
Langit berwarna merah dan abu masih setia menutup wilayah Artamea. Anthura terbang dengan sayap-sayapnya yang lebar. Sesekali makhluk raksasa yang mengerikan itu terbang rendah dan menyemburkan apinya di mana saja ia mau. Buas, tak bisa diprediksi dan sangat berbahaya, begitulah yang tertangkap oleh semua mata manusia yang melihatnya.
Naga itu berputar-putar di wilayah Imperia lalu membumihanguskan kota Chisti, kota perdagangan terbesar di kerajaan itu. Penduduk kota berlarian panik menyelamatkan diri. Mereka yang menyayangi nyawa, bergegas ke arah sungai Thene dengan harapan semburan api sang naga tidak membunuh mereka jika menyelam cukup dalam di sungai itu.
Rencana yang cukup bagus tapi hanya jika Anthura tidak terbang rendah. Penduduk yang sibuk menyelamatkan harta mereka juga tidak sedikit. Emas dan perak berjatuhan dari genggaman mereka saat sang naga menghanguskan tubuh mereka yang terlambat menghindar.
Kacau. Orang tua dan anak-anak berebut mencari selamat. Entah sudah berapa banyak yang jatuh dan terinjak, semuanya berujung pada kematian. Jeritan dan tangisan terdengar di seluruh penjuru. Orang-orang mengumpat dan mengutuk sebelum nyawa keluar dari raga mereka. Sebentar saja Chisti sudah jadi kota mati.
Sasaran berikutnya dari keganasan Anthura adalah Eimersun. Penduduk Eimersun sudah diungsikan ke sebuah tempat berlindung di bukit Dharga. Bukit itu memiliki gua-gua yang panjang dan terus tembus ke bawah tanah. Raja Duncan berharap rakyatnya selamat dari amukan Anthura. Ketika naga itu menyemburkan api ke istana Eimersun, Raja Duncan hanya bisa mengepalkan tangannya.
Raja Duncan memberi tanda pada Mirena dengan mengangkat tangan kanannya. Mirena langsung memberi perintah pada seluruh pasukan ketapel agar menyerang pasukan Korta yang mulai bergerak lamban mendekati pasukan Eimersun. Pasukan ketapel Raja Thenosyes juga tidak tinggal diam. Satu per satu batu besar mendarat di lapangan yang dipenuhi oleh pasukan Korta. Prajurit-prajurit abadi itu terlempar dan terhimpit oleh batu besar dan bola api namun begitu puluhan prajurit tergeletak dengan kerangka berserakan, jumlah yang sama akan muncul lagi dari dalam tanah.
Semua panglima perang memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan Korta. Pasukan Korta yang awalnya bergerak sangat pelan sekarang memiliki kecepatan melebihi manusia biasa. Bisa dipastikan kubu mana yang akan mengalami kekalahan besar. Dalam waktu singkat, pasukan Eimersun dan Imperia sudah berkurang banyak. Tidak bisa maju dan tidak ada jalan mundur, pasukan kedua kerajaan itu terjepit di bawah ancaman kematian.
“Kita tidak akan bisa mengalahkan mereka,” desis Raja Thenosyes. “Olevander, mana janjimu?” ucapnya geram.
Kegundahan Raja Thenosyes sangat beralasan. Sehebat apa pun pasukannya pasti tidak akan bisa mengalahkan pasukan abadi.
“Kita harus menghambat mereka. Sial! Seandainya ada Avena di sini,” ucap Hemworth yang memimpin pasukan di sebelah selatan.
Udara dingin menyentuh leher sang kesatria. Ia menoleh dan melihat Avena sudah ada di sampingnya. Keturunan peri es itu melihat lurus ke depan.
__ADS_1
“Avena!” seru Kesatria Hemworth.
“Aku tidak bisa menghancurkan mereka tapi kurasa masih bisa menghambat gerak mereka sampai Leonz dan pasukan Arsyna tiba,” ucap Avena.
Kesatria Hemworth lega mendengar ucapan Avena. Pasukannya sudah berkurang banyak sementara sisanya sudah kelelahan menghadapi pertempuran tidak seimbang dengan pasukan Korta.
Avena melayang tinggi sambil membentuk badai kabut yang menarik pasukan Korta menjauh dari tembok kedua. Tenaganya sudah pulih namun tentu saja ia tak akan bisa menahan pasukan abadi itu lama-lama. Ia berharap Emune bisa menyelesaikan urusannya dengan Yhourin agar kekacauan di luar sini bisa segera selesai.
