suami dan ayah yang hebat. Aku mengatakannya dengan tulus,” puji sang ratu.
Raja Thenosyes membelai pipi istrinya yang seindah pualam. Baginya tidak ada yang lebih cantik dibandingkan Charmaine. “Tentu saja, kau adalah ratuku. Charmaine, aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Rajaku,” Ratu Charmaine memejamkan mata saat suaminya menciumnya penuh gairah.
Sang raja menatap istrinya. Ia tidak akan menyerahkan semua kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Jika itu berarti harus menarik diri dari peperangan yang akan terjadi, maka biarlah.
***
Olevander berdiri di puncak bukit Thorsca yang berada di dekat perbatasan Orsgadt dan Eimersun. Ia menatap langit yang biru tenang. Orang biasa tidak akan bisa melihat sihir pelindung yang menutupi istana Orsgadt tapi ia adalah Olevander, penghalang itu tidak ada artinya.
Sekumpulan burung gagak terbang naik turun dan hinggap di sebuah pohon besar. Olevander meniup sebuah daun kecil. Daun itu melesat lalu menempel di bulu seekor gagak. Gagak itu mengeluarkan asap merah dari paruhnya yang terbuka. Sesaat kemudian burung gagak itu terbang dan hinggap di lengan Olevander.
Olevander membelai burung berwarrna hitam itu lalu menepuk pelan agar burung itu pergi. Si gagak kembali ke kumpulannya. Olevander tersenyum. Sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar.
__ADS_1