Gadis keturunan peri es itu tersenyum melihat pasukan Korta yang terus tertarik ke arah istana Orsgadt. Setelah cukup jauh, ia mengambil serbuk ajaib yang tadi diberikan Leonz padanya. Pasukan Korta tidak dapat ditahan dengan kekuatan es Avena tapi jika ditambahkan dengan serbuk ajaib yang sudah dimantrai Leonz, ia bisa menahan mereka beberapa waktu.
Avena menumpah segenggam serbuk ajaib ke atas telapak tangannya lalu menutup telapak tangannya dengan tangan yang lain. Ia meniup kedua tangan yang ada di depan wajahnya, serbuk ajaib beterbangan di udara. Avena lalu melesat pergi setelah melihat pasukan Korta membeku di bawah sana.
“Itu cukup menahan mereka sementara waktu. Aku rasa Leonz segera tiba. Aku harus membantu Emune,” ucap Avena pada Kesatria Hemworth.
Avena mengangguk lalu melesat pergi dari medan peperangan. Emune saat ini hanya bersama Proner dan Horeen. Ia harus bergegas.
Kesatria Hemworth mengirim dua orang kurir untuk memberi kabar kepada Raja Duncan dan Raja Thenosyes. Saat ini musuh mereka yang ada di langit yang harus mereka khawatirkan.
***
Meninggalkan Emune melawan Yhourin adalah hal yang paling tidak ingin Leonz lakukan. Ia tidak mau tapi situasi mendesak mengharuskannya pergi. Leonz berdiri di tengah jalan perbatasan Arsyna dan Imperia. Derap kaki kuda yang berlari kencang mendatanginya dari arah selatan. Leonz tersenyum.
__ADS_1
Yang Mulia Raja Zyruone mempercepat lari kudanya. Mereka tidak akan bisa cepat sampai ke perbatasan Orsgadt dengan banyaknya pasukan yang berjalan kaki di belakangnya. Tiga orang panglima yang menyertainya sudah siap bertempur, sama dengan dirinya yang sudah lengkap dengan zirah dan pedang.
Hanya beberapa puluh meter dari tempatnya sekarang, sebuah lengkungan besar berwarna biru dan hijau menutupi jalan. Tidak ada manusia yang bisa melakukan itu jadi sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah buatan seorang peri atau penyihir. Raja Zyruone menyambar gadis kecil yang berdiri di dekat lengkungan itu dan tanpa berhenti sedikit pun melewatinya.
Para panglima perang dan pasukan Arsyna mengikuti jejak raja mereka. Setelah prajurit terakhir masuk, lengkungan itu menghilang. Tidak ada sisa maupun jejak keberadaan lengkungan di jalan perbatasan itu. Jalan itu kembali lengang.
Raja Zyruone menarik tali kekang kudanya. Ia terpana melihat pemandangan di hadapannya. Pasukan Eimersun di selatan Orsgadt hanya tersisa sedikit. Tumpukan mayat dan bau darah kental penuh di udara. Ia hendak bicara pada Leonz yang ada di gendongannya tapi gadis cilik itu sudah lenyap. Raja Zyruone berdecak kesal.
Ia turun dan menghampiri Kesatria Hemworth dan Arrand yang tampak lega melihat kehadirannya. Peperangan yang brutal. Sang raja bisa melihat lengan Hemworth yang terluka begitu juga bahu Arrand yang dibebat kain dan kain itu sudah basah oleh darah.
“Maaf, aku terlambat,” ucap sang raja.
“Tidak, Yang Mulia, ini saat yang tepat. Pasukan Arsyna akan sangat membantu,” jawab Arrand.
“Kita pusatkan penyerangan dari selatan. Para panglima akan menyiapkan pasukan Arsyna. Hmmm, Korta sudah bisa diatasi?” tanya raja Arsyna.
“Untuk sementara, Yang Mulia. Semoga Putri Elizai dan teman-temannya bisa mengatasi penyihir Goenhrad,” jawab Hemworth.
“Elizai, apa dia ....” Tak terasa mata sang raja berkaca-kaca. Ia mendesah berat.
“Jangan khawatir, Yang Mulia. Tuan Putri adalah keturunan langsung Raja Agung Orsgadt. Ia pasti bisa mengatasinya,” ucap Arrand. Ia sangat percaya anak angkatnya itu akan membawa mereka pada kemenangan.
__ADS_1
Sang Raja mengangguk. Ia lalu mengerahkan para panglima untuk mengatur pasukan Arsyna yang baru tiba untuk menggantikan barisan pasukan Eimersun yang sudah kelelahan.